“.....semua atribut keilmuwanan itu ia lepaskan karena gelar akademis tak punya relevansi dengan pembelajaran tanpa akhir sebagai proses hidup. Hati dan pikirannya senantiasa terbuka untuk mendengar penuturan para tetua dan pemangku di sudut-sudut kepulauan di Nusantara ini.....
....Itulah living knowledge, yang tak ada tempatnya di dalam seluruh praksis dan diskursus modernisme”
Demikian petikan kisah Maria Hartiningsih dan Brigitta isworo Laksmi dalam artikelnya “Jalan Sunyi si Pejalan Kaki” di rubrik Persona Kompas Minggu. Si Pejalan Kaki ini adalah Hendro Sangkoyo, Sang Kepala Sekolah “Terbuka” Ekonomika Demokratik.
Saya simpulkan ia akan lebih suka di panggil Hendro Sangkoyo saja, atau bahkan Yoyok saja (panggilan akrabnya). Gelar Arsitek dari ITB dan Phd di bidang Comparative Politics, International Planning and Planning Theory dari Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat boleh jadi tanggal dalam sekolah terbuka pembelajaran tanpa akhir. Saya yakin ia pun lebih senang dan merasa tercerahkan belajar bersama di kampung dan pelosok-pelosok negeri dibandingkan pengalaman akademiknya mengajar di Institut Teknologi Indonesia, Royal Melbourne Institute of Technology bahkan Cornell University.
Sependapat dengan Noam Chomsky, Yoyok menyimpulkan semua bahasa merepresentasikan pengetahuan sehingga baginya pula ilmu dasar adalah bahasa, bukan matematika, kimia dan fisika. Dan living knowledge dalam ruang bertutur ini menolak semua kaidah positivistik, yang membedakan mana sains, mana bukan sains. Menolak hanya satu otoritas, atau satu rezim kebenaran. Otoritas mana yang membawa peradaban bumi ini dalam krisis berkelanjutan
selengkapnya
RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label Ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekologi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Januari 2010
Sabtu, 15 Agustus 2009
Kapitalisme, Analisis Kelas dan Gerakan Lingkungan Hidup (Bag 2 dari 2)
Marx menganggap masalah kelas itu sentral, tapi jauh dari mengatakan bahwa itulah satu-satunya masalah yang dihadapi umat manusia. Dan pentingnya kelas ini tidak lain karena Marx berbicara tentang zaman yang dibedakan dari segi produksi materialnya. Dia tidak berbicara tentang lingkungan hidup misalnya, tidak lain karena memang di zamannya masalah itu belum menonjol.
Memang kita tidak boleh mereduksi segala sesuatu semata-mata menjadi persoalan kelas, tapi kalau bicara tentang perubahan tatanan sosial dan ekonomi seperti feodalisme dan kapitalisme, perjuangan kelas tetap merupakan persoalan sentral
(dipetik dari pandangan Hilmar Farid lihat bag 1)
Kapitalisme adalah Akar Persoalan
Di dalam Manifestonya, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) menyebutkan bahwa akar persoalan lingkungan hidup adalah paham neoliberalisme. Dimana paham inilah yang selama ini mempromosikan bahwa sistem pasar harus diberi hak penuh untuk menentukan keputusan penting di bidang politik dan sosial. Sedangkan inti dari pandangan ini adalah mendesak agar negara secara sukarela melepaskan perannya di bidang ekonomi-sosial.
Lebih lanjut paham neoliberal inilah yang menciptakan serangkaian kebijakan ekonomi yang membuat si kaya semakin berkuasa dan si miskin kian melarat dengan cara memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya kepada perusahaan swasta mengembangkan diri seraya melupakan hak serta perlindungan bagi rakyat kebanyakan.
selengkapnya
Baca juga bagian 1
Memang kita tidak boleh mereduksi segala sesuatu semata-mata menjadi persoalan kelas, tapi kalau bicara tentang perubahan tatanan sosial dan ekonomi seperti feodalisme dan kapitalisme, perjuangan kelas tetap merupakan persoalan sentral
(dipetik dari pandangan Hilmar Farid lihat bag 1)
Kapitalisme adalah Akar Persoalan
Di dalam Manifestonya, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) menyebutkan bahwa akar persoalan lingkungan hidup adalah paham neoliberalisme. Dimana paham inilah yang selama ini mempromosikan bahwa sistem pasar harus diberi hak penuh untuk menentukan keputusan penting di bidang politik dan sosial. Sedangkan inti dari pandangan ini adalah mendesak agar negara secara sukarela melepaskan perannya di bidang ekonomi-sosial.
Lebih lanjut paham neoliberal inilah yang menciptakan serangkaian kebijakan ekonomi yang membuat si kaya semakin berkuasa dan si miskin kian melarat dengan cara memberikan keleluasaan sebebas-bebasnya kepada perusahaan swasta mengembangkan diri seraya melupakan hak serta perlindungan bagi rakyat kebanyakan.
selengkapnya
Baca juga bagian 1
Kapitalisme, Analisis Kelas dan Gerakan Lingkungan Hidup (Bag 1 dari 2)
Dalam semangat menghidupkan teori, analisis kelas, jender, etnis hingga ekologi adalah cara mengorganisasi pengetahuan. Dengan demikian pisau-pisau analisis ini bukan untuk dihadap-hadapkan, dipertentangkan dengan pendekatan atau analisis yang lainnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana membuat adonannya atau pembobotan dalam pembacaan atau teori yang lebih lengkap dan komprehensif.
selengkapnya
Baca juga bagian 2
selengkapnya
Baca juga bagian 2
Sabtu, 12 April 2008
Perempuan dan Ekologi
Memperkenalkan Sahabat Rumah Asa....
Agung Wardana di http://bhumisenthana.blogspot.com
artikel oleh:
Agung Wardana
“Mati Devata, Dharam Devata”
(Tanah adalah dewa-dewi kami, tanah adalah agama kami)
Kalimat diatas adalah slogan yang diteriakkan oleh para perempuan India anggota Gerakan “Selamatkan Gandharman”, ketika mereka diseret oleh polisi dalam aksinya. Gerakan yang dimotori kaum perempuan tersebut adalah bentuk perjuangan dalam menolak perusakan gunung dan hutan oleh perusahaan tambang bauiksit. Seorang demonstran berusia 70 tahun, Dhanmati berteriak; “Kami akan mengorbankan hidup kami, tapi bukan Gandharman. Kami ingin menyelamatkan gunung ini yang telah memberi kami apa yang kami butuhkan”, teriakan ini menggambarkan pendirian para perempuan tersebut yang berada di garis depan dalam membela hak dan kelestarian alam mereka. Selain itu masih ada kisah Vandana Shiva bersama para perempuan sekitar hutan menolak membukaan hutan dengan cara memeluk tiap batang pohon yang akan ditebang oleh perusahaan. Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan berada di garis depan gerakan lingkungan?
Secara sosio-religius, dari berbagai mitologi kuno, menempatkan bumi dan sumber daya alamnya sebagai spirit perempuan, yakni feminis. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat tradisional menempatkan perempuan identik dengan bumi yang harus dihormati dan karenanyalah kehidupan di dunia dapat berlangsung. Di Bali, misalnya, kita mengenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, di India, Sungai Gangga, Yamuna, Narmada adalah sungai sakral yang dipuja sebagai para dewi. Di Prancis, dikenal sungai Marne yang berasal dari kata Matrona, Dewi Ibu. Begitu juga di Yunani kita mengenal ada Dewi Gaia. Maka pantaslah jika kita mengatakan bumi (pertiwi) ini adalah Ibu dari semua kehidupan, karena dia telah menyediakan kebutuhan hidup dengan penuh cinta tanpa mengharap balasan melainkan hanya butuh kearifan kita dalam menjaga kelestariannya.
Kedekatan perempuan tradisional dengan alamnya tidak saja dalam spiritualitas saja tapi teraktualisasi dalam pekerjaannya sehari-hari yang berhubungan langsung dengan lingkungan hidupnya. Mengambil air untuk minum, mengumpulkan kayu bakar dari hutan atau kebun, mencuci perabot rumah tangga, mebanten adalah sebagaian kecil saja kontak langsung dengan apa yang telah diberikan ibu pertiwi yang kemudian dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
selanjutnya slik klik
http://bhumisenthana.blogspot.com/2008/02/perempuan-dan-ekologi.html
Agung Wardana di http://bhumisenthana.blogspot.com
artikel oleh:
Agung Wardana
“Mati Devata, Dharam Devata”
(Tanah adalah dewa-dewi kami, tanah adalah agama kami)
Kalimat diatas adalah slogan yang diteriakkan oleh para perempuan India anggota Gerakan “Selamatkan Gandharman”, ketika mereka diseret oleh polisi dalam aksinya. Gerakan yang dimotori kaum perempuan tersebut adalah bentuk perjuangan dalam menolak perusakan gunung dan hutan oleh perusahaan tambang bauiksit. Seorang demonstran berusia 70 tahun, Dhanmati berteriak; “Kami akan mengorbankan hidup kami, tapi bukan Gandharman. Kami ingin menyelamatkan gunung ini yang telah memberi kami apa yang kami butuhkan”, teriakan ini menggambarkan pendirian para perempuan tersebut yang berada di garis depan dalam membela hak dan kelestarian alam mereka. Selain itu masih ada kisah Vandana Shiva bersama para perempuan sekitar hutan menolak membukaan hutan dengan cara memeluk tiap batang pohon yang akan ditebang oleh perusahaan. Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan berada di garis depan gerakan lingkungan?
Secara sosio-religius, dari berbagai mitologi kuno, menempatkan bumi dan sumber daya alamnya sebagai spirit perempuan, yakni feminis. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat tradisional menempatkan perempuan identik dengan bumi yang harus dihormati dan karenanyalah kehidupan di dunia dapat berlangsung. Di Bali, misalnya, kita mengenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, di India, Sungai Gangga, Yamuna, Narmada adalah sungai sakral yang dipuja sebagai para dewi. Di Prancis, dikenal sungai Marne yang berasal dari kata Matrona, Dewi Ibu. Begitu juga di Yunani kita mengenal ada Dewi Gaia. Maka pantaslah jika kita mengatakan bumi (pertiwi) ini adalah Ibu dari semua kehidupan, karena dia telah menyediakan kebutuhan hidup dengan penuh cinta tanpa mengharap balasan melainkan hanya butuh kearifan kita dalam menjaga kelestariannya.
Kedekatan perempuan tradisional dengan alamnya tidak saja dalam spiritualitas saja tapi teraktualisasi dalam pekerjaannya sehari-hari yang berhubungan langsung dengan lingkungan hidupnya. Mengambil air untuk minum, mengumpulkan kayu bakar dari hutan atau kebun, mencuci perabot rumah tangga, mebanten adalah sebagaian kecil saja kontak langsung dengan apa yang telah diberikan ibu pertiwi yang kemudian dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
selanjutnya slik klik
http://bhumisenthana.blogspot.com/2008/02/perempuan-dan-ekologi.html
Kamis, 03 April 2008
YANG MERAH DAN YANG HIJAU: PERSPEKTIF KIRI DALAM MEMAHAMI EKOLOGI (bag 3)
Ekologi,Kapitalisme,Sosialisasi Alam (bagian 3)
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Oleh: Katherine Yih
Gerakan pro lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin’s, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu mulai dari tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi antara lain ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka). Namun, sekalipun tanpa para environmentalis arus-utama (terkemuka), apakah “gerakan” tersebut yang lebih merupakan pencampuradukan organisasi-organisasi yang terbangun oleh beragam idelogi dan menerapkan strategi yang jauh saling berbeda benar-benar memiliki kemauan atau kemampuan untuk mewujudkan perubahan struktural yang dibutuhkan guna menunda dan memulihkan kehancuran lingkungan?
Perspektif kiri dalam ekologi khususnya ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis paling menjanjikan dalam hal merumuskan dan memecahkan persoalan seputar hubungan antara manusia dengan isi alam yang lainnya. Mereka memberikan komitmen pada keadilan dan pemahaman bahwa kapitalisme pada akhirnya menghalangi kesetaraan sosial maupun rasionalitas ekologi. Kendati demikian, ada beberapa perbedaan penting di antara pandangan-pandangan tersebut, yang berhubungan dengan keampuhan politisnya.
Salah satu titik perbedaan mendasar antara penganut ekologi sosial dan kaum Marxis adalah tingkat penekanan yang mereka berikan untuk persoalan-persoalan ekologis dalam keseluruhan program politik mereka. Penganut ekologi sosial menempatkan ekologi sebagai elemen inti dalam program mereka, dari situ semua yang lainnya dianggap kurang-lebih mengikuti. Bagi kaum Marxis yang memiliki kepekaan ekologis, rasionalitas ekologis lebih merupakan sasaran kritik yang terkait dengan persoalan lain dalam analisis dan program yang lebih luas—menjadi merah sama perlunya dengan menjadi hijau.
Perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah hal sepele dan menimbulkan konsekuensi di lapangan. Sebagai contoh, di Burlington, Vermont (di Burlington sebagian besar anggotanya penganut ekologis sosial), Partai Hijau mengajukan seorang kandidat dalam pemilu raya 1989, yang pertarungan utamanya adalah antara Partai Demokrat dan seorang kandidat independen yang didukung oleh kaum sosialis yang tergabung dalam Koalisi Progresif. Sehingga keikutsertaan Partai Hijau mengancam terpecahnya suara bagi Koalisi Progresif. Akhirnya, Koalisi Progresif menang dengan mudah; hanya 3,4 persen suaranya yang terbagi untuk Partai Hijau. Pada pemilihan anggota Dewan Kotapraja tahun 1990, kandidat Partai Hijau di satu daerah pemilihan jelas-jelas menyatakan bahwa tujuannya bukanlah kemenangan melainkan mengalahkan Koalisi Progresif; Koalisi Progresif kehilangan daerah pemilihan tersebut dengan selisih suara yang tipis dibandingkan dengan jumlah suara milik Partai Hijau.
Adalah penting untuk melihat ideologi dan analisis yang mendasari ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis tentang ekologi secara lebih rinci guna mengevaluasi implikasi-implikasi politiknya dan potensi mereka dalam menghadirkan tatanan sosial serta ekologi yang didambakan.
Ekologi Sosial
Karena berakar dari pandangan anarkis, maka ekologi sosial sangat anti-kapitalis dan menolak semua bentuk dominasi. Banyak kaum Hijau-kiri merupakan pendukung ekologi sosial; yang cukup dikenal adalah Murray Bookchin, yang menggunakan pertama kali istilah tersebut di tahun 1964 dalam esainya Ecology and Revolutionary Thought.
Bookchin memandang kemerosotan kualitas lingkungan terkait erat dengan kebutuhan/keinginan kapitalisme. Jadi, bukan industri dan teknologi yang salah, melainkan sistem ekonomi yang tak pernah puas, yakni kapitalisme. Selebihnya, sama seperti Marxis, ia menyatakan bahwa “kelas, juga eksploitasi, merupakan landasan bagi akumulasi kapitalis dan keniscayaan menuju pembusukan serta penghancuran planet ini.”
Ekologi sosial memandang manusia terutama sebagai makhluk sosial, bukan sebagai spesies yang tidak dapat dibeda-bedakanmakhluk sosial, yang menurut Bookchin, “sangat berbeda-beda oleh karena status mereka sebagai orang kaya dan miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, gay dan ‘straight’, tertindas dan penindas.” Ekologi sosial “menekankan tuntutan keadilan dari kaum tertindas terhadap masyarakat yang secara semena-mena mengeksploitasi manusia, karenanya membutuhkan kemerdekaan kaum tertindas.”
Meski mereka tak diragukan lagi humanis, ekologis sosial tidak memandang alam semata-mata sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan material manusia. Jelas sekali ada penilaian estetis seperti terlihat pada kutipan ini: Lepas dari bayang-bayang keraguan apapun, kita sangat membutuhkan kepekaan ekologisyang ditandai oleh ketakjuban pada evolusi alam dan semarak biosfer dengan beragam bentuknya…Lebih dari itu, alam merupakan suatu proses—proses mengagumkan yang dapat dinikmati dengan caranya sendiri….
Masyarakat ideal bagi penganut ekologi sosial, menurut pendapat Howard Hawkins, adalah sebuah “konfederasi non-hirarkis—masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, dan demokratis, yang berbasiskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi,” atau, dalam kata-kata Bookchin, “masyarakat berorientasi ekologis yang berbasiskan komunitas-komunitas dengan tata-nilai kemanusiaan yang bersifat bebas, terkonfederasi, yang di dalamnya manusia akan memiliki kendali langsung, tanpa perantara/ perwakilan, atas kehidupan sosial dan perorangannya.”
Hawkins mengkaji aspek langsung, tanpa perantara/perwakilan tersebut: Dengan melandaskan diri pada majelis kerakyatan sebagai kesatuan publik non-hirarkis yang menangani semua kepentingan sosial seperti ekonomi [model anarko-komunis], maka akan terbangun solidaritas sosial yang lebih solid ketimbang memfokuskan diri pada persoalan ekonomi secara lebih sempit seperti model dewan. Dengan menyatukan kembali produksi dan konsumsi, anarko-komunisme hendak menghindari pembagian antara satuan-satuan usaha dan konsumsi yang berbeda-beda, kepentingan-kepentingan ekonomi yang terpisah-pisah, dan kemungkinan munculnya hirarki di antara mereka.
Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, demokratis, dan dengan tata-nilai kemanusiaan, maka manusia akan memiliki kendali yang lebih besar atas masyarakatnya dan saling memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar satu sama lainnya, yang akan membuat mereka mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya secara rasional.
Tentang bagaimana cara untuk menuju ke sana, beberapa penganut ekologi sosial, seperti Brian Tokar, mengatakan bahwa caranya adalah dengan menciptakan alternatif-alternatif yang telah berjalan dengan baik, khususnya bioregionalisme, dikombinasikan dengan konfrontasi langsung dengan perangkat-perangkat/lembaga-lembaga kapitalis (contohnya demonstrasi di Wall Street setelah Hari Bumi, 23 April 1990). Para bioregionalis, yang tidak semuanya mengaku sebagai ekologi sosial, mendukung penarikan diri yang lebih besar dari ekonomi pasar dan memantapkan kemandirian pencukupan kebutuhan regional serta hubungan ekonomi kerjasama di antara komunitas-komunitas yang disatukan.
Ketika strategi ini dijalankan, pandangan tentang masyarakat alternatif tersebut terjerumus dalam tradisi utopian, miskin akan teori yang teruji tentang bagaimana transisi terjadi di bawah hegemoni kapitalis. Bukannya menganggap negara sosialis sebagai tahap yang diperlukan menuju masyarakat tanpa kelas, misalnya, namun kaum ekologis sosial (seperti Bookchin dan Hawkins) justru menolak habis negara, yang menurut mereka sudah pasti merupakan lembaga hirarkis dan tidak demokratis. Juga tak ada pemikiran mengenai dunia ketigabagaimana dunia ketiga terkait dengan negeri-negeri maju dalam hubungan yang tidak setara dan bagaimana aksi di satu tempat mempengaruhi keadaan di tempat lain.
Marxisme dan Ekologi
Marxisme, sebagai filsafat dan teori ekonomi-politik, menyediakan kerangka yang lebih luas dan matang ketimbang ekologi sosial. Karena itu, keduanya lebih berguna untuk memahami dunia, termasuk dunia “alam”, dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi tindakan politik. Dua aspek dari teori Marxis yang paling relevan untuk memahami dan melakukan aksi atas isu-isu tentang ekologi serta lingkungan adalah materialisme dialektik dan teori akumulasi.
Materialisme dialektik, sebagai filsafat, menjadi ada dan menyadari relevansinya dengan diskusi ekologi karena implikasinya pada cara kita memahami alam. Kini sudah menjadi pemahaman umum di kalangan ekologis profesional bahwa alam tidaklah statis, bukan sesuatu yang selalu sama, sekalipun tanpa gangguan manusia. Dengan ukuran komunitasnya maupun dengan ukuran biosfernya, alam tidak berada “dalam keseimbangan”, tidak juga berada dalam “keadaan terbaik”-nya. Kita tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat memastikan kesetimbangan stabil dari jumlah populasi ataupun komposisi spesies dari komunitas-komunitas. Jadi pernyataan tentang keseimbangan dan keselarasan bersifat idealis dan ideologis. ( “Keseimbangan alam” dinyatakan sebagai analog dari “tangan yang tak terlihat” dalam ekonomidi mana persaingan di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda dianggap akan meleburkan dirinya dalam sistem yang seimbang dan stabil.)
Dalam esai mereka Dialectics and Reductionism in Ecology (Dialektika dan Reduksionisme dalam Ekologi) Richard Levins dan Richard Lewontin melancarkan kritik atas idealisme dan juga menolak materialisme reduksionis. Sebagai gantinya mereka mengajukan pendekatan materialis dialektik untuk mengkaji alam. Reduksionisme menggunakan asumsi dasar bahwa fenomena dapat digambarkan secara keseluruhan sebagai gejala dari obyek yang terisolasi, atau dengan kata lain, bahwa “yang keseluruhan” (misalnya komunitas), dapat dipahami semata sebagai penjumlahan dari “yang sebagian” (misalnya spesies dalam komunitas), yang tidak memiliki gejalanya sendiri. Namun, dalam reduksionisme, bagian maupun keseluruhan sama sekali tidak saling menentukan atau mempengaruhi. Keyakinan reduksionis akan dunia atomistik tersebut menyebabkan kegagalan teori ilmiah dan aplikasinyakarena membenarkan penelitian atas bagian-bagian dalam sekat-sekat pembatas antara satu sama lainnya dan meremehkan kebutuhan untuk memahami saling keterhubungan, asal-usul saling keterkaitan, dan sifat-sifat dari keseluruhan yang rumit.
“Ekologi harus menjawab persoalan saling ketergantungan dan otonomi relatif, kemiripan dan perbedaan, umum dan khusus, kesempatan dan kebutuhan, keseimbangan dan perubahan, kontinuitas dan diskontinuitas, proses-proses kontradiktif,” tulis mereka. Menurut mereka filsafat yang efektif untuk memahami karakteristik dan proses-proses tersebut adalah materialisme dialektik, yang “tesis utamanya adalah pendapat bahwa alam mengandung kontradiksi-kontradiksi, bahwa ada kesatuan dan interpenetrasi dari apa yang kelihatannya eksklusif tak saling pengaruh, dan karenanya isu utama bagi ilmu pengetahuan adalah kajian tentang kesatuan dan kontradiksi tersebut.”
Mungkin berlebihan jika berpendapat bahwa seseorang harus menjadi Marxis terlebih dulu untuk menjadi ilmuwan yang baik, kritis, sadar akan kontradiksi dalam alam dan menyadari asumsi-asumsi perorangan. Namun Levins dan Lewontin memberi alasan kuatdengan didukung oleh contoh-contoh ekologi populasi dan komunitas, mereka mengatakan bahwa, bagi kita, tak cukup sekadar menggunakan pendekatan materialis, melainkan harus menggunakan pendekatan materialis dialektik pada hal-hal khusus agar dunia menjadi masuk akal. Pendapat tersebut benar, khususnya dalam ekologi, karena melibatkan penelitian atas sistem yang kompleks secara intrinsik. Hal tersebut mendukung janji-janji materialisme dialektik untuk menjadi alat yang dapat lebih diandalkan ketimbang alat konvensionalyakni cara-cara reduksionis, yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengalihkan teknologi padat modal dan energi menjadi teknologi yang lebih “padat-ide”.
Aspek khusus lain yang relevan dari Marxisme adalah teori akumulasi, yang menjelaskan bahwa syarat pertumbuhan kapitalisme dihasilkan dari upaya kekuatan-kekuatan (perusahaan) dalam menghadapi tekanan-tekanan kompetisi di antara mereka, sehingga memaksa mereka memotong biaya dan mengakumulasikan modal sebagai cara untuk bertahan hidup. Teori tersebut menjelaskan kebutuhan kekuatan-kekuatan kapitalis yang berkompetisi untuk mengeksternalkan sebanyak mungkin biaya produksi menjadi beban masyarakat dalam jumlah besar, termasuk biaya “cuci tangan”(berupa) insentif tetap bagi aktivitas produksi dan konsumsi yang menghasilkan banyak limbah; dan ekspansi internasional kekuatan kapitalis ketika mereka mencari pasar baru, sumber daya baru dan, lebih banyak lagi tempat baru untuk membuang limbahnya.
Sehingga, terdapat konflik mendasar antara kapitalisme dan rasionalitas ekologis. Seperti yang dikatakan oleh Paul Sweezy, bahwa catatan buruk (di bidang lingkungan) kapitalisme disebabkan oleh sifat bawaannya yang mengusung proses akumulasi modal yang tak terkendali. Sistem tersebut tak memiliki mekanisme pengerem/pengendali selain krisis ekonomi berkala; satuan-satuan individual yang menyusunnyamodal yang terpisah-pisahharus tanggap terhadap peluang-peluang meraup keuntungan dalam jangka pendek, atau tersingkir; tak ada bagian dalam sistem itu yang membuka diri atau sesuai dengan suatu perencanaan jangka panjang yang mutlak sangat penting bagi pelaksanaan sebuah program ekologi yang efektif.
Banyak yang berpendapat, merujuk pada catatan lingkungan negeri-negeri sosialis maju, bahwa sosialisme bukan solusi, dan menegaskan bahwa negeri sosialis juga berada di bawah tekanan besar untuk mengakumulasikan modal, mendorong perilaku yang sama dengan perusahaan-perusahaan kapitalis. James O’Connor membantah pendapat kebanyakan tersebut dengan mengatakan bahwa tekanan untuk mengurangi biaya lebih kecil di dalam negeri sosialis (maupun dalam satuan-satuan produksinya) ketimbang dalam perusahaan-perusahaan kapitaliskarena perusahaan-perusahaan kapitalis dibimbing oleh norma-norma pasar; sedangkan perusahaan-perusahaan sosialis dibimbing oleh norma-norma politik. Walaupun pertumbuhan ekonomi juga menjadi tujuan kunci dalam negeri sosialis, namun tak ada kebutuhan pertumbuhan sistemik dalam kadar yang sama. Pertumbuhan lebih cenderung menjadi sebuah keputusan politik…. Memang, watak pengerukan sumber daya yang berani dan tak terencananya bertujuan demi pemanfaatan, bukan demi keuntungan, dan pertumbuhan dipandang sebagai sarana, bukan merupakan tujuan antara maupun tujuan akhir, kendati dalam prakteknya tentu tidak selalu demikian.
O’Connor berpendapat bahwa ekonomi sosialis berpotensi menggunakan dan membuang sumber daya dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang ekonomi kapitalis, dan konsumsi personal di bawah sosialisme menghasilkan lebih sedikit polusi. Karena dipaksa oleh permintaan, ekonomi kapitalis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan berbentuk komoditi, melibatkan penciptaan “kebutuhan-kebutuhan” yang diindividualkan dalam semua jenis komoditi. Di lain pihak, ekonomi sosialis menekankan konsumsi kolektif, tempat pemberhentian massal, fasilitas rekreasi dan liburan bersama, penanganan kesehatan bersifat pencegahan, dan permukiman bersama. Sehingga, seperti juga dikemukakan oleh Sweezy dan Magdoff, negeri-negeri sosialis setidaknya berpotensi membuat beberapa kemajuan signifikan menuju produksi yang rasional secara ekologis.
Kendati demikian, negeri-negeri dengan kebijakan-kebijakan sosialis secara umum memiliki catatan lingkungan yang kurang baik. Sebagian karena keadaan tempat pemerintahan sosialis itu beradarelatif miskin, mendapat serangan-serangan dari luar dan, khususnya bagi yang kecil, mengalami ketergantungan ekonomi ala Dunia Ketiga, suatu posisi yang tidak menguntungkan dalam pasar internasional. Hambatan-hambatan yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan material penduduknya, mendorong pembentukan pertahanan militer yang cukup kuat, dan berlanjutnya produksi dan ekspor tanaman industri serta bahan mentah untuk perdagangan luar negerinya, sehingga pengambil kebijakan sosialis lebih menekankan pada akumulasi oleh negarasuatu adopsi yang tidak kritis atas banyak bagian dari pembangunan kapitalis, yang catatannya sangat buruk saat berhadapan dengan lingkungan (meskipun, tentu saja, ada beberapa pengecualian).
Tapi factor-faktor yang melekat pada ideologi sosialis juga memberikan sumbangan terhadap karakter kebijakan ekonomi sosialis tersebut. Salah satunya adalah produksionisme Marxisme, yang dicatat oleh Arthur MacEwan sebagai kelemahan penting yang menyebabkan diutamakannya kemajuan dalam produksi di atas kemajuan dalam bidang lain, dan subordinasi tujuan-tujuan lain di bawah akumulasi sosialis. Faktor lain, dalam pandangan Michael Redclift, adalah cara Marxisme mengkonseptualisasikan nilai (value)mendasarkannya pada waktu kerja, karena memang begitu adanya, ketimbang mendasarkannya pada sifat-sifat bawaan dari material alam, sehingga membuat “nilai” lingkungan menjadi tak jelas.
Akhirnya, karena gagal menyadari demokrasi yang sepenuh-penuhnya maka ekonomi dan politik di bawah kapitalisme atau sosialisme menjadi persoalan mendasar dalam krisis ekologis. Seperti ditulis oleh Barry Commoner, “pemerintahan sosial produksi telah gagal diwujudkan baik dalam negeri kapitalisme maupun negeri sosialisme. Apa yang dibutuhkan adalah perluasan demokrasi hingga ke ajang di mana keputusan produksi dibuat.” Agak senada, Redclift mengatakan bahwa individu-individu baik dalam masyarakat industrial kapitalis maupun sosialis makin dibatasi dalam ikut bertanggung jawab atas lingkungan terdekat mereka sendiri dan lingkungan lain di masyrakat yang lain. Dalam penelitiannya tentang gerakan Hijau di Eropa Timur, ia menyimpulkan bahwa krisis ekologi berhubungan erat dengan penghargaan yang kurang terhadap hak-hak dasar manusia, kebebasan informasi, dan demokrasi partisipatoris.
Meskipun kecenderungan bawaan kapitalisme membuang sampah (ke lingkungan) adalah konsekuensi dari syarat-syarat pertumbuhannya, kita tidak boleh “meragukan kecerdikan kapitalisme dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri,” seperti diperingatkan oleh Andre Gorz dalam Ecology in Politics. Dalam tingkat tertentu, terlihat jelas bahwa kapitalisme bisa menerima keprihatinan ekologi, sejauh solusi-solusinya bisa dikomoditikan. Jika masyarakat akan puas dengan air minum yang bersihsementara sungai dan air tanah berpolusimaka kami akan menjual air dalam botol dan menyaringnya untuk disimpan. Jika agen pengontrol biologis dapat dikemas dan dijual demi keuntungan bagi produsen pertanian, hal itu akan dilakukan, dan mungkin penggunaan pestisida yang berbahaya akan berkurang. Perusahaan-perusahaan kapitalis, jauh-jauh hari sebelum dipaksa, bukan saja karena alasan politik tapi juga karena alasan ekonomi, sudah mmpertimbangkan sumber-sumber daya ekologi, seperti unsur hara tanah dan populasi serangga bermanfaat, sebagai persediaan modal dalam perhitungan mereka.
Kendati beberapa masalah lingkungan dapat dipermak di sana-sini dalam konteks kapitalisme, tapi tidak demikian halnya dengan masalah lingkungan secara keseluruhan. Itu karena kecenderungan kapital untuk berekspansi secara internasionalketika kapital dibatasi di tingkat lokal (contohnya, ketika pemerintah setempat menanggapi tekanan dari para environmentalis dan menerapkan regulasi berbiaya tinggi pada industri swasta demi perlindungan lingkungan), maka ia akan pindah.
Tindakan Politik
Dalam pemahaman akhir, tuntutan akan rasionalitas ekologis dalam skala besar merupakan tuntutan radikal karena pemenuhannya membutuhkan perubahan struktural yang mendasar. Hal itu tentu tidak dipahami sepenuhnya oleh gerakan lingkungan, banyak partisipannya melihat bahwa tuntutan dan tujuan aksi-aksi mereka hanyalah untuk menerapkan perangkat-perangkat khusus perlindungan lingkungan. Peran khusus dari sayap kiri (ekologis sosial dan Marxis) dalam gerakan lingkungan adalah untuk secara berkelanjutan mengekspresikan politik dari keprihatinan ekologisbahwa kemerosotan lingkungan bukan lah masalah “industri” atau “modernisasi” yang lepas dari hubungan-hubungan sosial produksi dan pertukaran. Bukan pula persoalan ideologi, yang selesai dengan kesadaran lingkungan yang lebih besar atau perubahan dalam gaya hidup perorangan. Kemerosotan lingkungan adalah persoalan kontrol yang tidak demokratis atas sumber daya-sumber daya dan proses pengambilan keputusan.
Walaupun pandangan ekologi sosial dan Marxis memiliki kesamaan dalam humanisme dan anti kapitalismenya, sesungguhnya mereka berbeda dalam cara mewujudkannya. Dalam praktek politik, posisi tegas Marxisme adalah bahwa ekologi tidak dapat (secara tersendiri) menjadi tujuan khusus dari suatu masyarakat atau suatu program. Sebaliknya, ekologis sosial, seperti yang mereka tunjukkan dalam analisis-analisis dan peran politiknya dalam partai-partai Hijau dan organisasi-organisasinya, mendefinisikan politiknya dalam konteks ekologi dan menurunkan model masyarakat mereka dari ekologi atau kriteria-kriteria ekologis. Misalnya, ekologis sosial melihat desentralisasi sebagai elemen kunci dari masyarakat yang rasional secara ekologis. Namun, seperti dinyatakan oleh O’Connor, merujuk pengalaman Cina, desentralisasi industri, dalam ukuran ekonomi, mempersulit upaya untuk mewujudkan pengelolaan limbah, dan menyebabkan permasalahan-permasalahan polusi yang parah di tingkat lokal. Terlebih lagi, menentukan ekologi sebagai satu-satunya kriteria untuk aksi, seseorang mungkin akan menolak kapitalisme tapi tak tahu ke mana harus pergi. Seperti dipahami oleh Gorz, “ekologi tidak perlu melakukan penolakan terhadap otoritarianisme, solusi-solusi teknofasis,” karena dengan itu aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan dapat diterapkan pada penduduk secara paksa.
Konflik yang sering dikedepankan adalah, di satu sisi, antara lapangan kerja atau keberlangsungan ekonomi dan, di sisi lain, kualitas lingkungan. Konflik tersebut sebenarnya tidak ada. Contohnya, menghadapi perlawanan kaum pecinta lingkungan (environmentalist)terakhir paling terlihat dalam kampanye Redwood Summer tahun 1990 untuk menyelamatkan Redwoods yang sudah lama tumbuh di California utaraindustri kayu California menyalahkan upaya-upaya pelestarian atas hilangnya lapangan kerja perkayuan. Kenyataannya industri itu sendiri yang bertanggung jawab. Dalam dekade terakhir saat produksi kayu di Humboldt County (salah satu lokasi aksi-aksi Redwood Summer) meningkat hingga lebih 50%, jumlah pekerja perkayuan menurun hingga 35%. Otomatisasi dan ekspor gelondongan untuk digergaji di luar negeri menyebabkan hilangnya lapangan kerja, dan walau ada penebangan berlebihan lapangan kerja perkayuan akan tetap menurun di kemudian hari.
Analisis politik yang lebih besar diperlukan untuk bergerak menuju tatanan yang lebih sosial dan rasional secara ekologis. Program yang menghubungkannya harus mencakup baik tujuan rasionalitas ekologis maupun tujuan keadilan dan demokrasi yang lebih didefinisikan secara sosial. Perspektif Marxis menyediakan elemen penting dalam analisis politiknya yang lebih besardengan kritiknya pada kapitalisme dan khususnya teori akumulasi. Akumulasi kapitalis tidak hanya mendasari dan menggerakkan perusakan lingkungan, tapi juga penderitaan-penderitaan yang lain, seperti penerapan kontrol ekonomi dan politik oleh kepentingan kapitalis atas manusia di seluruh dunia. Hasilnya, jika kapitalisme adalah masalahnya, maka secara logis tidak lengkap dan secara politis dangkal jika membangun gerakan semata berbasis utama pada keprihatinan ekologis.
Akumulasi kapitalis, dan mobilitas, ekspansi, serta kontrol yang mengikutinya, memiliki implikasi langsung terhadap aksi politik kita di seputar isu lingkungan. Aksi kita harus diluaskan secara geografis jika tidak ingin menghasilkan kualitas lingkungan (yang baik) dan keselamatan untuk sekelompok orang tapi dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan, atau nyawa orang lain. Contohnya, agitasi oleh para pecinta lingkungan dan konsumen di AS dalam menolak residu dari pestisida yang mengendap dan menyebabkan kanker (organoklorin seperti DBCP) telah membuat perusahaan-perusahaan yang memproduksinya “membuang” pestisida-pestisida tersebut ke Dunia Ketiga dan menggantinya dengan pestisida yang tidak menetap di tubuh tapi lebih beracun (organofosfat seperti parathion). Hasilnya, buruh tani di AS dan di luar negeri, yang mengerjakan tanaman budidaya untuk pasar AS, kemudian menderita lebih banyak keracunan dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Di AS sendiri, kaum pecinta lingkungan menghasilkan dampak yang tak merataterdapat kecenderungan yang nyata untuk menempatkan sampah mematikan di lingkungan miskin orang-orang African-American, Latino dan penduduk asli Amerika berkaitan dengan rasisme dan kurangnya kekuatan politik komunitas-komunitas tersebut dibandingkan dengan warga yang lebih kaya atau tetangga kulit putih mereka.
Melemahnya negara-bangsa berhadapan dengan kapital adalah alasan lain mengapa pengorganisasian lingkungan harus berlingkup internasional. Pada musim gugur 1989 misalnya, dalam menanggapi Belanda yang memberlakukan aturan emisi kendaraan, Prancis membawanya ke pengadilan Eropa. Pemerintah Prancis berargumen bahwa hukum Belanda menunjukkan pengingkaran terhadap kesepakatan Pasar Umum, karena mobil Prancis akan terhalangi untuk dijual di Belanda. Prancis memenangkan kasus tersebut.
Sebagai tambahan, untuk mengkonsolidasikan dan mempolitisir perlawanan-perlawanan lokal yang sudah adamelawan pembuangan limbah beracun, pestisida, penambangan tak terkendali, dan lain sebagainyademi kesatuan dan dampak politik yang lebih besar, kita perlu mulai mengkoordinasikannya dalam gerakan nasional dan internasional. Itu sama dengan internasionalisasi pengorganisasian buruh, yang diperlukan karena alasan yang sama.
Banyak gerakan lingkungan di Dunia Ketiga terdiri dari orang-orang yang lingkungan hidupnya mengalami ancaman langsung dari polusi dan ekstraksi sumber daya. Beberapanya secara sadar anti imperialis dan atau sosialis. Tapi gerakan dan organisasi-organisasi Dunia Ketiga tersebut biasanya kekurangan sumber daya untuk melakukan lebih banyak koordinasi internasional. Organisasi-organisasi lingkungan progresif yang berbasis di negeri-negeri yang lebih kaya dapat memainkan peran penting dalam internasionalisasi aktivisme lingkungan, tidak hanya dengan kerja solidaritas jangka panjang, seperti pekerjaan New World Agriculture Group di Nikaragua, tapi juga melalui pembangunan jaringan organisasi-organisasi dan koordinasi aktivisme dalam skala internasional. Contoh dari organisasi yang membantu membangun jaringan internasional dan mengkoordinir aksinya adalah Pesticide Action Network, Greenpeace (yang sudah mengangkat dan melawan ekspor pestisida serta limbah beracun berbahaya), dan mereka yang membantu mengorganisir Fourth Internasional Congress in the Fate and Hope of the Earth yang diselenggarakan di Managua bulan Juni 1989, termasuk Earth Island Institute dan Environmental Project on Central America (EPOCA).
Karena mustahil menerapkan rasionalitas ekologis dalam skala luas di bawah kapitalisme, para pecinta lingkungan dan gerakan lingkungan dapat, dan di beberapa bagian dunia sudah, menjadi agen-agen perubahan revolusioner. Untuk mewujudkan potensi itu, para aktivis harus mengingat bahwa:
• permasalahan-permasalahan ekologi adalah masalah politis dalam makna bahwa maslah-maslah tersebut dihasilkan atau sangat dipengaruhi oleh kesenjangan-kesenjangan kontrol atas sumber daya dan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa;
• ekologi tidak dapat menjadi program politik itu sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari analisa dan program yang lebih luas;
• perlu memehami kapitalisme, dan khususnya dinamika akumulasi modal, agar mengerti mengapa kerusakan lingkungan terjadi dan akan terus berlanjut dalam dunia yang kapitalistik;
• oleh karena mobilitas dan ekspansi modal, serta melemahnya negara-bangsa, maka perlu mengkoordinasikan strategi secara internasional.
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Oleh: Katherine Yih
Gerakan pro lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin’s, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu mulai dari tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi antara lain ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka). Namun, sekalipun tanpa para environmentalis arus-utama (terkemuka), apakah “gerakan” tersebut yang lebih merupakan pencampuradukan organisasi-organisasi yang terbangun oleh beragam idelogi dan menerapkan strategi yang jauh saling berbeda benar-benar memiliki kemauan atau kemampuan untuk mewujudkan perubahan struktural yang dibutuhkan guna menunda dan memulihkan kehancuran lingkungan?
Perspektif kiri dalam ekologi khususnya ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis paling menjanjikan dalam hal merumuskan dan memecahkan persoalan seputar hubungan antara manusia dengan isi alam yang lainnya. Mereka memberikan komitmen pada keadilan dan pemahaman bahwa kapitalisme pada akhirnya menghalangi kesetaraan sosial maupun rasionalitas ekologi. Kendati demikian, ada beberapa perbedaan penting di antara pandangan-pandangan tersebut, yang berhubungan dengan keampuhan politisnya.
Salah satu titik perbedaan mendasar antara penganut ekologi sosial dan kaum Marxis adalah tingkat penekanan yang mereka berikan untuk persoalan-persoalan ekologis dalam keseluruhan program politik mereka. Penganut ekologi sosial menempatkan ekologi sebagai elemen inti dalam program mereka, dari situ semua yang lainnya dianggap kurang-lebih mengikuti. Bagi kaum Marxis yang memiliki kepekaan ekologis, rasionalitas ekologis lebih merupakan sasaran kritik yang terkait dengan persoalan lain dalam analisis dan program yang lebih luas—menjadi merah sama perlunya dengan menjadi hijau.
Perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah hal sepele dan menimbulkan konsekuensi di lapangan. Sebagai contoh, di Burlington, Vermont (di Burlington sebagian besar anggotanya penganut ekologis sosial), Partai Hijau mengajukan seorang kandidat dalam pemilu raya 1989, yang pertarungan utamanya adalah antara Partai Demokrat dan seorang kandidat independen yang didukung oleh kaum sosialis yang tergabung dalam Koalisi Progresif. Sehingga keikutsertaan Partai Hijau mengancam terpecahnya suara bagi Koalisi Progresif. Akhirnya, Koalisi Progresif menang dengan mudah; hanya 3,4 persen suaranya yang terbagi untuk Partai Hijau. Pada pemilihan anggota Dewan Kotapraja tahun 1990, kandidat Partai Hijau di satu daerah pemilihan jelas-jelas menyatakan bahwa tujuannya bukanlah kemenangan melainkan mengalahkan Koalisi Progresif; Koalisi Progresif kehilangan daerah pemilihan tersebut dengan selisih suara yang tipis dibandingkan dengan jumlah suara milik Partai Hijau.
Adalah penting untuk melihat ideologi dan analisis yang mendasari ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis tentang ekologi secara lebih rinci guna mengevaluasi implikasi-implikasi politiknya dan potensi mereka dalam menghadirkan tatanan sosial serta ekologi yang didambakan.
Ekologi Sosial
Karena berakar dari pandangan anarkis, maka ekologi sosial sangat anti-kapitalis dan menolak semua bentuk dominasi. Banyak kaum Hijau-kiri merupakan pendukung ekologi sosial; yang cukup dikenal adalah Murray Bookchin, yang menggunakan pertama kali istilah tersebut di tahun 1964 dalam esainya Ecology and Revolutionary Thought.
Bookchin memandang kemerosotan kualitas lingkungan terkait erat dengan kebutuhan/keinginan kapitalisme. Jadi, bukan industri dan teknologi yang salah, melainkan sistem ekonomi yang tak pernah puas, yakni kapitalisme. Selebihnya, sama seperti Marxis, ia menyatakan bahwa “kelas, juga eksploitasi, merupakan landasan bagi akumulasi kapitalis dan keniscayaan menuju pembusukan serta penghancuran planet ini.”
Ekologi sosial memandang manusia terutama sebagai makhluk sosial, bukan sebagai spesies yang tidak dapat dibeda-bedakanmakhluk sosial, yang menurut Bookchin, “sangat berbeda-beda oleh karena status mereka sebagai orang kaya dan miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, gay dan ‘straight’, tertindas dan penindas.” Ekologi sosial “menekankan tuntutan keadilan dari kaum tertindas terhadap masyarakat yang secara semena-mena mengeksploitasi manusia, karenanya membutuhkan kemerdekaan kaum tertindas.”
Meski mereka tak diragukan lagi humanis, ekologis sosial tidak memandang alam semata-mata sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan material manusia. Jelas sekali ada penilaian estetis seperti terlihat pada kutipan ini: Lepas dari bayang-bayang keraguan apapun, kita sangat membutuhkan kepekaan ekologisyang ditandai oleh ketakjuban pada evolusi alam dan semarak biosfer dengan beragam bentuknya…Lebih dari itu, alam merupakan suatu proses—proses mengagumkan yang dapat dinikmati dengan caranya sendiri….
Masyarakat ideal bagi penganut ekologi sosial, menurut pendapat Howard Hawkins, adalah sebuah “konfederasi non-hirarkis—masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, dan demokratis, yang berbasiskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi,” atau, dalam kata-kata Bookchin, “masyarakat berorientasi ekologis yang berbasiskan komunitas-komunitas dengan tata-nilai kemanusiaan yang bersifat bebas, terkonfederasi, yang di dalamnya manusia akan memiliki kendali langsung, tanpa perantara/ perwakilan, atas kehidupan sosial dan perorangannya.”
Hawkins mengkaji aspek langsung, tanpa perantara/perwakilan tersebut: Dengan melandaskan diri pada majelis kerakyatan sebagai kesatuan publik non-hirarkis yang menangani semua kepentingan sosial seperti ekonomi [model anarko-komunis], maka akan terbangun solidaritas sosial yang lebih solid ketimbang memfokuskan diri pada persoalan ekonomi secara lebih sempit seperti model dewan. Dengan menyatukan kembali produksi dan konsumsi, anarko-komunisme hendak menghindari pembagian antara satuan-satuan usaha dan konsumsi yang berbeda-beda, kepentingan-kepentingan ekonomi yang terpisah-pisah, dan kemungkinan munculnya hirarki di antara mereka.
Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, demokratis, dan dengan tata-nilai kemanusiaan, maka manusia akan memiliki kendali yang lebih besar atas masyarakatnya dan saling memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar satu sama lainnya, yang akan membuat mereka mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya secara rasional.
Tentang bagaimana cara untuk menuju ke sana, beberapa penganut ekologi sosial, seperti Brian Tokar, mengatakan bahwa caranya adalah dengan menciptakan alternatif-alternatif yang telah berjalan dengan baik, khususnya bioregionalisme, dikombinasikan dengan konfrontasi langsung dengan perangkat-perangkat/lembaga-lembaga kapitalis (contohnya demonstrasi di Wall Street setelah Hari Bumi, 23 April 1990). Para bioregionalis, yang tidak semuanya mengaku sebagai ekologi sosial, mendukung penarikan diri yang lebih besar dari ekonomi pasar dan memantapkan kemandirian pencukupan kebutuhan regional serta hubungan ekonomi kerjasama di antara komunitas-komunitas yang disatukan.
Ketika strategi ini dijalankan, pandangan tentang masyarakat alternatif tersebut terjerumus dalam tradisi utopian, miskin akan teori yang teruji tentang bagaimana transisi terjadi di bawah hegemoni kapitalis. Bukannya menganggap negara sosialis sebagai tahap yang diperlukan menuju masyarakat tanpa kelas, misalnya, namun kaum ekologis sosial (seperti Bookchin dan Hawkins) justru menolak habis negara, yang menurut mereka sudah pasti merupakan lembaga hirarkis dan tidak demokratis. Juga tak ada pemikiran mengenai dunia ketigabagaimana dunia ketiga terkait dengan negeri-negeri maju dalam hubungan yang tidak setara dan bagaimana aksi di satu tempat mempengaruhi keadaan di tempat lain.
Marxisme dan Ekologi
Marxisme, sebagai filsafat dan teori ekonomi-politik, menyediakan kerangka yang lebih luas dan matang ketimbang ekologi sosial. Karena itu, keduanya lebih berguna untuk memahami dunia, termasuk dunia “alam”, dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi tindakan politik. Dua aspek dari teori Marxis yang paling relevan untuk memahami dan melakukan aksi atas isu-isu tentang ekologi serta lingkungan adalah materialisme dialektik dan teori akumulasi.
Materialisme dialektik, sebagai filsafat, menjadi ada dan menyadari relevansinya dengan diskusi ekologi karena implikasinya pada cara kita memahami alam. Kini sudah menjadi pemahaman umum di kalangan ekologis profesional bahwa alam tidaklah statis, bukan sesuatu yang selalu sama, sekalipun tanpa gangguan manusia. Dengan ukuran komunitasnya maupun dengan ukuran biosfernya, alam tidak berada “dalam keseimbangan”, tidak juga berada dalam “keadaan terbaik”-nya. Kita tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat memastikan kesetimbangan stabil dari jumlah populasi ataupun komposisi spesies dari komunitas-komunitas. Jadi pernyataan tentang keseimbangan dan keselarasan bersifat idealis dan ideologis. ( “Keseimbangan alam” dinyatakan sebagai analog dari “tangan yang tak terlihat” dalam ekonomidi mana persaingan di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda dianggap akan meleburkan dirinya dalam sistem yang seimbang dan stabil.)
Dalam esai mereka Dialectics and Reductionism in Ecology (Dialektika dan Reduksionisme dalam Ekologi) Richard Levins dan Richard Lewontin melancarkan kritik atas idealisme dan juga menolak materialisme reduksionis. Sebagai gantinya mereka mengajukan pendekatan materialis dialektik untuk mengkaji alam. Reduksionisme menggunakan asumsi dasar bahwa fenomena dapat digambarkan secara keseluruhan sebagai gejala dari obyek yang terisolasi, atau dengan kata lain, bahwa “yang keseluruhan” (misalnya komunitas), dapat dipahami semata sebagai penjumlahan dari “yang sebagian” (misalnya spesies dalam komunitas), yang tidak memiliki gejalanya sendiri. Namun, dalam reduksionisme, bagian maupun keseluruhan sama sekali tidak saling menentukan atau mempengaruhi. Keyakinan reduksionis akan dunia atomistik tersebut menyebabkan kegagalan teori ilmiah dan aplikasinyakarena membenarkan penelitian atas bagian-bagian dalam sekat-sekat pembatas antara satu sama lainnya dan meremehkan kebutuhan untuk memahami saling keterhubungan, asal-usul saling keterkaitan, dan sifat-sifat dari keseluruhan yang rumit.
“Ekologi harus menjawab persoalan saling ketergantungan dan otonomi relatif, kemiripan dan perbedaan, umum dan khusus, kesempatan dan kebutuhan, keseimbangan dan perubahan, kontinuitas dan diskontinuitas, proses-proses kontradiktif,” tulis mereka. Menurut mereka filsafat yang efektif untuk memahami karakteristik dan proses-proses tersebut adalah materialisme dialektik, yang “tesis utamanya adalah pendapat bahwa alam mengandung kontradiksi-kontradiksi, bahwa ada kesatuan dan interpenetrasi dari apa yang kelihatannya eksklusif tak saling pengaruh, dan karenanya isu utama bagi ilmu pengetahuan adalah kajian tentang kesatuan dan kontradiksi tersebut.”
Mungkin berlebihan jika berpendapat bahwa seseorang harus menjadi Marxis terlebih dulu untuk menjadi ilmuwan yang baik, kritis, sadar akan kontradiksi dalam alam dan menyadari asumsi-asumsi perorangan. Namun Levins dan Lewontin memberi alasan kuatdengan didukung oleh contoh-contoh ekologi populasi dan komunitas, mereka mengatakan bahwa, bagi kita, tak cukup sekadar menggunakan pendekatan materialis, melainkan harus menggunakan pendekatan materialis dialektik pada hal-hal khusus agar dunia menjadi masuk akal. Pendapat tersebut benar, khususnya dalam ekologi, karena melibatkan penelitian atas sistem yang kompleks secara intrinsik. Hal tersebut mendukung janji-janji materialisme dialektik untuk menjadi alat yang dapat lebih diandalkan ketimbang alat konvensionalyakni cara-cara reduksionis, yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengalihkan teknologi padat modal dan energi menjadi teknologi yang lebih “padat-ide”.
Aspek khusus lain yang relevan dari Marxisme adalah teori akumulasi, yang menjelaskan bahwa syarat pertumbuhan kapitalisme dihasilkan dari upaya kekuatan-kekuatan (perusahaan) dalam menghadapi tekanan-tekanan kompetisi di antara mereka, sehingga memaksa mereka memotong biaya dan mengakumulasikan modal sebagai cara untuk bertahan hidup. Teori tersebut menjelaskan kebutuhan kekuatan-kekuatan kapitalis yang berkompetisi untuk mengeksternalkan sebanyak mungkin biaya produksi menjadi beban masyarakat dalam jumlah besar, termasuk biaya “cuci tangan”(berupa) insentif tetap bagi aktivitas produksi dan konsumsi yang menghasilkan banyak limbah; dan ekspansi internasional kekuatan kapitalis ketika mereka mencari pasar baru, sumber daya baru dan, lebih banyak lagi tempat baru untuk membuang limbahnya.
Sehingga, terdapat konflik mendasar antara kapitalisme dan rasionalitas ekologis. Seperti yang dikatakan oleh Paul Sweezy, bahwa catatan buruk (di bidang lingkungan) kapitalisme disebabkan oleh sifat bawaannya yang mengusung proses akumulasi modal yang tak terkendali. Sistem tersebut tak memiliki mekanisme pengerem/pengendali selain krisis ekonomi berkala; satuan-satuan individual yang menyusunnyamodal yang terpisah-pisahharus tanggap terhadap peluang-peluang meraup keuntungan dalam jangka pendek, atau tersingkir; tak ada bagian dalam sistem itu yang membuka diri atau sesuai dengan suatu perencanaan jangka panjang yang mutlak sangat penting bagi pelaksanaan sebuah program ekologi yang efektif.
Banyak yang berpendapat, merujuk pada catatan lingkungan negeri-negeri sosialis maju, bahwa sosialisme bukan solusi, dan menegaskan bahwa negeri sosialis juga berada di bawah tekanan besar untuk mengakumulasikan modal, mendorong perilaku yang sama dengan perusahaan-perusahaan kapitalis. James O’Connor membantah pendapat kebanyakan tersebut dengan mengatakan bahwa tekanan untuk mengurangi biaya lebih kecil di dalam negeri sosialis (maupun dalam satuan-satuan produksinya) ketimbang dalam perusahaan-perusahaan kapitaliskarena perusahaan-perusahaan kapitalis dibimbing oleh norma-norma pasar; sedangkan perusahaan-perusahaan sosialis dibimbing oleh norma-norma politik. Walaupun pertumbuhan ekonomi juga menjadi tujuan kunci dalam negeri sosialis, namun tak ada kebutuhan pertumbuhan sistemik dalam kadar yang sama. Pertumbuhan lebih cenderung menjadi sebuah keputusan politik…. Memang, watak pengerukan sumber daya yang berani dan tak terencananya bertujuan demi pemanfaatan, bukan demi keuntungan, dan pertumbuhan dipandang sebagai sarana, bukan merupakan tujuan antara maupun tujuan akhir, kendati dalam prakteknya tentu tidak selalu demikian.
O’Connor berpendapat bahwa ekonomi sosialis berpotensi menggunakan dan membuang sumber daya dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang ekonomi kapitalis, dan konsumsi personal di bawah sosialisme menghasilkan lebih sedikit polusi. Karena dipaksa oleh permintaan, ekonomi kapitalis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan berbentuk komoditi, melibatkan penciptaan “kebutuhan-kebutuhan” yang diindividualkan dalam semua jenis komoditi. Di lain pihak, ekonomi sosialis menekankan konsumsi kolektif, tempat pemberhentian massal, fasilitas rekreasi dan liburan bersama, penanganan kesehatan bersifat pencegahan, dan permukiman bersama. Sehingga, seperti juga dikemukakan oleh Sweezy dan Magdoff, negeri-negeri sosialis setidaknya berpotensi membuat beberapa kemajuan signifikan menuju produksi yang rasional secara ekologis.
Kendati demikian, negeri-negeri dengan kebijakan-kebijakan sosialis secara umum memiliki catatan lingkungan yang kurang baik. Sebagian karena keadaan tempat pemerintahan sosialis itu beradarelatif miskin, mendapat serangan-serangan dari luar dan, khususnya bagi yang kecil, mengalami ketergantungan ekonomi ala Dunia Ketiga, suatu posisi yang tidak menguntungkan dalam pasar internasional. Hambatan-hambatan yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan material penduduknya, mendorong pembentukan pertahanan militer yang cukup kuat, dan berlanjutnya produksi dan ekspor tanaman industri serta bahan mentah untuk perdagangan luar negerinya, sehingga pengambil kebijakan sosialis lebih menekankan pada akumulasi oleh negarasuatu adopsi yang tidak kritis atas banyak bagian dari pembangunan kapitalis, yang catatannya sangat buruk saat berhadapan dengan lingkungan (meskipun, tentu saja, ada beberapa pengecualian).
Tapi factor-faktor yang melekat pada ideologi sosialis juga memberikan sumbangan terhadap karakter kebijakan ekonomi sosialis tersebut. Salah satunya adalah produksionisme Marxisme, yang dicatat oleh Arthur MacEwan sebagai kelemahan penting yang menyebabkan diutamakannya kemajuan dalam produksi di atas kemajuan dalam bidang lain, dan subordinasi tujuan-tujuan lain di bawah akumulasi sosialis. Faktor lain, dalam pandangan Michael Redclift, adalah cara Marxisme mengkonseptualisasikan nilai (value)mendasarkannya pada waktu kerja, karena memang begitu adanya, ketimbang mendasarkannya pada sifat-sifat bawaan dari material alam, sehingga membuat “nilai” lingkungan menjadi tak jelas.
Akhirnya, karena gagal menyadari demokrasi yang sepenuh-penuhnya maka ekonomi dan politik di bawah kapitalisme atau sosialisme menjadi persoalan mendasar dalam krisis ekologis. Seperti ditulis oleh Barry Commoner, “pemerintahan sosial produksi telah gagal diwujudkan baik dalam negeri kapitalisme maupun negeri sosialisme. Apa yang dibutuhkan adalah perluasan demokrasi hingga ke ajang di mana keputusan produksi dibuat.” Agak senada, Redclift mengatakan bahwa individu-individu baik dalam masyarakat industrial kapitalis maupun sosialis makin dibatasi dalam ikut bertanggung jawab atas lingkungan terdekat mereka sendiri dan lingkungan lain di masyrakat yang lain. Dalam penelitiannya tentang gerakan Hijau di Eropa Timur, ia menyimpulkan bahwa krisis ekologi berhubungan erat dengan penghargaan yang kurang terhadap hak-hak dasar manusia, kebebasan informasi, dan demokrasi partisipatoris.
Meskipun kecenderungan bawaan kapitalisme membuang sampah (ke lingkungan) adalah konsekuensi dari syarat-syarat pertumbuhannya, kita tidak boleh “meragukan kecerdikan kapitalisme dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri,” seperti diperingatkan oleh Andre Gorz dalam Ecology in Politics. Dalam tingkat tertentu, terlihat jelas bahwa kapitalisme bisa menerima keprihatinan ekologi, sejauh solusi-solusinya bisa dikomoditikan. Jika masyarakat akan puas dengan air minum yang bersihsementara sungai dan air tanah berpolusimaka kami akan menjual air dalam botol dan menyaringnya untuk disimpan. Jika agen pengontrol biologis dapat dikemas dan dijual demi keuntungan bagi produsen pertanian, hal itu akan dilakukan, dan mungkin penggunaan pestisida yang berbahaya akan berkurang. Perusahaan-perusahaan kapitalis, jauh-jauh hari sebelum dipaksa, bukan saja karena alasan politik tapi juga karena alasan ekonomi, sudah mmpertimbangkan sumber-sumber daya ekologi, seperti unsur hara tanah dan populasi serangga bermanfaat, sebagai persediaan modal dalam perhitungan mereka.
Kendati beberapa masalah lingkungan dapat dipermak di sana-sini dalam konteks kapitalisme, tapi tidak demikian halnya dengan masalah lingkungan secara keseluruhan. Itu karena kecenderungan kapital untuk berekspansi secara internasionalketika kapital dibatasi di tingkat lokal (contohnya, ketika pemerintah setempat menanggapi tekanan dari para environmentalis dan menerapkan regulasi berbiaya tinggi pada industri swasta demi perlindungan lingkungan), maka ia akan pindah.
Tindakan Politik
Dalam pemahaman akhir, tuntutan akan rasionalitas ekologis dalam skala besar merupakan tuntutan radikal karena pemenuhannya membutuhkan perubahan struktural yang mendasar. Hal itu tentu tidak dipahami sepenuhnya oleh gerakan lingkungan, banyak partisipannya melihat bahwa tuntutan dan tujuan aksi-aksi mereka hanyalah untuk menerapkan perangkat-perangkat khusus perlindungan lingkungan. Peran khusus dari sayap kiri (ekologis sosial dan Marxis) dalam gerakan lingkungan adalah untuk secara berkelanjutan mengekspresikan politik dari keprihatinan ekologisbahwa kemerosotan lingkungan bukan lah masalah “industri” atau “modernisasi” yang lepas dari hubungan-hubungan sosial produksi dan pertukaran. Bukan pula persoalan ideologi, yang selesai dengan kesadaran lingkungan yang lebih besar atau perubahan dalam gaya hidup perorangan. Kemerosotan lingkungan adalah persoalan kontrol yang tidak demokratis atas sumber daya-sumber daya dan proses pengambilan keputusan.
Walaupun pandangan ekologi sosial dan Marxis memiliki kesamaan dalam humanisme dan anti kapitalismenya, sesungguhnya mereka berbeda dalam cara mewujudkannya. Dalam praktek politik, posisi tegas Marxisme adalah bahwa ekologi tidak dapat (secara tersendiri) menjadi tujuan khusus dari suatu masyarakat atau suatu program. Sebaliknya, ekologis sosial, seperti yang mereka tunjukkan dalam analisis-analisis dan peran politiknya dalam partai-partai Hijau dan organisasi-organisasinya, mendefinisikan politiknya dalam konteks ekologi dan menurunkan model masyarakat mereka dari ekologi atau kriteria-kriteria ekologis. Misalnya, ekologis sosial melihat desentralisasi sebagai elemen kunci dari masyarakat yang rasional secara ekologis. Namun, seperti dinyatakan oleh O’Connor, merujuk pengalaman Cina, desentralisasi industri, dalam ukuran ekonomi, mempersulit upaya untuk mewujudkan pengelolaan limbah, dan menyebabkan permasalahan-permasalahan polusi yang parah di tingkat lokal. Terlebih lagi, menentukan ekologi sebagai satu-satunya kriteria untuk aksi, seseorang mungkin akan menolak kapitalisme tapi tak tahu ke mana harus pergi. Seperti dipahami oleh Gorz, “ekologi tidak perlu melakukan penolakan terhadap otoritarianisme, solusi-solusi teknofasis,” karena dengan itu aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan dapat diterapkan pada penduduk secara paksa.
Konflik yang sering dikedepankan adalah, di satu sisi, antara lapangan kerja atau keberlangsungan ekonomi dan, di sisi lain, kualitas lingkungan. Konflik tersebut sebenarnya tidak ada. Contohnya, menghadapi perlawanan kaum pecinta lingkungan (environmentalist)terakhir paling terlihat dalam kampanye Redwood Summer tahun 1990 untuk menyelamatkan Redwoods yang sudah lama tumbuh di California utaraindustri kayu California menyalahkan upaya-upaya pelestarian atas hilangnya lapangan kerja perkayuan. Kenyataannya industri itu sendiri yang bertanggung jawab. Dalam dekade terakhir saat produksi kayu di Humboldt County (salah satu lokasi aksi-aksi Redwood Summer) meningkat hingga lebih 50%, jumlah pekerja perkayuan menurun hingga 35%. Otomatisasi dan ekspor gelondongan untuk digergaji di luar negeri menyebabkan hilangnya lapangan kerja, dan walau ada penebangan berlebihan lapangan kerja perkayuan akan tetap menurun di kemudian hari.
Analisis politik yang lebih besar diperlukan untuk bergerak menuju tatanan yang lebih sosial dan rasional secara ekologis. Program yang menghubungkannya harus mencakup baik tujuan rasionalitas ekologis maupun tujuan keadilan dan demokrasi yang lebih didefinisikan secara sosial. Perspektif Marxis menyediakan elemen penting dalam analisis politiknya yang lebih besardengan kritiknya pada kapitalisme dan khususnya teori akumulasi. Akumulasi kapitalis tidak hanya mendasari dan menggerakkan perusakan lingkungan, tapi juga penderitaan-penderitaan yang lain, seperti penerapan kontrol ekonomi dan politik oleh kepentingan kapitalis atas manusia di seluruh dunia. Hasilnya, jika kapitalisme adalah masalahnya, maka secara logis tidak lengkap dan secara politis dangkal jika membangun gerakan semata berbasis utama pada keprihatinan ekologis.
Akumulasi kapitalis, dan mobilitas, ekspansi, serta kontrol yang mengikutinya, memiliki implikasi langsung terhadap aksi politik kita di seputar isu lingkungan. Aksi kita harus diluaskan secara geografis jika tidak ingin menghasilkan kualitas lingkungan (yang baik) dan keselamatan untuk sekelompok orang tapi dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan, atau nyawa orang lain. Contohnya, agitasi oleh para pecinta lingkungan dan konsumen di AS dalam menolak residu dari pestisida yang mengendap dan menyebabkan kanker (organoklorin seperti DBCP) telah membuat perusahaan-perusahaan yang memproduksinya “membuang” pestisida-pestisida tersebut ke Dunia Ketiga dan menggantinya dengan pestisida yang tidak menetap di tubuh tapi lebih beracun (organofosfat seperti parathion). Hasilnya, buruh tani di AS dan di luar negeri, yang mengerjakan tanaman budidaya untuk pasar AS, kemudian menderita lebih banyak keracunan dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Di AS sendiri, kaum pecinta lingkungan menghasilkan dampak yang tak merataterdapat kecenderungan yang nyata untuk menempatkan sampah mematikan di lingkungan miskin orang-orang African-American, Latino dan penduduk asli Amerika berkaitan dengan rasisme dan kurangnya kekuatan politik komunitas-komunitas tersebut dibandingkan dengan warga yang lebih kaya atau tetangga kulit putih mereka.
Melemahnya negara-bangsa berhadapan dengan kapital adalah alasan lain mengapa pengorganisasian lingkungan harus berlingkup internasional. Pada musim gugur 1989 misalnya, dalam menanggapi Belanda yang memberlakukan aturan emisi kendaraan, Prancis membawanya ke pengadilan Eropa. Pemerintah Prancis berargumen bahwa hukum Belanda menunjukkan pengingkaran terhadap kesepakatan Pasar Umum, karena mobil Prancis akan terhalangi untuk dijual di Belanda. Prancis memenangkan kasus tersebut.
Sebagai tambahan, untuk mengkonsolidasikan dan mempolitisir perlawanan-perlawanan lokal yang sudah adamelawan pembuangan limbah beracun, pestisida, penambangan tak terkendali, dan lain sebagainyademi kesatuan dan dampak politik yang lebih besar, kita perlu mulai mengkoordinasikannya dalam gerakan nasional dan internasional. Itu sama dengan internasionalisasi pengorganisasian buruh, yang diperlukan karena alasan yang sama.
Banyak gerakan lingkungan di Dunia Ketiga terdiri dari orang-orang yang lingkungan hidupnya mengalami ancaman langsung dari polusi dan ekstraksi sumber daya. Beberapanya secara sadar anti imperialis dan atau sosialis. Tapi gerakan dan organisasi-organisasi Dunia Ketiga tersebut biasanya kekurangan sumber daya untuk melakukan lebih banyak koordinasi internasional. Organisasi-organisasi lingkungan progresif yang berbasis di negeri-negeri yang lebih kaya dapat memainkan peran penting dalam internasionalisasi aktivisme lingkungan, tidak hanya dengan kerja solidaritas jangka panjang, seperti pekerjaan New World Agriculture Group di Nikaragua, tapi juga melalui pembangunan jaringan organisasi-organisasi dan koordinasi aktivisme dalam skala internasional. Contoh dari organisasi yang membantu membangun jaringan internasional dan mengkoordinir aksinya adalah Pesticide Action Network, Greenpeace (yang sudah mengangkat dan melawan ekspor pestisida serta limbah beracun berbahaya), dan mereka yang membantu mengorganisir Fourth Internasional Congress in the Fate and Hope of the Earth yang diselenggarakan di Managua bulan Juni 1989, termasuk Earth Island Institute dan Environmental Project on Central America (EPOCA).
Karena mustahil menerapkan rasionalitas ekologis dalam skala luas di bawah kapitalisme, para pecinta lingkungan dan gerakan lingkungan dapat, dan di beberapa bagian dunia sudah, menjadi agen-agen perubahan revolusioner. Untuk mewujudkan potensi itu, para aktivis harus mengingat bahwa:
• permasalahan-permasalahan ekologi adalah masalah politis dalam makna bahwa maslah-maslah tersebut dihasilkan atau sangat dipengaruhi oleh kesenjangan-kesenjangan kontrol atas sumber daya dan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa;
• ekologi tidak dapat menjadi program politik itu sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari analisa dan program yang lebih luas;
• perlu memehami kapitalisme, dan khususnya dinamika akumulasi modal, agar mengerti mengapa kerusakan lingkungan terjadi dan akan terus berlanjut dalam dunia yang kapitalistik;
• oleh karena mobilitas dan ekspansi modal, serta melemahnya negara-bangsa, maka perlu mengkoordinasikan strategi secara internasional.
Label:
Ekologi,
Ideologi,
Kapitalisme,
sosialisme
Kapitalisme dan Ekologi: Hakikat Kontradiksinya (bag 2)
Ekologi,Kapitalisme,Sosialisasi Alam (bagian 2)
Oleh:John Bellamy Foster
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Kapitalisme dan Ekologi:
Hakikat Kontradiksinya
Oleh:John Bellamy Foster
Relasi sosial modal, seperti yang kita ketahui, mengandung kontradiksi. Kontradiksi tersebut, meskipun berasal dari hukum gerak internal kapitalisme, namun ia meluas menjadi suatu fenomena yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar sistem, mengancam integritas keseluruhan biosfer dan semua di yang ada di dalamnya sebagai dampak dari ekspansi modal yang tak henti-hentinya. Cara memahami kontradiksi ekologis dalam kapitalisme telah menjadi subyek perdebatan yang sengit di antara kaum sosialis. Dua hal penting dalam perdebatan tersebut adalah: (1) di bawah kapitalisme, apakah krisis ekologi selalu diikuti oleh krisis ekonomi? dan (2) sampai taraf mana kah kontradiksi ekologis yang terjadi di jantung masyarakat kapitalis?
Persoalan yang diperdebatkan tersebut dapat diselesaikan jika kita melihat kembali kepada Marx. Salah satu elemen kunci dalam analisis ekologi Marx, seperti yang saya jelaskan dalam Ekologi Marx, adalah teorinya tentang celah metabolisme. Marx menggunakan konsep celah dalam hubungan metabolis antara manusia dengan bumi untuk menggambarkan keterasingan material manusia (dalam masyarakat kapitalis) dari syarat-syarat alami yang membentuk dasar keberadaan mereka. Salah satu manifestasinya adalah pemisahan ekstrim antara kota dengan desa (di bawah kapitalisme), yang berangkat dari pemisahan populasi massa dari tanahnya.
Ahli kimia pertanian abad ke-19, khususnya Justus von Liebig, telah menemukan bahwa hilangnya nutrisi tanahseperti nitrogen, fosfor dan potasium—selama pengiriman makanan dan serat ke kotamengganggu siklus nutrisi tanah dan melemahkan pertanian kapitalis, juga mengubur kota-kota dengan sampah. Bukannya membangun bentuk produksi yang rasional, pertanian Inggris yang canggih (pertanian kapitalis paling maju saat ini), malah lebih tepat digambarkan sebagai, menurut Liebig, “sistem perampokan” karena efeknya terhadap tanah. Menurut sistem tersebut, secara historis, penurunan produktifitas tanah disebabkan karena masuknya tulang (secara besar-besaran dari negeri-negeri Eropa lainnya) dan guano (kotoran burung) dari Peru serta, yang terakhir, pengembangan pupuk sintesis. Pupuk sintesis, bagaimanapun juga, menimbulkan masalah yang lebih besar. Hal tersebut memperlebar dan membuat celah metabolisme menjadi jauh lebih rumit, menimbulkan keterputusan yang parah dalam hubungan antara alam dengan masyarakat, yang mencirikan karakter pertanian dan industri saat ini.
Marx menyadari bahwa celah metabolisme tersebut menggambarkan masalah tentang keberlanjutan. Dalam kutipan bacaan tak resmi, ia mengatakan bahwa kapitalisme melemahkan vitalitas sumber daya kemakmuran yang abadi, yakni tanah dan pekerja. Masalah celah metabolisme pun tidak terbatas hanya soal tanah. Marx mengembangkan suatu kajian tentang keberlanjutankonservasi dan, jika perlu, restorasi bumi sehingga bisa diteruskan (dalam keadaan seperti semula atau lebih baik) kepada rantai pergantian generasi manusiayang pembicaraannya ditujukan secara langsung pada masalah-masalah seperti nutrisi tanah, pendaurulangan, polusi, kondisi sanitasi, penebangan hutan, banjir, penandusan, perubahan iklim, pendaurulangan limbah industri, keanekaragaman spesies, pengkomoditasan spesies dan masalah yg lain-lainnya. Penelitiannya yang cukup dekat kaitannya dengan teori evolusioner membawanya kepada ide koevolusi. Konfliknya dengan Malthus memaksa dia untuk menggunakan faktor-faktor sejarah (daripada alamiah) untuk menjelaskan terjadinya “overpopulasi” (istilah yang digunakan oleh Marx, tetapi tidak oleh Malthus). Analisis Marx tentang akumulasi modal primitif menunjukkan bahwa pemisahan pekerja dari tanahnya merupakan kontradiksi yang membentuk kapitalisme. Kritiknya tentang ekonomi politik menyoroti pengkomoditasan seluruh aspek kehidupan dan peran dominan yang dimainkan oleh akumulasi modal tanpa akhir, yang berakar dalam nilai tukar yang berlawanan dengan nilai pakai. Mengutip dari Thomas Muntzer, pemimpin revolusioner perang kaum tani di Jerman abad keenam belas, Marx mengamati: tidak bisa ditolerir bahwa ”semua makhluk hidup telah dijadikan barang milik, ikan di air, burung di udara, tumbuhan di bumi—semua yang hidup harus bebas” (Muntzer, Collected Works, hal. 335; Marx and Engels, Collected Works, vol 3, hal. 172).
Meskipun demikian, telah menjadi suatu kecenderungan pada lingkaran-lingkaran eko-sosialis tertentu untuk tidak terlalu menekankan pada kekayaan wawasan ekologi yang dijelaskan oleh Marx, mereka hanya memfokus dirinya pada apa yg dianggap sebagai kelemahan utama analisis Marx yang, katanya, membuat Marx tidak mampu mengembangkan Marxisme ekologis sebaik-baiknya. Alan Rudy, yang menulis dalam Capitalism, Nature, Socialism (Kapitalisme, Alam, Sosialisme), jurnal terkemuka eko-sosialisme, yang diedit oleh James O’Connor, mengatakan bahwa “keterbatasan ekologinya Marx…, adalah bahwa Marx tidak menteorikan ‘celah metabolisme’ sebagai momen penting dalam (kecenderungan) krisis kapitalisme.” Poin ini sudah dikatakan secara penuh oleh O’Connor, yang berpendapat bahwa ketika Marx mengetahui adanya “metode yang bersifat merusak secara ekologi” dalam pertanian, “dia tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan” bahwa degradasi ekologi “akan mengancam krisis ekonomi dalam bentuk tertentu, yakni penurunan kapasitas produksi modal” karena terjadi perusakan kondisi alami produksi. O’Connor juga menyatakan, karena itu Marx gagal untuk “menyatukan dua dengan dua”, yaitu membangun teori tentang bagaimana peningkatan biaya ekologi akan berperan dalam penurunan kemampuan meraih profit dan menciptakan krisis akumulasi. Analisisnya jadi mengecewakan karena konsep kerangka kerjanya diberi label “ekologi Marxisme” oleh O’Connor. (2)
Kontribusi teori O’Connor sendiri merupakan suatu usaha untuk melakukan apa yang gagal dilakukan oleh Marx, yaitu menunjukkan bagaimana perusakan kondisi produksi yg disebabkan oleh modal menciptakan bentuk khusus krisis ekonomi bagi kapitalisme, atau yang disebut sebagai “kontradiksi kedua kapitalisme” oleh O’Connor. Dia berpendapat bahwa kapitalisme selalu dikelilingi oleh “kontradiksi pertama”atau kecenderungan krisis ekonomi yang berkaitan dengan kenaikan tingkat nilai lebih, yang justru menghasilkan hambatan untuk merealisasikan nilai lebih tersebut atau kesulitan mengeruk keuntungan melalui penjualan barang dan jasasehubungan dengan ketidak-seimbangan antara pendapatan dengan kelimpahan/kekayaan yang tersedia. Kontradiksi pertama ini menggambarkan krisis ekonomi yang menampakkan dirinya dalam bentuk kelemahan (dilihat dari sisi) permintaan (yakni, kelemahan dilihat dari sisi upaya untuk merealisasikan keuntungan).
Walaupun demikian, saat memfokuskan diri secara eksklusif pada kontradiksi pertama, O’Connor berpendapat bahwa kritik-kritik para sosialis tentang kapitalisme telah melupakan “krontadiksi kedua”yang dikaitkan dengan melemahnya syarat-syarat produksi kapitalisme. O’Connor menyebutkan tiga tipe “syarat-syarat produksi” dalam analisis Marx, yaitu: (1) sayarat personal produksi yang berhubungan dengan kemampuan tenaga kerja manusia, (2) syarat eksternal-alam produksi (hutan, ladang minyak, persediaan air, spesies burung, dan lain sebagainya.), dan (3) syarat komunal-umum produksi (lingkungan yang tercipta, contohnya, kota-kota dan infrastruktur daerah perkotaannya). Apa yang menyebabkan elemen-elemen tersebut menempati posisi sebagai syarat-syarat produksi adalah karena syarat-syarat tersebut tidak dihasilkan (atau tidak sepenuhnya dihasilkan) oleh kapitalisme, melainkan, meminjam istilah Karl Polanyi, lebih sebagai “komoditas-komoditas fiksi”. Kapitalisme tidak secara langsung memproduksi manusia atau bahkan kemampuan tenaga kerjawalaupun demikian kapitalisme memperlakukan tenaga kerja sebagai komoditas sebagaimana komoditas lainnya. Kapitalisme juga tidak menciptakan alam eksternal. Lingkungan yang tercipta, sampai per bagiannya, muncul disebabkan oleh faktor-faktor spasial dan temporal yang bukan merupakan subyek langsung hukum nilai.
Produksi modal sangat bergantung pada penggunaan dan transformasi syarat-syarat alami produksi, yang pada tahap tertentu melambangkan kelangkaan sumber daya alam, dan bahwa sistem ekonomi tidak mampu melestarikan alam dengan biaya yang relatif murah. Menurunnya syarat-syarat produksi tersebut memicu meningkatnya biaya bagi kapitalisme, menekan keuntungan dari segi biaya produksi (atau penawaran): itu lah “kontaradiksi kedua” kapitalisme. Joel Kovel dalam bukunya yang berjudul The Enemy of Nature (Musuh Alam), sependapat dengan O’Connor, menyebut krisis ekologi yang diakibatkan oleh penurunan modal karena syarat-syarat produksi modal itu sendiri skala tekanannya terus meningkat layaknya “keharusan besi, tak terhindarkan”. Dia menyatakan bahwa “degradasi tersebut memiliki efek kontradiksi terhadap profitabilitas itu sendiri... secara langsung, dengan merekayasa tatanan dasar produksi sehingga menghancurkannya atau, secara tidak langsung, melalui reinternalisasi “biaya yang telah dikeluarkan untuk lingkungan hidup”.
O’Connor mengidentifikasikan “teori ekologi Marxis” dalam kaitannya dengan “kontradiksi kedua”, sedangkan kontradiksi pertama ia sebut berkaitan dengan “Marxisme tradisional.” Keduanya, kontradiksi pertama dan “kedua”, berwujud sebagai kecenderungan krisis ekonomi, dan keduanya secara silmultan muncul dalam sejarah dalam bentuk krisis ekonomi. Tetapi argumen tersebut mengindikasikan bahwa “kontradiksi kedua”, yakni kontradiksi-kontradiksi ekonomi dari sisi-penawaran, yang berakar pada peningkatan biaya, sekarang ini sangat domonan. Sehingga kapitalisme terperangkap dalam kecenderungan krisis ekonomi yang berkaitan dengan produksi modal yang rendah. Hak tersebut disebabkan karena syarat-syarat produksi modal sendiri yang sangat merusak: bentuk krisis ekonomi yang, menurut O’Connor, lebih berkaitan dengan halangan eksternal atau alami ketimbang persoalan internal atau antagonisme kelas sistem kapitalisme.
Bagian terpenting dari argumen tersebut adalah kaitannya dengan perkembangan gerakan-gerakan sosial radikal modern. Kontradiksi pertama dihubungkan dengan gerakan buruh berdasarkan kelas yang, walaupun gerakan-gerakannya masih bisa dikatakan eksis, namun semakin tergeser oleh gerakan-gerakan sosial baru yang timbul oleh “kontradiksi kedua.” O’Connor berpendapat ada tiga tipe dasar gerakan-gerakan sosial baru yang masing-masingnya berhubungan dengan melemahnya syarat produksi yang berbeda-beda: gerakan seperti feminisme, yang peduli terhadap politik tubuh, distimulasi oleh melemahnya syarat-syarat personal produksi; gerakan lingkungan hidup bersumber pada melemahnya syarat-syarat eksternal-alam produksi; dan gerakan perkotaan bermula dari syarat-syarat komunal-umum produksi. Kekuatan tesis “kontradiksi kedua”, dan alasan pengaruhnya terhadap pemikiran para sosialis dan non-sosialis, tentu sudah sangat jelas. Ia memberikan satu argumen logis yang menghubungkan kelangkaan sumber daya alam, krisisi ekonomi, dan perkembangan gerakan-gerakan baru untuk perubahan sosial. Walaupun demikian, menurut saya, ada beberapa masalah dalam pendekatan ini yang membatasi penerapannya pada bidang yang tepat.
Suatu cara memahami istilah “kontradiksi kedua” kapitalisme, yang tujuannya dalam rangka meyakinkan tesis Marxisme ekologis, telah memecah belah analisa sosialis dalam bidang ekologi. Hal tersebut terlihat dengan adanya perubahan terbaru judul buku Capitalism, Nature, Socialism (Kapitalisme, Alam, Sosialisme) menjadi berjudul “Marx's Ecology or Ecological Marxism (Ekologi Marx atau Marxisme Ekologi)”. Istilah “Ekologi Marx”, dalam kasus itu, sepertinya diambil dari judul buku saya, tetapi sumber awal argumen para kritikus diambil dari krontribusi Marx sendiri terhadap ekologiseperti yang terlihat dalam buku tersebut, istilah tersebut sangat sedikit disebut sebab tesisnya tidak mengarah pada “Marxisme Ekologis” seperti yang disajikan sebagai “kontradiksi kedua” nya O’Connor. Secara eksplisit, poin nya telah ditentukan, seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa, katanya, Marx tidak menjelaskan bagaimana cara krisis ekologi memicu krisis akumulasi bagi kapitalisme, dan oleh karena itu analisisnya tidak lengkap, tidak sistematis, dan tidak berkembang. Sebab itu pula Rudi, mewakili sudut pandang ini, menyatakan: “analisis Marx tentang peran krisis ekologis terhadap krisis kapitalisme ‘tetap’ masih lemah.”
Tetapi apakah masuk akal mempertentangankan pendekatan Marxis tentang masalah-masalah ekologi dengan mengacu pada teori krisis ekonomi di bawah kapitalisme? Harus kah pengembangan analisis Marxis, yang selama ini diterima sebagai pemikiran maju, ditentukan oleh ketepatanya dalam teori tertentu krisis ekonomi? Jika dilihat dari sudut pandang tersebut maka terdapat posisi ekonomisme dan fungsionalisme yang menyusup masuk ke dalam analisis Marxis. Seluruh kepercayaan konsepsi “kontradiksi kedua” adalah: ketika kerusakan ekologi dipandang sebagai krisis ekonomi oleh kapitalisme, maka akan terjadi mekanisme reaksi-balik, yakni secara langsung melalui upaya modal untuk menurunkan tingkat biaya produksi karena melemahnya syarat-syarat produksi dan, secara tidak tidak langsung, melalui upaya-upaya gerakan-gerakan sosial untuk memaksa sistem menginternalisasi faktor-faktor eksternal, contohnya, membayar biaya sosial dan lingkungan hidup yang selama ini dianggap sebagai faktor eksternal oleh modalkemudian mengarahkannya menjadi produksi yang lebih ramah lingkungan. Karena itu, asumsi gampang-gampangan dengan jelas mengatakan bahwa krisis ekonomi yang bermula dari kondisi ekologi memberi ruang bagi kaum kiri suatu kesempatan popular untuk membentuk aliansi antara gerakan buruh yang berdasarkan kelas dengan gerakan-gerakan sosial baru.
Tujuan ku adalah menunjukan bahwa sebenarnya tak ada mekanisme reaksi semacam disebut di atassetidaknya bagi kapitalisme secara keseluruhan. Seperti yang dikatakan gerakan lingkungan hidup Jerman: hanya jika pohon sisa terakhir ditebang maka sistem baru lah menyadari bahwa uang tidak bisa dimakanbukan sebelumnya. Kita tidak boleh memandang rendah kemampuan kapitalisme mengakumulasi modal pada saat terjadi kekacauan, kerusakan ekologi terparah sekali pun, untuk mengambil keuntungan dari pengrusakkan lingkungan hidup (contohnya, mengambil keuntungan dari industri penanggulangan limbah), dan terus merusak bumi hingga tak tertolong lagibaik bagi lingkungan hidup manusia dan bagi semua spesies makhluk hidup. Dengan kata lain, bahaya dari semakin akutnya masalah ekologis jadi semakin serius karena sistem tidak memiliki mekanisme hukum internal (atau eksternal) untuk mendeteksi kemunculannya. Ekologi tidak punya tempat dalam siklus bisnis.
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa kerusakan lingkungan hidup menjadi serius ketika kerusakkan tersebut mempengaruhi syarat-syarat produksi yang, per definisi, melibatkan elemen-elemen lingkungan alam-fisik yang secara subtansial merupakan bagian dari sistem. Hutan Amazon mungkin telah menjadi sumber utama kayu dan hasil hutan lainnya bagi modal, tetapi sampai sekarang masih dilihat sebagai faktor eksternal syarat-syarat produksi kapitalisme. 50 persen spesies yang diyakini hidup dalam hutan tropis dan terancam kepunahan dalam beberapa dekade ke depan, sebagian besar tidak terkait dengan proses akumulasi global, malah sebagian besarnya belum didokumentasikan, belum dikenal ilmu pengetahuan. Jika kita ambil contoh lapisan ozon, yang menipis dengan cepat sehingga sangat membahayakan kehidupan di muka bumi, tentu salah besar jika mengemas masalahnya dalam analisis syarat-syarat produksiseakan-akan masalahnya hanyalah pra-syarat ekonomi dan bukannya pra-syaratkehidupan sebagaimana kita ketahui.
Semua pernyataan di atas menunjukkan bahwa bila kita berkubang pada syarat-syarat produksi dan “kontradiksi kedua” kapitalisme, maka kita akan cenderung meremehkan keseluruhan dimensi krisis ekologis dan bahkan meremehkan efek samping kapitalisme bagi lingkungan hidup karena kita, dengan demikian, semata-mata sekadar menyederhanakan segala permasalahan ke dalam teori krisis ekonomi tertentu. Hal tersebut memberikan peluang bagi kapitalisme untuk mengacuhkan masalah-masalah lingkungan hidupwalau faktanya kapitalisme menggunakan keseluruhan biosfir sebagai tempat sampah raksasa dan kapitalisme juga mampu, hingga tahap tertentu, berfungsi dari satu eko-sistem ke eko-sistem lainnya, beroperasi, seperti kata Marx, di bawah prinsip “kejar lah daku si maha kaya”atau menganggap bahwa bumi masih merupakan “hadiah gratis bagi modal”. Dan, dengan demikian, juga tidak memungkinkan terjadinya perubahan mendasar, karena kapitalisme dalam berbagai cara adalah sistem bebas hambatan.
Anda bisa melihat penjelasan lebih lanjut dari apa yang akan aku katakan dengan mengacu pada Climate Action Report, 2002 (Laporan Kondisi Iklim, 2002), pemerintahan nya Bush tentang pemasan global, yang diangkat oleh Enviromental Protection Agency/EPA (Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup). EPA menyadari ancaman pemanasan global bagi kehidupan dan bagi syarat kehidupan, khususnya saat mereka menekankan bahwa di Amerika Serikat kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh pemanasan global dapat terlihat dengan melelehnya salju di pegunungan, dan semacamnya. Menurut mereka, bila syarat-syarat produksi pertanian dipertimbangkan, maka pemanasan global malah akan meningkatkan keseluruhan produktifitas pertanian. Kurang jelasnya hubungan antara kerusakan lingkungan hidup dengan kerusakan terhadap syarat-syarat ekonomis produksi malah digunakan (melalui standar analisa biaya-keuntungan) untuk membenarkan kebijakan beradaptasi dengan pemanasan global, ketimbang mengambil tindakan untuk mengurangi tingkat pemanasan globalkarena tentu saja tindakan tersebut akan menelan banyak biaya produksi.
Hal itu bisa terjadi karena tidak adanya mekanisme balasan yang, dengan serta merta, bisa membebankan pengrusakan lingkungan kepada kapitalisme (dalam bentuk peningkatan biaya modal itu sendiri)melainkan, pengrusakan lingkungan hidup hanya akan menjadi tanggungan alam dan masyarakat, bukannya ditanggung kapitalisme. Dan jika gerakan-gerakan sosial berusaha menanggulanginya dengan “meregulasi” kapitalisme, belum tentu regulasi tersebut akan menekan batas keuntungan dari segi pembiayaan sehingga bisa memaksa modal mereformasi diripada kenyataannya, malah menyediakan cara baru dalam mengambil keuntungan dari pengrusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu sangat meragukan bila krisis ekonomi, yang tidak terhindarkan dimasa datang, hanya dipicu oleh masalah-masalah tersebut.
Aku meyakini bahwa dalam teori ekologi terdapat masalah-masalah empiris yang menstimulasi timbulnya krisis ekonomi. Logikanya benar bahwa dengan menaikkan harga bahan-bahan mentah maka akan meningkatkan biaya yang berhubungan dengan kelangkaan sumber daya alam yang, kemudian, akan menurunkan batas keuntungan dan, pada akhirnya, memicu terjadinya krisis ekonomi. Faktor tersebut berperan dalam krisis akumulasi modal pada abad kesembilan belas, seperti yang terlihat pada teori klasik mengenai kecendurangan menurunnya tingkat keuntungan. Penting bagi modal untuk menjaga agar biaya yang berhubungan dengan kelangkaan sumber daya alam tetap rendah. Walaupun demikian, hingga sekarang tidak ada bukti bahwa biaya-biaya di bidang tersebut dapat menjadi penghalang yang berarti bagi sistem secara keseluruhan untuk berakumulasi. Seperti yang diperlihatkan Marx pada zamannya: lesunya pertambangan-pertambangan batubara pada akhirnya akan meningkatkan biaya batubara, tapi sementara itu produksi sering kali meningkat akibatnya berkurangnya biaya energi.
Pengurangan polusi juga tak memberikan beban (yang tak bisa ditanggung) pada modal
Berdasarkan penyelidikan eksekutif bisnis, pemerintah memperkirakan bahwa bahwa dunia usaha mulai mempertimbangkan peningkatan alokasi dana bagi lingkungan hidup, tapi bukti-bukti tersebut tidak lah bisa dijadikan dasar yang cukup meyakinkan untuk mengatakan bahwa, secara rata-rata, biaya lingkungan hidup akan menekan keuntunganseperti halnya, tak perlu dipandang serius adanya keluhan yang tak henti-hentinya dari badan-badan eksekutif tentang upah buruh yang katanya menekan keuntungan. Sungguh, aku tetap bersiteguhtapi tentu saja aku tidak bisa membeberkan panjang lebar argumen ku karena masalah waktubahwa kecenderungan utama krisis ekonomi kapitalis adalah (masih) karena adanya peningkatan tingkat penghisapan yang, karenanya, memperbesar (batas) keuntungan dan menyebabkan ketidakmampuan merealisasikan nilai tambahapa yang oleh O’Connor disebut sebagai kontradiksi pertama.
Kesulitan lebih lanjut untuk memahami konsepsi “kontradiksi kedua” kapitalismesebagai cara untuk mendefinisikan Marxisme ekologisadalah karena konsep tersebut memaksakan perspektif ekonomi dualistik pada kita, dan sekali terperangkap dalam pemahaman tersebut kita akan terjerat. Ada dua kontradiksi kapitalisme (keduanya menyebabkan kecenderungan krisis ekonomi), yang satu internal, dan pada dasarnya muncul dari perjuangan kelas, dan yang lainnya eksternal, dan pada dasarnya muncul dari melemahnya syarat-syarat produksi. Kontradiksi-kontradiksi tersebut akhirnya melahirkan dua bentuk gerakan sosialgerakan tradisional berdasarkan kelas, yang lahir dari kontradiksi pertama, dan gerakan sosial baru, yang timbul sebagai hasil dari “kontradiksi kedua.” Tentu saja ini memperjelas potensi aliansi kedua tipe gerakan tersebut berdasarkan gabungan kekuatan kedua kontradiksi tersebut di atas. Tetapi, dengan semakin dominannya “kontradiksi kedua” dan, konsekuensinya, gerakan-gerakan sosial baru menjadi lebih vital, maka gerakan-gerakan berdasarkan kelas cenderung dianggap tak begitu penting perannya dalam analisis dan strateginya. Marxisme Ekologis adalah pendekatan yang memandang perjuangan berdasarkan kelas memainkan peranan kedua. Dengan begitu, bisa dikatakan, gerakan telah terpecah-belah (menambah lapisan teoritis pada divisi yang sudah ada), dan semakin memudarkan harapan. Sebagaimana Kovel memaparkan pandangannya dalam The Enemy of Nature (Musuh Alam): “tidak ada agen yang istimewa dalam transformasi eko-sosialis”pemberontakan kelas tidak selalu harus menjadi kuncinya (p. 218).
Tujuan ku bukan untuk membantah pentingnya teori “kontradiksi kedua”, ataupun menolak fakta bahwa kontradiksi tersebut telah memperjelas aspek-aspek penting problematika ekologi di bawah kapitalisme. Memang ada krisis-krisis lokal tertentu yang dapat dilihat dengan cara tersebut. Aku juga tidak hendak membantah besarnya kontribusi James O’Connor bagi sosialisme ekologis. Namun, tujuan ku adalah menggugat adanya kemungkinan membangun analisis Marsis terhadap permasalahan ekologis yang terlalu ekonomistik, terlalu sempit, terlalu fungsionalis, dan terlalu tunduk terhadap dualisme ekonomiserta, tentu saja, terlalu tidak-dialektikdalam mengupas keseluruhan kontradiksi ekologis yang dihasilkan oleh kapitalisme.
Sehingga sangat masuk akal bagi kita untuk kembali pada Marx. Jika kita harus mencari contoh (pada abad ke-19) tentang melemahnya syarat-syarat produksiseperti yang dinyatakan oleh teori “kontradiksi kedua” nya O’Connor. Tidak ada contoh sebaik krisis pertanian yang dipicu oleh hilangnya unsur hara tanah. Krisis ini banyak terjadi di Amerika Serikat dan Eropa sejak tahun 1840-an, dan awalnya diatasi secara acak dengan cara melakukan serangan-serangan mendadak dalam jang-ajang pertempuran di Eropa, lalu dengan memabngun terowongan-terowongan untuk tempat mengubur korban-korban pertempuran sebagai pupuk, dan dengan meng-impor guano (sejenis pupuk dari kotoran burung laut) secara besar-besaran dari Peru; yang kemudian diikuti dengan pengembangan pupuk sintetis pertamayang bahkan pada zaman Marx sudah digunakandan pada akhirnya mengarah pada pengembangan pupuk berbahan dasar nitrogen pada masa perang dunia ke-2. Sengat mungkin bagi Marx untuk memberikan argumen bahwa peningkatan biaya ekologi yang menghalangi akumulasi dipicu oleh krisis pertanahan tersebut. Namun, sebaliknya, Marx malah menekankan tentang jurang metabolik, yakni permasalahan ekologi struktural yang lebih luas yang dicerminkan oleh krisis tanah tersebut dan, dalam istilah Marx, kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi oleh kapitalismewalaupun kemajuan teknologi, seperti penemuan pupuk sintetis, bisa memberikan jalan keluar sementara.
Marx tak sekadar memusatkan perhatian pada cara bagaimana melihat kontribusi permasalahan ekologi terhadap krisis ekonomi, tapi juga melihat pengaruh langsungnya pada penggulingan kapitalisme secara revolusioner, yang menurutnya akan segera terjadi. Dalam bidang itulah kepedulian utama
Marxyang terus meningkatdalam mempertanyakan tentang keberlanjutan, dan aturan rasional metabolisme masyarakat dengan alamnya (melalui tenga kerja manusia). Baginya, masalah pokok dalam membangun masyarakat komunis memerlukan terciptanya hubungan baru antara manusia dengan alamnya.
Tentu saja, itu karena Marx dan Engels menekankan permasalahannya pada upaya untuk mengakhiri hubungan antagonistik antara kota dengan desa, sebagai kunci untuk mengatasi keterasingan manusia dari alamnya sehingga bisa merubah cara pandang terhadap permasalahan ekologistidak sempit, seperti dalam masuarakat borjuis; atau seperti dalam geakan proletar yang hanya mengejar kebutuhan mendsak saja. Walau Marx dan Engels sangat berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam sosialis utopi, yang menawarkan masyarakat mendatang melampui syarat-syarat gerakan pada saat itu, maka mereka menekankanseperti halnya Fourier dan beberapa kaum sosialis utopia lainnyapentingnya kebutuhan agar gerakan memperhatikan keterasingan alam agar dapat menciptakan masyarakat yang berkelanjutan.
Akhir-akhir ini krisis ekologis tergambarkan dari pemberontakan anti-kapitalispada taraf yang bahkan mungkin tak mampu dipahami Marx. When William Morris developed his ideas for the reorganization of relations between town and country in News from Nowhere he was knowingly or unknowingly very close to the spirit of Marx. Tapi, secara keseluruhan, cara pandang kita mengenai gambaran ekologi dalam revolusi sosialis jarang lebih radikal dari yang dicita-citakan Marxdengan gagasannya mengakhiri hubungan antagonis antara kota dengan desa, dan usahanya mengatasi jurang metabolik melalui produksi berkelanjutan yang didasarkan pada masyarakat komunal para produsen bebas. Ketika Willim Morris mengembangkan gagasannya untuk mereorganisasi hubungan antara kota dengan desa dalam cara yang baru, ia, tanpa disadarinya, sejalan dengan gagasan-gagasan Marx.
Alasan kita sama dengan apa yang Marx lakukan pada masanya, yakni membatasi analisis kontradiksi ekologis pada teori krisis ekonomi tertentu. Teori krisis ekonomi bisa saja disanjung-sanjung, bahkan sampai didewakan. Mari aku berikan contohnya. Untuk jangka waktu yang lama, para ekonom Marxis dari berbagai bidang telah mengembangkan cara menjelaskan kecenderungan imperialistis kapitalismeyakni kecenderungan pusat sistem mengekploitasi daerah pinggiran (periphery)dengan menunjukkan beberapa teori-teori tertentu krisis ekonomi. Masalah dari semua perspektif tersebut, menurut ku, adalah bahwa mereka melupakan: imperialisme bukanlah produk krisis ekonomi ini atau krisis ekonomi itu (siginifikansinya juga tidak terletak pada bahwa imperialisme menanggung fenomena krisis ekonomi), tetapi imperialisme, secara lebih mendasar, sebagaimana seperti kemuculannya dalam sejarah, adalah merupakan upaya untuk mencari keuntungan itu sendiri. Dengan kata lain, imperialisme adalah produk penting kapitalisme sebagai kekuatan yang mendunia, dan sampai pada tahap yang dihadapi Marx pada zamannya, imperialisme tentu saja senada. Tetapi upaya untuk melihat keseluruhan kenyataan imperialisme melalui sudut pandang krisis ekonomi malah semakin mengaburkan sifat dasarnya.
Kasus degradasi ekologis yang sedang kita hadapi sekarang (bukan saja melulu tentang kapitalisme) tapi juga merupakan aturan main utama, bukan aturan main kedua, kapitalisme. Degradasi ekologis, seperti halnya imperialisme, bagi kapitalisme sama mendasarnya dengan usaha mengeruk keuntungan (yang sangat bergantung pada prluasannya). Permasalahan lingkungan hidup juga sebaiknya tidak dipandang melalui sudut pandang ekonomis yang menggiring pemahaman kita pada kesimpulan bahwa krisis lingkungan hidup memicu krisis ekonomi kapitalisme. seperti yang dijelaskan Rosa Luxemburg, burung-burung berkicau mengalami kepunahan bukan karena mereka adalah bagian dari kapitalisme, atau merupakan syarat-syarat produksinya, tetapi karena habitat mereka rusak disebabkan proses ekspansi sistem yang terus menerus. Luxemburg tidak menghubungkan kerusakkan ini dengan fenomena krisis ekonomi, namun dia tidak berhenti melawan upaya pengrusakkan terhadap apa yang ia sebut sebagai “mahluk-mahluk lemah tak berdaya.”
Tak diragukan lagi, Luxemberg yakin bahwa perekonomian akan lebih teratur di bawah sistem sosialisme,
yang dapat mengurangi kerusakan alam. Namun, perubahan yang ia bela tidak ia letakan dalam masalah ekonomi, walaupun ia setia dengan materialisme. Kekuatan terbesar analisa Marxis tidak terletak terutama pada teori krisis ekonomi, tidak juga dalam analisa-analisa perjuangan kelas seperti yang kita kenal, melainkan terletak pada konsepsi materialis dalam melihat sejarah (baik) manusia maupun alamyang dipahami sebagai proses saling ketergantungan yang tak pernah berakhir, lain tidak. Pemahaman tersebut berarti telah berhasil mengatasi penyederhanaan yang memisahkan antara ilmu pengetahuan fisika-alam dengan ilmu sosial, yang selama ini merupakan produk-produk intelektual (terasing) masyarakat bourjuis.
Sebagai kesimpulan, aku akan menoleh pada kematian Stephen Jay Gould, salah seorang pemikir besar evolusi setelah Darwin. Gould adalah seorang Marxis, yang mempelajari Marxismeseperti yang dikatakannya dalam karya utamanya, The Structure of Evolutionary Theory (Struktur Teori Evolusioner)dari “dengkul ayahnya”. Seorang materialis, pemikir dialektik yang sadar, pengritik reifikasi dan reduksionisme, akhli teori evolusi, analis permasalahan lingkungan hidup, eksponen yang menjelaskan tentang banyaknya saling-ketergantungan manusia-alam, dan seorang pembela kebebasan manusia. Dia, dalam pandangan saya, dengan pengertian yang penuh makna, adalah seorang Marxis ekologi.***
Oleh:John Bellamy Foster
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Kapitalisme dan Ekologi:
Hakikat Kontradiksinya
Oleh:John Bellamy Foster
Relasi sosial modal, seperti yang kita ketahui, mengandung kontradiksi. Kontradiksi tersebut, meskipun berasal dari hukum gerak internal kapitalisme, namun ia meluas menjadi suatu fenomena yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar sistem, mengancam integritas keseluruhan biosfer dan semua di yang ada di dalamnya sebagai dampak dari ekspansi modal yang tak henti-hentinya. Cara memahami kontradiksi ekologis dalam kapitalisme telah menjadi subyek perdebatan yang sengit di antara kaum sosialis. Dua hal penting dalam perdebatan tersebut adalah: (1) di bawah kapitalisme, apakah krisis ekologi selalu diikuti oleh krisis ekonomi? dan (2) sampai taraf mana kah kontradiksi ekologis yang terjadi di jantung masyarakat kapitalis?
Persoalan yang diperdebatkan tersebut dapat diselesaikan jika kita melihat kembali kepada Marx. Salah satu elemen kunci dalam analisis ekologi Marx, seperti yang saya jelaskan dalam Ekologi Marx, adalah teorinya tentang celah metabolisme. Marx menggunakan konsep celah dalam hubungan metabolis antara manusia dengan bumi untuk menggambarkan keterasingan material manusia (dalam masyarakat kapitalis) dari syarat-syarat alami yang membentuk dasar keberadaan mereka. Salah satu manifestasinya adalah pemisahan ekstrim antara kota dengan desa (di bawah kapitalisme), yang berangkat dari pemisahan populasi massa dari tanahnya.
Ahli kimia pertanian abad ke-19, khususnya Justus von Liebig, telah menemukan bahwa hilangnya nutrisi tanahseperti nitrogen, fosfor dan potasium—selama pengiriman makanan dan serat ke kotamengganggu siklus nutrisi tanah dan melemahkan pertanian kapitalis, juga mengubur kota-kota dengan sampah. Bukannya membangun bentuk produksi yang rasional, pertanian Inggris yang canggih (pertanian kapitalis paling maju saat ini), malah lebih tepat digambarkan sebagai, menurut Liebig, “sistem perampokan” karena efeknya terhadap tanah. Menurut sistem tersebut, secara historis, penurunan produktifitas tanah disebabkan karena masuknya tulang (secara besar-besaran dari negeri-negeri Eropa lainnya) dan guano (kotoran burung) dari Peru serta, yang terakhir, pengembangan pupuk sintesis. Pupuk sintesis, bagaimanapun juga, menimbulkan masalah yang lebih besar. Hal tersebut memperlebar dan membuat celah metabolisme menjadi jauh lebih rumit, menimbulkan keterputusan yang parah dalam hubungan antara alam dengan masyarakat, yang mencirikan karakter pertanian dan industri saat ini.
Marx menyadari bahwa celah metabolisme tersebut menggambarkan masalah tentang keberlanjutan. Dalam kutipan bacaan tak resmi, ia mengatakan bahwa kapitalisme melemahkan vitalitas sumber daya kemakmuran yang abadi, yakni tanah dan pekerja. Masalah celah metabolisme pun tidak terbatas hanya soal tanah. Marx mengembangkan suatu kajian tentang keberlanjutankonservasi dan, jika perlu, restorasi bumi sehingga bisa diteruskan (dalam keadaan seperti semula atau lebih baik) kepada rantai pergantian generasi manusiayang pembicaraannya ditujukan secara langsung pada masalah-masalah seperti nutrisi tanah, pendaurulangan, polusi, kondisi sanitasi, penebangan hutan, banjir, penandusan, perubahan iklim, pendaurulangan limbah industri, keanekaragaman spesies, pengkomoditasan spesies dan masalah yg lain-lainnya. Penelitiannya yang cukup dekat kaitannya dengan teori evolusioner membawanya kepada ide koevolusi. Konfliknya dengan Malthus memaksa dia untuk menggunakan faktor-faktor sejarah (daripada alamiah) untuk menjelaskan terjadinya “overpopulasi” (istilah yang digunakan oleh Marx, tetapi tidak oleh Malthus). Analisis Marx tentang akumulasi modal primitif menunjukkan bahwa pemisahan pekerja dari tanahnya merupakan kontradiksi yang membentuk kapitalisme. Kritiknya tentang ekonomi politik menyoroti pengkomoditasan seluruh aspek kehidupan dan peran dominan yang dimainkan oleh akumulasi modal tanpa akhir, yang berakar dalam nilai tukar yang berlawanan dengan nilai pakai. Mengutip dari Thomas Muntzer, pemimpin revolusioner perang kaum tani di Jerman abad keenam belas, Marx mengamati: tidak bisa ditolerir bahwa ”semua makhluk hidup telah dijadikan barang milik, ikan di air, burung di udara, tumbuhan di bumi—semua yang hidup harus bebas” (Muntzer, Collected Works, hal. 335; Marx and Engels, Collected Works, vol 3, hal. 172).
Meskipun demikian, telah menjadi suatu kecenderungan pada lingkaran-lingkaran eko-sosialis tertentu untuk tidak terlalu menekankan pada kekayaan wawasan ekologi yang dijelaskan oleh Marx, mereka hanya memfokus dirinya pada apa yg dianggap sebagai kelemahan utama analisis Marx yang, katanya, membuat Marx tidak mampu mengembangkan Marxisme ekologis sebaik-baiknya. Alan Rudy, yang menulis dalam Capitalism, Nature, Socialism (Kapitalisme, Alam, Sosialisme), jurnal terkemuka eko-sosialisme, yang diedit oleh James O’Connor, mengatakan bahwa “keterbatasan ekologinya Marx…, adalah bahwa Marx tidak menteorikan ‘celah metabolisme’ sebagai momen penting dalam (kecenderungan) krisis kapitalisme.” Poin ini sudah dikatakan secara penuh oleh O’Connor, yang berpendapat bahwa ketika Marx mengetahui adanya “metode yang bersifat merusak secara ekologi” dalam pertanian, “dia tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan” bahwa degradasi ekologi “akan mengancam krisis ekonomi dalam bentuk tertentu, yakni penurunan kapasitas produksi modal” karena terjadi perusakan kondisi alami produksi. O’Connor juga menyatakan, karena itu Marx gagal untuk “menyatukan dua dengan dua”, yaitu membangun teori tentang bagaimana peningkatan biaya ekologi akan berperan dalam penurunan kemampuan meraih profit dan menciptakan krisis akumulasi. Analisisnya jadi mengecewakan karena konsep kerangka kerjanya diberi label “ekologi Marxisme” oleh O’Connor. (2)
Kontribusi teori O’Connor sendiri merupakan suatu usaha untuk melakukan apa yang gagal dilakukan oleh Marx, yaitu menunjukkan bagaimana perusakan kondisi produksi yg disebabkan oleh modal menciptakan bentuk khusus krisis ekonomi bagi kapitalisme, atau yang disebut sebagai “kontradiksi kedua kapitalisme” oleh O’Connor. Dia berpendapat bahwa kapitalisme selalu dikelilingi oleh “kontradiksi pertama”atau kecenderungan krisis ekonomi yang berkaitan dengan kenaikan tingkat nilai lebih, yang justru menghasilkan hambatan untuk merealisasikan nilai lebih tersebut atau kesulitan mengeruk keuntungan melalui penjualan barang dan jasasehubungan dengan ketidak-seimbangan antara pendapatan dengan kelimpahan/kekayaan yang tersedia. Kontradiksi pertama ini menggambarkan krisis ekonomi yang menampakkan dirinya dalam bentuk kelemahan (dilihat dari sisi) permintaan (yakni, kelemahan dilihat dari sisi upaya untuk merealisasikan keuntungan).
Walaupun demikian, saat memfokuskan diri secara eksklusif pada kontradiksi pertama, O’Connor berpendapat bahwa kritik-kritik para sosialis tentang kapitalisme telah melupakan “krontadiksi kedua”yang dikaitkan dengan melemahnya syarat-syarat produksi kapitalisme. O’Connor menyebutkan tiga tipe “syarat-syarat produksi” dalam analisis Marx, yaitu: (1) sayarat personal produksi yang berhubungan dengan kemampuan tenaga kerja manusia, (2) syarat eksternal-alam produksi (hutan, ladang minyak, persediaan air, spesies burung, dan lain sebagainya.), dan (3) syarat komunal-umum produksi (lingkungan yang tercipta, contohnya, kota-kota dan infrastruktur daerah perkotaannya). Apa yang menyebabkan elemen-elemen tersebut menempati posisi sebagai syarat-syarat produksi adalah karena syarat-syarat tersebut tidak dihasilkan (atau tidak sepenuhnya dihasilkan) oleh kapitalisme, melainkan, meminjam istilah Karl Polanyi, lebih sebagai “komoditas-komoditas fiksi”. Kapitalisme tidak secara langsung memproduksi manusia atau bahkan kemampuan tenaga kerjawalaupun demikian kapitalisme memperlakukan tenaga kerja sebagai komoditas sebagaimana komoditas lainnya. Kapitalisme juga tidak menciptakan alam eksternal. Lingkungan yang tercipta, sampai per bagiannya, muncul disebabkan oleh faktor-faktor spasial dan temporal yang bukan merupakan subyek langsung hukum nilai.
Produksi modal sangat bergantung pada penggunaan dan transformasi syarat-syarat alami produksi, yang pada tahap tertentu melambangkan kelangkaan sumber daya alam, dan bahwa sistem ekonomi tidak mampu melestarikan alam dengan biaya yang relatif murah. Menurunnya syarat-syarat produksi tersebut memicu meningkatnya biaya bagi kapitalisme, menekan keuntungan dari segi biaya produksi (atau penawaran): itu lah “kontaradiksi kedua” kapitalisme. Joel Kovel dalam bukunya yang berjudul The Enemy of Nature (Musuh Alam), sependapat dengan O’Connor, menyebut krisis ekologi yang diakibatkan oleh penurunan modal karena syarat-syarat produksi modal itu sendiri skala tekanannya terus meningkat layaknya “keharusan besi, tak terhindarkan”. Dia menyatakan bahwa “degradasi tersebut memiliki efek kontradiksi terhadap profitabilitas itu sendiri... secara langsung, dengan merekayasa tatanan dasar produksi sehingga menghancurkannya atau, secara tidak langsung, melalui reinternalisasi “biaya yang telah dikeluarkan untuk lingkungan hidup”.
O’Connor mengidentifikasikan “teori ekologi Marxis” dalam kaitannya dengan “kontradiksi kedua”, sedangkan kontradiksi pertama ia sebut berkaitan dengan “Marxisme tradisional.” Keduanya, kontradiksi pertama dan “kedua”, berwujud sebagai kecenderungan krisis ekonomi, dan keduanya secara silmultan muncul dalam sejarah dalam bentuk krisis ekonomi. Tetapi argumen tersebut mengindikasikan bahwa “kontradiksi kedua”, yakni kontradiksi-kontradiksi ekonomi dari sisi-penawaran, yang berakar pada peningkatan biaya, sekarang ini sangat domonan. Sehingga kapitalisme terperangkap dalam kecenderungan krisis ekonomi yang berkaitan dengan produksi modal yang rendah. Hak tersebut disebabkan karena syarat-syarat produksi modal sendiri yang sangat merusak: bentuk krisis ekonomi yang, menurut O’Connor, lebih berkaitan dengan halangan eksternal atau alami ketimbang persoalan internal atau antagonisme kelas sistem kapitalisme.
Bagian terpenting dari argumen tersebut adalah kaitannya dengan perkembangan gerakan-gerakan sosial radikal modern. Kontradiksi pertama dihubungkan dengan gerakan buruh berdasarkan kelas yang, walaupun gerakan-gerakannya masih bisa dikatakan eksis, namun semakin tergeser oleh gerakan-gerakan sosial baru yang timbul oleh “kontradiksi kedua.” O’Connor berpendapat ada tiga tipe dasar gerakan-gerakan sosial baru yang masing-masingnya berhubungan dengan melemahnya syarat produksi yang berbeda-beda: gerakan seperti feminisme, yang peduli terhadap politik tubuh, distimulasi oleh melemahnya syarat-syarat personal produksi; gerakan lingkungan hidup bersumber pada melemahnya syarat-syarat eksternal-alam produksi; dan gerakan perkotaan bermula dari syarat-syarat komunal-umum produksi. Kekuatan tesis “kontradiksi kedua”, dan alasan pengaruhnya terhadap pemikiran para sosialis dan non-sosialis, tentu sudah sangat jelas. Ia memberikan satu argumen logis yang menghubungkan kelangkaan sumber daya alam, krisisi ekonomi, dan perkembangan gerakan-gerakan baru untuk perubahan sosial. Walaupun demikian, menurut saya, ada beberapa masalah dalam pendekatan ini yang membatasi penerapannya pada bidang yang tepat.
Suatu cara memahami istilah “kontradiksi kedua” kapitalisme, yang tujuannya dalam rangka meyakinkan tesis Marxisme ekologis, telah memecah belah analisa sosialis dalam bidang ekologi. Hal tersebut terlihat dengan adanya perubahan terbaru judul buku Capitalism, Nature, Socialism (Kapitalisme, Alam, Sosialisme) menjadi berjudul “Marx's Ecology or Ecological Marxism (Ekologi Marx atau Marxisme Ekologi)”. Istilah “Ekologi Marx”, dalam kasus itu, sepertinya diambil dari judul buku saya, tetapi sumber awal argumen para kritikus diambil dari krontribusi Marx sendiri terhadap ekologiseperti yang terlihat dalam buku tersebut, istilah tersebut sangat sedikit disebut sebab tesisnya tidak mengarah pada “Marxisme Ekologis” seperti yang disajikan sebagai “kontradiksi kedua” nya O’Connor. Secara eksplisit, poin nya telah ditentukan, seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa, katanya, Marx tidak menjelaskan bagaimana cara krisis ekologi memicu krisis akumulasi bagi kapitalisme, dan oleh karena itu analisisnya tidak lengkap, tidak sistematis, dan tidak berkembang. Sebab itu pula Rudi, mewakili sudut pandang ini, menyatakan: “analisis Marx tentang peran krisis ekologis terhadap krisis kapitalisme ‘tetap’ masih lemah.”
Tetapi apakah masuk akal mempertentangankan pendekatan Marxis tentang masalah-masalah ekologi dengan mengacu pada teori krisis ekonomi di bawah kapitalisme? Harus kah pengembangan analisis Marxis, yang selama ini diterima sebagai pemikiran maju, ditentukan oleh ketepatanya dalam teori tertentu krisis ekonomi? Jika dilihat dari sudut pandang tersebut maka terdapat posisi ekonomisme dan fungsionalisme yang menyusup masuk ke dalam analisis Marxis. Seluruh kepercayaan konsepsi “kontradiksi kedua” adalah: ketika kerusakan ekologi dipandang sebagai krisis ekonomi oleh kapitalisme, maka akan terjadi mekanisme reaksi-balik, yakni secara langsung melalui upaya modal untuk menurunkan tingkat biaya produksi karena melemahnya syarat-syarat produksi dan, secara tidak tidak langsung, melalui upaya-upaya gerakan-gerakan sosial untuk memaksa sistem menginternalisasi faktor-faktor eksternal, contohnya, membayar biaya sosial dan lingkungan hidup yang selama ini dianggap sebagai faktor eksternal oleh modalkemudian mengarahkannya menjadi produksi yang lebih ramah lingkungan. Karena itu, asumsi gampang-gampangan dengan jelas mengatakan bahwa krisis ekonomi yang bermula dari kondisi ekologi memberi ruang bagi kaum kiri suatu kesempatan popular untuk membentuk aliansi antara gerakan buruh yang berdasarkan kelas dengan gerakan-gerakan sosial baru.
Tujuan ku adalah menunjukan bahwa sebenarnya tak ada mekanisme reaksi semacam disebut di atassetidaknya bagi kapitalisme secara keseluruhan. Seperti yang dikatakan gerakan lingkungan hidup Jerman: hanya jika pohon sisa terakhir ditebang maka sistem baru lah menyadari bahwa uang tidak bisa dimakanbukan sebelumnya. Kita tidak boleh memandang rendah kemampuan kapitalisme mengakumulasi modal pada saat terjadi kekacauan, kerusakan ekologi terparah sekali pun, untuk mengambil keuntungan dari pengrusakkan lingkungan hidup (contohnya, mengambil keuntungan dari industri penanggulangan limbah), dan terus merusak bumi hingga tak tertolong lagibaik bagi lingkungan hidup manusia dan bagi semua spesies makhluk hidup. Dengan kata lain, bahaya dari semakin akutnya masalah ekologis jadi semakin serius karena sistem tidak memiliki mekanisme hukum internal (atau eksternal) untuk mendeteksi kemunculannya. Ekologi tidak punya tempat dalam siklus bisnis.
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa kerusakan lingkungan hidup menjadi serius ketika kerusakkan tersebut mempengaruhi syarat-syarat produksi yang, per definisi, melibatkan elemen-elemen lingkungan alam-fisik yang secara subtansial merupakan bagian dari sistem. Hutan Amazon mungkin telah menjadi sumber utama kayu dan hasil hutan lainnya bagi modal, tetapi sampai sekarang masih dilihat sebagai faktor eksternal syarat-syarat produksi kapitalisme. 50 persen spesies yang diyakini hidup dalam hutan tropis dan terancam kepunahan dalam beberapa dekade ke depan, sebagian besar tidak terkait dengan proses akumulasi global, malah sebagian besarnya belum didokumentasikan, belum dikenal ilmu pengetahuan. Jika kita ambil contoh lapisan ozon, yang menipis dengan cepat sehingga sangat membahayakan kehidupan di muka bumi, tentu salah besar jika mengemas masalahnya dalam analisis syarat-syarat produksiseakan-akan masalahnya hanyalah pra-syarat ekonomi dan bukannya pra-syaratkehidupan sebagaimana kita ketahui.
Semua pernyataan di atas menunjukkan bahwa bila kita berkubang pada syarat-syarat produksi dan “kontradiksi kedua” kapitalisme, maka kita akan cenderung meremehkan keseluruhan dimensi krisis ekologis dan bahkan meremehkan efek samping kapitalisme bagi lingkungan hidup karena kita, dengan demikian, semata-mata sekadar menyederhanakan segala permasalahan ke dalam teori krisis ekonomi tertentu. Hal tersebut memberikan peluang bagi kapitalisme untuk mengacuhkan masalah-masalah lingkungan hidupwalau faktanya kapitalisme menggunakan keseluruhan biosfir sebagai tempat sampah raksasa dan kapitalisme juga mampu, hingga tahap tertentu, berfungsi dari satu eko-sistem ke eko-sistem lainnya, beroperasi, seperti kata Marx, di bawah prinsip “kejar lah daku si maha kaya”atau menganggap bahwa bumi masih merupakan “hadiah gratis bagi modal”. Dan, dengan demikian, juga tidak memungkinkan terjadinya perubahan mendasar, karena kapitalisme dalam berbagai cara adalah sistem bebas hambatan.
Anda bisa melihat penjelasan lebih lanjut dari apa yang akan aku katakan dengan mengacu pada Climate Action Report, 2002 (Laporan Kondisi Iklim, 2002), pemerintahan nya Bush tentang pemasan global, yang diangkat oleh Enviromental Protection Agency/EPA (Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup). EPA menyadari ancaman pemanasan global bagi kehidupan dan bagi syarat kehidupan, khususnya saat mereka menekankan bahwa di Amerika Serikat kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh pemanasan global dapat terlihat dengan melelehnya salju di pegunungan, dan semacamnya. Menurut mereka, bila syarat-syarat produksi pertanian dipertimbangkan, maka pemanasan global malah akan meningkatkan keseluruhan produktifitas pertanian. Kurang jelasnya hubungan antara kerusakan lingkungan hidup dengan kerusakan terhadap syarat-syarat ekonomis produksi malah digunakan (melalui standar analisa biaya-keuntungan) untuk membenarkan kebijakan beradaptasi dengan pemanasan global, ketimbang mengambil tindakan untuk mengurangi tingkat pemanasan globalkarena tentu saja tindakan tersebut akan menelan banyak biaya produksi.
Hal itu bisa terjadi karena tidak adanya mekanisme balasan yang, dengan serta merta, bisa membebankan pengrusakan lingkungan kepada kapitalisme (dalam bentuk peningkatan biaya modal itu sendiri)melainkan, pengrusakan lingkungan hidup hanya akan menjadi tanggungan alam dan masyarakat, bukannya ditanggung kapitalisme. Dan jika gerakan-gerakan sosial berusaha menanggulanginya dengan “meregulasi” kapitalisme, belum tentu regulasi tersebut akan menekan batas keuntungan dari segi pembiayaan sehingga bisa memaksa modal mereformasi diripada kenyataannya, malah menyediakan cara baru dalam mengambil keuntungan dari pengrusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu sangat meragukan bila krisis ekonomi, yang tidak terhindarkan dimasa datang, hanya dipicu oleh masalah-masalah tersebut.
Aku meyakini bahwa dalam teori ekologi terdapat masalah-masalah empiris yang menstimulasi timbulnya krisis ekonomi. Logikanya benar bahwa dengan menaikkan harga bahan-bahan mentah maka akan meningkatkan biaya yang berhubungan dengan kelangkaan sumber daya alam yang, kemudian, akan menurunkan batas keuntungan dan, pada akhirnya, memicu terjadinya krisis ekonomi. Faktor tersebut berperan dalam krisis akumulasi modal pada abad kesembilan belas, seperti yang terlihat pada teori klasik mengenai kecendurangan menurunnya tingkat keuntungan. Penting bagi modal untuk menjaga agar biaya yang berhubungan dengan kelangkaan sumber daya alam tetap rendah. Walaupun demikian, hingga sekarang tidak ada bukti bahwa biaya-biaya di bidang tersebut dapat menjadi penghalang yang berarti bagi sistem secara keseluruhan untuk berakumulasi. Seperti yang diperlihatkan Marx pada zamannya: lesunya pertambangan-pertambangan batubara pada akhirnya akan meningkatkan biaya batubara, tapi sementara itu produksi sering kali meningkat akibatnya berkurangnya biaya energi.
Pengurangan polusi juga tak memberikan beban (yang tak bisa ditanggung) pada modal
Berdasarkan penyelidikan eksekutif bisnis, pemerintah memperkirakan bahwa bahwa dunia usaha mulai mempertimbangkan peningkatan alokasi dana bagi lingkungan hidup, tapi bukti-bukti tersebut tidak lah bisa dijadikan dasar yang cukup meyakinkan untuk mengatakan bahwa, secara rata-rata, biaya lingkungan hidup akan menekan keuntunganseperti halnya, tak perlu dipandang serius adanya keluhan yang tak henti-hentinya dari badan-badan eksekutif tentang upah buruh yang katanya menekan keuntungan. Sungguh, aku tetap bersiteguhtapi tentu saja aku tidak bisa membeberkan panjang lebar argumen ku karena masalah waktubahwa kecenderungan utama krisis ekonomi kapitalis adalah (masih) karena adanya peningkatan tingkat penghisapan yang, karenanya, memperbesar (batas) keuntungan dan menyebabkan ketidakmampuan merealisasikan nilai tambahapa yang oleh O’Connor disebut sebagai kontradiksi pertama.
Kesulitan lebih lanjut untuk memahami konsepsi “kontradiksi kedua” kapitalismesebagai cara untuk mendefinisikan Marxisme ekologisadalah karena konsep tersebut memaksakan perspektif ekonomi dualistik pada kita, dan sekali terperangkap dalam pemahaman tersebut kita akan terjerat. Ada dua kontradiksi kapitalisme (keduanya menyebabkan kecenderungan krisis ekonomi), yang satu internal, dan pada dasarnya muncul dari perjuangan kelas, dan yang lainnya eksternal, dan pada dasarnya muncul dari melemahnya syarat-syarat produksi. Kontradiksi-kontradiksi tersebut akhirnya melahirkan dua bentuk gerakan sosialgerakan tradisional berdasarkan kelas, yang lahir dari kontradiksi pertama, dan gerakan sosial baru, yang timbul sebagai hasil dari “kontradiksi kedua.” Tentu saja ini memperjelas potensi aliansi kedua tipe gerakan tersebut berdasarkan gabungan kekuatan kedua kontradiksi tersebut di atas. Tetapi, dengan semakin dominannya “kontradiksi kedua” dan, konsekuensinya, gerakan-gerakan sosial baru menjadi lebih vital, maka gerakan-gerakan berdasarkan kelas cenderung dianggap tak begitu penting perannya dalam analisis dan strateginya. Marxisme Ekologis adalah pendekatan yang memandang perjuangan berdasarkan kelas memainkan peranan kedua. Dengan begitu, bisa dikatakan, gerakan telah terpecah-belah (menambah lapisan teoritis pada divisi yang sudah ada), dan semakin memudarkan harapan. Sebagaimana Kovel memaparkan pandangannya dalam The Enemy of Nature (Musuh Alam): “tidak ada agen yang istimewa dalam transformasi eko-sosialis”pemberontakan kelas tidak selalu harus menjadi kuncinya (p. 218).
Tujuan ku bukan untuk membantah pentingnya teori “kontradiksi kedua”, ataupun menolak fakta bahwa kontradiksi tersebut telah memperjelas aspek-aspek penting problematika ekologi di bawah kapitalisme. Memang ada krisis-krisis lokal tertentu yang dapat dilihat dengan cara tersebut. Aku juga tidak hendak membantah besarnya kontribusi James O’Connor bagi sosialisme ekologis. Namun, tujuan ku adalah menggugat adanya kemungkinan membangun analisis Marsis terhadap permasalahan ekologis yang terlalu ekonomistik, terlalu sempit, terlalu fungsionalis, dan terlalu tunduk terhadap dualisme ekonomiserta, tentu saja, terlalu tidak-dialektikdalam mengupas keseluruhan kontradiksi ekologis yang dihasilkan oleh kapitalisme.
Sehingga sangat masuk akal bagi kita untuk kembali pada Marx. Jika kita harus mencari contoh (pada abad ke-19) tentang melemahnya syarat-syarat produksiseperti yang dinyatakan oleh teori “kontradiksi kedua” nya O’Connor. Tidak ada contoh sebaik krisis pertanian yang dipicu oleh hilangnya unsur hara tanah. Krisis ini banyak terjadi di Amerika Serikat dan Eropa sejak tahun 1840-an, dan awalnya diatasi secara acak dengan cara melakukan serangan-serangan mendadak dalam jang-ajang pertempuran di Eropa, lalu dengan memabngun terowongan-terowongan untuk tempat mengubur korban-korban pertempuran sebagai pupuk, dan dengan meng-impor guano (sejenis pupuk dari kotoran burung laut) secara besar-besaran dari Peru; yang kemudian diikuti dengan pengembangan pupuk sintetis pertamayang bahkan pada zaman Marx sudah digunakandan pada akhirnya mengarah pada pengembangan pupuk berbahan dasar nitrogen pada masa perang dunia ke-2. Sengat mungkin bagi Marx untuk memberikan argumen bahwa peningkatan biaya ekologi yang menghalangi akumulasi dipicu oleh krisis pertanahan tersebut. Namun, sebaliknya, Marx malah menekankan tentang jurang metabolik, yakni permasalahan ekologi struktural yang lebih luas yang dicerminkan oleh krisis tanah tersebut dan, dalam istilah Marx, kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi oleh kapitalismewalaupun kemajuan teknologi, seperti penemuan pupuk sintetis, bisa memberikan jalan keluar sementara.
Marx tak sekadar memusatkan perhatian pada cara bagaimana melihat kontribusi permasalahan ekologi terhadap krisis ekonomi, tapi juga melihat pengaruh langsungnya pada penggulingan kapitalisme secara revolusioner, yang menurutnya akan segera terjadi. Dalam bidang itulah kepedulian utama
Marxyang terus meningkatdalam mempertanyakan tentang keberlanjutan, dan aturan rasional metabolisme masyarakat dengan alamnya (melalui tenga kerja manusia). Baginya, masalah pokok dalam membangun masyarakat komunis memerlukan terciptanya hubungan baru antara manusia dengan alamnya.
Tentu saja, itu karena Marx dan Engels menekankan permasalahannya pada upaya untuk mengakhiri hubungan antagonistik antara kota dengan desa, sebagai kunci untuk mengatasi keterasingan manusia dari alamnya sehingga bisa merubah cara pandang terhadap permasalahan ekologistidak sempit, seperti dalam masuarakat borjuis; atau seperti dalam geakan proletar yang hanya mengejar kebutuhan mendsak saja. Walau Marx dan Engels sangat berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam sosialis utopi, yang menawarkan masyarakat mendatang melampui syarat-syarat gerakan pada saat itu, maka mereka menekankanseperti halnya Fourier dan beberapa kaum sosialis utopia lainnyapentingnya kebutuhan agar gerakan memperhatikan keterasingan alam agar dapat menciptakan masyarakat yang berkelanjutan.
Akhir-akhir ini krisis ekologis tergambarkan dari pemberontakan anti-kapitalispada taraf yang bahkan mungkin tak mampu dipahami Marx. When William Morris developed his ideas for the reorganization of relations between town and country in News from Nowhere he was knowingly or unknowingly very close to the spirit of Marx. Tapi, secara keseluruhan, cara pandang kita mengenai gambaran ekologi dalam revolusi sosialis jarang lebih radikal dari yang dicita-citakan Marxdengan gagasannya mengakhiri hubungan antagonis antara kota dengan desa, dan usahanya mengatasi jurang metabolik melalui produksi berkelanjutan yang didasarkan pada masyarakat komunal para produsen bebas. Ketika Willim Morris mengembangkan gagasannya untuk mereorganisasi hubungan antara kota dengan desa dalam cara yang baru, ia, tanpa disadarinya, sejalan dengan gagasan-gagasan Marx.
Alasan kita sama dengan apa yang Marx lakukan pada masanya, yakni membatasi analisis kontradiksi ekologis pada teori krisis ekonomi tertentu. Teori krisis ekonomi bisa saja disanjung-sanjung, bahkan sampai didewakan. Mari aku berikan contohnya. Untuk jangka waktu yang lama, para ekonom Marxis dari berbagai bidang telah mengembangkan cara menjelaskan kecenderungan imperialistis kapitalismeyakni kecenderungan pusat sistem mengekploitasi daerah pinggiran (periphery)dengan menunjukkan beberapa teori-teori tertentu krisis ekonomi. Masalah dari semua perspektif tersebut, menurut ku, adalah bahwa mereka melupakan: imperialisme bukanlah produk krisis ekonomi ini atau krisis ekonomi itu (siginifikansinya juga tidak terletak pada bahwa imperialisme menanggung fenomena krisis ekonomi), tetapi imperialisme, secara lebih mendasar, sebagaimana seperti kemuculannya dalam sejarah, adalah merupakan upaya untuk mencari keuntungan itu sendiri. Dengan kata lain, imperialisme adalah produk penting kapitalisme sebagai kekuatan yang mendunia, dan sampai pada tahap yang dihadapi Marx pada zamannya, imperialisme tentu saja senada. Tetapi upaya untuk melihat keseluruhan kenyataan imperialisme melalui sudut pandang krisis ekonomi malah semakin mengaburkan sifat dasarnya.
Kasus degradasi ekologis yang sedang kita hadapi sekarang (bukan saja melulu tentang kapitalisme) tapi juga merupakan aturan main utama, bukan aturan main kedua, kapitalisme. Degradasi ekologis, seperti halnya imperialisme, bagi kapitalisme sama mendasarnya dengan usaha mengeruk keuntungan (yang sangat bergantung pada prluasannya). Permasalahan lingkungan hidup juga sebaiknya tidak dipandang melalui sudut pandang ekonomis yang menggiring pemahaman kita pada kesimpulan bahwa krisis lingkungan hidup memicu krisis ekonomi kapitalisme. seperti yang dijelaskan Rosa Luxemburg, burung-burung berkicau mengalami kepunahan bukan karena mereka adalah bagian dari kapitalisme, atau merupakan syarat-syarat produksinya, tetapi karena habitat mereka rusak disebabkan proses ekspansi sistem yang terus menerus. Luxemburg tidak menghubungkan kerusakkan ini dengan fenomena krisis ekonomi, namun dia tidak berhenti melawan upaya pengrusakkan terhadap apa yang ia sebut sebagai “mahluk-mahluk lemah tak berdaya.”
Tak diragukan lagi, Luxemberg yakin bahwa perekonomian akan lebih teratur di bawah sistem sosialisme,
yang dapat mengurangi kerusakan alam. Namun, perubahan yang ia bela tidak ia letakan dalam masalah ekonomi, walaupun ia setia dengan materialisme. Kekuatan terbesar analisa Marxis tidak terletak terutama pada teori krisis ekonomi, tidak juga dalam analisa-analisa perjuangan kelas seperti yang kita kenal, melainkan terletak pada konsepsi materialis dalam melihat sejarah (baik) manusia maupun alamyang dipahami sebagai proses saling ketergantungan yang tak pernah berakhir, lain tidak. Pemahaman tersebut berarti telah berhasil mengatasi penyederhanaan yang memisahkan antara ilmu pengetahuan fisika-alam dengan ilmu sosial, yang selama ini merupakan produk-produk intelektual (terasing) masyarakat bourjuis.
Sebagai kesimpulan, aku akan menoleh pada kematian Stephen Jay Gould, salah seorang pemikir besar evolusi setelah Darwin. Gould adalah seorang Marxis, yang mempelajari Marxismeseperti yang dikatakannya dalam karya utamanya, The Structure of Evolutionary Theory (Struktur Teori Evolusioner)dari “dengkul ayahnya”. Seorang materialis, pemikir dialektik yang sadar, pengritik reifikasi dan reduksionisme, akhli teori evolusi, analis permasalahan lingkungan hidup, eksponen yang menjelaskan tentang banyaknya saling-ketergantungan manusia-alam, dan seorang pembela kebebasan manusia. Dia, dalam pandangan saya, dengan pengertian yang penuh makna, adalah seorang Marxis ekologi.***
Label:
Ekologi,
Ideologi,
Kapitalisme,
sosialisme
Ekologi, Kapitalisme, dan Sosialisasi Alam (bag 1)
Ekologi, Kapitalisme, dan Sosialisasi Alam ( bagian 1)
Oleh: Dennis Soron (2)
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca pula SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Kegagalan Reformasi Lingkungan Hidup Global
DENNIS SORON (DS): Setelah pertemuan Rio Earth Summit pada tahun 1992, yang akhirnya memasukkan alasan mengapa reformasi lingkungan hidup global dimasukan dalam agenda politiknya, banyak ahli lingkungan hidup menjadi lebih optimis. Namun, dengan kondisi lingkungan hidup yang semakin memburuk dan pemerintah menolak mengambil tindakan yang efektif, optimisme itu kemudian memudar. Bagaimana bisa, harapan yang memuncak pada pertemuan di Rio jadi salah kaprah?
JOHN BELLAMY FOSTER (JBF): Optimisme tersebut jadi salah kaprah terutama disebabkan karena kelompok-kelompok lingkungan hidup tidak memperhitungkan tekanan ekonomi yang ditujukan terhadap mereka atau tidak mempertimbangkan secara fundamental sistem ekonomi kapitalisme yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Selama satu dekade terakhir, kita menyaksikan pesatnya ekspansi perdagangan neoliberal dan rejim investasi yang mengabaikan pentingnya perbaikkan lingkungan hidup. Perlu diingat bahwa pada saat pertemuan di Rio, negosiasi GATT sedang berlangsung pula dalam Pertemuan Uruguay (Uruguay Round). dari negosiasi-negosiasi tersebut lahirlah formasi WTO, organisasi yang mensentralisasi pengambilan keputusan ekonomi internasional dan mengisyaratkan bahwa regulasi-regulasi lingkungan hidup secara global akan ditentukan oleh dewan tersebut. Sama halnya dengan NAFTA, IMF, Bank Dunia, dan institusi-institusi neoliberal lainnya, WTO telah menyatakan dengan jelas bahwa pertumbuhan ekonomi adalah tujuan utama mereka, apapun harganya, kerusakkan sosial atau pun kerusakan lingkungan hidup sekalipun.
Perkembangan-perkembangan lain yang terjadi beberapa tahun terakhir ini telah sampai pada tahap yang kritis sehingga meningkatkan pesimisme komunitas lingkungan hidupsebagai contoh, Amerika Serikat mengundurkan diri dari Protokol Kyoto, lalu pemerintahan Bush bersikeras pada posisi hanya mempermasalahkan perbedaan biologis, bioteknologi, kontrol plasma bakteri, dan sebagainya. Walaupun Amerika Serikat (AS), di berbagai bidang, telah mengambil keputusan secara sepihak, sebenarnya ia tak sendirian dalam mengabaikan pemanasan global dan masalah-masalah lingkungan hidup lainnya. Dinamika sistem ekonomi global mendikte dan menyebarkan keengganan pada seluruh negara kapitalis untuk mengambil tindakkan efektif untuk menyelamatkan lingkungan hidup.
Palam Johannesburg Summitsepuluh tahun setelah Rio Earth Summittumbuh perasaan gamang (di kalangan kelompok-kelompok lingkungan hidup) bahwa mereka kehilangan landasan lingkungan hidup dalam perjuangannya, dan sangat yakin bahwa negosiasi yang mereka lakukan tak akan menghasilkan apapun. Mereka memang tak berhasil mencapai apapun. Kehilangan semangat tersebut, betapapun mengecewakannya, namun pesimisme tersebut ternyata lebih masuk akal dalam menyikapi hakikat permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang ini. Sebagai contoh, panel antar-pemerintahan dalam mempersoalkan perubahan iklim baru-baru ini menyatakan bahwa perkiraan cuaca yang mereka buat terlalu konservatif, dan kemungkinan perubahan besar dalam lingkungan hidup dunia akan lebih besar ketimbang dari yang diprediksi. semua tanda-tanda mengacu pada menggunungnya krisis lingkungan hidup, namun tindakan politik untuk mengatasinya tetap sedikit.
DS: Dalam apatisme politik seperti ini perlukah kelompok-kelompok lingkungan hidup menelaah ulang strategi-strategi mereka untuk mempromosikan perubahan?
JBF: Aku rasa begitu. Seperti yang anda ketahui, akhir-akhir ini aku sedikit mengritik strategi-strategi yang diadopsi oleh beberapa kelompok. kita ambil contoh International Forum on Globalization (Forum Internasional untuk Membahas Globalisasi) dan beberapa organisasi serupa, yang sangat baik dan progresif dalam berbagai bidang. Namun demikian, dalam beberapa laporan terbaru mereka, kebijakan utama yg mereka tawarkan adalah “menghijaukan” Bank Dunia, WTO, dan lain sebagainya—dan entah bagaimana caranya mengubah institusi-institusi tersebut menjadi lebih “hijau” dan ramah lingkungan. Padahal kontrol utama lembaga-lembaga tersebut adalah modal, dan tak akan pernah berubah. Tujuan utama WTO, misalnya, adalah memperluas akumulasi modal bagi kepentingan negeri-negeri kaya dengan menyingkirkan penghalang mobilitas modal internasional, menghapuskan subsidi dan regulasi dan, pada dasarnya, memaksakan penerapan kebijakan neoliberal ke seluruh dunia. Sampai pada tahap ini, mustahil “menghijaukannya”, atau merubahnya menjadi organisasi lingkungan hidup.
Untuk melangkah maju, kita tidak saja harus lebih terorganisir tetapi juga lebih realistis terhadap kekuatan lawan, dan lebih terbuka untuk mau mengusung isu ekonomi yang lebih luas tepat di pusat krisis lingkungan hidup. Gerakan lingkungan hidup harus berhenti berpikir bahwa negosiasi dengan sekelompok elit akan melahirkan kompromi yang akan menyelamatkan lingkungan hidup. Sebab tujuan mereka adalah “sustainable development”, mempertahankan pertumbuhanitu artinya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negeri kaya dan mempertahankan akumulasi modal. Lembaga semacam ini tidak akan pernah berkompromi.
Ekologi melawan Kapitalisme
DS: Tidak seperti para ekolog radikal, yang cenderung menggambarkan “modernitas” atau “industrialisasi” sebagai sumber pengrusakkan lingkungan hidup, anda malahan menekankan pentingnya landasan teori ekologis dan praktek yang sistematis dalam mengritik kapitalisme. Bisa anda jelaskan lebih detil?
JBF: Pertama-tama, fakta bahwa kapitalisme adalah sistem sosial yang berlaku di dunia yang kita tinggali ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi, dan satu-satunya cara untuk lebih memahami dan memetakan sistem tersebut adalah dengan berpikir seperti seorang kapitalis. Sudah sejak dahulu para ahli ilmu sosial dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai spektrum politik setuju atas gagasan ini dan berbagi pemahaman dasar cara kerja sistem tersebut.
Dalam lingkungan progresif, tentu saja, pentingnya atau tidak “memberi nama sistem” tersebut, terus menerus diperdebatkan. sebab terkadang terlihat terlalu radikal dan terlalu dibesar-besarkan bila kita mengakui bahwa kapitalisme adalah satu-satunya momok dari masalah yang kita hadapi. Sebaliknya, banya organisasi tidak sungkan menyebut “nama” kapitalisme. Majalah Fortune dan Business Week secara eksplisit memuja kapitalisme. Pendekatan apapun yang kita adopsi, masih ada sedikit keraguan sistem apa yang sebenarnya kita anut.
Agar “Industrialisme” dihargai, perlu dipahami kapitalisme merusak lingkungan hidup jauh sebelum adanya revolusi industrisehingga masalahnya tidak bisa ditimpakan begitu saja pada metode produksi industri. “Modernitas” adalah kategori yang teramat sangat luas sehingga terkadang sangat sulit mendefinisikan arti sesungguhnya. Apapun itu, sebenarnya kita hanya akan banyak menghabiskan waktu membahasnya, dan itu bukan cara yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah sistem sosial. Pembahasan tersebut mungkin saja memberi kan pengertian pada kita tentang metode bagaimana menjelaskan pola perkembangan historis karakteristik sistem sosial yang kita miliki, tetapi hal tersebut tak mengarahkan kita pada apapun yang konkrit. Jika modernitas adalah cikal bakal kerusakan lingkungan hidup, maka masalah nya hanya akan timbul dalam masyarakat “modern”. Aku rasa terlalu gegabah untuk membuat kesimpulan semacam itu.
Menurut ku persoalan ekologis timbul sejak satu milenia, tetapi untuk memahami persoalan ekologis dalam satu kurun waktu tertentu perlu pemahaman akan sistem yang berlaku pada saat itu. Kapitalisme memang sangat merusak lingkungan hidup, tapi perlu diingat kapitalisme bukan lah satu-satunya sistem yang merusak. Sistem ala-Soviet juga melakukan pengrusakan lingkungan dengan cara dan alasan yang berbeda. Feodal dan masyarakat lainnya pada milenia sebelumnya juga sangat merusak lingkungan hidup.
Jadi, dapat dikatakan bahwa meningkatnya krisis ekologis global menunjukan kerja keras kapitalisme. Jika anda mencari apa sumber asal kekuatan yang memicu krisis tersebut, terlihat jelas bahwa sebab musababnya tak dapat dipisahkan dari dinamika dasar kapitalisme global itu sendiri. Dahulu dan sekarang kapitalisme tetap menuntut pertumbuhan ekonomi yang konstan dan cepat. Jadi, pada dasarnya, dapat disimpulkan bahwa ekonomi kapitalis diharapkan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3% setiap tahun nya. Sehingga perekonomian dunia akan meningkat 16 kali dalam seabad, 250 kali dalam dua abad, dan meningkat 4.000 kali dalam tiga abad. Itu memang hanya hitungan matematis, tapi itu menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang begitu hebat, tentu saja, dalam konteks biospere tertentu, akan mendatangkan masalah. Ya, dalam skala sistem ekonomi global, tentu saja semakin berseberangan dengan proses biokemikal planet. Dengan begitu, pendekatan lingkungan hidup yang tidak memperhitungkan pentingnya pertumbuhan kapitalis jelas akan mendatangkan keraguan dalam hal efektifitas dan kemampuannya.
DS: Dalam konteks ekologi Marx, anda mengatakan bahwa hasil karya Marx sebagai sumber inspirasi pemikiran ekologi radikal kurang dihargai. Apakah itu tidak bertentangan dengan pemikiran Marx dan Marxis secara umum? Bagi sebagian pemikir “hijau” (lingkungan), Marx didakwa tak punya sikap terhadap masalah lingkungan hidup, atau bahkan terang-terangan anti-ekologi bila dilihat dari kepercayaan “Promethean” nya dalam menyikapi perkembangan ekonomi dan teknologi, serta dalam hubungannya dengan tradisi pencerahan yang berorientasi untuk “menguasai” alam, dan lain sebagainya.
JBF: Ya, aku memang menentang intrepretasi Marx seperti yang anda sebutkandan mungkin hanya aku yang berpikir demikian. Berkat beberapa peneliti, telah didokumentasikan bahwa Marx sebenarnya menulis tentang krisis ekologis dan langkah-langkah penanggulangannya. pandangan Materialis Marx dipengaruhi oleh Justus von Liebig, ilmuwan tanah (soil) abad sembilan belasyang jelas tercermin dari gagasannya tentang “jurang metabolis” (metabolic rift) yang tumbuh di antara daerah pedesaan dengan kota, dan dislokasi ekologis sebagai akibatnya. Gagasan-gasan seperti itu, seharusnya terus menjadi sumber analisa kritis problematika ekologis. Kegagalan memanfaatkan kontribusi Marx, hingga ke bagian-
bagiannya, dimulai saat adanya peningkatan keberpihakan sehingga nilai-nilai ekologi dan bentuk-bentuk pemahaman secara fundamental diberikan kesempatan layaknya pemikiran ilmiah dan materialis. Saat ini, menjadi “ekologis” berarti melihat lingkungan hidup dengan cara yang lebih spiritualis dan idealis, dan membeber-bebrkan sikap instrumental, reduktif, dan antagonistik terhadap alam yang, padahal, seharusnya dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan Pencerahan. Sejalan dengan itu, menjadi seorang pecinta lingkungan hidup berarti menolak ide-ide “antroposentris”, menanamkan kesadaran spiritual yang didapat dari nilai-nilai yang dikandung alam, dan bahkan bisa saja menempatkan alam di atas manusia.
Berbeda dengan pernyataan diatas, ada tradisi lingkungan hidup yang lebih menggunakan prinsip-prinsip materialisyang sebenarnya telah melahirkan lebih banyak ilmu ekologiyang sampai sekarang masih terus diperdebatkan. Tradisi tersebut, dalam berbagai bidang, telah mampu memprediksi permasalahan ekologis lebih awal dan lebih substansial, danmenurut kumemberikan banyak sumbangan bagi kita untuk mengatasi nya sekarang ini. Terlebih lagi, tradisi tersebut tidak begitu saja mengkotak-kotakkan anda sebagai antrophosentris atau ekosentris, pro-manusia atau pro-alam. Sebaliknya, tradisi tersebut mengetahui bahwa inti masalahnya lebih mengacu pada interaksi hubungan antara manusia dengan alam, bagaimana kita mengatur hubungan kita dengan alam. Kita harus mengetahui kandungan instrinsik alami bumi dan, tentu saja, berusaha melindunginya. Namun kita juga perlu memahami bahwa kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa kita telah merubah alam selama kita hidup dan bekerja atas bumi ini. Sampai tahap ini, tujuan utama kita seharusnya adalah merubah alam tanpa merusaknya, membuat aturan tentang hubungan kita dengan alam.
Di situ lah, Marx, sebenarnya menjelaskan bagaimana mengatur hubungan kita dengan alam dan bahwa, sebenarnya, proses lingkungan hidup itu berkaitan dengan perkembangan hubungan masyarakat dan sosial. Sayangnya, para analis marxis tidak benar-benar mengikuti jejak sang guru, setidaknya tidak cukup lama, sehingga pandangannya tentang ekologis hilang. Para anti-positifisme Marxisme Barat terkadang memanifestasikan diri dengan mengabaikan atau memusuhi ilmu pengetahuan. Dilain pihak, “materialisme dialektik” yang berasal dari Uni-soviet itu sifatnya over-positif dan terlalu memuja serta
memakai konsepsi ilmu pengetahuan yang salah. Di situ lah analisis ekologis jadi salah kaprahdi satu sisi, ilmu pengetahuan mekanis tidak memberikan ruang untuk manusia; di sisi lain, hermeneutik, tradisi humanistik yang menolak ilmu pengetahuan.
Kita membutuhkan materialisme yang lebih rasional, yang memandang permasalahan ekologis dengan imbang, dan memadukan kepedulian untuk mengatasi krisis lingkungan dengan kebutuhan untuk mepertahankan keberlanjutan dilihat dari perspektif ekonomi. Sampai pada tahap tersebut, Marx merupakan salah seorang pemikir yang meletakkan prinsip-prinsip dasar materialisme tipe tersebut, aku rasa pemikirannya masih sangat penting bagi kita.
entang Moralitas Ekologis
DS: Anda jelas sangat berhati-hati terhadap posisi pemahaman idealistik lingkungan hidup yang berbasis pada pandangan “ekosentris”, semangat abad baru, dan sebagainya. Anda juga berpendapat krisis ekologi saat ini juga merupakan krisis nilaiyang muncul dari dominasi nilai-nilai pasar dibanding yang lain. Berarti anda menyatakan kita membutuhkan “revolusi moral” dalam hubungan kita dengan alam, revolusi tidak hanya terhadap tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang tidak bertanggung jawab yang diambil oleh konsumen perorangan, politisi, dan para pejabat tinggi eksekuti, tetapi juga terhadap “amoralitas tingkat tinggi” sistem kapitalisme itu sendiri. Bagaimana caranya kita menerapkan kategori-kategori moral terhadap pelaksanaan sebuah sistem sosial? Apakah itu berarti menyepelekan tanggung jawab individu yang sekarang diteriakkan oleh para ahli lingkungan hidup?
JBF: Memang agak sulit membicarakkan moralitas pada tahap ini, tetapi perlu dilakukan jika kita tidak ingin meletakkan kesalahan pada individu tertentu atas kerusakkan ekologi yang dipicu oleh sistem pasar para kapitalis. Aku mengutip istilah “amoralitas tingkat tinggi” dari C. Wright Mills, beliau juga menggunakannya untuk mengekspresikan kepedulian terhadap status moral struktur-struktur sosial yang membentuk dan membatasi pilihan dan tindakan seseorang.
Seiring dengan berjalannya waktu, kita terbiasa menerima prinsip-prinsip dasar moral tertentu dalam melihat perkembangan manusiacontohnya, setiap orang tidak bebas dari tekanan dan kontrol, berhak mengembangkan bakat dan kemampuan masing-masing, berpartisipasi dalam proses demokrasi, dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip tersebut tentu saja terikat pada soal-soal yang berkaitan dengan perkembangan sosial yang lebih umum dan, berarti, prinsip-prinsip dasar tersebut terbentuk seiring dengan pergulatan manusia dan, dalam prakteknya, memiliki kondisi-kondisi sosial tertentu.
Jadi bagaimana kita melihat sebuah sistem sosial yang menghambat perkembangan manusia seperti itu? Bagaimana jika sistem tersebut, seperti yang kita miliki, sebenarnya membatasi kebebasan berkembang keseluruhan populasi dan, hanya, dikuasai oleh segelintir orang? Bagaimana jika sistem tersebut, hanya, mengutamakan kepentingan para penanam modal kaya, dan mengabaikan nasib seluruh populasi sekarang dan keturunannya? Buat aku, sitim tersebut terlihat sebagai bentuk “amoralitas tingkat tinggi.”
Anak cucu kita, jika tidak punah, tentu tidak akan memuja orang yang merusak alam, tidak juga sistem yang memungkinkan terjadinya hal memalukan itu. Perlu kita sadari bahwa tanggung jawab moral kita pada anak cucu tidak hanya terletak di tangan perorangan, tetapi terkait pada keseluruhan struktur masyarakat di mana kita, sebagai individu, terlibat di dalamnya.
Tentu saja kita bertanggung jawab atas tindakan-tindakan pribadi kita namun, yang perlu dipahami, tindakan-tindakan tersebut terkadang bukan pilihan melainkan ditentukan dan diarahkan oleh struktur masyarakat tertentu yang kita anut. Marx, sebagai contoh, tentu saja tidak menggambarkan para kapitalis sebagai orang baik, akan tetatpi dia, mungkin melebihi kritikus sosial terkenal pada zamannya, berulang kali menyalahkan kelemahan kapitalisme atas kerakusan dan kesalahan pelakunya. Marx menyadari bahwa ketika orang ditempatkan sebagai kelas kapitalis, maka tidak salah jika dia melaksanakan aturan pasar dan berusaha mendapat untung besar atas barang serta investasinya. Masalahnya proses pasar yang berorientasi keuntungan itu secara sistematis berkecenderungan merampas hak orang lain dan merusak lingkungan hidup.
Setiap Institusi yang merusak alam dan mengakibatkan keturunan kita semakin kehilangan interaksinya dengan alam bisa dimasukan ke dalam kategori amoralitas tingkat tinggi. Marx menulis manusia tidak memiliki dunia, kita hanya menggunakan dan berkewajiban melestarikannya untuk anak cucu kita. Itu lah landasan prinsip moral yang menggaris bawahi semua pertanyaan tentang keberlanjutanlandasan dasar universal bagi setiap masyarakat yang merasa bahwa keturunannya berhak mendapat kesempatan yang sama.
Sedihnya, prinsip-prinsip dasar tersebut tidak berpengaruh banyak dalam masyarakat kita. Masyarakat dengan rakus terus menerus memanfaatkan alam milik anak cucu kita. Para peneliti meyakini bahwa pada akhir abad ini akan terjadi kepunahan sekitar 30-50 spesies mahluk hidup. Mereka menyebutnya sebagai “kepunahan keenam.” Kepunahan terakhir yang sebanding terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu, yaitu ketika dinosaurus mengalami kepunahan. Kita, manusia, melakukan itu terhadap bumitidak sebagai individu-individu, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem sosial yang membuat kita menjadi penghancur dan menilai segala hal berdasarkan akumulasi modal.
DS: Walaupun mengalami kemunduran politik dalam beberapa tahun ini, sebagian besar segmen masyarakat tetap menunjukkan kepedulian mereka terhadap permasalahan lingkungan hidup. Sayangnya, banyak sekali cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidupseperti bersepeda ke kantor, mandi lebih cepat, menggunakan lampu hemat enerji, daur ulang, kompos, dan lain sebagainyatanpa menciptakan pilihan gaya hidup yang sadar lingkungan. Bagaimana caranya agar gerakan lingkungan hidup mulai menghubungkan ekspresi-ekspresi kesadaran dan tanggung jawab ekologi seperti tersebut ke arah yang lebih transformatif?
JBF: tentu saja dibutuhkan organisasi politik yang lebih tinggi tingkatannya dan kemauan besar untuk menohok langsung ke pusat masalah sebenarnya. Gerakan lingkungan hidup harus menyadari bahwa musuh utama mereka berada pada struktur kekuasaaan masyarakat kapitalis. Intinya, mencapai kestabilan lingkungan hidup berarti merubah struktur kekuasan masyarakat kapilatis, bukan memperbaiki kerusakan kecil yang dihasilkannya.
Saya akan berikan contohnya. Kita sering diberitahu, agar sadar lingkungan, untuk secara sadar memilih tidak mengendarai mobil, dan sebaliknya lebih memilih berjalan kaki, mengendarai sepeda, atau menggunakan kendaraan umum. Padahal bagi sebagian orang pilihan-pilihan tersebut tidak masuk akal. Jalan-jalan, pekerjaan dan keseluruhan infra-struktur urban yang ada tidak memungkinkan kita melakukan kegiatan sehari-hari dengan bersepeda atau berjalan kaki, serta banyaknya tempat yang tidak terjangkau kendaraan umum. Dengan keadaan seperti itu, mengharapkan manusia membuat pilihan pribadi yang sadar lingkungan saja sangat tidak memadai. Kita perlu terorganisir secara politis untuk menciptakan struktur-struktur sosialtransportasi umum, sistem kereta dalam kota, jam kerja yang luwes, perencanaan kota dan pengembangan lahan yang baru, dan lain sebagainyayang memungkinkan manusia benar-benar dapat melakukan pilihan-pilihan tersebut.
Hal itu juga berlaku pada berbagai permasalahan lain. Anda bisa saja menyuruh seseorang untuk “belanja hijau” (belanja produk ramah lingkungan), tetapi tidak banyak faktor penunjang yang memungkinkannya. Tidak ada label pada produk yang membedakan produk “hijau” dari produk lainnya di rak-rak pasar swalayan besar; atau bahkan produk-produk ramah lingkungan tersebut malah tidak tersedia sama sekali, atau terlalu mahal sehingga tidak terjangkau. Intinya, semua itu permasalahan politik, yang berpusat pada struktur kekuasaan yang perlu diambil alih sebelum kita dapat membuat pilihan–pilihan yang ramah lingkungan.
Melihat Kedepan
DS: Dalam sebuah artikel, yang awalnya diterbitkan dalam Monthly Review, dan kemudian menjadi salah satu bab dalam buku anda yang berjudul Ecology Against Kapitalisme (Ekologi Melawan Kapitalisme), anda menuliskan tentang “the limits of environmentalism without class” (keterbatasan lingkungan-hidup-isme yang tak berkesadaran kelas). Menurut anda mengapa gerakan lingkungan hidup yang ada sekarang perlu melirik persoalan kelas sosial?
JBF: Tulisan tersebut aku tulis awal tahun 1990-an, pada saat krisis burung hantu berbintik di hutan tua, barat-laut pasifik. Pada masa itu, strategi kebanyakan organisasi lingkungan hidup yang berpengaruh adalah menggunakan pendekatan yang sempit dan tunggal terhadap konflik. Pada dasarnya, mereka memihak alamsatu-satunya perhatian mereka tertuju pada melindungi hutan tua, dan sama sekali bukan tanggung jawab mereka untuk mengurusi penyebab kerusakan hutan seperti pekerja hutan atau kondisi ekonomi komunitas para pekerja. Aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang yang bertugas mengadakan lobi dengan Washington DC tentang permasalahan tersebut, dan dia dengan gamblang menjelaskan pandangan organisasinya, mempertimbangkan kondisi para pekerja hanya akan melemahkan posisi mereka. Baginya, kerja aktifis lingkungan hidup hanyalah melindungi hutan.
Kesalahan mengadopsi strategi tersebut adalah: anda mengabaikan para pekerja, yang sebenarnya punya kepedulian untuk melestarikan alam, namun khawatir akan kelangsungan hidup dan dan pekerjaannya, sehingga terpaksa bergabung-memihak manajemen dan mengadopsi bentuk industri yang merusak ekologi. Pada kasus krisis burung hantu berbintik, para pekerjawalaupun sebenarnya bermasalah dengan perusahaan-perusahaan kayu tempat mereka bekerja dalam soal gaji dan persoalan buruh lainnyatidak punya pilihan selain memihak perusahaan. Mereka melihat bahwa kerja para aktifis mengancam pekerjaan mereka. Dalam konteks tersebut, “gerakan bijak” di Barat berhasil mengeksploitasi dan “mengipasi” kekhawatiran para pekerja, walaupun mereka dibiayai oleh modal dan tujuan utamanya memperlancar jalannya modal. Aliansi politik antara pekerja dan industri itu lah yang menjadi penyebab utama proses perumusan kebijakan lingkungan hidup mendapat banyak perlawanan di Barat.
Yang ingin aku sampaikan di sini: jika aktivis lingkungan hidup hanya menggunakan satu sudut pandang dalam melihat sebuah permasalahan, mereka dengan sengaja menyerahkan para pekerja ke tangan pemodal. Agar strategi mereka efektif secara politik dan menyentuh permasalahan dasar, mereka harus menghadapi persoalan kelas sosial. Dalam masyarakat kapitalis, yang sebagian besar penghuninya adalah kelas pekerja, gerakan lingkungan hidup tidak akan kemana-mana jika orentasi mereka berputar pada kelas menengah atas keatas, atau begitu saja menisbikan kelas sosial dan menyerahkan nasib para pekerja di tangan pasar. Gerakan lingkungan hidup sebaiknya tidak hanya memberikan pilihan antara melestarikan alam atau mempertahankan pekerjaan bagi para pekerja. Sebaliknya, membuat program politik yang memenuhi kebutuhan sosial dan material para pekerja yang juga ramah lingkungan. Dengan terbangunnya strategi politik pekerja-aktivis lingkungan hidup maka perubahan yang sejati akan terwujud.
DS: Dalam buku anda The Vulnerable Planet, anda menulis tentang “the socialization of nature” (sosialisasi alam)tujuan politis yang, sampai pada tahap tertentu, terlihat seperti sandiwara kecil tentang tujuan tradisional kaum kiri dalam mensosialkan ekonomi. Untuk sebagian akhli lingkungan hidup, itu artinya sama saja dengan mengurangi kewaspadaan, dan dapat diartikan melanggengkan subordinasi alam atas kebutuhan sosial manusia. Bisakah anda menjelaskan istilah anda tersebut lebih rinci?
JBF: Kekuatan dominan yang berkuasa sekarang ini mengarah pada apa yang kita sebut sebagai swastanisasi alam. Perekonomian global sekarang ini terus merubah kekayaan alam sebagai komoditas swasta yang dapat dibeli dan dijual di pasarair, hutan, spesies tanaman, dan bahkan (dengan meningkatnya polusi) atmosfir. Kecenderungan swastanisasi alam sangat merusak, dan memicu permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang selama ini kita perdebatkan, yakni masalah endemik kapitalisme.
Sosialisasi alam tidak lah demikian maksudnya. Menurut pandangan ku, semakin kita menempatkan alam dalam perlindungan manusia melalui proses demokratik yang dapat menentukan aturan keberlanjutan, maka keadaan akan semakin membaik. Jika kita memandang kekayaan alam sebagai kapital, kita membiarkan kontrol dan eksploitasi alam berada di tangan perseorangan, yang dapat merusak keberlanjutannya.
Sebagai contoh, bila kita merubah sebagian hutan untuk kepentingan pribadi, maka tak ada lagi yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebab daerah tersebut adalah milik pribadi. Hutan-hutan kita memang dalam kondisi rusak parah sekarang ini, tetapi bila dibandingkan dengan hutan pribadi, kondisinya jauh lebih baik. Jika anda melihat lahan-lahan milik perseorangan di wilayah Barat laut Pasifik, anda akan menemui bahwa semua pepohonan yang cukup tua telah dibabat habis dan diganti dengan pepohonan muda yang akan sesegera mungkin dipanen (dipotong). Bentuk produksi dan panen semacam itu merupakan produksi industri dan sama sekali tidak memperdulikan pelestarian integritas hutan atau kesehatan ekosistem. Satu-satunya alasan kita masih memiliki hutan adalah karena hutan tersebut adalah hutan lindung yang dilindungi pemerintah, dan hutan itu tersebut telah disosialisasikan.
Sekarang ini, para pembela swastanisasi sangat menghakimi negara, cenderung menghubungkan setiap bentuk “sosialisasi” dengan totalitarianisme ala-Soviet, statisme, dan lain sebagainya. Mereka cenderung melupakan bahwa negara memiliki berbagai wujudwalaupun, demokrasi itu sendiri tak akan ada tanpa negara. Ketika segala sesuatu di bumi menjadi milik pribadi, maka daerah kepentingan demokratik publik akan menghilang, dan anda akan dikelilingi aktor-aktor swasta yang dengan egoisnya mengejar kepentingan pribadi masing-masing. Dalam meriahnya era swastanisasi dan deregulasi sekarang ini, terkadang kita lupa bahwa banyak kebutuhan dasar yang harus kita nikmatidari setetes air, hingga listrik, sanitasi, taman-taman, dan lain sebagainyatidak disediakan oleh bisnis, melainkan oleh agen-agen publik untuk memenuhi permintaan demokratik. Seperti halnya, perlindungan lingkungan hidup paling mendasar yang kita miliki sekarang ini dihasilkan dan dilaksanakan oleh badan-badan publik demokratik, yang dengan berat hati diberi sedikit ruang oleh kelas kapitalis.
Jika semua hal dimuka bumi diswastanisasi, maka sebagian besar populasi manusia akan kehilangan kemampuan untuk melindungi alam atau bahkan melindungi diri sendiri dari serangan kehendak kaum minoritas penguasa, yang memiliki dan menguasai sebagian besar sumber-sumber daya sosial. Kebalikannya, jika bumi menjadi milik dan memenuhi kepentingan publik, maka kita telah meletakkan alam dalam sebuah kontrol politik yang memberlakukan prinsip-prinsip demokratik. Berdasarkan pemahaman itu lah sosialisasi alam merepresentasikan strategi demokratik dan anti-kapitalis, yang berhubungan dengan sosialisme. Sosialisme mendukung pelaksanaan penuh kontrol publik demokratik, meyakini bahwa mayoritas masyarakat biasa berhak menentukan pemanfaatan sumber-sumber daya kolektif. Aku pikir, kita seharusnya melangkah ke sana jika ingin merubah hubungan kita dengan alam dan meraih keberlanjutan yang sejati.
Wawancara antara Dennis Soron dengan John Bellamy Foster. Wawancara ini dilakukan melalui telepon pada bulan Januari Tahun 2004, dan diterbitkan bulan Agustus, 2004, pada Aurora Online—Interviews with Leading Thinkers and Writers (wawancara dengan para pemikir dan penulis terkemuka), htttp://aurora.icaap.org. Tulisan yang tersaji ini telah mengalami sedikit modifikasi. (1)
Dennis Sorron adalah peneliti Neoliberal Globalism and Its Challengers Project (globalisme neoliberal dan proyek-proyek tandingannya) di Universitas Alberta, tempat ia mengajar sebagai dosen paruh waktu pada departemen sosiologi; Monthly Review, November, 2004. (2)
Oleh: Dennis Soron (2)
Sumber : seri bacaan ilmiah yang diterjemahkan dan disunting oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Lembaga PEMBEBASAN, Media dan Ilmu Sosial 20
Baca pula SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Kegagalan Reformasi Lingkungan Hidup Global
DENNIS SORON (DS): Setelah pertemuan Rio Earth Summit pada tahun 1992, yang akhirnya memasukkan alasan mengapa reformasi lingkungan hidup global dimasukan dalam agenda politiknya, banyak ahli lingkungan hidup menjadi lebih optimis. Namun, dengan kondisi lingkungan hidup yang semakin memburuk dan pemerintah menolak mengambil tindakan yang efektif, optimisme itu kemudian memudar. Bagaimana bisa, harapan yang memuncak pada pertemuan di Rio jadi salah kaprah?
JOHN BELLAMY FOSTER (JBF): Optimisme tersebut jadi salah kaprah terutama disebabkan karena kelompok-kelompok lingkungan hidup tidak memperhitungkan tekanan ekonomi yang ditujukan terhadap mereka atau tidak mempertimbangkan secara fundamental sistem ekonomi kapitalisme yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Selama satu dekade terakhir, kita menyaksikan pesatnya ekspansi perdagangan neoliberal dan rejim investasi yang mengabaikan pentingnya perbaikkan lingkungan hidup. Perlu diingat bahwa pada saat pertemuan di Rio, negosiasi GATT sedang berlangsung pula dalam Pertemuan Uruguay (Uruguay Round). dari negosiasi-negosiasi tersebut lahirlah formasi WTO, organisasi yang mensentralisasi pengambilan keputusan ekonomi internasional dan mengisyaratkan bahwa regulasi-regulasi lingkungan hidup secara global akan ditentukan oleh dewan tersebut. Sama halnya dengan NAFTA, IMF, Bank Dunia, dan institusi-institusi neoliberal lainnya, WTO telah menyatakan dengan jelas bahwa pertumbuhan ekonomi adalah tujuan utama mereka, apapun harganya, kerusakkan sosial atau pun kerusakan lingkungan hidup sekalipun.
Perkembangan-perkembangan lain yang terjadi beberapa tahun terakhir ini telah sampai pada tahap yang kritis sehingga meningkatkan pesimisme komunitas lingkungan hidupsebagai contoh, Amerika Serikat mengundurkan diri dari Protokol Kyoto, lalu pemerintahan Bush bersikeras pada posisi hanya mempermasalahkan perbedaan biologis, bioteknologi, kontrol plasma bakteri, dan sebagainya. Walaupun Amerika Serikat (AS), di berbagai bidang, telah mengambil keputusan secara sepihak, sebenarnya ia tak sendirian dalam mengabaikan pemanasan global dan masalah-masalah lingkungan hidup lainnya. Dinamika sistem ekonomi global mendikte dan menyebarkan keengganan pada seluruh negara kapitalis untuk mengambil tindakkan efektif untuk menyelamatkan lingkungan hidup.
Palam Johannesburg Summitsepuluh tahun setelah Rio Earth Summittumbuh perasaan gamang (di kalangan kelompok-kelompok lingkungan hidup) bahwa mereka kehilangan landasan lingkungan hidup dalam perjuangannya, dan sangat yakin bahwa negosiasi yang mereka lakukan tak akan menghasilkan apapun. Mereka memang tak berhasil mencapai apapun. Kehilangan semangat tersebut, betapapun mengecewakannya, namun pesimisme tersebut ternyata lebih masuk akal dalam menyikapi hakikat permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang ini. Sebagai contoh, panel antar-pemerintahan dalam mempersoalkan perubahan iklim baru-baru ini menyatakan bahwa perkiraan cuaca yang mereka buat terlalu konservatif, dan kemungkinan perubahan besar dalam lingkungan hidup dunia akan lebih besar ketimbang dari yang diprediksi. semua tanda-tanda mengacu pada menggunungnya krisis lingkungan hidup, namun tindakan politik untuk mengatasinya tetap sedikit.
DS: Dalam apatisme politik seperti ini perlukah kelompok-kelompok lingkungan hidup menelaah ulang strategi-strategi mereka untuk mempromosikan perubahan?
JBF: Aku rasa begitu. Seperti yang anda ketahui, akhir-akhir ini aku sedikit mengritik strategi-strategi yang diadopsi oleh beberapa kelompok. kita ambil contoh International Forum on Globalization (Forum Internasional untuk Membahas Globalisasi) dan beberapa organisasi serupa, yang sangat baik dan progresif dalam berbagai bidang. Namun demikian, dalam beberapa laporan terbaru mereka, kebijakan utama yg mereka tawarkan adalah “menghijaukan” Bank Dunia, WTO, dan lain sebagainya—dan entah bagaimana caranya mengubah institusi-institusi tersebut menjadi lebih “hijau” dan ramah lingkungan. Padahal kontrol utama lembaga-lembaga tersebut adalah modal, dan tak akan pernah berubah. Tujuan utama WTO, misalnya, adalah memperluas akumulasi modal bagi kepentingan negeri-negeri kaya dengan menyingkirkan penghalang mobilitas modal internasional, menghapuskan subsidi dan regulasi dan, pada dasarnya, memaksakan penerapan kebijakan neoliberal ke seluruh dunia. Sampai pada tahap ini, mustahil “menghijaukannya”, atau merubahnya menjadi organisasi lingkungan hidup.
Untuk melangkah maju, kita tidak saja harus lebih terorganisir tetapi juga lebih realistis terhadap kekuatan lawan, dan lebih terbuka untuk mau mengusung isu ekonomi yang lebih luas tepat di pusat krisis lingkungan hidup. Gerakan lingkungan hidup harus berhenti berpikir bahwa negosiasi dengan sekelompok elit akan melahirkan kompromi yang akan menyelamatkan lingkungan hidup. Sebab tujuan mereka adalah “sustainable development”, mempertahankan pertumbuhanitu artinya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negeri kaya dan mempertahankan akumulasi modal. Lembaga semacam ini tidak akan pernah berkompromi.
Ekologi melawan Kapitalisme
DS: Tidak seperti para ekolog radikal, yang cenderung menggambarkan “modernitas” atau “industrialisasi” sebagai sumber pengrusakkan lingkungan hidup, anda malahan menekankan pentingnya landasan teori ekologis dan praktek yang sistematis dalam mengritik kapitalisme. Bisa anda jelaskan lebih detil?
JBF: Pertama-tama, fakta bahwa kapitalisme adalah sistem sosial yang berlaku di dunia yang kita tinggali ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi, dan satu-satunya cara untuk lebih memahami dan memetakan sistem tersebut adalah dengan berpikir seperti seorang kapitalis. Sudah sejak dahulu para ahli ilmu sosial dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai spektrum politik setuju atas gagasan ini dan berbagi pemahaman dasar cara kerja sistem tersebut.
Dalam lingkungan progresif, tentu saja, pentingnya atau tidak “memberi nama sistem” tersebut, terus menerus diperdebatkan. sebab terkadang terlihat terlalu radikal dan terlalu dibesar-besarkan bila kita mengakui bahwa kapitalisme adalah satu-satunya momok dari masalah yang kita hadapi. Sebaliknya, banya organisasi tidak sungkan menyebut “nama” kapitalisme. Majalah Fortune dan Business Week secara eksplisit memuja kapitalisme. Pendekatan apapun yang kita adopsi, masih ada sedikit keraguan sistem apa yang sebenarnya kita anut.
Agar “Industrialisme” dihargai, perlu dipahami kapitalisme merusak lingkungan hidup jauh sebelum adanya revolusi industrisehingga masalahnya tidak bisa ditimpakan begitu saja pada metode produksi industri. “Modernitas” adalah kategori yang teramat sangat luas sehingga terkadang sangat sulit mendefinisikan arti sesungguhnya. Apapun itu, sebenarnya kita hanya akan banyak menghabiskan waktu membahasnya, dan itu bukan cara yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah sistem sosial. Pembahasan tersebut mungkin saja memberi kan pengertian pada kita tentang metode bagaimana menjelaskan pola perkembangan historis karakteristik sistem sosial yang kita miliki, tetapi hal tersebut tak mengarahkan kita pada apapun yang konkrit. Jika modernitas adalah cikal bakal kerusakan lingkungan hidup, maka masalah nya hanya akan timbul dalam masyarakat “modern”. Aku rasa terlalu gegabah untuk membuat kesimpulan semacam itu.
Menurut ku persoalan ekologis timbul sejak satu milenia, tetapi untuk memahami persoalan ekologis dalam satu kurun waktu tertentu perlu pemahaman akan sistem yang berlaku pada saat itu. Kapitalisme memang sangat merusak lingkungan hidup, tapi perlu diingat kapitalisme bukan lah satu-satunya sistem yang merusak. Sistem ala-Soviet juga melakukan pengrusakan lingkungan dengan cara dan alasan yang berbeda. Feodal dan masyarakat lainnya pada milenia sebelumnya juga sangat merusak lingkungan hidup.
Jadi, dapat dikatakan bahwa meningkatnya krisis ekologis global menunjukan kerja keras kapitalisme. Jika anda mencari apa sumber asal kekuatan yang memicu krisis tersebut, terlihat jelas bahwa sebab musababnya tak dapat dipisahkan dari dinamika dasar kapitalisme global itu sendiri. Dahulu dan sekarang kapitalisme tetap menuntut pertumbuhan ekonomi yang konstan dan cepat. Jadi, pada dasarnya, dapat disimpulkan bahwa ekonomi kapitalis diharapkan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3% setiap tahun nya. Sehingga perekonomian dunia akan meningkat 16 kali dalam seabad, 250 kali dalam dua abad, dan meningkat 4.000 kali dalam tiga abad. Itu memang hanya hitungan matematis, tapi itu menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang begitu hebat, tentu saja, dalam konteks biospere tertentu, akan mendatangkan masalah. Ya, dalam skala sistem ekonomi global, tentu saja semakin berseberangan dengan proses biokemikal planet. Dengan begitu, pendekatan lingkungan hidup yang tidak memperhitungkan pentingnya pertumbuhan kapitalis jelas akan mendatangkan keraguan dalam hal efektifitas dan kemampuannya.
DS: Dalam konteks ekologi Marx, anda mengatakan bahwa hasil karya Marx sebagai sumber inspirasi pemikiran ekologi radikal kurang dihargai. Apakah itu tidak bertentangan dengan pemikiran Marx dan Marxis secara umum? Bagi sebagian pemikir “hijau” (lingkungan), Marx didakwa tak punya sikap terhadap masalah lingkungan hidup, atau bahkan terang-terangan anti-ekologi bila dilihat dari kepercayaan “Promethean” nya dalam menyikapi perkembangan ekonomi dan teknologi, serta dalam hubungannya dengan tradisi pencerahan yang berorientasi untuk “menguasai” alam, dan lain sebagainya.
JBF: Ya, aku memang menentang intrepretasi Marx seperti yang anda sebutkandan mungkin hanya aku yang berpikir demikian. Berkat beberapa peneliti, telah didokumentasikan bahwa Marx sebenarnya menulis tentang krisis ekologis dan langkah-langkah penanggulangannya. pandangan Materialis Marx dipengaruhi oleh Justus von Liebig, ilmuwan tanah (soil) abad sembilan belasyang jelas tercermin dari gagasannya tentang “jurang metabolis” (metabolic rift) yang tumbuh di antara daerah pedesaan dengan kota, dan dislokasi ekologis sebagai akibatnya. Gagasan-gasan seperti itu, seharusnya terus menjadi sumber analisa kritis problematika ekologis. Kegagalan memanfaatkan kontribusi Marx, hingga ke bagian-
bagiannya, dimulai saat adanya peningkatan keberpihakan sehingga nilai-nilai ekologi dan bentuk-bentuk pemahaman secara fundamental diberikan kesempatan layaknya pemikiran ilmiah dan materialis. Saat ini, menjadi “ekologis” berarti melihat lingkungan hidup dengan cara yang lebih spiritualis dan idealis, dan membeber-bebrkan sikap instrumental, reduktif, dan antagonistik terhadap alam yang, padahal, seharusnya dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan Pencerahan. Sejalan dengan itu, menjadi seorang pecinta lingkungan hidup berarti menolak ide-ide “antroposentris”, menanamkan kesadaran spiritual yang didapat dari nilai-nilai yang dikandung alam, dan bahkan bisa saja menempatkan alam di atas manusia.
Berbeda dengan pernyataan diatas, ada tradisi lingkungan hidup yang lebih menggunakan prinsip-prinsip materialisyang sebenarnya telah melahirkan lebih banyak ilmu ekologiyang sampai sekarang masih terus diperdebatkan. Tradisi tersebut, dalam berbagai bidang, telah mampu memprediksi permasalahan ekologis lebih awal dan lebih substansial, danmenurut kumemberikan banyak sumbangan bagi kita untuk mengatasi nya sekarang ini. Terlebih lagi, tradisi tersebut tidak begitu saja mengkotak-kotakkan anda sebagai antrophosentris atau ekosentris, pro-manusia atau pro-alam. Sebaliknya, tradisi tersebut mengetahui bahwa inti masalahnya lebih mengacu pada interaksi hubungan antara manusia dengan alam, bagaimana kita mengatur hubungan kita dengan alam. Kita harus mengetahui kandungan instrinsik alami bumi dan, tentu saja, berusaha melindunginya. Namun kita juga perlu memahami bahwa kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa kita telah merubah alam selama kita hidup dan bekerja atas bumi ini. Sampai tahap ini, tujuan utama kita seharusnya adalah merubah alam tanpa merusaknya, membuat aturan tentang hubungan kita dengan alam.
Di situ lah, Marx, sebenarnya menjelaskan bagaimana mengatur hubungan kita dengan alam dan bahwa, sebenarnya, proses lingkungan hidup itu berkaitan dengan perkembangan hubungan masyarakat dan sosial. Sayangnya, para analis marxis tidak benar-benar mengikuti jejak sang guru, setidaknya tidak cukup lama, sehingga pandangannya tentang ekologis hilang. Para anti-positifisme Marxisme Barat terkadang memanifestasikan diri dengan mengabaikan atau memusuhi ilmu pengetahuan. Dilain pihak, “materialisme dialektik” yang berasal dari Uni-soviet itu sifatnya over-positif dan terlalu memuja serta
memakai konsepsi ilmu pengetahuan yang salah. Di situ lah analisis ekologis jadi salah kaprahdi satu sisi, ilmu pengetahuan mekanis tidak memberikan ruang untuk manusia; di sisi lain, hermeneutik, tradisi humanistik yang menolak ilmu pengetahuan.
Kita membutuhkan materialisme yang lebih rasional, yang memandang permasalahan ekologis dengan imbang, dan memadukan kepedulian untuk mengatasi krisis lingkungan dengan kebutuhan untuk mepertahankan keberlanjutan dilihat dari perspektif ekonomi. Sampai pada tahap tersebut, Marx merupakan salah seorang pemikir yang meletakkan prinsip-prinsip dasar materialisme tipe tersebut, aku rasa pemikirannya masih sangat penting bagi kita.
entang Moralitas Ekologis
DS: Anda jelas sangat berhati-hati terhadap posisi pemahaman idealistik lingkungan hidup yang berbasis pada pandangan “ekosentris”, semangat abad baru, dan sebagainya. Anda juga berpendapat krisis ekologi saat ini juga merupakan krisis nilaiyang muncul dari dominasi nilai-nilai pasar dibanding yang lain. Berarti anda menyatakan kita membutuhkan “revolusi moral” dalam hubungan kita dengan alam, revolusi tidak hanya terhadap tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang tidak bertanggung jawab yang diambil oleh konsumen perorangan, politisi, dan para pejabat tinggi eksekuti, tetapi juga terhadap “amoralitas tingkat tinggi” sistem kapitalisme itu sendiri. Bagaimana caranya kita menerapkan kategori-kategori moral terhadap pelaksanaan sebuah sistem sosial? Apakah itu berarti menyepelekan tanggung jawab individu yang sekarang diteriakkan oleh para ahli lingkungan hidup?
JBF: Memang agak sulit membicarakkan moralitas pada tahap ini, tetapi perlu dilakukan jika kita tidak ingin meletakkan kesalahan pada individu tertentu atas kerusakkan ekologi yang dipicu oleh sistem pasar para kapitalis. Aku mengutip istilah “amoralitas tingkat tinggi” dari C. Wright Mills, beliau juga menggunakannya untuk mengekspresikan kepedulian terhadap status moral struktur-struktur sosial yang membentuk dan membatasi pilihan dan tindakan seseorang.
Seiring dengan berjalannya waktu, kita terbiasa menerima prinsip-prinsip dasar moral tertentu dalam melihat perkembangan manusiacontohnya, setiap orang tidak bebas dari tekanan dan kontrol, berhak mengembangkan bakat dan kemampuan masing-masing, berpartisipasi dalam proses demokrasi, dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip tersebut tentu saja terikat pada soal-soal yang berkaitan dengan perkembangan sosial yang lebih umum dan, berarti, prinsip-prinsip dasar tersebut terbentuk seiring dengan pergulatan manusia dan, dalam prakteknya, memiliki kondisi-kondisi sosial tertentu.
Jadi bagaimana kita melihat sebuah sistem sosial yang menghambat perkembangan manusia seperti itu? Bagaimana jika sistem tersebut, seperti yang kita miliki, sebenarnya membatasi kebebasan berkembang keseluruhan populasi dan, hanya, dikuasai oleh segelintir orang? Bagaimana jika sistem tersebut, hanya, mengutamakan kepentingan para penanam modal kaya, dan mengabaikan nasib seluruh populasi sekarang dan keturunannya? Buat aku, sitim tersebut terlihat sebagai bentuk “amoralitas tingkat tinggi.”
Anak cucu kita, jika tidak punah, tentu tidak akan memuja orang yang merusak alam, tidak juga sistem yang memungkinkan terjadinya hal memalukan itu. Perlu kita sadari bahwa tanggung jawab moral kita pada anak cucu tidak hanya terletak di tangan perorangan, tetapi terkait pada keseluruhan struktur masyarakat di mana kita, sebagai individu, terlibat di dalamnya.
Tentu saja kita bertanggung jawab atas tindakan-tindakan pribadi kita namun, yang perlu dipahami, tindakan-tindakan tersebut terkadang bukan pilihan melainkan ditentukan dan diarahkan oleh struktur masyarakat tertentu yang kita anut. Marx, sebagai contoh, tentu saja tidak menggambarkan para kapitalis sebagai orang baik, akan tetatpi dia, mungkin melebihi kritikus sosial terkenal pada zamannya, berulang kali menyalahkan kelemahan kapitalisme atas kerakusan dan kesalahan pelakunya. Marx menyadari bahwa ketika orang ditempatkan sebagai kelas kapitalis, maka tidak salah jika dia melaksanakan aturan pasar dan berusaha mendapat untung besar atas barang serta investasinya. Masalahnya proses pasar yang berorientasi keuntungan itu secara sistematis berkecenderungan merampas hak orang lain dan merusak lingkungan hidup.
Setiap Institusi yang merusak alam dan mengakibatkan keturunan kita semakin kehilangan interaksinya dengan alam bisa dimasukan ke dalam kategori amoralitas tingkat tinggi. Marx menulis manusia tidak memiliki dunia, kita hanya menggunakan dan berkewajiban melestarikannya untuk anak cucu kita. Itu lah landasan prinsip moral yang menggaris bawahi semua pertanyaan tentang keberlanjutanlandasan dasar universal bagi setiap masyarakat yang merasa bahwa keturunannya berhak mendapat kesempatan yang sama.
Sedihnya, prinsip-prinsip dasar tersebut tidak berpengaruh banyak dalam masyarakat kita. Masyarakat dengan rakus terus menerus memanfaatkan alam milik anak cucu kita. Para peneliti meyakini bahwa pada akhir abad ini akan terjadi kepunahan sekitar 30-50 spesies mahluk hidup. Mereka menyebutnya sebagai “kepunahan keenam.” Kepunahan terakhir yang sebanding terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu, yaitu ketika dinosaurus mengalami kepunahan. Kita, manusia, melakukan itu terhadap bumitidak sebagai individu-individu, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem sosial yang membuat kita menjadi penghancur dan menilai segala hal berdasarkan akumulasi modal.
DS: Walaupun mengalami kemunduran politik dalam beberapa tahun ini, sebagian besar segmen masyarakat tetap menunjukkan kepedulian mereka terhadap permasalahan lingkungan hidup. Sayangnya, banyak sekali cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidupseperti bersepeda ke kantor, mandi lebih cepat, menggunakan lampu hemat enerji, daur ulang, kompos, dan lain sebagainyatanpa menciptakan pilihan gaya hidup yang sadar lingkungan. Bagaimana caranya agar gerakan lingkungan hidup mulai menghubungkan ekspresi-ekspresi kesadaran dan tanggung jawab ekologi seperti tersebut ke arah yang lebih transformatif?
JBF: tentu saja dibutuhkan organisasi politik yang lebih tinggi tingkatannya dan kemauan besar untuk menohok langsung ke pusat masalah sebenarnya. Gerakan lingkungan hidup harus menyadari bahwa musuh utama mereka berada pada struktur kekuasaaan masyarakat kapitalis. Intinya, mencapai kestabilan lingkungan hidup berarti merubah struktur kekuasan masyarakat kapilatis, bukan memperbaiki kerusakan kecil yang dihasilkannya.
Saya akan berikan contohnya. Kita sering diberitahu, agar sadar lingkungan, untuk secara sadar memilih tidak mengendarai mobil, dan sebaliknya lebih memilih berjalan kaki, mengendarai sepeda, atau menggunakan kendaraan umum. Padahal bagi sebagian orang pilihan-pilihan tersebut tidak masuk akal. Jalan-jalan, pekerjaan dan keseluruhan infra-struktur urban yang ada tidak memungkinkan kita melakukan kegiatan sehari-hari dengan bersepeda atau berjalan kaki, serta banyaknya tempat yang tidak terjangkau kendaraan umum. Dengan keadaan seperti itu, mengharapkan manusia membuat pilihan pribadi yang sadar lingkungan saja sangat tidak memadai. Kita perlu terorganisir secara politis untuk menciptakan struktur-struktur sosialtransportasi umum, sistem kereta dalam kota, jam kerja yang luwes, perencanaan kota dan pengembangan lahan yang baru, dan lain sebagainyayang memungkinkan manusia benar-benar dapat melakukan pilihan-pilihan tersebut.
Hal itu juga berlaku pada berbagai permasalahan lain. Anda bisa saja menyuruh seseorang untuk “belanja hijau” (belanja produk ramah lingkungan), tetapi tidak banyak faktor penunjang yang memungkinkannya. Tidak ada label pada produk yang membedakan produk “hijau” dari produk lainnya di rak-rak pasar swalayan besar; atau bahkan produk-produk ramah lingkungan tersebut malah tidak tersedia sama sekali, atau terlalu mahal sehingga tidak terjangkau. Intinya, semua itu permasalahan politik, yang berpusat pada struktur kekuasaan yang perlu diambil alih sebelum kita dapat membuat pilihan–pilihan yang ramah lingkungan.
Melihat Kedepan
DS: Dalam sebuah artikel, yang awalnya diterbitkan dalam Monthly Review, dan kemudian menjadi salah satu bab dalam buku anda yang berjudul Ecology Against Kapitalisme (Ekologi Melawan Kapitalisme), anda menuliskan tentang “the limits of environmentalism without class” (keterbatasan lingkungan-hidup-isme yang tak berkesadaran kelas). Menurut anda mengapa gerakan lingkungan hidup yang ada sekarang perlu melirik persoalan kelas sosial?
JBF: Tulisan tersebut aku tulis awal tahun 1990-an, pada saat krisis burung hantu berbintik di hutan tua, barat-laut pasifik. Pada masa itu, strategi kebanyakan organisasi lingkungan hidup yang berpengaruh adalah menggunakan pendekatan yang sempit dan tunggal terhadap konflik. Pada dasarnya, mereka memihak alamsatu-satunya perhatian mereka tertuju pada melindungi hutan tua, dan sama sekali bukan tanggung jawab mereka untuk mengurusi penyebab kerusakan hutan seperti pekerja hutan atau kondisi ekonomi komunitas para pekerja. Aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang yang bertugas mengadakan lobi dengan Washington DC tentang permasalahan tersebut, dan dia dengan gamblang menjelaskan pandangan organisasinya, mempertimbangkan kondisi para pekerja hanya akan melemahkan posisi mereka. Baginya, kerja aktifis lingkungan hidup hanyalah melindungi hutan.
Kesalahan mengadopsi strategi tersebut adalah: anda mengabaikan para pekerja, yang sebenarnya punya kepedulian untuk melestarikan alam, namun khawatir akan kelangsungan hidup dan dan pekerjaannya, sehingga terpaksa bergabung-memihak manajemen dan mengadopsi bentuk industri yang merusak ekologi. Pada kasus krisis burung hantu berbintik, para pekerjawalaupun sebenarnya bermasalah dengan perusahaan-perusahaan kayu tempat mereka bekerja dalam soal gaji dan persoalan buruh lainnyatidak punya pilihan selain memihak perusahaan. Mereka melihat bahwa kerja para aktifis mengancam pekerjaan mereka. Dalam konteks tersebut, “gerakan bijak” di Barat berhasil mengeksploitasi dan “mengipasi” kekhawatiran para pekerja, walaupun mereka dibiayai oleh modal dan tujuan utamanya memperlancar jalannya modal. Aliansi politik antara pekerja dan industri itu lah yang menjadi penyebab utama proses perumusan kebijakan lingkungan hidup mendapat banyak perlawanan di Barat.
Yang ingin aku sampaikan di sini: jika aktivis lingkungan hidup hanya menggunakan satu sudut pandang dalam melihat sebuah permasalahan, mereka dengan sengaja menyerahkan para pekerja ke tangan pemodal. Agar strategi mereka efektif secara politik dan menyentuh permasalahan dasar, mereka harus menghadapi persoalan kelas sosial. Dalam masyarakat kapitalis, yang sebagian besar penghuninya adalah kelas pekerja, gerakan lingkungan hidup tidak akan kemana-mana jika orentasi mereka berputar pada kelas menengah atas keatas, atau begitu saja menisbikan kelas sosial dan menyerahkan nasib para pekerja di tangan pasar. Gerakan lingkungan hidup sebaiknya tidak hanya memberikan pilihan antara melestarikan alam atau mempertahankan pekerjaan bagi para pekerja. Sebaliknya, membuat program politik yang memenuhi kebutuhan sosial dan material para pekerja yang juga ramah lingkungan. Dengan terbangunnya strategi politik pekerja-aktivis lingkungan hidup maka perubahan yang sejati akan terwujud.
DS: Dalam buku anda The Vulnerable Planet, anda menulis tentang “the socialization of nature” (sosialisasi alam)tujuan politis yang, sampai pada tahap tertentu, terlihat seperti sandiwara kecil tentang tujuan tradisional kaum kiri dalam mensosialkan ekonomi. Untuk sebagian akhli lingkungan hidup, itu artinya sama saja dengan mengurangi kewaspadaan, dan dapat diartikan melanggengkan subordinasi alam atas kebutuhan sosial manusia. Bisakah anda menjelaskan istilah anda tersebut lebih rinci?
JBF: Kekuatan dominan yang berkuasa sekarang ini mengarah pada apa yang kita sebut sebagai swastanisasi alam. Perekonomian global sekarang ini terus merubah kekayaan alam sebagai komoditas swasta yang dapat dibeli dan dijual di pasarair, hutan, spesies tanaman, dan bahkan (dengan meningkatnya polusi) atmosfir. Kecenderungan swastanisasi alam sangat merusak, dan memicu permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang selama ini kita perdebatkan, yakni masalah endemik kapitalisme.
Sosialisasi alam tidak lah demikian maksudnya. Menurut pandangan ku, semakin kita menempatkan alam dalam perlindungan manusia melalui proses demokratik yang dapat menentukan aturan keberlanjutan, maka keadaan akan semakin membaik. Jika kita memandang kekayaan alam sebagai kapital, kita membiarkan kontrol dan eksploitasi alam berada di tangan perseorangan, yang dapat merusak keberlanjutannya.
Sebagai contoh, bila kita merubah sebagian hutan untuk kepentingan pribadi, maka tak ada lagi yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebab daerah tersebut adalah milik pribadi. Hutan-hutan kita memang dalam kondisi rusak parah sekarang ini, tetapi bila dibandingkan dengan hutan pribadi, kondisinya jauh lebih baik. Jika anda melihat lahan-lahan milik perseorangan di wilayah Barat laut Pasifik, anda akan menemui bahwa semua pepohonan yang cukup tua telah dibabat habis dan diganti dengan pepohonan muda yang akan sesegera mungkin dipanen (dipotong). Bentuk produksi dan panen semacam itu merupakan produksi industri dan sama sekali tidak memperdulikan pelestarian integritas hutan atau kesehatan ekosistem. Satu-satunya alasan kita masih memiliki hutan adalah karena hutan tersebut adalah hutan lindung yang dilindungi pemerintah, dan hutan itu tersebut telah disosialisasikan.
Sekarang ini, para pembela swastanisasi sangat menghakimi negara, cenderung menghubungkan setiap bentuk “sosialisasi” dengan totalitarianisme ala-Soviet, statisme, dan lain sebagainya. Mereka cenderung melupakan bahwa negara memiliki berbagai wujudwalaupun, demokrasi itu sendiri tak akan ada tanpa negara. Ketika segala sesuatu di bumi menjadi milik pribadi, maka daerah kepentingan demokratik publik akan menghilang, dan anda akan dikelilingi aktor-aktor swasta yang dengan egoisnya mengejar kepentingan pribadi masing-masing. Dalam meriahnya era swastanisasi dan deregulasi sekarang ini, terkadang kita lupa bahwa banyak kebutuhan dasar yang harus kita nikmatidari setetes air, hingga listrik, sanitasi, taman-taman, dan lain sebagainyatidak disediakan oleh bisnis, melainkan oleh agen-agen publik untuk memenuhi permintaan demokratik. Seperti halnya, perlindungan lingkungan hidup paling mendasar yang kita miliki sekarang ini dihasilkan dan dilaksanakan oleh badan-badan publik demokratik, yang dengan berat hati diberi sedikit ruang oleh kelas kapitalis.
Jika semua hal dimuka bumi diswastanisasi, maka sebagian besar populasi manusia akan kehilangan kemampuan untuk melindungi alam atau bahkan melindungi diri sendiri dari serangan kehendak kaum minoritas penguasa, yang memiliki dan menguasai sebagian besar sumber-sumber daya sosial. Kebalikannya, jika bumi menjadi milik dan memenuhi kepentingan publik, maka kita telah meletakkan alam dalam sebuah kontrol politik yang memberlakukan prinsip-prinsip demokratik. Berdasarkan pemahaman itu lah sosialisasi alam merepresentasikan strategi demokratik dan anti-kapitalis, yang berhubungan dengan sosialisme. Sosialisme mendukung pelaksanaan penuh kontrol publik demokratik, meyakini bahwa mayoritas masyarakat biasa berhak menentukan pemanfaatan sumber-sumber daya kolektif. Aku pikir, kita seharusnya melangkah ke sana jika ingin merubah hubungan kita dengan alam dan meraih keberlanjutan yang sejati.
Wawancara antara Dennis Soron dengan John Bellamy Foster. Wawancara ini dilakukan melalui telepon pada bulan Januari Tahun 2004, dan diterbitkan bulan Agustus, 2004, pada Aurora Online—Interviews with Leading Thinkers and Writers (wawancara dengan para pemikir dan penulis terkemuka), htttp://aurora.icaap.org. Tulisan yang tersaji ini telah mengalami sedikit modifikasi. (1)
Dennis Sorron adalah peneliti Neoliberal Globalism and Its Challengers Project (globalisme neoliberal dan proyek-proyek tandingannya) di Universitas Alberta, tempat ia mengajar sebagai dosen paruh waktu pada departemen sosiologi; Monthly Review, November, 2004. (2)
Label:
Ekologi,
Ideologi,
Kapitalisme,
sosialisme
Sabtu, 15 Maret 2008
Bagaimana “Modal” Menjawab Isu-isu Keadilan Ekologi
Strategi “Modal” Menjawab Isu-isu Keadilan Ekologi :
PENGHINDARAN, KAMBING HITAM DAN PENJINAKAN (KOOPTASI)
silahkan baca pula Ironi COP 13
Respon kecil atas artikel M Baiquni “Integrasi Ekonomi dan Ekologi : Dari Mimpi Menjadi Kenyataan” di jurnal Wacana Edisi 12
Ketika bicara tentang ekonomi dan ekologi perlu juga ditinjau aspek ecological
justice --bukan hanya antar generasi tapi juga intra generasi. Untuk saat ini, ketika pola 'pembangunan' global menempatkan negara-negara dunia ketiga di periphery (pinggiran) yang fungsinya hanya mensuplai raw material ke dunia pertama (di center), maka yang terjadi adalah ketidakdilan dan kesalah-kaprahan, seperti dalam tulisan di bawah ini yang secara implisit menganggap bahwa masalah utama krisis ekologi di dunia adalah overpopulasi.
Kondisi ini menempatkan dunia ketiga sebagai pihak yang 'bersalah' karena tidak mengontrol jumlah penduduknya, sehingga perempuan-perempuan dunia ketiga harus make alat kontrasepsi, harus ber-KB, dll. Luput dari tulisan ini kenyataan bahwa meskipun pusat-pusat pertumbuhan penduduk dunia berada di dunia ketiga, tetapi level konsumsi per kapita penduduk dunia ketiga amat sangat jauh lebih rendah dari level konsumsi per kapita penduduk dunia pertama.
Ketika dilakukan analisis dengan ecological footprints (tapak ekologis), ternyata penduduk Belanda, misalnya --dengan level konsumsi mereka saat ini-- membutuhkan luasan kawasan dengan resources sebesar lima kali lipat dari luas negara mereka. Kalau ditilik lebih lanjut, inilah juga salah satu yg mendorong terjadinya ekspedisi-ekspedisi untuk mencari 'dunia baru'.
Kesalah-kaprahan tentang overpopulasi ini perlu dihentikan. Bukan berarti pengendalian populasi' tidak perlu dilakukan (masalah bagaimana melakukannya adalah topik lain yg berbeda yang juga perlu didiskusikan), tapi selama tidak dilakukan sesuatu di demand-side (sisi kebutuhan), maka keadaan 'periphery-center' akan terus terjadi. Dan tanggung jawab untuk action akan selalu dititikberatkan di negara-negara dunia ketiga (komentar Nur Hidayati atas artikel M Baiquni)
Lebih dari itu, tidak hanya overpopulasi, tetapi juga pola hidup tradisional dan kemiskinan di dunia ketiga dijadikan kambing hitam penyebab degradasi lingkungan hidup oleh negara-negara maju. Sesungguhnya politik kambing hitam ini ditujukan untuk melakukan penghindaran penyelesaian pada akar masalah degradasi lingkungan hidup yang gejalanya ada pada pola hidup di Utara dan sebagain elit di Selatan. Pada KTT Rio negara-negara utara mati-matian menolak ketiga negara-negara Selatan menyoal gaya hidup yang boros dan merusak lingkungan di utara dan lapisan tertentu di selatan. Bahkan kini pun Bush dan Blair secara gamblang menyatakan bahwa tujuan perang global melawan terorisme adalah untuk mempertahankan ‘gaya hidup’ Amerika dan Eropa. Vandhana Shiva dengan kritis mengatakan bahwa dengan itu mereka telah mendeklarasikan perang melawan planet-perang melawan minyak, air dan keragaman hayatinya. Gaya hidup 20 persen penduduk bumi yang menggunakan 80 persen sumber daya alam akan menyingkirkan 80 persen penduduk dari jatah sumber dayanya dan pada akhirnya menghancurkan planet ini.
Karena itu bila M Baiquni memilih pernyataan Dalai Lama “Because of overpopulation and other problems in human behavior, the natural balance is now disturbed. This is a serious problem.”, barangkali akan lebih tepat menggambarkan kritik yang dilontarkan oleh Yaya dengan pernyataan Gandhi bahwa : "Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak. "
Bila kaum imperialis secara sengaja melakukan taktik penghindaran dan kemudian kambing hitam para pakar dan profesional mengidap sindrom penumpang pesawat. Karena semua orang adalah penumpang pesawat angkasa bumi, maka mereka semua bertanggungjawab terhadap degradasi lingkungan. Pendeknya, mereka tak melihat adanya perbedaaan sangat besar, kesenjangan dan ketidakadilan dalam persoalan sumberdaya antara berbagai negeri, kawasan, komunitas, kelas bahkan jender. "Demikian kaum analis ekosistim yang dominant ketika mereka menemukan kegiatan ‘merusak alam’ dari kaum papa, mereka jarang mengakui bahwa persoalan semacam itu berakar dalam proses pembangunan yang menggusur komunitas adat, menghambat habitat dan mata pencaharian rakyat, dan memaksa banyak masyarakat pedesaan meningkatkan tekanan mereka terhadap lingkungan." (Arturo Escobar, Wacana edisi 1-Insist)
Lebih jauh keprihatinan ekologi justru dipakai Utara untuk mengendalikan selatan. Utara selalu menganggap sumber kerusakan lingkungan ada di Selatan dan Utara mempunyai jawabnya. Karena itu mereka memberikan jawaban pembatasan kelahiran, pencakokan sistim pengetahuan yang mengunggulkan rasionalitas barat dengan menafikan kearifan tradisional, pasar bebas-investasi asing-hutang luar negeri –pendidikan untuk mengatasi ‘kebodohan’, ‘kemalasan’ dan ‘irasionalitas’ termasuk model-model konservasi yang fasis.
Setelah bersusah payah melakukan penghindaran terhadap serangan atas gaya hidup kapitalistiknya dan politik kambing hitam, maka merekapun berupaya menjinakan dan mengkooptasi isu ekologis. Mereka kemudian mengubah kepentingan-kepentingan ekologis yang ideologis menjadi semata-mata sebagai hambatan-hambatan yang bersifat teknis dan mengadaptasi tekanan-tekanan untuk kemudian dieksploitasi. Perhatikan pula ketika kata ‘alam’ diubah menjadi ‘lingkungan hidup’, beralih juga maknanya dari sesuatu yang sungguh-sungguh hidup dan memiliki kehidupannya sendiri, menjadi sesuatu yang berda dibawah kontrol manusia yang bisa didekati dengan konsep teknis rekayasa teknologi dll (escobar).
Berbagai definisi tentang perkawinan ekologi dan ekonomi, secara gambling menjelaskan hal itu :
‘Ekonomi yang tetap memlihara basis sumber daya alam yang digunakan. Tata ekonomi seperti ini dapat terus berkembang dengan penyesuaian-penyesuaian dan dengan menyempurnakan pengetahuan, organisasi, efisien teknik dan kebijakan’.
Pembangunan berkelanjutan sebagai adopsi strategi-strategi bisnis dan aktivitas yang mempertemukan kebutuhan-kebutuhan perusahaan dan stakeholder pada saat ini dengan cara melindungi, memberlanjutkan, serta peningkatan SDM dan alam yang akan dibutuhkan di masa mendatang. (IISD-(International Institute for Sustainable Development) (seperti di kutip Baiquni)
Apa yang dikutip Baiquni dibawah ini juga menguatkan hal diatas : Wim Burger (5) mengemukakan perumpamaan bahwa dunia modern ini seperti kapal raksasa super tanker. Kapal terbesar ini harus dikendalikan secara canggih dan terencana, kapten kapal tidak dapat begitu saja membelokkan kapal itu secara drastis seperti speedboat kecil. Kapal harus dijalankan sesuai rencana dan bila harus membelok perlu dilakukan antisipasi jauh dan dibelokkan secara perlahan. Kapal super tanker ibaratnya seperti dunia saat ini dengan perkembangan peradaban modern berskala besar. Ekonomi dunia tidak dapat dibelokkan begitu saja dari strategi mengejar pertumbuhan ekonomi, dibelokkan dengan cepat menuju orientasi keberlanjutan ekologi. Pembangunan berkelanjutan harus melakukan serangkaian perubahan dalam jangka panjang
yang dilakukan secara perlahan-lahan namun dipilih yang substansial.
Kita bisa lihat bahwa analogi pesawat angkasa bumi atau kapal raksasa super tanker bukanlah analogi-analogi tentang kenyataan sosial atau fakta sosial tetapi sepenuhnya sebagai ‘jargon’ yang menjinakan dan menjaga status quo.
‘Gaya hidup’ yang boros ini sesungguhnya hanya kelanjutan logika kapitalisme sebagai akar masalah. Kapitalisme dibangun dari logika akumulasi modal yang berkelanjutan, untuk mana petumbuhan konsumsi adalah muaranya. Karena itu mereka membangun argumen terntang perubahan sosial, dan tahapan-tahapan kemajuan dan peradaban masyarakat dengan indikator konsumsi.
Misal saja Rostow yang membagi tahapan kemajuan masyarakat 5 tahap, dari masyarakat tradisional, pra-lepas landas, lepas landas, jalan menuju kematangan dan masyarakat konsumsi massa tinggi (high mass comsumption). Karena itu aku menangkap sisi demand yang Yaya maksudkan di awal tulisan adalah pola produksi barang-barang material untuk akumulasi modal dan sekaligus pada pola konsumsi masyarakat yang boros di Utara dan sedang ditularkan ke Selatan.
Pada aras pola produksi perlawanan kelompok ekologis-kerakyatan di dunia ketiga adalah melawan kecenderungan kapital untuk menguasai sumber-sumber kehidupan seperti tanah, hutan, kekayaan alam di dalam bumi sebagai bahan baku dengan biaya yang murah. Pada aras konsumsi adalah perlawanan terhadap hegemoni, manipulasi kapital untuk menciptakan masyarakat konsumsi tinggi atau budaya materialistik atau konsumen budak. Sayangnya ini jauh lebih sulit dan gerakan ekologi dan gerakan konsumen disini belum mengjangkau ruang ini.
Di Indonesia gerakan perlawanan yang bermain di ruang produksi aku piker sudah cukup melimpah, tetapi ada kekosongan di ruang konsumsi, yang mau tidak mau perlawanan harus lebih banyak dilakukan dengan senjata kebudayaan bukan senjata politik seperti pada ruang produksi. (Sebagai catatan gelombang perlawanan terhadap kapitalisme dan korporasi telah mengambil bentuk menolak produk-produk konsumsi, dan kembali kepada semangat ugahari
dalam pola konsumsi, masyarakat pasca konsumsi. Mereka menyadari bahwa barang-barang konsumsi telah menggantikan dan merampas kehidupan sosial mereka, baik itu kebutuhan hubungan vertikal dengan Tuhan, hubungan sosial dengan keluarga, masyarakat, kehidupan kreatif dll . Dehumanisasi melalui Konsumerisme!) Lebih-lebih belum banyak kelompok progresif untuk perubahan sosial bermain pada aras pola produksi sekaligus konsumsi alternatif. Artinya membangun ruang yang benar-benar baru.
Betapa beratnya medan yang harus dihadapi ketika kita bicara ruang kesadaran konsumtif yang dibangun kapitalisme, karena konsumsi telah diper Tuhankan. Dibawah ini ada beberapa kutipan menarik dari buku Kapitalisme Berjingkrak (George Ritzer _ Pustaka Pelajar 2002) dan Michael Jordan dan Neokapitalisme Global (Walter LaFeber-Jendela 2003) ketika konsumsi telah identik dengan Gereja, Tuhan dll. Kowinsky berargumen berbagai pusat perbelanjaan yang lazimnya memberi ruang bagi resto ‘fastfood ’ merupakan ‘katedral konsumsi’ modern tempat orang mempraktekan ‘agama konsumen’ mereka’.
@ Seorang mahasiswa Amerika saat berkelana hingga Sinchuan Barat, 15 ribu mil dari Beijing. Seorang Tibet Nomaden yang hendak menuju ibukota Tibet Lasha sempat berbincang dengannya dan bertanya, “Hai orang Amerika, bagaimana kabar Michael Jordan?”. Apakah ia terkenal karena sekedar sebagai pemain basket yang hebat dan sepak terjang memukaunya di NBA. Tidak ia lebih dari itu Jordan adalah seorang manusia super yang terbang ke udara di dalam iklan TV, memasukkan bola demi bola terus menerus tanpa kesulitan dan dengan serentak menjual sepatu karet Nike. Saat olimpiade 1992, pada sebuah konperensi pers seseorang menanyakan apa Jordan seorang ‘dewa’. Majalah Time menulis “Jika Jordan adalah dewa, maka Phil Knightlah (pendiri Nike) yang menempatnya di surga.”.
@ Saat pembukaan resto McD di Moskow, seorang wartawan mendeskripsikan restoran itu sebagai ‘misi suci kemewahan gaya Amerika’, sementar seorang pekerja menjuluki ‘bagai katedral di Chartres, tempat untuk mereguk kenikmatan surgawi’. Dimana katedral konsumsi terbesar dibangun? Itu ada di Beijing pada awal 1992 dimana dunia menyaksikan pembukaan resto McD terbesar di dunia, dengan 700 kursi, 29 kasir dan 1000 pekerja. Hari pertama operasi rekor penjualan terbaru pecah, dalam sehari sebuah resto MCD melayani 40.000 pembeli.
@ McD telah memperoleh posisi mulia itu karena seluruh warga Amerika dan lainnya merasa harus melewati lengkungan keemasan (DALAM BAHASA PROKLAMASI KITA ADALAH JEMBATAN EMAS YANG MENGANTAR INDONESIA KE PINTU GERBANG KEMERDEKAAN) dalam berbagai kesempatan. Banyak diantara kita dibombandir komersialisasi yang mengedepankan tampang Ronald pada beragam khalayak. Diantaranya rajin menjambangi seri kartun anak-anak di tv, atau kebanggaankakek nenek bila mereka bisa mengajak cucunya ke McD.
@ apakah yang paling mengancam model sosial yang dibangun di Kuba. "apakah pariwisata yang sedang giat-giatnya digagalkan pada akhirnya akan membawa Mc Donaldisasi budaya yang mengerikan? Mampukah mereka menahan pesonanya yang berkilauan.
@ Beta Pettawaranie seorang guru sekolah rakyat di Kei menyatakan 'gerakan-gerakan hak-hak masyarakat adat Dayak di Borneo (Sarawak maupun Kalimantan), sibuk dan sangat terampil dalam perumusan-perumusan pernyataan dan aksi-aksi politik praktis, sementara pada saat bersamaan, menu makanan harian mereka (bahkan dirumah-rumah panjang paling terpencil diperbatasan sekalipun) sudah lama mereka hanya menyajikan ikan atau daging kalengan, Cocacola, air mineral botolan, Nescafe, Milo, mie instan ....."
Contoh diatas menggambarkan secara baik salah satu strategi perusahaan untuk memberlanjutkan akumulasi modal yakni meningkatkan jumlah barang yang terjual. Strategi lainya adalah meningkatkan bukan jumlah melainkan harga (nilai tukar) dari barang yang terjual, terutama dengan cara membuat barang-barang menjadi lebih rumit dan canggih
Cermati fakta-fakta yang dikumpulkan Andre Gorz - Insist 2002) :
- Kaleng-kaleng timah diganti dengan produk-produk yang terbuat dari alumunium, yang membutuhkan energi lima belas kali lipat
- Transportasi rel digantikan jalan raya-jalan tol yang mengkonsumsi energi lebih besar hingga enam sampai tujuh kali lipat, dan menggunakan kendaraan yang harus lebih sering diganti.
- Barang-barang yang dulu dapat dirakit dengan sekedar menggunakan obeng dan baut, kini diganti dengan produk-produk yang dicetak dan dilas, sehingga tak mungkin untuk diperbaiki
- Jangka waktu penggunaan kompor dan kemari es dikurangi hingga mencapai 6-7 tahun
- Bahan-bahan fiber dan kulit digantikan dengan bahan-bahan sintetis yang lebih cepat rusak
- Tissue dan piring sekali pakai langsung buang diperkenalkan
- Penyebarluasan konstruksi pencakar langit yang menggunakan kaca dan alumunium, yang mengkonsumsi energi besar untuk pendinginan maupun ventilasi pada musim panas.
Lantas meminjam Andre Gorz :
Apa yang sesungguhnya kita kejar? Sebuah bentuk kapitalisme yang adaptif terhadap rintangan-rintangan ekologis; ataukah suatu revolusi sosial, ekonomi dan kultural yang menghapuskan batas-batas dari kapitalisme, dan dengan demikian menciptakan pola hubungan baru antara individu dengan masyarakat dan antara manusia dengan alam? Reformasi atau revolusi?
Namun demikian sebagai protagonisnya model alternatif kiri tidak juga sekaligus dapat menjawab persoalan ini. Tentunya alternatif kiri seperti dicerminkan oleh Lenin yang menyerukan “Binasa atau bergerak cepat dan menyusul negara kapitalis maju” atau Stalin yang mengatakan ‘Kita berada 50 atau 100 tahun dibelakang negara maju. Kita harus mengejar ketertinggalan ini dalam 10 tahun. Kita melakukannya atau mereka yang menghancurkan kita”
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Wacana Edisi 12, TAHUN III,2002
Insist Press
Integrasi Ekonomi dan Ekologi : Dari Mimpi Menjadi Aksi
M. Baiquni
M. Baiquni adalah geograf lulusan UGM dan memperoleh Master Development
Studies dari institute of Social Studies, Den Haag.
Because of overpopulation and other problems in human behavior, the natural balance is now disturbed. This is a serious problem. (The Dalai Lama)
Pengantar
Akankah prinsip dan praksis ekonomi dapat dipertemukan dengan ekologi, di tengah arus perubahan peradaban global mondial? Bila ekonomi identik dengan akumulasi dan ekologi berkaitan dengan keseimbangan, dapatkah keduanya dikawinkan? Tulisan ini menganalisis berbagai perkembangan setelah dipicu revolusi industri, yang menunjukkan ledakan penduduk yang amat mencengangkan dan berbagai dampaknya pada lingkungan.
Setelah memasuki abad industri mekanik, peradaban manusia. telah merambah babakan baru informasi digital yang lebih dahsyat mempengaruhi kehidupan di berbagai pelosok dunia. Kita perlu mempelajari apa. yang telah terjadi dan dampak ikutan yang menyertai selama gegap-gempita peradaban industrialisasi mekanik, sambil memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi ketika melintasi peradaban informasi digital menuju masa. depan.
Jumlah manusia penghuni planet burni ini telah mencapai angka enam milyar, suatu angka. yang berlipat ganda bila kita tengok jumlah penduduk satu abad silam. Pertanyaan yang mendasar adalah, bila keeenderungan pertumbuhan penduduk masih terus meningkat ditambah dengan tingkat konsumsi dan gaya. hidup materialistis manusia. modern, apa yang akan terjadi pada satu abad mendatang?
Ledakan Penduduk
Peradaban manusia berubah dengan cepat dan mendasar, terutama setelah abad pertengahan. Dimulai dengan Renaissance (awal 1300-an sampai awal 1600-an) yang kemudian diikuti abad Pencerahan atau Enlightment (awal 1700-an sampai pertengahan 1700-an) serta abad Revolusi Industri (pertengahan 1700-an sampai pertengahan 1800-an). Abad Renaissance diawali dengan gerakan kebudayaan mencakup berbagai kesenian yang hidup di masyarakat sebagai penggerak dinamika perkembangan zaman. Berbagai pandangan baru dan penemuan-penemuan empiris ilmu pengetahuan membongkar berbagai kemapanan tradisi
Berbagai penemuan yang mendasari peradaban baru, cukup mencengangkan masyarakat pada zamannya, sehingt menimbulkan berbagai ketegangan dan perseteruan paham di kalangan para penganut tradisi dan penemu baru. Berbagai penernuan baru tersebut menggerakkan masyarakat yang selama ini di bawah kungkungan kegelapan dogma, seperti memperoleh pencerahan. Masyarakat menjadi lebih terbuka dan tergerak untuk mengembangkan pemikiran dan menguji temuan-temuan baru.
Pada tahun 1769, James Watt mencatatkan diri sebagai pembuat mesin uap hasil penyempurnaan temuan sebelumnya, sehingga memicu perkembangan revolusi industri. Pada waktu yang tidak terlalu lama, penemuan dalam bidang teknik dan kerekayasaan diikuti dengan perkembangan dalam bidang tata cara memanfaatkan sumber daya dan membangun kekuatan baru, yang disebut ekonomi. Pada tahun 1776, Adam Smith mengemukakan pendapat dan herdebat tentang ekonomi pasar bebas dan melahirkan atau dianggap sebagai awal dari ilmu
ekonomi. Dasar awal ilmu ekonomi yang lahir pada waktu itu populer sebagai ekonomi politik (Mubyarto, 1987).
Perkembangan tersebut diikuti dengan berbagai perubahan besar-besaran baik dalam kerekayasaan industri maupun pemanfaatan sumber daya alam. Belakangan istilah ekologi mulai populer digunakan oleh seorang sarjana Jerman Ernst Haeckel pada tahun 1869 (Dwidjoseputro, 1991). Orang mulai tertarik pula untuk melihat ekosistern dalam lingkup yang lebih luas (mengkaji alam semesta) maupun lingkup yang kecil (meneliti kehidupan mikroorganisme).
Perkembangan pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia memungkinkan untuk mengontrol ketidakpastian dan mengelola perubahan untuk mencapai kemajuan. Kontrol atas ketidakpastian dan perubahan telah menciptakan kemampuan manusia menguasai dan mengeksploitasi alam. Produksi pangan meningkat setelah manusia mengembangkan rekayasa sumber daya air yang menghidupkan lahan tadah hujan menjadi lahan produktif sepanjang tahun, menemukan bibit unggul, mengembangkan sistem pengelolaan tanaman dengan input teknologi pertanian. Kenyamanan manusia telah mendorong perubahan besar dalam peningkatan perkawinan dan kelahiran. Jumlah penduduk terus meningkat seiring dengan perbaikan kesehatan dan kualitas hidup serta lingkungan di sekelilingnya. Perubahan ini menjadi titik tolak ledakan jumlah penduduk dunia.
Penduduk dunia yang selama berabad-abad berkisar setengah juta jiwa, sejak revolusi industri meningkat pesat. Pada tahun 18o6 jumlah penduduk dunia baru mencapai satu miliar. Kemudian secara berangsur-angsur naik menjadi dua miliar pada tahun 1927, naik lagi menjadi tiga miliar pada tahun 196o-an. Hanya dalam waktu kurang dari setengah abad atau antara tahun 1960-2000, penduduk dunia telah meningkat berlipat ganda menjadi enam milyar jiwa.
Perkembangan jumlah penduduk yang demikian dahsyat membawa konsekuensi pada sumber daya dan lingkungan. Enam miliar lebih penduduk saat ini memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar dan mengeluarkan buangan limbah yang harus ditampung dan didaur ulang oleh alam. Memang manusia modern mampu menciptakan berbagai teknologi yang lebih efisien dan berskala besar untuk memproduksi berbagai kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Tetapi manusia modern tidak puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar, banyak di antaranya yang
memuja ambisi spektakuler. Ambisi manusia dapat menimbulkan masalah baru dan menciptakan ketakutan sendiri.
Masalah-masalah kekhawatiran akan kekurangan pangan, kelangkaan energi, polusi udara, pencemaran air dan berbagai kerusakan sumber daya terus menjadi keprihatinan. Peradaban dunia juga menunjukkan perkembangan yang semakin cepat. Manusia saling berkompetisi mencapai pemenuhan kebutuhan dan bahkan ada yang berlomba memenuhi ambisi keinginannya. Ada suatu, pertanyaan mendasar berkaitan dengan jumlah penduduk dan kemampuan planet bumi menghidupi dan menopang peradaban manusia.
"Orang Perancis menggunakan teka-teki untuk mengajarkan kepada anak-anak sekolah, sifat pertumbuhan yang berlipat ganda. Sebuah kolam berisi teratai, demikian teka-teki itu, berisi selembar daun. Tiap hari daun itu berlipat dua: dua lembar pada hari kedua, empat lembar pada hari ketiga, delapan lembar daun pada hari keempat, demikian seterusnya. Pertanyaan teka-teki
adalah: Bila kolam itu penuh daun teratai pada hari ketigapuluh, kapan kolam itu berisi separuhnya?Hari yang kedua puluh sembilan!" (Brown, L.R. 1982).'
Teka-teki tersebut menggambarkan suatu perturnbuhan eksponensial penduduk bumi yang diibaratkan penduduk sebagai daun teratai dan bumi sebagai kolam itu. Grafik ledakan jumlah pencluduk dan teka-teki Perancis tersebut bisa memperhitungkan perkiraan kemampuan planet bumi. Orang dapat berbeda pandangan dan perhitungan, baik pesimis maupun optimis, dalam menempatkan berapa jumlah manusia yang dapat ditampung oleh bumi dan pada tingkat konsumsi serta gaya hidup seperti apa sebaiknya kehidupan ini dikelola.
Perubahan secara cepat terus berlangsung di mana-mana mengakibatkan kemajuan sekaligusjuga ketimpangan sosial ekonomi, perkembangan global sekaligus peminggiran budaya lokal, eksploitasi sumber daya sekaligus peningkatan dampak lingkungan, hingga akhirnya bermuara pada persoalan keadilan dan keberlanjutan masa depan manusia. Muncul kekhawatiran akan datangnya bencana ekologi yang dapat menyebabkan daya dukung kehidupan hancur dan sulit dipulihkan lagi. Suatu bencana yang secara sistematis mengurangi kemampuan hidup generasi mendatang akibat keserakahan segelintir generasi saat ini.
Pada awal milenium ketiga ini muncul berbagai persoalan lingkungan dan tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh keserakahan. Berangkat dari berbagai fakta dan keprihatinan atas perkembangan dunia ini, maka perlu ada pengkajian ulang paradigma pembangunan, dari paradigma yang mengandalkan strategi pertumbuhan (ekonomi) menuju pembangunan berkelanjutan (ekologi). Salah satu usaha penting adalah pemikiran baru mengenai integrasi ekonomi dan ekologi menuju pembangunan berkelanjutan. Tentu saja jalan untuk mempertemukan kembali keduanya. dapat bermacam-macam, demikian pula pilihan pendekatan dan strategi dapat dipilih dan dikembangkan oleh siapa saj a yang tergerak untuk membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan.
Pembangunan Pasca Perang Dunia
Setelah era kolonialisme berakhir melalui Perang Dunia II, muncul era baru yang disebut pembangunan. Istilah pembangunan mulai populer ketika Presiden Amerika waktu itu Harry S. Truman mel6ntarkannya sebagai resep baru untuk mengatasi keterbelakangan negara-negara Selatan (bekas jajahan Eropa) maupun dalam rangka memperbaiki wilayah bekas perang di Eropa dan Asia. Saat itu Amerika berada pada posisi pemenang secara politis (adidaya) maupun secara posisi unggul peradabannya (adibudaya). Truman dalam pidato kenegaraan yang bernada propaganda mengatakan:
"We must embark on a bold new paradigm for making the benefits of our scientific advances and industrial progress available for the improvement and growth of underdeveloped areas'.(1).
Secara sisternatis, ide pembangunan disebarkan ke seluruh dunia melalui berbagai program pembangunan. Pada akhir tahun 195o-an banyak pemuda Indonesia memperoleh beasiswa untuk belajar di Amerika dan setelah kembali ke tanah air membawa gagasan pembangunan untuk dikembangkan di Indonesia. Para intelektual yang kemudian hari menjadi pernimpin nasional tersebut menjadi agen pembangunan melalui programprogram pembangunan. Penyebar gagasan pembangunan melalui pendidikan tersebut hanya salah satu strategi di antara strategi lain seperti: bantuan yang sesungguhnya hutang luar negeri, transfer teknologi yang sebenarnya relokasi industri kotor dan tidak efisien lagi.
Guna mendukung pemasaran gagasan pembangunan tersebut dibentuk pula lembaga-lembaga yang hingga kini sangat berpengaruh antara lain United Nations, World Bank, International Monetary Fund, yang semua dimotori oleh Amerika. Dengan instrumen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lalu lintas politik dan pertahanan dapat dikuasai sejumlah negara adidaya. Sedangkan melalui dua badan ekonomi yang dikenal pula dengan Bretton Woods Institution
(2) tersebut, lalu lintas peredaran uang dan ekonomi dapat diatur oleh negara kaya.
Ide awal pembangunan bisa jadi sederhana, tetapi implikasi praktisnya tidak dapat disederhanakan, karena realitas kehidupan sangat beragam dan kompleks. Pembangunan, seperti kata Truman merupakan resep bagi negara berkembang dalam membangun dirinya melewati masa transisi dekolonisasi menuju demokrasi, ternyata menurut pengamatan Wolfgang Sachs dan kawan-kawan dianggap banyak kelemahan. Sejumlah kelebihan pembangunan terjadi berkaitan dengan tragedi kemanusiaan dan permasalahan kelestarian lingkungan.
"Today, the lighthouse of development shows cracks and is starting to crumble. The idea of the development stands like a ruin in the intellectual landscape. Delusion and dissapointment, failures and crimes have been the steady comparaons ofdevelopment and they tell a common story: it did not work. Moreover, the historical conditions which catapulted the idea into promi- nence have vanished: development has become outdated. But above all, the hopes and desires which made the ideafly, are now exhausted: development has grown absolete" (Sachs, 1995).
Para pengkritik pembangunan modernisasi model negara-negara maju yang diterapkan begitu saja di negara-negara berkembang terus dilancarkan oleh berbagai kalangan. Gustavo Esteva (1992) menyatakan bahwa banyak para teoretisi Dependencia dari, Amerika Latin dan intelektual kritis lainnya menuding "keterbelakangan sebagai wujud pembangunan". Menurut mereka,
keterbelakangan negara-negara dunia ketiga akibat proses penjajahan dan eksploitasi sumber daya alam.(3)
Pembangunan dengan cara dan tolok ukur keberhasilan yang dirumuskan negara maju, dalam penerapannya seringkali tidak tepat dengan kondisi dan dinamika lokal. Pembangunan yang terlalu menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata, seringkali dapat berbenturan dengan kepentingan masyarakat luas yang menginginkan keadilan dan keberlanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan angka ternyata telah gagal menggambarkan peningkatan pemerataan yang diharapkan. Kesenjangan terjadi di berbagai kalangan masyarakat sementara
sekelompok kecil konglomerat menguasai sebagian besar aset produktif. Bahkan bila dihitung dengan Green Growth Model, angka pertumbuhannya akan terkoreksi menjadi lebih kecil dibanding dengan angka pertumbuhan ekonomi yang sering dilansir oleh pernerintah kepada publik.
Modernisasi yang identik dengan orientasi pertumbuhan ekonomi, dengan segala manfaatnya untuk segelintir kelompok masyarakat, ternyata tidak lepas dari berbagai kelemahan yang merugikan banyak kelompok masyarakat, khususnya kelompok yang selama ini termarginalkan, seperti buruh, petani, nelayan, dan juga perempuan. Kritik yang mengemuka berkaitan dengan paradoks modernisasi adalah pertumbuhan ekonomi versus kemero sotan ekosistem, akumulasi kekayaan versus marginalisasi atau perniskinan, globalisasi versus lokalisasi.
Proyek-proyek modernisasi yang diyakini dapat menyelesaikan sejumlah masalah, temyata gagal dan tidak mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan masyarakat seperti kemiskian, pengangguran, dan kesenjangan. Kondisi ini sangat terasa dalam ungkapan Mahbub ul Haq (1983) dalam buku Tirai Kemiskinan:
"Sangat bijak untuk diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses\ yang kejam dan keji. Jalan pintas ke sana tidak ada. Inti maknanya ialah mengusahakan supaya pekerja menghasilkan lebih besar dari apa yang dihabiskannya untuk mernenuhi kebutuhan pokoknya, serta menanam dan menanarn kernbali hasil lebih dari yang diperolehnya (Haq. 1983: 13)."
Orientasi pertumbuhan ekonomi dalam praktiknya terjadi akumulasi pada sekelompok keeil orang, namun memarginalkan kelompok yang besar. Fakta ini sangat terasa dengan besarnya jumlah penduduk yang terjebak dalam kemiskinan serta yang tidak kalah pentingnnya sering diperlakukan tidak adil. Kritik keras Mahbub ul Haqjuga tertuju pada perencana pembangunan yang terbius permainan angka-angka dan kurang tertarik memahami realitas kehidupan. Para
perencana pernbangunan sering dihinggapi penyakit'miopia', tidak berminat melihat yangjauh dan memandang cakrawala yang lebih luas dari sekadar ekonomi dan berpikir untuk kepentingannya sendiri.
"Perencana pernbangunan terlalu terpukau oleh laju pertumbuhan GNP yang tinggi dan mengabaikan tujuan sebenarnya dari usaha pembangunan. Ini dosa yang paling tidak dapat dirnaafkan. Dari negara demi negara, pertumbuhan ekonomi disertai jurang perbedaan pendapatan, antar perorangan maupun antar daerah, yang sernakin menganga. Dari negara ke negara, rakyat banyak makin menggerutu karena pernbangunan tidak menyentuh kehidupan sehari-hari mereka. Pertumbuhan ekonorni seringkali berarti sedikit sekali keadilan (Haq. 1983:
37)".
Para aktivis lingkungan terutama yang menganut paradigma Deep Ecology menganggap bahwa modernisasi sama dengan kerakusan manusia atas alam. Keeenderungan modernisasi yang menggalang akumulasi modal dan mengeksploitasi alam, dianggap memiliki dampak mendorong kerakusan manusia atas alam. Kalangan ini sangat keras menentang kecenderungan modernisasi yang mengarah pada eksploitasi sumber daya dan perusakan lingkungan yang
diwujudkan dalam proyek-proyek berskala besar (Baiquni, 1996).
Proyek besar dianggap sebagai arena pernasaran produk teknologi dan industri negara maju yang mengakibatkan ketergantungan dan semakin bertambahnya hutang luar negeri. Di samping itu juga menjadi biang keladi tersingkirnya masyarakat keeil dan seringkali mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kelompok penganut Deep Ecology ini tidak hanya meneriakkan kritiknya yang tajam, tetapi juga mempromosikan pandangan hidup bahwa manusia adalah bagian dari
alam dan berusaha mempraktikkan hidup kembali ke alam, back to nature.
Dari kalangan intelektual keagamaan muncul pula kritik terhadap pembangunan yang mengakibatkan manusia teralineasi terhadap Tuhannya. Akbar S. Ahmed (1992) melihat kekurangan tersebut sambil mengajukan solusi baru, yaitu pengalaman agama sebagai arah baru bagi peradaban dalam menyongsong pergantian milenium. Dalam bukunya tentangpost-modernisme, ia menulis:
"Kegagalan umum pembangunan model materialistis, apakah Marxis di salah satu ujung spektrum atau kapitalis di ujung lainnya, mewujudkan kebangkitan Islam. Kedua sistem tersebut terlihat di dunia Islam yang didasarkan pada materialisme dan dianggap telah gagal memberikan solusi sosial dan politik: Marxisme biasanya berarti kediktatoran yang kelabu lagi brutal, sementara kapitalisme sebagian besar bercirikan alineasi, kerakusan, dan anarki."(4)
Proyek modernisasi yang mengutamakan aspek materialistis dianggap telah menjerumuskan manusia ke arah kebingungan dan kegelapan aahiliah modern). Modernisasi tanpa cahaya spiritual mengakibatkan banyak anggota masyarakat di negara maju maupun negara berkembang kebilangan akar budaya dan kemerosotan akhlaknya. Kecenderungan mengejar kepuasan materialistic ternyata tidak pernah akan puas, bahkan akan menimbulkan rasa kesepian atau mendorong kerakusan serta kesewenang-wenangan.
Masyarakat modern yang mengalami kesepian (alienasi) dan rasa ketidakpuasan (frustrasi) sebagian terjerumus dalan kecanduan obat terlarang, kekerasan fisik, kekerasan svuktural, kolusi dan korupsi, serta sejumlah patologi sosial lainnya. Sebagian masyarakat berusaha melakukan pemecahan kebuntuan hidup manusia ini dengan kegiatan pencerahan spiritual, hidup kembali ke alam, mempraktikkan nilai dan cara hidup tradisional, maupun mengabdikan diri pada kemanusiaan.
Model pembangunan, baik itu yang mainstream maupun yang alternatif sedang berkembang, ada yang dengan mudah beradaptasi dengan perubahan dan ada pula yang mengalami kesulitan dengan perubahan. Pembangunan sedang mencari bentuk baru, ketika realitas yang berkembang justru terjadi tragedi kemanusiaan dan ancaman bencana ekologi. Bencana yang terjadi tidak lagi bisa dibendung dalam skala lokal, seringkali kedahsyatan bencana mencapai berbagai penjuru dunia yang berlangsung secara silih berganti dan saling terkait.
Krisis ekologi seperti pernanasan global dan kerusakan lobang ozon atmosfer bumi akan terus mewarnai berbagai pembicaraan mengenai masa depan peradaban manusia. Kerusakan tidak hanya di darat dan di laut, tetapi telah mencapai ruang angkasa yaitu atmosfer sebagai'selimut kehidupan' yang memungkinkan makhluk hidup termasuk manusia berkembang dalam suatu keseimbangan ekosistem. Goncangan pada keseimbangan ekosistem akan berakibat berantai.
Perubahan cuaca yang drastis misalnya akan mempengaruhi curah hujan yang berlebihan atau kekeringan yang memanggang di belahan bumi lain. Kebanj*iran dan kekeringan akan berakibat pada kegagalan panen dan menurunnya persediaan pangan yang berakibat pula pada ekonomi suatu masyarakat atau negara.
Krisis multidimensi Indonesia yang terjadi sejak 1997 merupakan koensiden krisis ekologi (kemarau panjang El Nino) dan krisis ekonomi (berawal dari krisis moneter Asia). Dari sisi krisis ekologi adalah bencana besar kebakaran hutan yang menghabiskan jutaan hektar hutan, kegagalan panen, kekeringan, dan bencana kelaparan. Asap tebal menyelimuti Asia Tenggara
hingga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Dari sisi ekonomi, Indonesia dilanda goncangan moneter krisis ekonomi Asia yang berujung pangkal hancurnya ekonomi Indonesia. Sementara ekonomi negara-negara tetangga telah pulih dalam beberapa bulan, ekonomi Indonesia justru menimbulkan efek domino krisis sosial dan politik hingga jatuhnya
penguasa rezim Orde Baru.
Pembangunan yang tumbuh terlalu cepat dan tidak mengakar pada rakyat pada akhirnya bangkrut. Sekarang dapat dirasakan betapa pembangunan yang tumbuh terlalu cepat tanpa memperhatikan kesimbangan lingkungan dan keadilan, dapat berakibat pada hancurnya tatanan sosial kemasyarakatan dan tatanan kenegaraan. Berbagai pernikiran baru perlu dikembangkan dalam upaya nyata mencari solusi krisis, dengan menggali akar jati diri menemukan konstruksi
baru yang dimaknai bersama melalui pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Wim Burger (5) mengemukakan perumparmaan bahwa dunia modern ini seperti kapal raksasa super tanker. Kapal terbesar ini harus dikendalikan secara canggih dan terencana, kapten kapal tidak dapat begitu saja membelokkan kapal itu secara drastis seperti speedboat kecil. Kapal harus dijalankan sesuai rencana dan bila harus membelok perlu dilakukan antisipasi jauh dan
dibelokkan secara perlahan. Kapal super tanker ibaratnya seperti dunia saat ini dengan perkembangan peradaban modem berskala besar. Ekonomi dunia tidak dapat dibelokkan begitu saja dari strategi mengejar pertumbuhan ekonomi, dibelokkan dengan cepat menuju orientasi keberlanjutan ekologi. Pembangunan berkelanjutan harus melakukan serangkaian perubahan dalam jangka panjang yang dilakukan secara perlahan-lahan namun dipilih yang substansial.
Ide tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) berakar dari pemikiran yang berusaha mengintegrasikan perspektif ekonomi dan perspektif ekologi (WCED, 1987; Boesler, 1994; Panayotou, 1994). Ide ini merupakan paradigma dalam pembangunan yang mulai diterjemahkan ke dalam berbagai konsep. Kedua ilmu tersebut memiliki akar kata yang sama, yaitu oeikos berasal dari Bahasa Yunani yang kemudian menjadi eco dalam Bahasa Inggris yang berarti suatu 'rumah' atau rumah tangga. Meskipun berasal dari akar kata yang sama, namun perkembangannya keduanya nampak berjalan dengan logika dan praksisnya masing-masing. Ilmu ekonomi berkembang dan cenderung memfokus kan diri pada capaian-capaian jangka pendek, sedangkan ilmu ekologi berusaha dan cenderung mendorong capaian-capaian yang bersifat jangka panjang.
Kesadaran lingkungan lebih banyak dipicu oleh akibat dampak negatif dari perlombaan memacu pertumbuhan ekonomi melalui proses industrialisasi yang cenderung mengeksploitasi surnber daya alam secara besar-besaran dalam bentuk kerusakan dan pencemaran lingkungan (Dhakidae, 1994). Isu lingkungan muncul dalam berbagai studi pembangunan sejak tahun 196oan, ketika pasca Perang Dunia II dimulai kembali pembangunan industri hingga mencapai
perkembangan pesat yang membentuk era baru modernisasi.
Carson (1962) dalam bukunya yang terkenal bertajuk Silent Spring mengemukakan kekhawatiran polusi industri yang menggejala di negara maju yang menyebabkan masalah kesehatan dan kerusakan lingkungan. Ide ini berkembang pada dekade 1970-an yang ditandai munculnya berbagai buku yang mengupas isu lingkungan dan pembangunan.
Limits to Growth, laporan sekelompok peneliti dan industriawan yang tergabung dalam Club of Rome, merupakan buku yang banyak didiskusikan mengingat pandangannya yang pesimistik sekaligus menggugah kesadaran akan masa depan. Buku ini mengupas adanya batas-batas fisikal bagi pembangunan pada skala global (Meadows, et al., 1972). Berbagai isu yang berkembang mengenai lingkungan mendorong PBB untuk menyelenggarakan konferensi yang
bersejarah mengenai Human Environment di Stockholm tahun 1972. Konferensi ini melahirkan deklarasi The Principles of Environment and Development.
Sejak pertemuan Stockholm tersebut, isu mengenai lingkungan berkembang pesat mempengaruhi pergeseran paradigma pembangunan yang dianut oleh negara maju yang semula sangat mengutamakan pertumbuhan ekonomi kemudian bergeser menuju peningkatan kualitas hidup melalui pernbangunan berwawasan lingkungan. Kampanye kesadaran lingkungan saat itu menggunakan moto sederhana 'Hanya Satu Burni'(Only One Earth) yang meluas menjangkau berbagai kalangan masyarakat.
Di Indonesia sejak tahun 1970-an mulai bermunculan kelompok pencinta alam di berbagai sekolah dan masyarakat. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup didirikan pada tahun 1978. Berbagai kebijakan kependudukan dan lingkungan mulai dikoordinasikan dan diimplementasikan melalui berbagai departemen dan badan yang memiliki aparat operasional hingga tingkat lokal. Respon dari masyarakat dalam menggulirkan isu lingkungan ditandai dengan munculnya berbagai ragam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi masyarakat dan kalangan kampus yang menaruh perhatian pada masalah lingkungan dengan mendirikan Pusat Studi Lingkungan (PSQ.
Pada dekade 1980-an ditandai dengan merosotnya harga minyak dunia, sehingga pernerintah Indonesia memacu kebijakan ekspor nonmigas. Sumber daya alam hutan hujan tropika menjadi tumpuan produk ekspor Indonesia. Produk-produk manufaktur yang mengandalkan buruh murah juga menjadi strategi peningkatan ekspor.
Selama Orde Baru terdapat keeenderungan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada perturnbuhan yang memberikan peran pada pelaku ekonomi besar dengan bertumpu pada sektor industri. Sebagai konsekuensinya pengembangan sektor ekonomi rakyat keeil dan koperasi di perdesaan yang terkait dengan sektor pertanian tidak mengalami perkembangan yang signifikan bagi perturnbuhan ekonomi nasional. Proses pernbangunan semacam itu kini disadari telah menciptakan kesenjangan ekonomi dan keresahan sosial yang pada gilirannya menimbulkan kerawanan politik seperti yang terjadi pada krisis multidimensi dewasa ini.
Berbagai pandangan mengenai pembangunan dan lingkungan merupakan suatu proses yang alarniah. Keragaman merupakan salah satu kata kunci pembangunan berkelanjutan: "semakin beragam entitas dalam suatu komunitas, semakin kenyal dan tinggi daya tahan ekologisnya". Keragaman paradigma diwarnai oleh perbedaan kepentingan dan dilandasi adanya nilaii-nilai dasar yang dianut secara perorangan dan masyarakat sau organisasi, sehingga menimbulkan
perbedaan sudut pandang dan strategi dalam meniti jalan pembangunan.
Sebagaimana konsep pembangunan, konsep tentang pembaagunan berkelanjutan ini sangat beragam atau bervariasi yang dipengaruhi kondisi pernbangunan maupun kepentingan negara. maupun berbagai kelompok tertentu seperti jaringan bisnis dan komunitas lokal. Kegiatan pembangunan, baik itu ekonomi maupun sosial budaya, merupakan hubungan atau interaksi antara .nanusia dengan lingkungan sekitarnya (Colby, 1990).
Pengaruh manusia terhadap sumber daya alam telah menarik banyak perhatian karena di samping bermanfaat bagi kehidupan manusiajuga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Meningkatnya aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam didorong oleh meningkatnya kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan serta pemenuhan kebutuhan lebih lanjut yang masing-masing individu, masyarakat, ataupun negara memiliki kemampuan yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Fenomena kontradiktif terjadi, di satu sisi kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya alam selalu meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk dan dorongan mencapai kemajuan; di sisi lain terjadi kemerosotan sumber daya dan lingkungan sebagai akibat penggunaan sumber daya alam secara berlebihan (Sutikno, 1982).
Hubungan semacam itu terjadi di berbagai tingkatan. dalam suatu ekosistem yang komplek dan beragam, sehingga menghasilkan fenomena yang bermacam-macam. Sebagaimana keragaman hubungan dan fenomena yang dihasilkannya, para ahli memiliki keragaman pandangan mengenai pernbangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang dirumuskan dalam laporan Our Common Future atau dikenal dengan Brundtland Report, adalah pembangunan yang
memenuhi kebutuhan. masa kini tanpa. mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang:
"Sustainable development is the development that meets theneeds of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs" (WCED, 1987: 8).
Konsep tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi payung bagi banyak konsep, kebijakan, dan program pembangunan yang amat beragam. Pembangunan berkelanjutan merupakan paradigma baru yang memiliki interpretasi konsep dan aksi yang beragam. Konsep yang diajukan negara maju belurn tentu tepat untuk dilaksanakan di negara berkembang, demikian pula konsep yang diajukan oleh negara sedang berkembang belum tentu dapat diterima oleh negara maju. Hingga sekarang ada ratusan konsep dan definisi pembangunan berkelanjutan. Hal ini
menunjukkan bahwa isu ini telah berkembang cepat dan dapat tumbuh secara beragam dalam implementasinya.
Dalam perkembangannya, pembangunan berkelanjutan didefinisikan dalam buku Caring for the Earth sebagai: "Upaya peningkatan mutu kehidupan manusia namun masih dalarn kernarnpuan daya dukung ekosistem" (IUCN, UNEP and WWF, 1991: 10). Banyak kalangan lain juga mendefinisikan, seperti IISD (International Institutefor Sustainable Development) dengan kalangan bisnis yang mengusulkan definisi: "Pernbangunan berkelanjutan sebagai adopsi
strategi-strategi bisnis dan aktivitas yang mempertemukan kebutuhan-kebutahan perusahaan dan stakeholders pada saat ini dengan cara melindungi, memberlanjutkan, serta meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa mendatang" (Satriago, 1996: 88). Burger (1998: 48) secara diagramatis menggambarkan pernbangunan berkelanjutan sebagai interaksi antara tiga komponen besar, yaitu biosphere, masyarakat, dan moda produksi ekonorni.
Pembangunan berkelanjutan yang diperbincangkan oleh banyak kalangan dan akadernisi, setidaknya membahas empat hal. Pertama, upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan dan daya dukung ekosistem. Kedua, upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan memberlanjutkan. Ketiga, upaya meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa yang akan datang. Keempat, upaya
memperternukan kebutuhan manusia secara antar pnerasi.
Mempertemukan Ekonomi dan Ekologi
Upaya untuk mempertemukan kembali ilmu ekonomi dan ekologi memiliki arti penting dalam upaya mewujudkan Pembangunan berkelanjutan. Banyak permasalahan pernbangunan dalam bentuk kerusakan lingkungan yang menimbulkan masalah sosial dan ekonomi dalamjangka panjang. Untuk itu perlu upaya melakukan reorientasi ekonomi yang ada saat ini menjadi ekonomi berkelanjutan. Ekonomi berkelanjutan didefinisikan sebagai: "Ekonomi yang tetap mernelihara basis sumber daya alam yang digunakan. Tata ekonomi seperti ini dapat terus berkembang dengan penyesuaian-penyesuaian, dan dengan menyernpurnakan pengetahuan, organisasi, efisiensi teknik, dan kebijakan" (Satriago, 1996: 38).
Gagasan untuk memasukkan faktor lingkungan dalam perhitungan ekonomi telah dimulai. Dialog dan kerjasama di antara para ahli ekonomi dan ahli ekologi diharapkan dapat melahirkan kembali ilmu baru yang dapat mendukung terwujudnya pernbangunan berkelanjutan. Secara cukup jelas Colby (1990: 33) menggambarkan perjalanan paradigma ilmu ekonomi yang pada milenium baru ini semakin disadari untuk diperternukan kembali kedua ilmu ekonomi dan ekologi.
Ekonomi klasik pada zaman Adam Smith awalnya lebih mengkaji berbagai persoalan manusia dengan perspektif ekonomi politik. Implementasi perkernbangannya terjadi berbagai aliran pernikiran yang dipengaruhi oleh kekuasaan, penguasaan teknologi, dinamika sosial budaya, tingkat kemajuan, dan struktur kepemerintahan. Pada perkembangannya ada tiga aliran utama
yaitu neo-Marxis, neoklasik, dan neo-Malthusian yang banyak mempengaruhi perkembangan dunia setidaknya sampai akhir abad XX.
Kritik dan saling mengisi di antara aliran terjadi selama kurun waktu yang cukup lama. Masing-masing aliran dan implementasinya telah berubah dan terus akan berubah. Persoalannya sekarang tidak sekadar mana yang paling unggul dalam konsep, tetapi mana yang dapat memberikan jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kini muncul polarisasi di antara para penganut aliran Frontier Economy dan Deep Ecology.
Aliran pertama banyak dipraktikkan oleh para pelaku ekonomi perusahaan multinasional yang memiliki skala besar dari negara maju dan juga negara industri baru. Para pemilik modal dan penguasa memperlakukan alam sebagai sumber daya tak terbatas untuk dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan manusia. Alam setelah dieksploitasi sekaligus dijadikan tempat sampah yang dipaksa melebihi kemampuan daya dukung dan daya daur ulang sendiri. Aliran
pemikiran bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan manusia tak terbatas, dianut baik di negara kapitalis maupun komunis. Meskipun demikian keduanya memiliki pengorganisasian masyarakat dan kepemerintahan yang berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Di pihak lain, aliran Deep Ecology menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Aliran ini juga mempromosikan persamaan hak organisme dan alam, pemanfaatan yang disesuaikan dengan daya dukung, berorientasi pada ekonomi tanpa pertumbuhan (Daly, 1989). Aliran ini juga mengangkat tema diversity & flexibility dengan mempromosikan keragaman hayati dan budaya, perencanaan yang terdesentralisasi dengan menggunakan keragaman nilai, memanfaatkan kearifan tradisional dan pengelolaan sumber daya dengan teknologi local (Colby, 1990).
Dalam berbagai kasus kedua aliran ini seringkali berhadap-hadapan dan membangun pendirian dan argumen masing-masing dalam mengelola aset sumber daya dan mempertahankan penghidupannya. Dalam berbagai kasus yang telah dikemukakan di depan, begitu banyak didominasi oleh praktik-praktik dari aliran Frontier Economy, yang tidak lain adalah wujud pembangunan yang berorientasi pertumbuhan tanpa peduli dengan dainpaknya yang cenderung memiskinkan bebagai kelompok masyarakat lain. Sementara itu banyak aliran Deep Ecology yang sesungguhnya menarik untuk dipraktikkan tetapi kurang mampu menjawab tantangan struktural yang dihadapi, terutama menjawab bagaimana kemiskinan dapat dia'tasi dan ketergantungan hutang luar negeri dapat dikurangi.
Pembangunan berkelanjutan perlu proses integrasi ekonomi dan ekologi melalui upaya perumusan paradigma dan arah kebijakan yang bertumpu pada kemitraan dan partisipasi para pelaku pembangunan dalam mengelola sumber daya yang seoptimal mungkin dapat dimanfaatkan.
Upaya pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara individu ataupun diserahkan masing-masing negara. Berbagai perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas yang pada gilirannya akan mendorong penerapan prinsip-prinsip ekologi dalam sistem kepemerintahan, bisnis, dan kehidupan sehari-hari. Setiap orang adalah konsumen sekaligus produsen. Secara kolektif konsumen dapat menentukan pilihannya pada produk yang menerapkan produksi ramah lingkungan. Dengan demikian akan memacu pula kesadaran para produsen, pelaku bisnis, dan industriawan untuk mengikuti perilaku konsumen yang sadar akan hak dan komitmen lingkungannya (Wasik, 1997).
Aksi pada tingkat global terus dirintis melalui berbagai pertemuan dan kesepakatan untuk melakukan kerjasama. Bila kita kaji hasil kesepakatan Rio Declaration on Environment and Development tahun 1992, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dirumuskan menjadi 27 butir. Prinsip-prinsip tersebut telah diterjemahkan ke dalam Agenda 21 yang berisi rencana aksi
dalam rangka implementasi pembangunan berkelanjutan.
Agenda Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, telah disusun sebelum krisis multidimensi berlangsung. Ironisnya justru Agenda 21 baru saja selesai disusun, Indonesia langsung mengalami krisis yang berkelanjutan hingga kini belum pulih kembali. Agenda 21 Indonesia memuat formula bahwa dalam upaya mengelola agar pembangunan ekonomi Indonesia berlangsung secara berkelanjutan, dibutuhkan serangkaian strategi integrasi lingkungan ke dalam pembangunan ekonomi. Strategi integrasi tersebut meliputi. pertama, pengembangan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan; kedua, pengembangan pendekatan pencegahan pencemaran; dan ketiga, pengembangan sistem neraca ekonomi, sumber daya alam, dan lingkungan (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1997).
Setelah satu dasawarsa Rio+10, kini saatnya mengevaluasi pencapaian apa yang telah diperoleh dan apa yang belum dapat dilaksanakan. Dalam konteks pembangunan Indonesia, jelas perlu disusun kembali Agenda 21 dengan lebih saksama dan realistis dalam menyusun program aksi dan penguatan institusi terutama berkaitan dengan otonomi dan kebangkitan masyarakat sipil.
Catatan kaki :
1. Presiden Truman menyampaikan pidato ini pada saat pengukuhannya, tanggal
20 januari 1949 (kutipan ini diambil dari tulisan Gustavo Esteva: 1992).
Kata underdevelopment pada kutipan tersebut menunjukkan bahwa Amerika mulai
arogan dalam peraturan tata dunia baru pasca Perang Dunia II
2. Breeton Woods adalah sebuah desa di negara bagian New Hempshire, AS,
yang menjadi ternpat berlangsungnya konferensi penting pada tanggal 1-22
Juli 1944 yang setahun kernudian melahirkan Bank Dunia dan IMF. Hasil
konferensi ini kernudian menjadi acuan baru dalarn pengelolaan ekonorni
dunia yang berpengaruh dan kuat hingga saat ini (Kornpas, 1994).
3. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan keadaan di India yaitu ketika Gandhi
berdebat dengan PemerintahInggris mengenai model pembangunan, "Mengapa India
tidak mengikuti Inggris saja?" Dengan diplomatis Gandhi berargumen, "Kalau
negara sekecil Inggris untuk dapat maju dengan cara menjajah dan
mengeksploitasi sepertiga luas bumi, maka India yang besar ini untuk dapat
maju harus menjajah berapa planet seperti bumi ini?'
4 Tulisan Akbar S. Ahmed menjadi wacana baru dan menarik, terutama di
kalangan intelektual muda yang sedang mencari jalan baru'. Bukunya
Postmodemisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam diterbitkan oleh Mizan 1992.
5 Wirn Burger adalah dosen Institute of Social Studies, Den Haag yang
memberikan ceramah tentang Ecology and Development. Saya mencatat
pokok-pokok pikirannya pada periode kuliah musim semi 1993.
Pustaka
Akhmed Akbar S. (1992), Postmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam.
Bandung: Mizan.
Baiquni, Muhammad (1996), Karakteristik Geografi Regional Indonesia:
Analisis Peluang dan Tantangan terhadap Penggalian Potensi Sumber-sumber
Dasar Kawasan Timur Indonesia. Makalah diskusi diselenggarakan Badan
Eksekutif Mahasiswa UGM.
Burger, Dietrich (1998), 'The Vision of Sustainable Development', dalam
Agriculture and Rural Development, Volume 5, No. 1, April 1998. Frakfurt,
Jerman: DLGVerlags-Gmbh.
Carson, Rachel (1962), Musim Semi yang Bisu (Silent Spring). Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Colby, M.E. (199o), Environmental Management in Development: The Evolution
of Paradigms. The World Bank Discussion Papers. Washington DC: The World
Bank.
Daly, H. (1989), 'Steady-State and Growth, Consepts for the Next Century',
dalam Archibugi, F. dan Nijkamp, P. (eds.), Economy and Ecology: Towards
Sustainable Development. Dordrecht/ Boston /London: Kluwer Academic
Publishers.
Dwidjoseputro, D. (1991), Ekologi Manusia dan Lingkungannya. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Haq, Mahbub ul (1983), Tirai Kemiskinan; Tantangan-tantangan untuk Dunia
Ketiga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
IUCN, UNEP, dan WWF (1991), Caring for the Earth: A Strategy for Sustainable
Living. The world Conservation Union, United Nations EnvironmentProgramme
and World Wide Fund for Nature. Switzerland: Gland.
Kompas, 1 Januari 2000.
Meadows, et.al. (1972), Limits to Growth. Roma: Club of Rome.
Mubyarto (1987), Ekonomi Pancasila; Gagasan dan Kemungkinan. Jakarta: LP3ES.
Panayotou, T. (1994),'Economy and Ecology in Sustainable Development', dalam
The Society for Political and Economis Studies (ed.) 1994. Economy and
Ecology in Sustainable Development. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sachs, Wolfgang (1995), The Development Dictionary, Wolfgang Sach (ed.).
Johannesburg: Witwaterstrand University Press.
Satriago, Handry (1996), Istilah Lingkungan untuk Manajemen. Jakarta:
Ecolink, IPMI, dan Gramedia.
Sutikno (1982), Peranan Geornorfologi dalam Aspek-aspek Keteknikan. Makalah
Seminar Geografi II dengan tema Peranan Geografi dalam Pembangunan Nasional.
Yogyakarta: IGEGAMA.
Wasik, J.F. (1997), Green Marketing and Management: A Global Perspective.
Oxford, UK: Blackwell Business.
WCED (World Commision on Environment and Development) (1987), Our Common
Future.
Zen, M.T. (1979), Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
PENGHINDARAN, KAMBING HITAM DAN PENJINAKAN (KOOPTASI)
silahkan baca pula Ironi COP 13
Respon kecil atas artikel M Baiquni “Integrasi Ekonomi dan Ekologi : Dari Mimpi Menjadi Kenyataan” di jurnal Wacana Edisi 12
Ketika bicara tentang ekonomi dan ekologi perlu juga ditinjau aspek ecological
justice --bukan hanya antar generasi tapi juga intra generasi. Untuk saat ini, ketika pola 'pembangunan' global menempatkan negara-negara dunia ketiga di periphery (pinggiran) yang fungsinya hanya mensuplai raw material ke dunia pertama (di center), maka yang terjadi adalah ketidakdilan dan kesalah-kaprahan, seperti dalam tulisan di bawah ini yang secara implisit menganggap bahwa masalah utama krisis ekologi di dunia adalah overpopulasi.
Kondisi ini menempatkan dunia ketiga sebagai pihak yang 'bersalah' karena tidak mengontrol jumlah penduduknya, sehingga perempuan-perempuan dunia ketiga harus make alat kontrasepsi, harus ber-KB, dll. Luput dari tulisan ini kenyataan bahwa meskipun pusat-pusat pertumbuhan penduduk dunia berada di dunia ketiga, tetapi level konsumsi per kapita penduduk dunia ketiga amat sangat jauh lebih rendah dari level konsumsi per kapita penduduk dunia pertama.
Ketika dilakukan analisis dengan ecological footprints (tapak ekologis), ternyata penduduk Belanda, misalnya --dengan level konsumsi mereka saat ini-- membutuhkan luasan kawasan dengan resources sebesar lima kali lipat dari luas negara mereka. Kalau ditilik lebih lanjut, inilah juga salah satu yg mendorong terjadinya ekspedisi-ekspedisi untuk mencari 'dunia baru'.
Kesalah-kaprahan tentang overpopulasi ini perlu dihentikan. Bukan berarti pengendalian populasi' tidak perlu dilakukan (masalah bagaimana melakukannya adalah topik lain yg berbeda yang juga perlu didiskusikan), tapi selama tidak dilakukan sesuatu di demand-side (sisi kebutuhan), maka keadaan 'periphery-center' akan terus terjadi. Dan tanggung jawab untuk action akan selalu dititikberatkan di negara-negara dunia ketiga (komentar Nur Hidayati atas artikel M Baiquni)
Lebih dari itu, tidak hanya overpopulasi, tetapi juga pola hidup tradisional dan kemiskinan di dunia ketiga dijadikan kambing hitam penyebab degradasi lingkungan hidup oleh negara-negara maju. Sesungguhnya politik kambing hitam ini ditujukan untuk melakukan penghindaran penyelesaian pada akar masalah degradasi lingkungan hidup yang gejalanya ada pada pola hidup di Utara dan sebagain elit di Selatan. Pada KTT Rio negara-negara utara mati-matian menolak ketiga negara-negara Selatan menyoal gaya hidup yang boros dan merusak lingkungan di utara dan lapisan tertentu di selatan. Bahkan kini pun Bush dan Blair secara gamblang menyatakan bahwa tujuan perang global melawan terorisme adalah untuk mempertahankan ‘gaya hidup’ Amerika dan Eropa. Vandhana Shiva dengan kritis mengatakan bahwa dengan itu mereka telah mendeklarasikan perang melawan planet-perang melawan minyak, air dan keragaman hayatinya. Gaya hidup 20 persen penduduk bumi yang menggunakan 80 persen sumber daya alam akan menyingkirkan 80 persen penduduk dari jatah sumber dayanya dan pada akhirnya menghancurkan planet ini.
Karena itu bila M Baiquni memilih pernyataan Dalai Lama “Because of overpopulation and other problems in human behavior, the natural balance is now disturbed. This is a serious problem.”, barangkali akan lebih tepat menggambarkan kritik yang dilontarkan oleh Yaya dengan pernyataan Gandhi bahwa : "Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak. "
Bila kaum imperialis secara sengaja melakukan taktik penghindaran dan kemudian kambing hitam para pakar dan profesional mengidap sindrom penumpang pesawat. Karena semua orang adalah penumpang pesawat angkasa bumi, maka mereka semua bertanggungjawab terhadap degradasi lingkungan. Pendeknya, mereka tak melihat adanya perbedaaan sangat besar, kesenjangan dan ketidakadilan dalam persoalan sumberdaya antara berbagai negeri, kawasan, komunitas, kelas bahkan jender. "Demikian kaum analis ekosistim yang dominant ketika mereka menemukan kegiatan ‘merusak alam’ dari kaum papa, mereka jarang mengakui bahwa persoalan semacam itu berakar dalam proses pembangunan yang menggusur komunitas adat, menghambat habitat dan mata pencaharian rakyat, dan memaksa banyak masyarakat pedesaan meningkatkan tekanan mereka terhadap lingkungan." (Arturo Escobar, Wacana edisi 1-Insist)
Lebih jauh keprihatinan ekologi justru dipakai Utara untuk mengendalikan selatan. Utara selalu menganggap sumber kerusakan lingkungan ada di Selatan dan Utara mempunyai jawabnya. Karena itu mereka memberikan jawaban pembatasan kelahiran, pencakokan sistim pengetahuan yang mengunggulkan rasionalitas barat dengan menafikan kearifan tradisional, pasar bebas-investasi asing-hutang luar negeri –pendidikan untuk mengatasi ‘kebodohan’, ‘kemalasan’ dan ‘irasionalitas’ termasuk model-model konservasi yang fasis.
Setelah bersusah payah melakukan penghindaran terhadap serangan atas gaya hidup kapitalistiknya dan politik kambing hitam, maka merekapun berupaya menjinakan dan mengkooptasi isu ekologis. Mereka kemudian mengubah kepentingan-kepentingan ekologis yang ideologis menjadi semata-mata sebagai hambatan-hambatan yang bersifat teknis dan mengadaptasi tekanan-tekanan untuk kemudian dieksploitasi. Perhatikan pula ketika kata ‘alam’ diubah menjadi ‘lingkungan hidup’, beralih juga maknanya dari sesuatu yang sungguh-sungguh hidup dan memiliki kehidupannya sendiri, menjadi sesuatu yang berda dibawah kontrol manusia yang bisa didekati dengan konsep teknis rekayasa teknologi dll (escobar).
Berbagai definisi tentang perkawinan ekologi dan ekonomi, secara gambling menjelaskan hal itu :
‘Ekonomi yang tetap memlihara basis sumber daya alam yang digunakan. Tata ekonomi seperti ini dapat terus berkembang dengan penyesuaian-penyesuaian dan dengan menyempurnakan pengetahuan, organisasi, efisien teknik dan kebijakan’.
Pembangunan berkelanjutan sebagai adopsi strategi-strategi bisnis dan aktivitas yang mempertemukan kebutuhan-kebutuhan perusahaan dan stakeholder pada saat ini dengan cara melindungi, memberlanjutkan, serta peningkatan SDM dan alam yang akan dibutuhkan di masa mendatang. (IISD-(International Institute for Sustainable Development) (seperti di kutip Baiquni)
Apa yang dikutip Baiquni dibawah ini juga menguatkan hal diatas : Wim Burger (5) mengemukakan perumpamaan bahwa dunia modern ini seperti kapal raksasa super tanker. Kapal terbesar ini harus dikendalikan secara canggih dan terencana, kapten kapal tidak dapat begitu saja membelokkan kapal itu secara drastis seperti speedboat kecil. Kapal harus dijalankan sesuai rencana dan bila harus membelok perlu dilakukan antisipasi jauh dan dibelokkan secara perlahan. Kapal super tanker ibaratnya seperti dunia saat ini dengan perkembangan peradaban modern berskala besar. Ekonomi dunia tidak dapat dibelokkan begitu saja dari strategi mengejar pertumbuhan ekonomi, dibelokkan dengan cepat menuju orientasi keberlanjutan ekologi. Pembangunan berkelanjutan harus melakukan serangkaian perubahan dalam jangka panjang
yang dilakukan secara perlahan-lahan namun dipilih yang substansial.
Kita bisa lihat bahwa analogi pesawat angkasa bumi atau kapal raksasa super tanker bukanlah analogi-analogi tentang kenyataan sosial atau fakta sosial tetapi sepenuhnya sebagai ‘jargon’ yang menjinakan dan menjaga status quo.
‘Gaya hidup’ yang boros ini sesungguhnya hanya kelanjutan logika kapitalisme sebagai akar masalah. Kapitalisme dibangun dari logika akumulasi modal yang berkelanjutan, untuk mana petumbuhan konsumsi adalah muaranya. Karena itu mereka membangun argumen terntang perubahan sosial, dan tahapan-tahapan kemajuan dan peradaban masyarakat dengan indikator konsumsi.
Misal saja Rostow yang membagi tahapan kemajuan masyarakat 5 tahap, dari masyarakat tradisional, pra-lepas landas, lepas landas, jalan menuju kematangan dan masyarakat konsumsi massa tinggi (high mass comsumption). Karena itu aku menangkap sisi demand yang Yaya maksudkan di awal tulisan adalah pola produksi barang-barang material untuk akumulasi modal dan sekaligus pada pola konsumsi masyarakat yang boros di Utara dan sedang ditularkan ke Selatan.
Pada aras pola produksi perlawanan kelompok ekologis-kerakyatan di dunia ketiga adalah melawan kecenderungan kapital untuk menguasai sumber-sumber kehidupan seperti tanah, hutan, kekayaan alam di dalam bumi sebagai bahan baku dengan biaya yang murah. Pada aras konsumsi adalah perlawanan terhadap hegemoni, manipulasi kapital untuk menciptakan masyarakat konsumsi tinggi atau budaya materialistik atau konsumen budak. Sayangnya ini jauh lebih sulit dan gerakan ekologi dan gerakan konsumen disini belum mengjangkau ruang ini.
Di Indonesia gerakan perlawanan yang bermain di ruang produksi aku piker sudah cukup melimpah, tetapi ada kekosongan di ruang konsumsi, yang mau tidak mau perlawanan harus lebih banyak dilakukan dengan senjata kebudayaan bukan senjata politik seperti pada ruang produksi. (Sebagai catatan gelombang perlawanan terhadap kapitalisme dan korporasi telah mengambil bentuk menolak produk-produk konsumsi, dan kembali kepada semangat ugahari
dalam pola konsumsi, masyarakat pasca konsumsi. Mereka menyadari bahwa barang-barang konsumsi telah menggantikan dan merampas kehidupan sosial mereka, baik itu kebutuhan hubungan vertikal dengan Tuhan, hubungan sosial dengan keluarga, masyarakat, kehidupan kreatif dll . Dehumanisasi melalui Konsumerisme!) Lebih-lebih belum banyak kelompok progresif untuk perubahan sosial bermain pada aras pola produksi sekaligus konsumsi alternatif. Artinya membangun ruang yang benar-benar baru.
Betapa beratnya medan yang harus dihadapi ketika kita bicara ruang kesadaran konsumtif yang dibangun kapitalisme, karena konsumsi telah diper Tuhankan. Dibawah ini ada beberapa kutipan menarik dari buku Kapitalisme Berjingkrak (George Ritzer _ Pustaka Pelajar 2002) dan Michael Jordan dan Neokapitalisme Global (Walter LaFeber-Jendela 2003) ketika konsumsi telah identik dengan Gereja, Tuhan dll. Kowinsky berargumen berbagai pusat perbelanjaan yang lazimnya memberi ruang bagi resto ‘fastfood ’ merupakan ‘katedral konsumsi’ modern tempat orang mempraktekan ‘agama konsumen’ mereka’.
@ Seorang mahasiswa Amerika saat berkelana hingga Sinchuan Barat, 15 ribu mil dari Beijing. Seorang Tibet Nomaden yang hendak menuju ibukota Tibet Lasha sempat berbincang dengannya dan bertanya, “Hai orang Amerika, bagaimana kabar Michael Jordan?”. Apakah ia terkenal karena sekedar sebagai pemain basket yang hebat dan sepak terjang memukaunya di NBA. Tidak ia lebih dari itu Jordan adalah seorang manusia super yang terbang ke udara di dalam iklan TV, memasukkan bola demi bola terus menerus tanpa kesulitan dan dengan serentak menjual sepatu karet Nike. Saat olimpiade 1992, pada sebuah konperensi pers seseorang menanyakan apa Jordan seorang ‘dewa’. Majalah Time menulis “Jika Jordan adalah dewa, maka Phil Knightlah (pendiri Nike) yang menempatnya di surga.”.
@ Saat pembukaan resto McD di Moskow, seorang wartawan mendeskripsikan restoran itu sebagai ‘misi suci kemewahan gaya Amerika’, sementar seorang pekerja menjuluki ‘bagai katedral di Chartres, tempat untuk mereguk kenikmatan surgawi’. Dimana katedral konsumsi terbesar dibangun? Itu ada di Beijing pada awal 1992 dimana dunia menyaksikan pembukaan resto McD terbesar di dunia, dengan 700 kursi, 29 kasir dan 1000 pekerja. Hari pertama operasi rekor penjualan terbaru pecah, dalam sehari sebuah resto MCD melayani 40.000 pembeli.
@ McD telah memperoleh posisi mulia itu karena seluruh warga Amerika dan lainnya merasa harus melewati lengkungan keemasan (DALAM BAHASA PROKLAMASI KITA ADALAH JEMBATAN EMAS YANG MENGANTAR INDONESIA KE PINTU GERBANG KEMERDEKAAN) dalam berbagai kesempatan. Banyak diantara kita dibombandir komersialisasi yang mengedepankan tampang Ronald pada beragam khalayak. Diantaranya rajin menjambangi seri kartun anak-anak di tv, atau kebanggaankakek nenek bila mereka bisa mengajak cucunya ke McD.
@ apakah yang paling mengancam model sosial yang dibangun di Kuba. "apakah pariwisata yang sedang giat-giatnya digagalkan pada akhirnya akan membawa Mc Donaldisasi budaya yang mengerikan? Mampukah mereka menahan pesonanya yang berkilauan.
@ Beta Pettawaranie seorang guru sekolah rakyat di Kei menyatakan 'gerakan-gerakan hak-hak masyarakat adat Dayak di Borneo (Sarawak maupun Kalimantan), sibuk dan sangat terampil dalam perumusan-perumusan pernyataan dan aksi-aksi politik praktis, sementara pada saat bersamaan, menu makanan harian mereka (bahkan dirumah-rumah panjang paling terpencil diperbatasan sekalipun) sudah lama mereka hanya menyajikan ikan atau daging kalengan, Cocacola, air mineral botolan, Nescafe, Milo, mie instan ....."
Contoh diatas menggambarkan secara baik salah satu strategi perusahaan untuk memberlanjutkan akumulasi modal yakni meningkatkan jumlah barang yang terjual. Strategi lainya adalah meningkatkan bukan jumlah melainkan harga (nilai tukar) dari barang yang terjual, terutama dengan cara membuat barang-barang menjadi lebih rumit dan canggih
Cermati fakta-fakta yang dikumpulkan Andre Gorz - Insist 2002) :
- Kaleng-kaleng timah diganti dengan produk-produk yang terbuat dari alumunium, yang membutuhkan energi lima belas kali lipat
- Transportasi rel digantikan jalan raya-jalan tol yang mengkonsumsi energi lebih besar hingga enam sampai tujuh kali lipat, dan menggunakan kendaraan yang harus lebih sering diganti.
- Barang-barang yang dulu dapat dirakit dengan sekedar menggunakan obeng dan baut, kini diganti dengan produk-produk yang dicetak dan dilas, sehingga tak mungkin untuk diperbaiki
- Jangka waktu penggunaan kompor dan kemari es dikurangi hingga mencapai 6-7 tahun
- Bahan-bahan fiber dan kulit digantikan dengan bahan-bahan sintetis yang lebih cepat rusak
- Tissue dan piring sekali pakai langsung buang diperkenalkan
- Penyebarluasan konstruksi pencakar langit yang menggunakan kaca dan alumunium, yang mengkonsumsi energi besar untuk pendinginan maupun ventilasi pada musim panas.
Lantas meminjam Andre Gorz :
Apa yang sesungguhnya kita kejar? Sebuah bentuk kapitalisme yang adaptif terhadap rintangan-rintangan ekologis; ataukah suatu revolusi sosial, ekonomi dan kultural yang menghapuskan batas-batas dari kapitalisme, dan dengan demikian menciptakan pola hubungan baru antara individu dengan masyarakat dan antara manusia dengan alam? Reformasi atau revolusi?
Namun demikian sebagai protagonisnya model alternatif kiri tidak juga sekaligus dapat menjawab persoalan ini. Tentunya alternatif kiri seperti dicerminkan oleh Lenin yang menyerukan “Binasa atau bergerak cepat dan menyusul negara kapitalis maju” atau Stalin yang mengatakan ‘Kita berada 50 atau 100 tahun dibelakang negara maju. Kita harus mengejar ketertinggalan ini dalam 10 tahun. Kita melakukannya atau mereka yang menghancurkan kita”
Baca SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Wacana Edisi 12, TAHUN III,2002
Insist Press
Integrasi Ekonomi dan Ekologi : Dari Mimpi Menjadi Aksi
M. Baiquni
M. Baiquni adalah geograf lulusan UGM dan memperoleh Master Development
Studies dari institute of Social Studies, Den Haag.
Because of overpopulation and other problems in human behavior, the natural balance is now disturbed. This is a serious problem. (The Dalai Lama)
Pengantar
Akankah prinsip dan praksis ekonomi dapat dipertemukan dengan ekologi, di tengah arus perubahan peradaban global mondial? Bila ekonomi identik dengan akumulasi dan ekologi berkaitan dengan keseimbangan, dapatkah keduanya dikawinkan? Tulisan ini menganalisis berbagai perkembangan setelah dipicu revolusi industri, yang menunjukkan ledakan penduduk yang amat mencengangkan dan berbagai dampaknya pada lingkungan.
Setelah memasuki abad industri mekanik, peradaban manusia. telah merambah babakan baru informasi digital yang lebih dahsyat mempengaruhi kehidupan di berbagai pelosok dunia. Kita perlu mempelajari apa. yang telah terjadi dan dampak ikutan yang menyertai selama gegap-gempita peradaban industrialisasi mekanik, sambil memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi ketika melintasi peradaban informasi digital menuju masa. depan.
Jumlah manusia penghuni planet burni ini telah mencapai angka enam milyar, suatu angka. yang berlipat ganda bila kita tengok jumlah penduduk satu abad silam. Pertanyaan yang mendasar adalah, bila keeenderungan pertumbuhan penduduk masih terus meningkat ditambah dengan tingkat konsumsi dan gaya. hidup materialistis manusia. modern, apa yang akan terjadi pada satu abad mendatang?
Ledakan Penduduk
Peradaban manusia berubah dengan cepat dan mendasar, terutama setelah abad pertengahan. Dimulai dengan Renaissance (awal 1300-an sampai awal 1600-an) yang kemudian diikuti abad Pencerahan atau Enlightment (awal 1700-an sampai pertengahan 1700-an) serta abad Revolusi Industri (pertengahan 1700-an sampai pertengahan 1800-an). Abad Renaissance diawali dengan gerakan kebudayaan mencakup berbagai kesenian yang hidup di masyarakat sebagai penggerak dinamika perkembangan zaman. Berbagai pandangan baru dan penemuan-penemuan empiris ilmu pengetahuan membongkar berbagai kemapanan tradisi
Berbagai penemuan yang mendasari peradaban baru, cukup mencengangkan masyarakat pada zamannya, sehingt menimbulkan berbagai ketegangan dan perseteruan paham di kalangan para penganut tradisi dan penemu baru. Berbagai penernuan baru tersebut menggerakkan masyarakat yang selama ini di bawah kungkungan kegelapan dogma, seperti memperoleh pencerahan. Masyarakat menjadi lebih terbuka dan tergerak untuk mengembangkan pemikiran dan menguji temuan-temuan baru.
Pada tahun 1769, James Watt mencatatkan diri sebagai pembuat mesin uap hasil penyempurnaan temuan sebelumnya, sehingga memicu perkembangan revolusi industri. Pada waktu yang tidak terlalu lama, penemuan dalam bidang teknik dan kerekayasaan diikuti dengan perkembangan dalam bidang tata cara memanfaatkan sumber daya dan membangun kekuatan baru, yang disebut ekonomi. Pada tahun 1776, Adam Smith mengemukakan pendapat dan herdebat tentang ekonomi pasar bebas dan melahirkan atau dianggap sebagai awal dari ilmu
ekonomi. Dasar awal ilmu ekonomi yang lahir pada waktu itu populer sebagai ekonomi politik (Mubyarto, 1987).
Perkembangan tersebut diikuti dengan berbagai perubahan besar-besaran baik dalam kerekayasaan industri maupun pemanfaatan sumber daya alam. Belakangan istilah ekologi mulai populer digunakan oleh seorang sarjana Jerman Ernst Haeckel pada tahun 1869 (Dwidjoseputro, 1991). Orang mulai tertarik pula untuk melihat ekosistern dalam lingkup yang lebih luas (mengkaji alam semesta) maupun lingkup yang kecil (meneliti kehidupan mikroorganisme).
Perkembangan pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia memungkinkan untuk mengontrol ketidakpastian dan mengelola perubahan untuk mencapai kemajuan. Kontrol atas ketidakpastian dan perubahan telah menciptakan kemampuan manusia menguasai dan mengeksploitasi alam. Produksi pangan meningkat setelah manusia mengembangkan rekayasa sumber daya air yang menghidupkan lahan tadah hujan menjadi lahan produktif sepanjang tahun, menemukan bibit unggul, mengembangkan sistem pengelolaan tanaman dengan input teknologi pertanian. Kenyamanan manusia telah mendorong perubahan besar dalam peningkatan perkawinan dan kelahiran. Jumlah penduduk terus meningkat seiring dengan perbaikan kesehatan dan kualitas hidup serta lingkungan di sekelilingnya. Perubahan ini menjadi titik tolak ledakan jumlah penduduk dunia.
Penduduk dunia yang selama berabad-abad berkisar setengah juta jiwa, sejak revolusi industri meningkat pesat. Pada tahun 18o6 jumlah penduduk dunia baru mencapai satu miliar. Kemudian secara berangsur-angsur naik menjadi dua miliar pada tahun 1927, naik lagi menjadi tiga miliar pada tahun 196o-an. Hanya dalam waktu kurang dari setengah abad atau antara tahun 1960-2000, penduduk dunia telah meningkat berlipat ganda menjadi enam milyar jiwa.
Perkembangan jumlah penduduk yang demikian dahsyat membawa konsekuensi pada sumber daya dan lingkungan. Enam miliar lebih penduduk saat ini memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar dan mengeluarkan buangan limbah yang harus ditampung dan didaur ulang oleh alam. Memang manusia modern mampu menciptakan berbagai teknologi yang lebih efisien dan berskala besar untuk memproduksi berbagai kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Tetapi manusia modern tidak puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar, banyak di antaranya yang
memuja ambisi spektakuler. Ambisi manusia dapat menimbulkan masalah baru dan menciptakan ketakutan sendiri.
Masalah-masalah kekhawatiran akan kekurangan pangan, kelangkaan energi, polusi udara, pencemaran air dan berbagai kerusakan sumber daya terus menjadi keprihatinan. Peradaban dunia juga menunjukkan perkembangan yang semakin cepat. Manusia saling berkompetisi mencapai pemenuhan kebutuhan dan bahkan ada yang berlomba memenuhi ambisi keinginannya. Ada suatu, pertanyaan mendasar berkaitan dengan jumlah penduduk dan kemampuan planet bumi menghidupi dan menopang peradaban manusia.
"Orang Perancis menggunakan teka-teki untuk mengajarkan kepada anak-anak sekolah, sifat pertumbuhan yang berlipat ganda. Sebuah kolam berisi teratai, demikian teka-teki itu, berisi selembar daun. Tiap hari daun itu berlipat dua: dua lembar pada hari kedua, empat lembar pada hari ketiga, delapan lembar daun pada hari keempat, demikian seterusnya. Pertanyaan teka-teki
adalah: Bila kolam itu penuh daun teratai pada hari ketigapuluh, kapan kolam itu berisi separuhnya?Hari yang kedua puluh sembilan!" (Brown, L.R. 1982).'
Teka-teki tersebut menggambarkan suatu perturnbuhan eksponensial penduduk bumi yang diibaratkan penduduk sebagai daun teratai dan bumi sebagai kolam itu. Grafik ledakan jumlah pencluduk dan teka-teki Perancis tersebut bisa memperhitungkan perkiraan kemampuan planet bumi. Orang dapat berbeda pandangan dan perhitungan, baik pesimis maupun optimis, dalam menempatkan berapa jumlah manusia yang dapat ditampung oleh bumi dan pada tingkat konsumsi serta gaya hidup seperti apa sebaiknya kehidupan ini dikelola.
Perubahan secara cepat terus berlangsung di mana-mana mengakibatkan kemajuan sekaligusjuga ketimpangan sosial ekonomi, perkembangan global sekaligus peminggiran budaya lokal, eksploitasi sumber daya sekaligus peningkatan dampak lingkungan, hingga akhirnya bermuara pada persoalan keadilan dan keberlanjutan masa depan manusia. Muncul kekhawatiran akan datangnya bencana ekologi yang dapat menyebabkan daya dukung kehidupan hancur dan sulit dipulihkan lagi. Suatu bencana yang secara sistematis mengurangi kemampuan hidup generasi mendatang akibat keserakahan segelintir generasi saat ini.
Pada awal milenium ketiga ini muncul berbagai persoalan lingkungan dan tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh keserakahan. Berangkat dari berbagai fakta dan keprihatinan atas perkembangan dunia ini, maka perlu ada pengkajian ulang paradigma pembangunan, dari paradigma yang mengandalkan strategi pertumbuhan (ekonomi) menuju pembangunan berkelanjutan (ekologi). Salah satu usaha penting adalah pemikiran baru mengenai integrasi ekonomi dan ekologi menuju pembangunan berkelanjutan. Tentu saja jalan untuk mempertemukan kembali keduanya. dapat bermacam-macam, demikian pula pilihan pendekatan dan strategi dapat dipilih dan dikembangkan oleh siapa saj a yang tergerak untuk membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan.
Pembangunan Pasca Perang Dunia
Setelah era kolonialisme berakhir melalui Perang Dunia II, muncul era baru yang disebut pembangunan. Istilah pembangunan mulai populer ketika Presiden Amerika waktu itu Harry S. Truman mel6ntarkannya sebagai resep baru untuk mengatasi keterbelakangan negara-negara Selatan (bekas jajahan Eropa) maupun dalam rangka memperbaiki wilayah bekas perang di Eropa dan Asia. Saat itu Amerika berada pada posisi pemenang secara politis (adidaya) maupun secara posisi unggul peradabannya (adibudaya). Truman dalam pidato kenegaraan yang bernada propaganda mengatakan:
"We must embark on a bold new paradigm for making the benefits of our scientific advances and industrial progress available for the improvement and growth of underdeveloped areas'.(1).
Secara sisternatis, ide pembangunan disebarkan ke seluruh dunia melalui berbagai program pembangunan. Pada akhir tahun 195o-an banyak pemuda Indonesia memperoleh beasiswa untuk belajar di Amerika dan setelah kembali ke tanah air membawa gagasan pembangunan untuk dikembangkan di Indonesia. Para intelektual yang kemudian hari menjadi pernimpin nasional tersebut menjadi agen pembangunan melalui programprogram pembangunan. Penyebar gagasan pembangunan melalui pendidikan tersebut hanya salah satu strategi di antara strategi lain seperti: bantuan yang sesungguhnya hutang luar negeri, transfer teknologi yang sebenarnya relokasi industri kotor dan tidak efisien lagi.
Guna mendukung pemasaran gagasan pembangunan tersebut dibentuk pula lembaga-lembaga yang hingga kini sangat berpengaruh antara lain United Nations, World Bank, International Monetary Fund, yang semua dimotori oleh Amerika. Dengan instrumen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lalu lintas politik dan pertahanan dapat dikuasai sejumlah negara adidaya. Sedangkan melalui dua badan ekonomi yang dikenal pula dengan Bretton Woods Institution
(2) tersebut, lalu lintas peredaran uang dan ekonomi dapat diatur oleh negara kaya.
Ide awal pembangunan bisa jadi sederhana, tetapi implikasi praktisnya tidak dapat disederhanakan, karena realitas kehidupan sangat beragam dan kompleks. Pembangunan, seperti kata Truman merupakan resep bagi negara berkembang dalam membangun dirinya melewati masa transisi dekolonisasi menuju demokrasi, ternyata menurut pengamatan Wolfgang Sachs dan kawan-kawan dianggap banyak kelemahan. Sejumlah kelebihan pembangunan terjadi berkaitan dengan tragedi kemanusiaan dan permasalahan kelestarian lingkungan.
"Today, the lighthouse of development shows cracks and is starting to crumble. The idea of the development stands like a ruin in the intellectual landscape. Delusion and dissapointment, failures and crimes have been the steady comparaons ofdevelopment and they tell a common story: it did not work. Moreover, the historical conditions which catapulted the idea into promi- nence have vanished: development has become outdated. But above all, the hopes and desires which made the ideafly, are now exhausted: development has grown absolete" (Sachs, 1995).
Para pengkritik pembangunan modernisasi model negara-negara maju yang diterapkan begitu saja di negara-negara berkembang terus dilancarkan oleh berbagai kalangan. Gustavo Esteva (1992) menyatakan bahwa banyak para teoretisi Dependencia dari, Amerika Latin dan intelektual kritis lainnya menuding "keterbelakangan sebagai wujud pembangunan". Menurut mereka,
keterbelakangan negara-negara dunia ketiga akibat proses penjajahan dan eksploitasi sumber daya alam.(3)
Pembangunan dengan cara dan tolok ukur keberhasilan yang dirumuskan negara maju, dalam penerapannya seringkali tidak tepat dengan kondisi dan dinamika lokal. Pembangunan yang terlalu menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata, seringkali dapat berbenturan dengan kepentingan masyarakat luas yang menginginkan keadilan dan keberlanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan angka ternyata telah gagal menggambarkan peningkatan pemerataan yang diharapkan. Kesenjangan terjadi di berbagai kalangan masyarakat sementara
sekelompok kecil konglomerat menguasai sebagian besar aset produktif. Bahkan bila dihitung dengan Green Growth Model, angka pertumbuhannya akan terkoreksi menjadi lebih kecil dibanding dengan angka pertumbuhan ekonomi yang sering dilansir oleh pernerintah kepada publik.
Modernisasi yang identik dengan orientasi pertumbuhan ekonomi, dengan segala manfaatnya untuk segelintir kelompok masyarakat, ternyata tidak lepas dari berbagai kelemahan yang merugikan banyak kelompok masyarakat, khususnya kelompok yang selama ini termarginalkan, seperti buruh, petani, nelayan, dan juga perempuan. Kritik yang mengemuka berkaitan dengan paradoks modernisasi adalah pertumbuhan ekonomi versus kemero sotan ekosistem, akumulasi kekayaan versus marginalisasi atau perniskinan, globalisasi versus lokalisasi.
Proyek-proyek modernisasi yang diyakini dapat menyelesaikan sejumlah masalah, temyata gagal dan tidak mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan masyarakat seperti kemiskian, pengangguran, dan kesenjangan. Kondisi ini sangat terasa dalam ungkapan Mahbub ul Haq (1983) dalam buku Tirai Kemiskinan:
"Sangat bijak untuk diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses\ yang kejam dan keji. Jalan pintas ke sana tidak ada. Inti maknanya ialah mengusahakan supaya pekerja menghasilkan lebih besar dari apa yang dihabiskannya untuk mernenuhi kebutuhan pokoknya, serta menanam dan menanarn kernbali hasil lebih dari yang diperolehnya (Haq. 1983: 13)."
Orientasi pertumbuhan ekonomi dalam praktiknya terjadi akumulasi pada sekelompok keeil orang, namun memarginalkan kelompok yang besar. Fakta ini sangat terasa dengan besarnya jumlah penduduk yang terjebak dalam kemiskinan serta yang tidak kalah pentingnnya sering diperlakukan tidak adil. Kritik keras Mahbub ul Haqjuga tertuju pada perencana pembangunan yang terbius permainan angka-angka dan kurang tertarik memahami realitas kehidupan. Para
perencana pernbangunan sering dihinggapi penyakit'miopia', tidak berminat melihat yangjauh dan memandang cakrawala yang lebih luas dari sekadar ekonomi dan berpikir untuk kepentingannya sendiri.
"Perencana pernbangunan terlalu terpukau oleh laju pertumbuhan GNP yang tinggi dan mengabaikan tujuan sebenarnya dari usaha pembangunan. Ini dosa yang paling tidak dapat dirnaafkan. Dari negara demi negara, pertumbuhan ekonomi disertai jurang perbedaan pendapatan, antar perorangan maupun antar daerah, yang sernakin menganga. Dari negara ke negara, rakyat banyak makin menggerutu karena pernbangunan tidak menyentuh kehidupan sehari-hari mereka. Pertumbuhan ekonorni seringkali berarti sedikit sekali keadilan (Haq. 1983:
37)".
Para aktivis lingkungan terutama yang menganut paradigma Deep Ecology menganggap bahwa modernisasi sama dengan kerakusan manusia atas alam. Keeenderungan modernisasi yang menggalang akumulasi modal dan mengeksploitasi alam, dianggap memiliki dampak mendorong kerakusan manusia atas alam. Kalangan ini sangat keras menentang kecenderungan modernisasi yang mengarah pada eksploitasi sumber daya dan perusakan lingkungan yang
diwujudkan dalam proyek-proyek berskala besar (Baiquni, 1996).
Proyek besar dianggap sebagai arena pernasaran produk teknologi dan industri negara maju yang mengakibatkan ketergantungan dan semakin bertambahnya hutang luar negeri. Di samping itu juga menjadi biang keladi tersingkirnya masyarakat keeil dan seringkali mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kelompok penganut Deep Ecology ini tidak hanya meneriakkan kritiknya yang tajam, tetapi juga mempromosikan pandangan hidup bahwa manusia adalah bagian dari
alam dan berusaha mempraktikkan hidup kembali ke alam, back to nature.
Dari kalangan intelektual keagamaan muncul pula kritik terhadap pembangunan yang mengakibatkan manusia teralineasi terhadap Tuhannya. Akbar S. Ahmed (1992) melihat kekurangan tersebut sambil mengajukan solusi baru, yaitu pengalaman agama sebagai arah baru bagi peradaban dalam menyongsong pergantian milenium. Dalam bukunya tentangpost-modernisme, ia menulis:
"Kegagalan umum pembangunan model materialistis, apakah Marxis di salah satu ujung spektrum atau kapitalis di ujung lainnya, mewujudkan kebangkitan Islam. Kedua sistem tersebut terlihat di dunia Islam yang didasarkan pada materialisme dan dianggap telah gagal memberikan solusi sosial dan politik: Marxisme biasanya berarti kediktatoran yang kelabu lagi brutal, sementara kapitalisme sebagian besar bercirikan alineasi, kerakusan, dan anarki."(4)
Proyek modernisasi yang mengutamakan aspek materialistis dianggap telah menjerumuskan manusia ke arah kebingungan dan kegelapan aahiliah modern). Modernisasi tanpa cahaya spiritual mengakibatkan banyak anggota masyarakat di negara maju maupun negara berkembang kebilangan akar budaya dan kemerosotan akhlaknya. Kecenderungan mengejar kepuasan materialistic ternyata tidak pernah akan puas, bahkan akan menimbulkan rasa kesepian atau mendorong kerakusan serta kesewenang-wenangan.
Masyarakat modern yang mengalami kesepian (alienasi) dan rasa ketidakpuasan (frustrasi) sebagian terjerumus dalan kecanduan obat terlarang, kekerasan fisik, kekerasan svuktural, kolusi dan korupsi, serta sejumlah patologi sosial lainnya. Sebagian masyarakat berusaha melakukan pemecahan kebuntuan hidup manusia ini dengan kegiatan pencerahan spiritual, hidup kembali ke alam, mempraktikkan nilai dan cara hidup tradisional, maupun mengabdikan diri pada kemanusiaan.
Model pembangunan, baik itu yang mainstream maupun yang alternatif sedang berkembang, ada yang dengan mudah beradaptasi dengan perubahan dan ada pula yang mengalami kesulitan dengan perubahan. Pembangunan sedang mencari bentuk baru, ketika realitas yang berkembang justru terjadi tragedi kemanusiaan dan ancaman bencana ekologi. Bencana yang terjadi tidak lagi bisa dibendung dalam skala lokal, seringkali kedahsyatan bencana mencapai berbagai penjuru dunia yang berlangsung secara silih berganti dan saling terkait.
Krisis ekologi seperti pernanasan global dan kerusakan lobang ozon atmosfer bumi akan terus mewarnai berbagai pembicaraan mengenai masa depan peradaban manusia. Kerusakan tidak hanya di darat dan di laut, tetapi telah mencapai ruang angkasa yaitu atmosfer sebagai'selimut kehidupan' yang memungkinkan makhluk hidup termasuk manusia berkembang dalam suatu keseimbangan ekosistem. Goncangan pada keseimbangan ekosistem akan berakibat berantai.
Perubahan cuaca yang drastis misalnya akan mempengaruhi curah hujan yang berlebihan atau kekeringan yang memanggang di belahan bumi lain. Kebanj*iran dan kekeringan akan berakibat pada kegagalan panen dan menurunnya persediaan pangan yang berakibat pula pada ekonomi suatu masyarakat atau negara.
Krisis multidimensi Indonesia yang terjadi sejak 1997 merupakan koensiden krisis ekologi (kemarau panjang El Nino) dan krisis ekonomi (berawal dari krisis moneter Asia). Dari sisi krisis ekologi adalah bencana besar kebakaran hutan yang menghabiskan jutaan hektar hutan, kegagalan panen, kekeringan, dan bencana kelaparan. Asap tebal menyelimuti Asia Tenggara
hingga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Dari sisi ekonomi, Indonesia dilanda goncangan moneter krisis ekonomi Asia yang berujung pangkal hancurnya ekonomi Indonesia. Sementara ekonomi negara-negara tetangga telah pulih dalam beberapa bulan, ekonomi Indonesia justru menimbulkan efek domino krisis sosial dan politik hingga jatuhnya
penguasa rezim Orde Baru.
Pembangunan yang tumbuh terlalu cepat dan tidak mengakar pada rakyat pada akhirnya bangkrut. Sekarang dapat dirasakan betapa pembangunan yang tumbuh terlalu cepat tanpa memperhatikan kesimbangan lingkungan dan keadilan, dapat berakibat pada hancurnya tatanan sosial kemasyarakatan dan tatanan kenegaraan. Berbagai pernikiran baru perlu dikembangkan dalam upaya nyata mencari solusi krisis, dengan menggali akar jati diri menemukan konstruksi
baru yang dimaknai bersama melalui pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Wim Burger (5) mengemukakan perumparmaan bahwa dunia modern ini seperti kapal raksasa super tanker. Kapal terbesar ini harus dikendalikan secara canggih dan terencana, kapten kapal tidak dapat begitu saja membelokkan kapal itu secara drastis seperti speedboat kecil. Kapal harus dijalankan sesuai rencana dan bila harus membelok perlu dilakukan antisipasi jauh dan
dibelokkan secara perlahan. Kapal super tanker ibaratnya seperti dunia saat ini dengan perkembangan peradaban modem berskala besar. Ekonomi dunia tidak dapat dibelokkan begitu saja dari strategi mengejar pertumbuhan ekonomi, dibelokkan dengan cepat menuju orientasi keberlanjutan ekologi. Pembangunan berkelanjutan harus melakukan serangkaian perubahan dalam jangka panjang yang dilakukan secara perlahan-lahan namun dipilih yang substansial.
Ide tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) berakar dari pemikiran yang berusaha mengintegrasikan perspektif ekonomi dan perspektif ekologi (WCED, 1987; Boesler, 1994; Panayotou, 1994). Ide ini merupakan paradigma dalam pembangunan yang mulai diterjemahkan ke dalam berbagai konsep. Kedua ilmu tersebut memiliki akar kata yang sama, yaitu oeikos berasal dari Bahasa Yunani yang kemudian menjadi eco dalam Bahasa Inggris yang berarti suatu 'rumah' atau rumah tangga. Meskipun berasal dari akar kata yang sama, namun perkembangannya keduanya nampak berjalan dengan logika dan praksisnya masing-masing. Ilmu ekonomi berkembang dan cenderung memfokus kan diri pada capaian-capaian jangka pendek, sedangkan ilmu ekologi berusaha dan cenderung mendorong capaian-capaian yang bersifat jangka panjang.
Kesadaran lingkungan lebih banyak dipicu oleh akibat dampak negatif dari perlombaan memacu pertumbuhan ekonomi melalui proses industrialisasi yang cenderung mengeksploitasi surnber daya alam secara besar-besaran dalam bentuk kerusakan dan pencemaran lingkungan (Dhakidae, 1994). Isu lingkungan muncul dalam berbagai studi pembangunan sejak tahun 196oan, ketika pasca Perang Dunia II dimulai kembali pembangunan industri hingga mencapai
perkembangan pesat yang membentuk era baru modernisasi.
Carson (1962) dalam bukunya yang terkenal bertajuk Silent Spring mengemukakan kekhawatiran polusi industri yang menggejala di negara maju yang menyebabkan masalah kesehatan dan kerusakan lingkungan. Ide ini berkembang pada dekade 1970-an yang ditandai munculnya berbagai buku yang mengupas isu lingkungan dan pembangunan.
Limits to Growth, laporan sekelompok peneliti dan industriawan yang tergabung dalam Club of Rome, merupakan buku yang banyak didiskusikan mengingat pandangannya yang pesimistik sekaligus menggugah kesadaran akan masa depan. Buku ini mengupas adanya batas-batas fisikal bagi pembangunan pada skala global (Meadows, et al., 1972). Berbagai isu yang berkembang mengenai lingkungan mendorong PBB untuk menyelenggarakan konferensi yang
bersejarah mengenai Human Environment di Stockholm tahun 1972. Konferensi ini melahirkan deklarasi The Principles of Environment and Development.
Sejak pertemuan Stockholm tersebut, isu mengenai lingkungan berkembang pesat mempengaruhi pergeseran paradigma pembangunan yang dianut oleh negara maju yang semula sangat mengutamakan pertumbuhan ekonomi kemudian bergeser menuju peningkatan kualitas hidup melalui pernbangunan berwawasan lingkungan. Kampanye kesadaran lingkungan saat itu menggunakan moto sederhana 'Hanya Satu Burni'(Only One Earth) yang meluas menjangkau berbagai kalangan masyarakat.
Di Indonesia sejak tahun 1970-an mulai bermunculan kelompok pencinta alam di berbagai sekolah dan masyarakat. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup didirikan pada tahun 1978. Berbagai kebijakan kependudukan dan lingkungan mulai dikoordinasikan dan diimplementasikan melalui berbagai departemen dan badan yang memiliki aparat operasional hingga tingkat lokal. Respon dari masyarakat dalam menggulirkan isu lingkungan ditandai dengan munculnya berbagai ragam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi masyarakat dan kalangan kampus yang menaruh perhatian pada masalah lingkungan dengan mendirikan Pusat Studi Lingkungan (PSQ.
Pada dekade 1980-an ditandai dengan merosotnya harga minyak dunia, sehingga pernerintah Indonesia memacu kebijakan ekspor nonmigas. Sumber daya alam hutan hujan tropika menjadi tumpuan produk ekspor Indonesia. Produk-produk manufaktur yang mengandalkan buruh murah juga menjadi strategi peningkatan ekspor.
Selama Orde Baru terdapat keeenderungan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada perturnbuhan yang memberikan peran pada pelaku ekonomi besar dengan bertumpu pada sektor industri. Sebagai konsekuensinya pengembangan sektor ekonomi rakyat keeil dan koperasi di perdesaan yang terkait dengan sektor pertanian tidak mengalami perkembangan yang signifikan bagi perturnbuhan ekonomi nasional. Proses pernbangunan semacam itu kini disadari telah menciptakan kesenjangan ekonomi dan keresahan sosial yang pada gilirannya menimbulkan kerawanan politik seperti yang terjadi pada krisis multidimensi dewasa ini.
Berbagai pandangan mengenai pembangunan dan lingkungan merupakan suatu proses yang alarniah. Keragaman merupakan salah satu kata kunci pembangunan berkelanjutan: "semakin beragam entitas dalam suatu komunitas, semakin kenyal dan tinggi daya tahan ekologisnya". Keragaman paradigma diwarnai oleh perbedaan kepentingan dan dilandasi adanya nilaii-nilai dasar yang dianut secara perorangan dan masyarakat sau organisasi, sehingga menimbulkan
perbedaan sudut pandang dan strategi dalam meniti jalan pembangunan.
Sebagaimana konsep pembangunan, konsep tentang pembaagunan berkelanjutan ini sangat beragam atau bervariasi yang dipengaruhi kondisi pernbangunan maupun kepentingan negara. maupun berbagai kelompok tertentu seperti jaringan bisnis dan komunitas lokal. Kegiatan pembangunan, baik itu ekonomi maupun sosial budaya, merupakan hubungan atau interaksi antara .nanusia dengan lingkungan sekitarnya (Colby, 1990).
Pengaruh manusia terhadap sumber daya alam telah menarik banyak perhatian karena di samping bermanfaat bagi kehidupan manusiajuga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Meningkatnya aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam didorong oleh meningkatnya kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan serta pemenuhan kebutuhan lebih lanjut yang masing-masing individu, masyarakat, ataupun negara memiliki kemampuan yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Fenomena kontradiktif terjadi, di satu sisi kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya alam selalu meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk dan dorongan mencapai kemajuan; di sisi lain terjadi kemerosotan sumber daya dan lingkungan sebagai akibat penggunaan sumber daya alam secara berlebihan (Sutikno, 1982).
Hubungan semacam itu terjadi di berbagai tingkatan. dalam suatu ekosistem yang komplek dan beragam, sehingga menghasilkan fenomena yang bermacam-macam. Sebagaimana keragaman hubungan dan fenomena yang dihasilkannya, para ahli memiliki keragaman pandangan mengenai pernbangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang dirumuskan dalam laporan Our Common Future atau dikenal dengan Brundtland Report, adalah pembangunan yang
memenuhi kebutuhan. masa kini tanpa. mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang:
"Sustainable development is the development that meets theneeds of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs" (WCED, 1987: 8).
Konsep tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi payung bagi banyak konsep, kebijakan, dan program pembangunan yang amat beragam. Pembangunan berkelanjutan merupakan paradigma baru yang memiliki interpretasi konsep dan aksi yang beragam. Konsep yang diajukan negara maju belurn tentu tepat untuk dilaksanakan di negara berkembang, demikian pula konsep yang diajukan oleh negara sedang berkembang belum tentu dapat diterima oleh negara maju. Hingga sekarang ada ratusan konsep dan definisi pembangunan berkelanjutan. Hal ini
menunjukkan bahwa isu ini telah berkembang cepat dan dapat tumbuh secara beragam dalam implementasinya.
Dalam perkembangannya, pembangunan berkelanjutan didefinisikan dalam buku Caring for the Earth sebagai: "Upaya peningkatan mutu kehidupan manusia namun masih dalarn kernarnpuan daya dukung ekosistem" (IUCN, UNEP and WWF, 1991: 10). Banyak kalangan lain juga mendefinisikan, seperti IISD (International Institutefor Sustainable Development) dengan kalangan bisnis yang mengusulkan definisi: "Pernbangunan berkelanjutan sebagai adopsi
strategi-strategi bisnis dan aktivitas yang mempertemukan kebutuhan-kebutahan perusahaan dan stakeholders pada saat ini dengan cara melindungi, memberlanjutkan, serta meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa mendatang" (Satriago, 1996: 88). Burger (1998: 48) secara diagramatis menggambarkan pernbangunan berkelanjutan sebagai interaksi antara tiga komponen besar, yaitu biosphere, masyarakat, dan moda produksi ekonorni.
Pembangunan berkelanjutan yang diperbincangkan oleh banyak kalangan dan akadernisi, setidaknya membahas empat hal. Pertama, upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan dan daya dukung ekosistem. Kedua, upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan memberlanjutkan. Ketiga, upaya meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa yang akan datang. Keempat, upaya
memperternukan kebutuhan manusia secara antar pnerasi.
Mempertemukan Ekonomi dan Ekologi
Upaya untuk mempertemukan kembali ilmu ekonomi dan ekologi memiliki arti penting dalam upaya mewujudkan Pembangunan berkelanjutan. Banyak permasalahan pernbangunan dalam bentuk kerusakan lingkungan yang menimbulkan masalah sosial dan ekonomi dalamjangka panjang. Untuk itu perlu upaya melakukan reorientasi ekonomi yang ada saat ini menjadi ekonomi berkelanjutan. Ekonomi berkelanjutan didefinisikan sebagai: "Ekonomi yang tetap mernelihara basis sumber daya alam yang digunakan. Tata ekonomi seperti ini dapat terus berkembang dengan penyesuaian-penyesuaian, dan dengan menyernpurnakan pengetahuan, organisasi, efisiensi teknik, dan kebijakan" (Satriago, 1996: 38).
Gagasan untuk memasukkan faktor lingkungan dalam perhitungan ekonomi telah dimulai. Dialog dan kerjasama di antara para ahli ekonomi dan ahli ekologi diharapkan dapat melahirkan kembali ilmu baru yang dapat mendukung terwujudnya pernbangunan berkelanjutan. Secara cukup jelas Colby (1990: 33) menggambarkan perjalanan paradigma ilmu ekonomi yang pada milenium baru ini semakin disadari untuk diperternukan kembali kedua ilmu ekonomi dan ekologi.
Ekonomi klasik pada zaman Adam Smith awalnya lebih mengkaji berbagai persoalan manusia dengan perspektif ekonomi politik. Implementasi perkernbangannya terjadi berbagai aliran pernikiran yang dipengaruhi oleh kekuasaan, penguasaan teknologi, dinamika sosial budaya, tingkat kemajuan, dan struktur kepemerintahan. Pada perkembangannya ada tiga aliran utama
yaitu neo-Marxis, neoklasik, dan neo-Malthusian yang banyak mempengaruhi perkembangan dunia setidaknya sampai akhir abad XX.
Kritik dan saling mengisi di antara aliran terjadi selama kurun waktu yang cukup lama. Masing-masing aliran dan implementasinya telah berubah dan terus akan berubah. Persoalannya sekarang tidak sekadar mana yang paling unggul dalam konsep, tetapi mana yang dapat memberikan jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kini muncul polarisasi di antara para penganut aliran Frontier Economy dan Deep Ecology.
Aliran pertama banyak dipraktikkan oleh para pelaku ekonomi perusahaan multinasional yang memiliki skala besar dari negara maju dan juga negara industri baru. Para pemilik modal dan penguasa memperlakukan alam sebagai sumber daya tak terbatas untuk dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan manusia. Alam setelah dieksploitasi sekaligus dijadikan tempat sampah yang dipaksa melebihi kemampuan daya dukung dan daya daur ulang sendiri. Aliran
pemikiran bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan manusia tak terbatas, dianut baik di negara kapitalis maupun komunis. Meskipun demikian keduanya memiliki pengorganisasian masyarakat dan kepemerintahan yang berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Di pihak lain, aliran Deep Ecology menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Aliran ini juga mempromosikan persamaan hak organisme dan alam, pemanfaatan yang disesuaikan dengan daya dukung, berorientasi pada ekonomi tanpa pertumbuhan (Daly, 1989). Aliran ini juga mengangkat tema diversity & flexibility dengan mempromosikan keragaman hayati dan budaya, perencanaan yang terdesentralisasi dengan menggunakan keragaman nilai, memanfaatkan kearifan tradisional dan pengelolaan sumber daya dengan teknologi local (Colby, 1990).
Dalam berbagai kasus kedua aliran ini seringkali berhadap-hadapan dan membangun pendirian dan argumen masing-masing dalam mengelola aset sumber daya dan mempertahankan penghidupannya. Dalam berbagai kasus yang telah dikemukakan di depan, begitu banyak didominasi oleh praktik-praktik dari aliran Frontier Economy, yang tidak lain adalah wujud pembangunan yang berorientasi pertumbuhan tanpa peduli dengan dainpaknya yang cenderung memiskinkan bebagai kelompok masyarakat lain. Sementara itu banyak aliran Deep Ecology yang sesungguhnya menarik untuk dipraktikkan tetapi kurang mampu menjawab tantangan struktural yang dihadapi, terutama menjawab bagaimana kemiskinan dapat dia'tasi dan ketergantungan hutang luar negeri dapat dikurangi.
Pembangunan berkelanjutan perlu proses integrasi ekonomi dan ekologi melalui upaya perumusan paradigma dan arah kebijakan yang bertumpu pada kemitraan dan partisipasi para pelaku pembangunan dalam mengelola sumber daya yang seoptimal mungkin dapat dimanfaatkan.
Upaya pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara individu ataupun diserahkan masing-masing negara. Berbagai perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas yang pada gilirannya akan mendorong penerapan prinsip-prinsip ekologi dalam sistem kepemerintahan, bisnis, dan kehidupan sehari-hari. Setiap orang adalah konsumen sekaligus produsen. Secara kolektif konsumen dapat menentukan pilihannya pada produk yang menerapkan produksi ramah lingkungan. Dengan demikian akan memacu pula kesadaran para produsen, pelaku bisnis, dan industriawan untuk mengikuti perilaku konsumen yang sadar akan hak dan komitmen lingkungannya (Wasik, 1997).
Aksi pada tingkat global terus dirintis melalui berbagai pertemuan dan kesepakatan untuk melakukan kerjasama. Bila kita kaji hasil kesepakatan Rio Declaration on Environment and Development tahun 1992, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dirumuskan menjadi 27 butir. Prinsip-prinsip tersebut telah diterjemahkan ke dalam Agenda 21 yang berisi rencana aksi
dalam rangka implementasi pembangunan berkelanjutan.
Agenda Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, telah disusun sebelum krisis multidimensi berlangsung. Ironisnya justru Agenda 21 baru saja selesai disusun, Indonesia langsung mengalami krisis yang berkelanjutan hingga kini belum pulih kembali. Agenda 21 Indonesia memuat formula bahwa dalam upaya mengelola agar pembangunan ekonomi Indonesia berlangsung secara berkelanjutan, dibutuhkan serangkaian strategi integrasi lingkungan ke dalam pembangunan ekonomi. Strategi integrasi tersebut meliputi. pertama, pengembangan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan; kedua, pengembangan pendekatan pencegahan pencemaran; dan ketiga, pengembangan sistem neraca ekonomi, sumber daya alam, dan lingkungan (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1997).
Setelah satu dasawarsa Rio+10, kini saatnya mengevaluasi pencapaian apa yang telah diperoleh dan apa yang belum dapat dilaksanakan. Dalam konteks pembangunan Indonesia, jelas perlu disusun kembali Agenda 21 dengan lebih saksama dan realistis dalam menyusun program aksi dan penguatan institusi terutama berkaitan dengan otonomi dan kebangkitan masyarakat sipil.
Catatan kaki :
1. Presiden Truman menyampaikan pidato ini pada saat pengukuhannya, tanggal
20 januari 1949 (kutipan ini diambil dari tulisan Gustavo Esteva: 1992).
Kata underdevelopment pada kutipan tersebut menunjukkan bahwa Amerika mulai
arogan dalam peraturan tata dunia baru pasca Perang Dunia II
2. Breeton Woods adalah sebuah desa di negara bagian New Hempshire, AS,
yang menjadi ternpat berlangsungnya konferensi penting pada tanggal 1-22
Juli 1944 yang setahun kernudian melahirkan Bank Dunia dan IMF. Hasil
konferensi ini kernudian menjadi acuan baru dalarn pengelolaan ekonorni
dunia yang berpengaruh dan kuat hingga saat ini (Kornpas, 1994).
3. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan keadaan di India yaitu ketika Gandhi
berdebat dengan PemerintahInggris mengenai model pembangunan, "Mengapa India
tidak mengikuti Inggris saja?" Dengan diplomatis Gandhi berargumen, "Kalau
negara sekecil Inggris untuk dapat maju dengan cara menjajah dan
mengeksploitasi sepertiga luas bumi, maka India yang besar ini untuk dapat
maju harus menjajah berapa planet seperti bumi ini?'
4 Tulisan Akbar S. Ahmed menjadi wacana baru dan menarik, terutama di
kalangan intelektual muda yang sedang mencari jalan baru'. Bukunya
Postmodemisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam diterbitkan oleh Mizan 1992.
5 Wirn Burger adalah dosen Institute of Social Studies, Den Haag yang
memberikan ceramah tentang Ecology and Development. Saya mencatat
pokok-pokok pikirannya pada periode kuliah musim semi 1993.
Pustaka
Akhmed Akbar S. (1992), Postmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam.
Bandung: Mizan.
Baiquni, Muhammad (1996), Karakteristik Geografi Regional Indonesia:
Analisis Peluang dan Tantangan terhadap Penggalian Potensi Sumber-sumber
Dasar Kawasan Timur Indonesia. Makalah diskusi diselenggarakan Badan
Eksekutif Mahasiswa UGM.
Burger, Dietrich (1998), 'The Vision of Sustainable Development', dalam
Agriculture and Rural Development, Volume 5, No. 1, April 1998. Frakfurt,
Jerman: DLGVerlags-Gmbh.
Carson, Rachel (1962), Musim Semi yang Bisu (Silent Spring). Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Colby, M.E. (199o), Environmental Management in Development: The Evolution
of Paradigms. The World Bank Discussion Papers. Washington DC: The World
Bank.
Daly, H. (1989), 'Steady-State and Growth, Consepts for the Next Century',
dalam Archibugi, F. dan Nijkamp, P. (eds.), Economy and Ecology: Towards
Sustainable Development. Dordrecht/ Boston /London: Kluwer Academic
Publishers.
Dwidjoseputro, D. (1991), Ekologi Manusia dan Lingkungannya. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Haq, Mahbub ul (1983), Tirai Kemiskinan; Tantangan-tantangan untuk Dunia
Ketiga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
IUCN, UNEP, dan WWF (1991), Caring for the Earth: A Strategy for Sustainable
Living. The world Conservation Union, United Nations EnvironmentProgramme
and World Wide Fund for Nature. Switzerland: Gland.
Kompas, 1 Januari 2000.
Meadows, et.al. (1972), Limits to Growth. Roma: Club of Rome.
Mubyarto (1987), Ekonomi Pancasila; Gagasan dan Kemungkinan. Jakarta: LP3ES.
Panayotou, T. (1994),'Economy and Ecology in Sustainable Development', dalam
The Society for Political and Economis Studies (ed.) 1994. Economy and
Ecology in Sustainable Development. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sachs, Wolfgang (1995), The Development Dictionary, Wolfgang Sach (ed.).
Johannesburg: Witwaterstrand University Press.
Satriago, Handry (1996), Istilah Lingkungan untuk Manajemen. Jakarta:
Ecolink, IPMI, dan Gramedia.
Sutikno (1982), Peranan Geornorfologi dalam Aspek-aspek Keteknikan. Makalah
Seminar Geografi II dengan tema Peranan Geografi dalam Pembangunan Nasional.
Yogyakarta: IGEGAMA.
Wasik, J.F. (1997), Green Marketing and Management: A Global Perspective.
Oxford, UK: Blackwell Business.
WCED (World Commision on Environment and Development) (1987), Our Common
Future.
Zen, M.T. (1979), Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
Koleksi Galeri Rupa Kerja Pembebasan
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat