RECLAIM the CITY

RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)

Jumat, 18 Januari 2008

Tolak PLTN! : PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis

Tolak PLTN! : PLTN? Celoteh Emoh PLTN (7)

andreas iswinarto

SN Nagarajan menyatakan bahwa cara alam berproduksi adalah perlahan, penuh damai, tak membahayakan, tak eksploitatif dan tidak destruktif. Semisal produksi serta oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan , dibandingkan dengan mesin, hasilnya mungkin tampak sama.

Tapi, mode produksi mesin menimbulkan kerugian yang harus ditanggung oleh bagian-bagian yang lebih lemah dari alam (Kritik atas Pembangunanisme, CPSM 1995). Gambaran alam diatas sejalan dengan pandangan hidup di kalangan umumnya masyarakat adat. Dalam penegasan Dalai lama dalam Drama GAIA, “bumi, ibu kita, menyuruh agar bertingkah laku baik”.

Logika mesin sejalan dengan ide di balik gagasan Francis Bacon (Bapak Ilmu Modern?) bahwa alam bukan ibu pertiwi, ketika kemudian citra lama tentang alam yang ‘memelihara’ dianggap sebagai rintangan kultural untuk eksploitasi. Seseorang tak mungkin siap membunuh ibu, mengubur isi perutnya dan merusak tubuhnya (Vandana Shiva, 1995).

Dominasi kultur maskulin itulah yang menimbulkan dominasi dan eksploitasi rangkap dua, baik itu atas perempuan maupun alam. Kemunculan gerakan eko feminisme yang memadukan semangat feminisme dan ekologi tak lain karena adanya keterkaitan yang kukuh antara dominasi dan eksploitasi perempuan dan alam, tempat dilakukan gugatan atas struktur patriarki atau perspektif yang berpusat pada laki-laki yang dianggap sebagai inti dari krisis ekologi (Kirkpatrick, 1996).

Salah satu isu terpenting dan krisis peradaban abad ini adalah tentang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi nulir dalam skala besar, baik untuk senjata maupun PLTN, yang harus dipahami sebagai supremasi kultur maskulin yang bersekutu dengan ideology capitalism. Karena, potensi destruktifnya telah sampai pada tingkat mengancam peradaban.

Banyak pihak, tak pelak lagi, berharap akan kebangkitan kembali kultur feminine (ibu Bumi) yang pada dasarnya memelihara dan mencegah perusakan alam dan peradaban.

8 seri celoteh emoh pltn :

Resiko Nol Persen : PLTN atawa PLTS (1)

Energi Tinja vs Fisi Nuklir (2)

PLTN : Monumen Kediktatoran Teknologi (3)

PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan (4)

Rasionalitas (Irasionalitas) Iptek Nuklir (5).

PLTN dan Referendum Di Negara Utara (6)

PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis (7)

PLTN dan Beban Ekonomi Negara (8)

Tidak ada komentar: