Memperkenalkan Sahabat Rumah Asa....
Agung Wardana di http://bhumisenthana.blogspot.com
artikel oleh:
Agung Wardana
“Mati Devata, Dharam Devata”
(Tanah adalah dewa-dewi kami, tanah adalah agama kami)
Kalimat diatas adalah slogan yang diteriakkan oleh para perempuan India anggota Gerakan “Selamatkan Gandharman”, ketika mereka diseret oleh polisi dalam aksinya. Gerakan yang dimotori kaum perempuan tersebut adalah bentuk perjuangan dalam menolak perusakan gunung dan hutan oleh perusahaan tambang bauiksit. Seorang demonstran berusia 70 tahun, Dhanmati berteriak; “Kami akan mengorbankan hidup kami, tapi bukan Gandharman. Kami ingin menyelamatkan gunung ini yang telah memberi kami apa yang kami butuhkan”, teriakan ini menggambarkan pendirian para perempuan tersebut yang berada di garis depan dalam membela hak dan kelestarian alam mereka. Selain itu masih ada kisah Vandana Shiva bersama para perempuan sekitar hutan menolak membukaan hutan dengan cara memeluk tiap batang pohon yang akan ditebang oleh perusahaan. Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan berada di garis depan gerakan lingkungan?
Secara sosio-religius, dari berbagai mitologi kuno, menempatkan bumi dan sumber daya alamnya sebagai spirit perempuan, yakni feminis. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat tradisional menempatkan perempuan identik dengan bumi yang harus dihormati dan karenanyalah kehidupan di dunia dapat berlangsung. Di Bali, misalnya, kita mengenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, di India, Sungai Gangga, Yamuna, Narmada adalah sungai sakral yang dipuja sebagai para dewi. Di Prancis, dikenal sungai Marne yang berasal dari kata Matrona, Dewi Ibu. Begitu juga di Yunani kita mengenal ada Dewi Gaia. Maka pantaslah jika kita mengatakan bumi (pertiwi) ini adalah Ibu dari semua kehidupan, karena dia telah menyediakan kebutuhan hidup dengan penuh cinta tanpa mengharap balasan melainkan hanya butuh kearifan kita dalam menjaga kelestariannya.
Kedekatan perempuan tradisional dengan alamnya tidak saja dalam spiritualitas saja tapi teraktualisasi dalam pekerjaannya sehari-hari yang berhubungan langsung dengan lingkungan hidupnya. Mengambil air untuk minum, mengumpulkan kayu bakar dari hutan atau kebun, mencuci perabot rumah tangga, mebanten adalah sebagaian kecil saja kontak langsung dengan apa yang telah diberikan ibu pertiwi yang kemudian dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
selanjutnya slik klik
http://bhumisenthana.blogspot.com/2008/02/perempuan-dan-ekologi.html
RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label suara perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara perempuan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 April 2008
Jumat, 18 Januari 2008
Tolak PLTN! : PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis
Tolak PLTN! : PLTN? Celoteh Emoh PLTN (7)
andreas iswinarto
SN Nagarajan menyatakan bahwa cara alam berproduksi adalah perlahan, penuh damai, tak membahayakan, tak eksploitatif dan tidak destruktif. Semisal produksi serta oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan , dibandingkan dengan mesin, hasilnya mungkin tampak sama.
Tapi, mode produksi mesin menimbulkan kerugian yang harus ditanggung oleh bagian-bagian yang lebih lemah dari alam (Kritik atas Pembangunanisme, CPSM 1995). Gambaran alam diatas sejalan dengan pandangan hidup di kalangan umumnya masyarakat adat. Dalam penegasan Dalai lama dalam Drama GAIA, “bumi, ibu kita, menyuruh agar bertingkah laku baik”.
Logika mesin sejalan dengan ide di balik gagasan Francis Bacon (Bapak Ilmu Modern?) bahwa alam bukan ibu pertiwi, ketika kemudian citra lama tentang alam yang ‘memelihara’ dianggap sebagai rintangan kultural untuk eksploitasi. Seseorang tak mungkin siap membunuh ibu, mengubur isi perutnya dan merusak tubuhnya (Vandana Shiva, 1995).
Dominasi kultur maskulin itulah yang menimbulkan dominasi dan eksploitasi rangkap dua, baik itu atas perempuan maupun alam. Kemunculan gerakan eko feminisme yang memadukan semangat feminisme dan ekologi tak lain karena adanya keterkaitan yang kukuh antara dominasi dan eksploitasi perempuan dan alam, tempat dilakukan gugatan atas struktur patriarki atau perspektif yang berpusat pada laki-laki yang dianggap sebagai inti dari krisis ekologi (Kirkpatrick, 1996).
Salah satu isu terpenting dan krisis peradaban abad ini adalah tentang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi nulir dalam skala besar, baik untuk senjata maupun PLTN, yang harus dipahami sebagai supremasi kultur maskulin yang bersekutu dengan ideology capitalism. Karena, potensi destruktifnya telah sampai pada tingkat mengancam peradaban.
Banyak pihak, tak pelak lagi, berharap akan kebangkitan kembali kultur feminine (ibu Bumi) yang pada dasarnya memelihara dan mencegah perusakan alam dan peradaban.
8 seri celoteh emoh pltn :
Resiko Nol Persen : PLTN atawa PLTS (1)
Energi Tinja vs Fisi Nuklir (2)
PLTN : Monumen Kediktatoran Teknologi (3)
PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan (4)
Rasionalitas (Irasionalitas) Iptek Nuklir (5).
PLTN dan Referendum Di Negara Utara (6)
PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis (7)
PLTN dan Beban Ekonomi Negara (8)
andreas iswinarto
SN Nagarajan menyatakan bahwa cara alam berproduksi adalah perlahan, penuh damai, tak membahayakan, tak eksploitatif dan tidak destruktif. Semisal produksi serta oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan , dibandingkan dengan mesin, hasilnya mungkin tampak sama.
Tapi, mode produksi mesin menimbulkan kerugian yang harus ditanggung oleh bagian-bagian yang lebih lemah dari alam (Kritik atas Pembangunanisme, CPSM 1995). Gambaran alam diatas sejalan dengan pandangan hidup di kalangan umumnya masyarakat adat. Dalam penegasan Dalai lama dalam Drama GAIA, “bumi, ibu kita, menyuruh agar bertingkah laku baik”.
Logika mesin sejalan dengan ide di balik gagasan Francis Bacon (Bapak Ilmu Modern?) bahwa alam bukan ibu pertiwi, ketika kemudian citra lama tentang alam yang ‘memelihara’ dianggap sebagai rintangan kultural untuk eksploitasi. Seseorang tak mungkin siap membunuh ibu, mengubur isi perutnya dan merusak tubuhnya (Vandana Shiva, 1995).
Dominasi kultur maskulin itulah yang menimbulkan dominasi dan eksploitasi rangkap dua, baik itu atas perempuan maupun alam. Kemunculan gerakan eko feminisme yang memadukan semangat feminisme dan ekologi tak lain karena adanya keterkaitan yang kukuh antara dominasi dan eksploitasi perempuan dan alam, tempat dilakukan gugatan atas struktur patriarki atau perspektif yang berpusat pada laki-laki yang dianggap sebagai inti dari krisis ekologi (Kirkpatrick, 1996).
Salah satu isu terpenting dan krisis peradaban abad ini adalah tentang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi nulir dalam skala besar, baik untuk senjata maupun PLTN, yang harus dipahami sebagai supremasi kultur maskulin yang bersekutu dengan ideology capitalism. Karena, potensi destruktifnya telah sampai pada tingkat mengancam peradaban.
Banyak pihak, tak pelak lagi, berharap akan kebangkitan kembali kultur feminine (ibu Bumi) yang pada dasarnya memelihara dan mencegah perusakan alam dan peradaban.
8 seri celoteh emoh pltn :
Resiko Nol Persen : PLTN atawa PLTS (1)
Energi Tinja vs Fisi Nuklir (2)
PLTN : Monumen Kediktatoran Teknologi (3)
PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan (4)
Rasionalitas (Irasionalitas) Iptek Nuklir (5).
PLTN dan Referendum Di Negara Utara (6)
PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis (7)
PLTN dan Beban Ekonomi Negara (8)
Label:
ekofeminisme,
suara bumi,
suara perempuan,
tolak pltn
Langganan:
Postingan (Atom)
Koleksi Galeri Rupa Kerja Pembebasan
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat