RECLAIM the CITY

RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label Imperialisme Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imperialisme Tambang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2008

Buyat dan Refleksi Gerakan Lingkungan Hidup (2)

Belajar dari tragedi Minamata
Kompas, August 31, 2004

Christine Sussana Tjhin

Tragedi Minamata dan tragedi lainnya menggeser perilaku Jepang atas lingkungan. Perubahan tersebut ditandai dengan kelahiran kosakata baru, "kogai", yang berarti penghancuran domain publik (Jun Ui, 1992).

Meskipun kasus Minamata berhasil dimenangi oleh warga, banyak yang menyesali bahwa andai direspons lebih cepat, kasus ini bisa saja menjadi sentra krusial yang menjadi titik pusat perubahan ekonomi politik Jepang yang membentuk perilaku terhadap lingkungan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Seandainya hal ini tercapai, Jepang tidak perlu menghadapi tragedi-tragedi lingkungan lainnya (penyakit itai-itai, asma Yokkaichi, dan lain-lain) yang memukul sedemikian kuat.

Haruskah kejadian setragis Minamata terjadi dulu di Indonesia sebelum kita semua menyadari apa artinya lingkungan bagi kehidupan kita?

Perdebatan tereduksi pada apakah warga Buyat menderita Minamata atau bukan. Apa pun jawabannya, fakta menunjukkan bahwa faktor lingkungan sama sekali tidak mendapatkan tempat yang layak.

Jika dulu, akselerasi ekonomi Orde Baru dijadikan alasan, saat ini, krisis ekonomi dan reformasi politik menjadi justifikasi baru. Terlepas dari jargon pembangunan berkesinambungan di Indonesia serta laporan yang berbunga-bunga di KTT Dunia, isu lingkungan masih inferior dibandingkan dengan isu ekonomi/investasi ataupun isu politik dalam formulasi kebijakan. Praktik korupsi pun memperparah keadaan.

Apa pun penyakitnya, masyarakat Buyat sudah sakit. Sangat sakit. Tetapi terus saja izin untuk investor menjadi lebih penting ketimbang pantai, laut, tanah dan sungai yang terkontaminasi limbah; atau hutan yang semakin gundul oleh api, tangan dan mesin; dan manusia-manusia yang hidup di sana. Seiring berlalunya waktu, selalu saja kelompok masyarakat yang paling lemah yang paling dulu dan paling berat dirugikan. Dalam hal Buyat, nelayan dan keluargalah yang paling menderita.

Kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Tapi, tentu saja, Buyat kalah pamor. Saat ini aktor-aktor utama sedang menjalankan upaya masing-masing dan masih belum bisa diketahui apakah Buyat bisa menjadi preseden yang kuat untuk penanganan kasus yang multidimensional ini. Jika direspons dengan benar, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya.

Kesimpangsiuran berita Buyat, rumor-rumor-mulai dari Newmont membayar suap untuk membungkam sebagian pejabat dan masyarakat lokal, pemerintah yang membela investor ketimbang warga, LSM yang mem-blow up kasus ini untuk memeras Newmont–-berpotensi membelokkan esensi dari permasalahan dan mendiskreditkan upaya-upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan hak asasi warga Buyat dan masa depan lingkungan dan kesejahteraan Indonesia.

***

Media massa berperan krusial. Di Jepang, ia berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.

Dengan mengandalkan kontinuitas pemberitaan dan alur komunikasi yang multi-arah, media terus mengentak kesadaran masyarakat bahwa perusakan lingkungan adalah perusakan multidimensional dan lintas-batas teritorial. Kerja sama strategis antara para korban, LSM yang membantu dan media tidak terjadi semalam saja.

Di Jepang, hal tersebut baru terbangun di akhir tahun 1960-an. Stamina untuk menjaga keberlangsungan strategi tersebut pun berat. Semoga saja media massa Indonesia mampu bertahan.

Kontribusi beberapa LSM dalam membantu masyarakat Buyat pun patut mendapatkan acungan jempol. Tetapi dukungan yang lebih meluas masih sangat diperlukan. LBH Kesehatan menjadi pendamping korban Buyat yang mengajukan tuntutan ke-3 kementerian dihadapi dengan tantangan mempertahankan kredibilitas dan ketersediaan sumber daya.

Beberapa LSM lain berupaya memperluas jaringan mereka ke luar negeri dan berhasil mendapatkan respons, antara lain dari Minamata Institute di Jepang yang membantu dalam melakukan tes dan Global Response di AS dalam memberikan tekanan kepada Newmont pusat. Beberapa gerakan perempuan tampaknya mulai mengantisipasi kasus ini dan mencoba membawanya keluar dari sekadar isu lingkungan melalui advokasi korban perempuan dan anak-anak. Bisakah jaringan tersebut bertahan?

Lelucon terbesar adalah saat Menteri Lingkungan Hidup menolak memakan ikan yang dihidangkan ke hadapan beliau saat mempromosikan gerakan makan ikan di Sulawesi. Terlintas film Erin Brokowich (film tentang perjuangan seorang perempuan dalam kasus pencemaran di AS).

Ada sebuah adegan di mana para pengacara korporasi sedang berusaha menegosiasikan harga damai untuk membungkam para korban dengan Erin. Mungkin ekspresi pengacara tersebut saat diberitahukan oleh Erin bahwa minuman yang ia minum datang dari tempat yang tercemar serupa dengan ekspresi Bapak Menteri saat disuguhi ikan yang bentol-bentol?

AS sudah menolak 200 juta ton ikan dari Sulawesi. Di Jakarta, banyak ibu-ibu yang berpikir lima kali sebelum beli ikan. Hanya sejauh itukah masyarakat Indonesia akan bereaksi? Dengan tidak makan ikan? Bisakah ke-3 kementerian yang dituntut keluar dari sikap defensifnya dan menaruh energinya untuk kepentingan masyarakat?

Bisakah Polri dan pengadilan bersikap profesional dalam menangani tuntutan masyarakat ini? Bisakah Newmont menjalankan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat setempat? Bisakah semuanya bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan ini tanpa mengorbankan masyarakat lagi?

***

Buyat bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.

Sebagai refleksi tambahan ke depan, desentralisasi membawa tantangan dan kesempatan yang besar bagi proses perusakan/perbaikan lingkungan di Indonesia. Kewenangan pemerintah daerah untuk pengolahan lingkungan jangan sampai terpaku pada upaya menghasilkan uang bagi kas pemda terutama dengan gencarnya persaingan ekonomi global dalam menarik investor.

Sering kali tragedi pencemaran bermula dengan mesranya hubungan investor baru dengan pemerintah dan masyarakat lokal yang tergiur oleh keuntungan materi tanpa menyadari akan dampaknya terhadap lingkungan.

Jika kasus Buyat hanya diperlakukan sebagai kasus lokal seputar isu lingkungan saja, berarti sekali lagi kita membodohi diri sendiri dan menggali kubur yang lebih dalam bagi Indonesia. Jika kasus Buyat dan kasus-kasus lingkungan lainnya terus saja disepelekan, sangatlah tidak pantas bagi kita untuk berbangga diri dengan "keberhasilan" Pemilu 2004.

Lancangnya kita karena berpretensi bahwa pesta demokrasi telah sukses saat suara pemilih sudah dihitung, sementara rintihan suara korban di Buyat, Tembaga Pura, Rampa, Teluk Jakarta dan di lokasi-lokasi tercemar lainnya hilang terbawa angin yang penuh polusi.

silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Buyat dan Refleksi Gerakan Lingkungan Hidup (I)

(posting 2004 yang semoga masih relevan)

Paling tidak selama satu bulan berturut-turut (non-stop setiap hari) Koran Kompas memuat berita Buyat, demikian media massa lain baik koran, radio maupun televisi memberikan porsi pemberitaan yang luas tentang kasus ini. Berdasarkan pengalaman di berbagai negara dukungan media massa merupakan salah satu kunci keberhasilan gerakan lingkungan hidup dalam kegiatan advokasinya.

Menurut Chrtistine Sussana (peneliti CSIS) di Jepang, media massa berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.

Peran media massa penting dilihat dari sisi bahwa merekalah yang mampu menghadirkan fakta-fakta aktual yang kemudian akan mampu membentuk opini publik dan mendorong publik untuk melakukan tindakan. Berbagai kajian dan penelitian menguatkan argumen ini, diantaranya seperti dirangkum oleh kawan Abdul Wahid Situmorang, Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik
untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl ampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak asarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.

Oleh karena itu tragedi atau penyelesaian kasus Buyat adalah sebuah momentum penting untuk mendorong atau mengakselerasi perubahan yang lebih besar. Kawan Situmorang berharap k asus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia ( The Silent Spring
adalah sebuah buku yang ditulis oleh Rachel Carson tahun 1962. Menurut Kirkpatrick Sale memainkan peranan sangat penting dalam sejarah atau pertumbuhan gerakan LH di Amerika Serikat. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta pemerintahnya
melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama).

Sedangkan Susanna melihat kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Ia mengatakan bila kasus direspon dengan baik oleh pemerintah, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya. Selanjutnya dikatakannya BUYAT bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.

Saya sendiri melihat bahwa narasi besar dari persoalan Buyat dan juga Freeport (yang mencuat sebelumnya) adalah imperialisme, khususnya imperialisme pertambangan dan sistim ekonomi politik yang korup yang melanggengkan penjajahan baru ini. Sehingga penyelesaian terhadap kasus Buyat, sesungguhnya akan dapat menjadi momentum untuk mengakselerasi perlawanan terhadap ketidakadilan struktural ini.

Pertanyaannya kemudian sanggupkah gerakan lingkungan hidup mendesakkan penyelesaian yang jujur dan adil atas kasus Buyat, sekaligus membangun atau melakukan perluasan basis konstituen gerakan lingkungan sebagai motor perubahan yang lebih luas dikemudian hari.

Kawan-kawan walaupun penyelesian kasus Buyat masih berjalan, saya mengajak kawan-kawan gerakan lingkungan hidup (termasuk kawan-kawan saya di Walhi) untuk melakukan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup atau gerakan sosial yang kita bangun secara khusus tentang bagaimana kita memperlakukan kasus ini? Apakah kita bisa menggunakan kasus Buyat ini untuk mendorong perubahan yang lebih luas, apakah juga kita mampu mendorong isu lingkungan masuk ke jantung perpolitikan negeri ini atau tetap sebagai isu pinggiran atau marginal? Saya bahkan cemas kebenaran dan keadilan gagal ditegakkan dalam kasus Buyat ini?

Untuk itu dengan terlebih dahulu memohon maaf atas kecerewetan ini dan mungkin beban pada rekening email kawan-kawan, saya mengajak kawan-kawan untuk membaca kembali artikel Abdul Wahid Situmorang di koran Tempo "Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia" (bagian I) dan artikel Christine Susanna Tjhin di Kompas "Belajar dari Tragedi Minamata" (bagian II). Selanjutnya saya akan sajikan saduran atas buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996, sebagai bahan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup sebagai gerakan sosial (bagian IV). Saya menyadur karya ini dengan terlebih dahulu merangkai teoritisasi sederhana tentang gerakan
sosial, konsep itu kemudian digunakan sebagai kerangka penyaduran buku ini. (bagian III)

Selebihnya terserah kawan-kawan apakah akan dijadikan bahan merenung-renung sendiri, diskusi di milis ini atau bahkan dijadikan pengantar tidur atau di delete saja

Salam
Andreas Iswinarto

Koran Tempo, 14 Agustus 2004

Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia

Abdul Wahib Situmorang
Alumnus Ohio University


Kirkpatrick Sale (1993) dalam bukunya The Green Revolution menyatakan bahwa bangkitnya gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat pada dekade 1960-an tidak terlepas dari pengaruh terungkapnya dampak negatif pestisida terhadap lingkungan hidup dan manusia. Menurut Sale, adalah Rachel Carson (1962), melalui bukunya The Silent Spring, memainkan peranan sangat penting. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta
pemerintahnya melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama.

Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl mampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak dasarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.

Saat ini, kita terhentak melalui pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik tentang pencemaran merkuri dan logam berat lainnya di Teluk Buyat Minahasa, Sulawesi Utara. Tragedi ini terungkap setelah masyarakat buyat didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan melaporkan dampak pencemaran yang mereka alami ke Markas Besar Polisi di Jakarta. Menurut sejumlah penelitian, pencemaran ini sangat potensial merugikan kesehatan masyarakat buyat, bahkan untuk beberapa tingkatan dampak logam berat ini sangat mematikan. Mereka, para peneliti, melakukan pengecekan beberapa sampel darah masyarakat Buyat dan hasilnya mengungkapkan bahwa sampel darah yang diambil positif mengandung merkuri.

Dari sudut pandang akademisi gerakan lingkungan hidup menarik dan penting untuk dielaborasi, apakah tragedi pencemaran logam berat di Teluk Buyat Minahasa memungkinkan sebagai stimulan merubah sikap dan aksi para elit pemerintah, parlemen dan aparat penegak hukum menindak secara tegas kasus-kasus pencemaran? Dan apa arti pentingnya tragedi Minahasa bagi aktivis pro lingkungan hidup dan kemanusian memobilisasi sumberdaya yang mereka miliki?

Tragedi Minahasa, sejauh ini, tidak merubah sikap elit pemerintah bertindak cepat memecahkan masalah pencemaran yang berdampak serius terhadap hancurnya ekosistem dan termarginalisasinya manusia dari lingkungan hidupnya. Dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat, alih-alih pemerintah berpihak dan berempati kepada korban pencemaran, pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pertambangan dan energi dan Menteri Kesehatan mengatakan bahwa pencemaran logam berat di Teluk Buyat tidak ada hubungannya dengan limbah tailing PT. Newmont Minahasa yang dibuang ke Teluk Buyat melalui pipa-pipa raksasa. Statemen pemerintah ini terlalu pagi untuk
diumumkan ke publik mempertimbangkan beberapa penelitian mengungkapkan peranan Newmont mencemarkan Teluk Buyat disamping proses investigasi sedang berlangsung.

Disamping itu, aksi pemerintah Indonesia begitu lamban menelurkan langkah-langkah affirmative action baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang memecahkan persoalan pencemaran di Teluk Buyat. Untuk jangka pendek, Pemerintah Indonesia semestinya tidak segan-segan melakukan apa saja untuk membuktikan sampai sejauh mana pencemaran logam berat merusak ekosistem Teluk Buyat termasuk masyarakat Buyatnya.

Data hasil penelitian ini penting untuk menentukan langkah-langkah kongkrit merahabilitasi dan menyembuhkan ekosistem yang telah rusak. Data ini juga sangat dibutuhkan untuk meminta pertanggungjawaban Newmont baik secara hukum maupun non hukum memperbaiki pencemaran di Teluk Buyat. Dengan data ini, pemerintah akan mampu mengambil tindakan medis secara jitu mengembalikan hak atas kesehatan kepada masyarakat buyat sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada warga negaranya. Oleh sebab itu, pengumpulan data yang solid, valid dan objektif menjadi sangat krusial dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat.

Fenomena respon pemerintah menangani kasus Teluk Buyat menunjukkan bahwa para pejabat di pemerintah terus terkungkung mind set paradigma lama melihat isu hak-hak dasar masyarakat seperti hak mendapatkan lingkungan yang bersih. Elit tetap berpendirian bahwa kepentingan investasi berada diatas kepentingan ekosistem dan hak dasar manusia. Ini tercermin rendahnya empati dan tindakan kongkrit pemerintah memecahkan, tidak hanya kasus pencemaran di Teluk Buyat tetapi juga kasus lingkungan hidup lainnya di Indonesia.

Disisi lain, kita tidak melihat tragedi pencemaran di Teluk Buyat menjadi simbol perlawanan kelompok pro lingkungan hidup menekan pelaku perusak lingkungan hidup, khususnya perilaku perusahaan tambang di Indonesia. Padahal, dampak pencemaran logam berat di Buyat sangat menggetarkan hati nurani sebagai seorang manusia dan data hasil penelitian cukup lengkap dan solid. Disamping itu, ekpos media massa baik cetak maupun elektronik terus menerus dan selalu mendapat prioritas tempat pemberitaan utama dengan menampilkan berbagai sudut berita.

Andrew Szasz (1994) dalam bukunya Eco Populism: Toxic Waste and the Movement for Environmental Justice mengungkapkan bahwa isu sampah toxic, termasuk didalamnya sampah logam berat telah menjadi ikon baru gerakan untuk keadilan lingkungan hidup. Szasz membeberkan bahwa isu sampah beracun dan berbahaya hasil buangan aktivitas industri, tidak hanya menjadi isu lingkungan hidup an-sih tetapi juga telah menjadi isu sosial. Menurut Szasz, perkembangan isu toxic menjadi isu sosial berlangsung pada decade 1970-an sampai dengan 1980-an ketika masyarakat Amerika memiliki kekhawatiran sama besarnya antara dampak sampah toxic dengan nuklir.

Selama tiga minggu isu pencemaran Teluk Buyat muncul kepermukaan, menurut catatan penulis, hanya dua protes sosial, pertama di Kalimantan Selatan dan kedua di Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas mempergunakan kasus pencemaran Teluk Buyat memperingatkan masyarakat dan pemerintah daerahnya atas dampak pertambangan skala besar bagi lingkungan hidup dan manusia. Dua-duanya menekan pemerintah daerahnya untuk mempertimbangkan secara serius aktivitas pertambangan didaerahnya masing-masing dan menolak rencana investasi baru didunia pertambangan apalagi bila itu dilakukan di hutan lindung. Meskipun demonstrasi yang digelar hanya diikuti sejumlah kecil demonstran.

Semestinya, Kasus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia.

Kelebihan kasus pencemaran teluk buyat dibandingkan dengan kasus pencemaran lainnya adalah pada dampaknya yang bisa dilihat secara kasat mata. Dan ini sangat significant menginjeksi pengetahuan tentang bahaya logam berat bagi ekosistem dan manusia kepada pemerintah dan masyarakat. Momentum seperti ini jarang terjadi sebagai media mengingatkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman logam berat diteritorialnya baik didaratan maupun didaerah perairan sebagai konsekuensi investasi industri pertambangan dan idustri lainnya yang mempergunakan bahan beracun dan berbahaya.

silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Nyanyian Nurani Untuk Bayi Andini Yang terBunuh di Teluk Buyat

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 31 sahabat yang perduli atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada Andini Lensun dan warga buyat oleh perusahaan tambang raksasa dan kompradornya (pemerintah-penguasa). Memang hukum hari ini tidak memihak kepada para korban, peradilan belum lagi menjadi rumah kebenaran dan keadilan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan oleh warga dan jejaring NGO, akhirnya kandas. Tetapi biarkan api perlawanan tetap membara dan nurani tetap dihidupkan, karena diam adalah pengkhianatan. Kumpulan puisi biarkan jadi nyanyian nurani dan jadi doa yang meggerakan.

Salam

Andreas Iswinarto.

* nyanyian nurani saya gulirkan saat sedang belajar di Walhi 3 tahun lalu, dan saya rasa tetap relevan hingga saat ini


Doa untuk Buyat

Bayi perempuan itu terkulai di pangkuan ibunya. Kondisi fisiknya lemah. Andini Lensun, begitu pasangan Hanri Lensun dan Masna Stirman menabalkan nama anak kesayangannya yang baru berusia tiga bulan. Menurut Masana, ia tak pernah menyangka Andini akan lahir dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
”…saat hamil saya memang suka makan ikang, karena dorang Newmont bilang tidak ada pencemaran, kalau tak makang ikang torang pun bingung mau makang apa, torang nggak punya doi untuk beli yang laing,” tutur warga Buyat pante itu polos dengan linangan air mata, sambil menimang bayinya.
Andini bukanlah bayi yang normal. Kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Benjolan-benjolan kecil muncul juga dari kepala hingga kakinya. Bahkan, di bagian perut muncul benjolan sejak ia lahir. Sabtu, 3 Juli 2004, Andini telah kembali kepada Sang Pencipta. Tepat, 5 bulan masa hidupnya.
Untuk Kisah mendalam tentang Andini dan Warga Buyat, klik:
Laporan dari Teluk Buyat (2): “Kami adalah Generasi Benjol”, Republika, 5 Agustus 2004
http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=168712&kat_id=3

Narasi ini kemudian bergulir, perempuan, laki-laki dari berbagai latar belakang
terdorong terakan goresan nurani dan mendengungkan berbareng dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat jadi mantra, jadi doa....


: Andini
Oleh Lanjar
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Belajar mencinta, tak cuma dengan mata dan telinga tetapi dengan hati
Belajar memberi, tak cuma dengan ratap dan tanya tetapi dengan tindakan peduli
: Andini
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Meneriakkan rintihan sakitmu, segala deritamu, derita saudara-saudara kami di Buyat sana
Tapi, ...
: Andini
Kau dimana?
Matahari masih malu-malu kala kaok burung Gagak mengabarkan kematianmu
Sontak telingamu menangkap, rebahku terganggu, gamang, galau langsung menyerbu
Kisah-kisah Resah tengah menjadi menu harian di seluruh penjuru
Orang-orang menuju ke Buyatmu dengan terburu-buru
Anak kecil, orang tua, orang sakit, para medis, pembaik, pejabat, penjahat berjejer satu-satu
Melihat lautmu, Mercurimu serta angkuhnya tembok Newmontmu
: Andini
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun, setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelas kami
Langit pecah dalam rintihanmu
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun
Jakarta, 17 September 2004 [31]
-----------------------------------------------------------------

Andini: Jiwa yang Terbuang
Oleh Abdul Halim
Demikian mudahkah!
Kejujuran, Kepedulian, dan Kewajiban
Berguguran di reruntuhan Air MaTa
Beriring MuLuT penuh KoToRaN
DusTa……
Racun……
dan KePalSuAn.
Andini, SeBuTaN PuTrI "MaLanG" ItU...
Tak terdengar lagi.
UANG, Tuhan SemesTa MaSa KiNi
BerGeLinTiR maTa PATAH oleh Kilauan-NyA
IroniS, di tengah DENTUMAN protes Anak-Anak Bangsa.
Andini,
PuTrI BANGSA yang Terbuang.
Tapi……
AngiN Semangatmu, SelaLu BerKoBaR dan BerKiBaR.
17 Agustus 2004, MeRdEkA Bangsamu
Di depan MeRaH PuTiH,
Ikrar diriKu, “Perjuanganmu Tiada Pernah Berakhir.”
TeGaRu, 18 Agustus 2004 [30]
-----------------------------------------------------------------------

In Memoriam: Andini Lensun
[Aug 12, 2004]
Oleh Nur Hidayati
Voice from the grave (1)
here
forty days I've been
in this cold dark hole
as cold as their hearts
as dark as their mind
what rights do they have?
stealing sun from my days
stealing smile from my face
what rights do they have?
hiding facts
spreading lies
what rights do they have?
playing God
cursing people eternal pain
unbearable
what rights do they have?
Voice from the grave (2)

bukan inginku menjemput nirwana
secepat ini
seperih ini
bukan mauku tangisan ibu
menyayat
merintih
belum jua puas
kutatap purnama
kudengar debur ombak
di Buyat
belum jua puas
kurasa hangat dekap
kudengar lirih doa
ibuku
usai sudah derita
kering sudah air mata
abadi aku kini
di pangkuan Ilahi Rabbi [29]
------------------------------------------------

Andini,
menyaksikanmu adalah keperihan rahimku
saat menguak membelah dunia
tangis lirih sakitmu
adalah kepiluan jantungku
yang tak mampu membantu menolongmu
panas dadamu
adalah mengerasnya payudaraku
karena penuhnya susu yang tak kau isap lagi
rintahan ajalmu
adalah teriakanku....
Tuhan.......di mana keadilan....
Anakku,
kematianmu
adalah kematian rasa penguasa-penguasa kita
yang menutup rapat mata hatinya
dan menimbun hati dan jiwanya dengan kerakusan kuasa
Kini, kain kafan telah membungkusmu pulang pada-Nya
dalam luka lara yang tak kuasa bunda gantikan
Tarikan nafas terakhirmu adalah pesan buatku
dalam terjal perjuangan
dalam ketegaran
tuk selamatkan sahabat dan kawanmu
dari nista pertambangan
Selamat jalan, Andini.......

(Medio Agustus, Wening 2004) [28]
-------------------------------------------------------------

Anak Bermain Perahu di Teluk Buyat
Oleh Hasan Aspahani
"Lihat, kapalku terisi sarat, mengangkut
59 ton emas, menjauh dari Teluk Buyat..."
Angin dari langit masih hembus yang dulu,
ombak dari laut masih hempas yang dulu.
Yang mendebur ke dada perahu, mengapung-apungkan
jaring yang tersangkut sejak dulu. Nasib nelayan kakekku.
Jauh, jauh. Kini mengayuh delapan kilo,
ke tengah laut. Sebab di teluk itu tak ada lagi
kerapu, kepiting bahkan juga seekor udang batu.
"Lihat, kapalku berisi kepenuhan,
pulang ke teluk membawa ikan.
Ada pesta, tengah malam disuguhkan.
Kita cuma nelayan, tak dapat undangan."
Empat tahun sudah air raksa menguap
di udara dan air mandi Teluk Buyat.
Mengendap dalam tubuh ikan, terperangkap
juga di darah kami, anak-anak nelayan.
Kelak kami menyebutnya racun yang tak tertawarkan.
Tapi, "Tak ada pencemaran, tak ada pencemaran."
Mereka sudah meneliti, mencocok-cocokkan jawaban, dan
tergesa mengambil kesimpulan. "Tak ada pencemaran!"
Tapi, "Lihat! Ada koreng di kulitmu...."
Cuma perahuku datang kembali membawa
sabun mandi. Ke Teluk Buyat. Mengubah
air tangis jadi gelombang berbuih. Jadi perih.
"Dan, bila luka juga, tak ingin kubagi
perih yang tak kau pernah pahami ini.
Tenggelamkah sudah semua perahu?" [27]
----------------------------------------------------------

Tiada Lagi...
Tangisan kesakitan itu kini tiada lagi...
Berganti nisan batu yang sunyi dan harum bunga...
Kami tak akan pernah melupakanmu..
Kau mencoba bertahan hidup selama lima bulan..
Namun sakit itu tak tertahankan lagi...
Setiap gerak adalah keperihan yang sangat..
Kami antarkan engkau berbaring selamanya...
Senyuman terakhirmu akan menjadi kutukan
Bagi raksasa penghisap emas itu...
Selamat jalan Andini...
Semua penderitaanmu tak akan sia-sia...
Oleh Anonim [26]
-----------------------------------------------

Tragedi Buyat
Oleh Agung Alit
Hatiku tersayat akan derita warga Buyat
Derita yang ditoreh tangan-tangan berkhianat
Buyat dirampok, disihir menjadi tambang tanpa tembang
Kini dari perut Buyat terburai limbah Mercuri laknat
Buyat tertampar
Andini Lensun terkapar,
Entah siapa esok menyusul
Tragedi Buyat, hikayat pejabat pusat
Tragedi Buyat, hikayat tak berakhlak
Tragedi Buyat, hikayat tak bertobat
Denpasar, 9 Agustus 2004 [25]
---------------------------------------------------------

Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]

Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini

Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu

Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??

Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan

Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita

Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm

Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [24]
-----------------------------------------------

Renungan Buyat [Hikayat II]

Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral

Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...

Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?

Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka

Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm

Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar] [23]
-----------------------------------------------------------------------------

Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai
Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan
Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk
Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat
Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup
Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad
Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am
Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]
--------------------------------------------------------------

Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna
(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)
Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?
Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya
Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"
Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]
-----------------------------------------

Gerutuan dan Mantra Bebas dalam Nyanyian Nurani untuk Andini Lensun dan Warga Buyat
Oleh Ambo Tang
1. Naba’ Duka buat Nurani al-Makarim
Ya…. An-Naba'
Dulu dengan bangga kita bisa
Beritakan dan bernyanyi:
"Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman
Ikan dan udang menghampiri dirimu"
Ya…Al-Makarim
Kini dengan bingung dan mulia
kita hanya menggerutu:
"Bukan lautan hanya kolam busuk
Korupsi dan utang cukup menghidupimu
Tiada aman tiada damai kau temui
Orang bilang tanah kita tanah bangkai
Emas, perak, dan minyak jadi bencana
Minamata dan maut menghampiri dirimu"
2. Mantra Maut buat Pejempol Tambang
Derai airmata mengalir di relung-relung pipi
Berai minamata menyebar di lorong-lorong bahari
Kerai pusara melebar di sudut-sudut wanua
Cerai jasad menjauh dari simpul-simpul nyawa
Lerai pikir merenggang dari pojok-pojok hati
Kemana lagi budak harus bertuan?
Kemana lagi rakyat harus beraja?
Kemana lagi bangsa harus bernegara?
Kemana lagi hamba harus bertuhan?
Kemana lagi ratap akan berharap?
Kemana lagi doa akan berjawab?
Kemana lagi rintih akan bersahut?
Kemana lagi perih akan berbalut?
Jiwa-jiwa kini tak lagi dihargai
Bangsa dan negara pun telah digadai
Oleh bangsat-bangsat pembantai
Yang jempolnya mengundang badai
Duhai Penguasa Bumi
Duhai Pemilik Jiwa
Deritakanlah derita Andini
Pada diri para pembantai
Bi adzamatika yaa Rabbi
Bi nubuwwatika yaa Nabi [20]
-------------------------------------

Matahariku Hilang Tuhan
Oleh Jeanny Suryadi
Matahariku hilang tuhan,
Semua menjadi gelap untukku bisa bermain...bahkan
Mereka juga membawa pergi kawan-kawanku.
atau aku yang sudah tidak ada di sana? kenapa?!
2004
cukup pak!
jangan bilang akan mengadakan subsidi pendidikan!
jangan bilang akan ada sekolah murah?
sedang aku sudah buta untuk membaca, dan sudah terlalu
lumpuh untuk bisa berjalan..
August 2004
apa benar ini naskah untukku?
peran seorang anak tanpa matahari? kemana - mana
menjinjing gumpalan penyakit yang sampai jatuh ke jiwa?
menghancurkan apa-apa yang kata mereka adalah milik
saya, tidak bisa diabadikan bahkan juga di kepala
-selain butiran pengantar jenazah.
untuk Andini.
tidak banyak yang kulihat di sini, karena keriputnya
sudah jatuh mengering menutup kelopak mata,
tapi aku dengar ibu menangis!
Andini
ini bukan tangan, tuhan..tapi mainan yang sudah
rusak,
ini bukan kepala tuhan, tapi batu karang usang,
dan ini bukan jiwa, tapi lapangan untuk berguling
dalam dusta dan uang.
saya bukan manusia tuhan...itu kata mereka...
2004, Manusia di Buyat. [Andini] [19]
--------------------------------------------

Dan semestapun berduka
Oleh WeES
Cukup jauh jarak Buyat hingga Yogya
tapi ratapanmu Andini
sayup terbawa angin: menyusup ke hati
mungkin ini jawaban dari isyarat
kenapa kemarau kali ini
mendung senantiasa menggantung
rupanya mereka berduka buatmu: Andini
dan ketika racun disebar di laut
siapapun dia pelakunya
entah melanggar aturan atau apa namanya
saat itu: pengkhianatan hati nurani tarjadi
Hai....... kamu! Kamu! Kamu!
yang menangguk untung
dengan diam-diam menebar bencana!
untuk membuka matamu, telingamu,
Butuh korban berapa banyak lagi? [18]
--------------------------------------------------

Sekarat Buyat
Sret, lima bulan Andini Lensun bernafas
lalu tiada
Sret, sekarat Buyat
masuk berita
Sret, ancaman menganga
yang ada jadi sekarat
Berapa lembar lagi laporan
Berapa halaman lagi berita
Berapa karat lagi nyawa
Imperialis pertambangan
Adalah tuhan segala setan
Dengan sekarat segala sisa
Enyahkan segera
Enyahkan segera
Oleh Ben Abel [17]
------------------------------------------------

Kami tak pernah melukai orang dewasa
Tapi tangan-tangan mereka
Telah menghancurkan
Tangan-tangan kecil kami
Setiap nafas kami
adalah kesakitan panjang
Setiap tangis kami
adalah hapusan pengharapan
untuk melihat dunia ini
lebih lama lagi
Air susu yang kami minum
menjadi racun
yang tak pernah ada penawarnya
bunda-bunda kami pun
tak berdaya
Dengan sakit yang menyiksa
sepanjang hari-hari kami
semenjak kami bersemayam
dalam rahim bunda
kami ingin hidup panjang
menikmati indahnya Buyat
mengukir cita-cita
untuk Tanah Buyat
Tapi tangan-tangan orang dewasa
telah hancurkan tangan kecil kami
anak-anak Buyat
Oleh Lilie [16]
-------------------------------

Teluk Buyat,O!
: Andini
Oleh Indah IP
Mungkin ini waktu yang tepat
buat kami
Belajar mencinta
Tak cuma dengan mata dan telinga
tapi juga hati
Belajar memberi
Tak cuma dengan ratap dan tanya
tapi juga tindak nyata
Akhirnya, Andini
kepergian selalu jadi waktu yang tepat
untuk belajar mencinta
dengan dewasa
6 Agustus 2004, 15.00 Wib [15]
------------------------------------

Kidung Dukaku
Oleh Bening
Kutatap dunia dengan kedua mata kecilku
Kusapa mentari dengan kedua lengan mungilku
Dengan senyumku
Begitu banyak harapan tersirat
Kulihat mata ayah bundaku
Penuh dengan kegembiraan
Mensyukuri kehadiranku di dunia ini
Kutapaki lapangan bermain
Bermain bersama dengan teman-temanku
Tertawa riang dan lepas tanpa beban
Berlari bebas
Mengejar kesenangan menjadi seorang anak kecil
Tapi kemudian
Aku terbaring di sini
Masih memandang dunia ini
Tapi dengan mata nanar
Tiada lagi kulihat kegembiraan di mata ayah dan bundaku
Semua kegembiraan telah tergantikan dengan kesedihan
Dengan pilu, melihat deritaku
Aku tidak dapat lagi berlari bebas
Tidak dapat lagi tertawa lepas
Kakiku sudah tak mampu menopang tubuh kecilku
Tubuhku sudah tak dapat merasakan apapun lagi
Perlahan kurasakan tubuhku menjadi ringan
Ringan tanpa beban
Kudengar isak tangis bundaku
Sementara ayah berdiri dengan tegar menopang bunda
Aku bingung
Tak tahu apa yang terjadi
Aku hanyalah anak kecil
Yang hanya mengerti bermain, bertingkah lucu, dan
membuat kedua orang tuaku tersenyum
Mengapa kalian jahat padaku
Apa salahku sehingga kalian membunuhku
Dengan racun yang kalian tebarkan di desaku
Tidak pernahkah kalian berpikir kalau aku juga ingin
hidup seperti kalian
Bisa sekolah tinggi
Dan menjadi orang yang berhasil
Menghembuskan nama harum keluargaku, desaku
Kini aku hanya bisa merasakan nisan dingin
Bertuliskan namaku
Tanah basah menjadi selimutku
Harum bunga semerbak sebagai aroma tempat tinggalku
Dan melihat kesedihan teman-teman kecilku yang dulu kerap
bermain bersamaku
Menjalani derita
Tolonglah kami.........
Jangan biarkan mereka seperti aku
Jakarta Terik, 6 Agustus 2004 [15]
---------------------------------------

Adik Andini Lensun
Oleh Run
Kita seharusnya tidak mempertanyakan bagaimana Andini Lensun meninggal
tapi yang harus kita pertanyakan, bagaimana Andini hidup dengan menanggung beban yang begitu berat
Merkuri itu telah merenggut nyawa anak negeri
Dik Andini, kami hanya bisa marah, kami hanya bisa protes
dan kami akan terus melanjutkan perjuangan kamu
kami kirimkan doa-doa suci untukmu semoga Adik Andini hidup tenang di alam sana.
Amin….. [14]
----------------------------------

Buyat
Tragedi menyayat
Buyat
Tangisan rakyat
Buyat
Menyongsong mayat-mayat
Buyat
Siapa hendak melayat?
Oleh Febuana Kusuma [13]
-------------------------------------

Hiiikayat Buyat
Sajak Syam Asinar Radjam
Hiiikayat Buyat I: Andini
Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu
luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap
Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!
Lukanya luka yang tak harus ada
* * *
Hiiikayat Buyat II
Kulihat darah!
Menetes, belum mencurah
Mengalir masih, menuju gumpal
Hei, Lihat bersama!
Ada yang diundang sengaja; BENCANA!
* * *
Hiiikayat Buyat III
Kenapa aku tak menduka?
Meski ikan dan laut telah bernanah!
* * *
Hiiikayat Buyat IV
Mari ambil penggaris,
Bentangkan pula peta.
Berapa jauh bencana dari depan rumah kita?
Penjahatnya tertawa di meja gambar!
* * *
Jakarta, 4 - 5 Agustus 2004 [12]
-----------------------------------------

Catatan Kecil buat Adik: Andini dan kawan-kawan
Oleh Buruli
Dik,
Kalau besok tiba-tiba mengganas gelombang, itu karena
doa para ikan! Air mata yang mengalir lebih asin dari lautan
" Mereka tak hanya membunuh kita! Mereka juga
membunuh sesamanya: manusia!"
Sebenarnya bukan salah racun, mereka juga sedih
"Ini sama sekali bukan tempat kami!" Kata mereka
Tapi sebagian manusia itu memang tak peduli
Bahkan bila yang terbunuh adalah saudara mereka sendiri
"Jadi tolong jangan salahkan kami!" Isak racun malu hati
Para ikan berteriak! Racun berteriak!
Bila nanti kau dengar ada sesuatu yang besar dan
meledak
Itu karena akhirnya seisi samudera berteriak!
"Terbakarlah engkau yang begitu tega membunuhi"
Ah,
Tutuplah telingamu, Dik!
Lebul, 4 Agustus 2004, 1:43 am) [11]
--------------------------------------------

Ratatotok
Ratap Buyat
Jakarta, 4 Agustus 2004
Oleh tJongPaniti [10]
------------------------------------------

Menunggu Kilat Merkuri
Oleh Dwi Muhtaman
Di atas perahu meninggi bintang-bintang pengharapan
Menggantung berabad-abad hingga lapuk buritan kayu
hitam
Layar yang berkobar mengantarkanku pada kaki langit
Berebut gelombang dan debur jantung samudra Teluk Buyat
Bertukar ajal dan gelora napas
Membawa hidup pulang dalam belanga dan tawa anak istri
Menaburkan pasir ke angkasa
dalam riang percikan sinar bulan
dan angin malam
do'a-do'a
Dan berlabuh
Dari jauh
Hingga abad berkarat kini
Dan kau datang tanpa mengetuk pintuku
Menebar kilau dari jaman yang sesak
Kilatan maut melesat dari roda-roda penggilingan
Mengubur dasar samudra
Bagi kemewahan tuan dan nyonya di lingkar jari-jari
Dan lingkar leher jenjang nyalang
Gaya terkini
Lalu
Diam-diam
Diam-diam
Kilau Merkuri mengantarkan semua ini
Tajam mengiris, tajam yang tak kurasakan
Syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
Dari kilauan lautan yang sama,
dari debur ombak Teluk Buyat yang itu juga
yang berabad-abad melapisi kulitku hingga legam
yang berabad-abad anginnya menjadi napasku
yang berabad-abad asinnya menggarami hidupku
Hingga kau datang diam-diam
dan aku-tanpa kutahu-menunggu kilat Merkuri di ujung leherku
tajam siaga mengiris diam-diam hingga ajal
syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
mayat demi mayat
Sebentar menanti seperti begitu lama mati
Dan kau sibuk mengeja syaraf demi syaraf
Ayat demi ayat kau taburkan untuk penyangkalan
Di antara mayat yang bergelimpangan
Dari kilauan Merkuri
mata pisau pada ujung leherku
Dan kau ingin menghapus riwayat ini?

Bogor, 4 Agustus 2004 [9]
--------------------------------------------

...Andini...
Kemarin,...
Kala mentari hadir menyapamu kau sambut dengan sejuta
senyum
Seraya berkata kau akan hidup seribu tahun lagi...
Hari ini, ...
saat mentari hadir mengajakmu bercengkrama,
Bercerita tentang hari esok yang penuh cinta
Kau sambut dengan tatapan kosong,
tak berdaya, tak mampu menggerakkan anggota badanmu
dan...
bahkan kau tak mampu lagi mengeluarkan suara
deritamu..
...Andini...
Kau telah beku dalam tidurmu yang damai
Tak ada lagi jerit sakitmu...
...Andini...
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu melanjutkan perjuangan dan
cita-citamu
Kami antar kau ke pembaringan terakhirmu
Selamat jalan Andini...
Tidurlah dalam damai dan kasih-Nya.
...perngorbananmu tak akan pernah sia-sia...
Makassar, Agustus 2004
Oleh Alam Cakke [8]
----------------------------------------

ANDINI
Oleh Sepmiwawalma
ANdai Daku Insaf mulai hari iNI
Maka kisah ANDINI dan ANDINI yang lain
BUYAT dan BUYAT yang lain
hanya sebuah catatan sejarah yang tak perlu terulang
lagi.
Tak akan ada lagi derita ini.
Derita tentang...
Rintihan kesakitan..
Tangis kepiluan..
Air mata kedukaan..
Teriakan penderitaan..
Helaan nafas penuh tekanan..
Langkah tanpa harapan..
Sebuah perjalanan tanpa kepastian..
Dan janji kehidupan yang penuh kesia-siaan..
Dan Andinipun menulis
Ingin kusalahkan Tuhan
Kenapa aku dilahirkan hanya untuk berjumpa dengan
semua derita ini. Bukan bukan Tuhan yang salah..
Kamu..
Kamu.. semua yang salah
Yang tidak berbuat apapun juga.
Palangkaraya, 3 Agustus 2004 [7]
------------------------------------------

Untuk kita semua,
Adakah yang lebih berarti dalam hidup ini selain soal
kemanusiaan? Kepergian seorang Andini dan derita kaum
Buyat hanyalah sebuah potongan episode panjang sejarah
penistaan kemanusiaan...
Bila hidup ini hanya untuk soal siapa yang merasakan
apa maka pernahkan kita semua memikirkan suatu saat
nanti kita juga akan mengalami tragedi kemanusiaan
itu,...
Kita dengan kemampuan nalar dan logika dapat berkelit
dan berdebat, ...... Tapi penderitaan dan kematian itu
bukan soal nalar dan logika rasional serta bukan juga
soal untuk diperdebatkan,...
Tapi dia adalah soal yang harus dirasakan,...
Bila kita belum memiliki kesempatan untuk merasakannya
maka tunggulah saatnya.
Kalaupun tidak di dunia yang hanya sepenggal waktu
ini, dunia abadi akan menanti kita dengan penderitaan
dan kematian yang abadi pula.
Bogor, 3 Agustus 2004
Oleh Rasdi Wangsa [6]
--------------------------------------------

Andai
Oleh Mastuati
Andai aku bisa mengembalikan waktu
dan menata negeri ini sedari awal, Andini
Aku akan menatanya dengan kasih dan kejujuran,
sehingga kau bisa bermain dan bermanja
dialam yang mengucapkan terima kasih,
karena kita telah memeliharanya
dengan cinta.
Andini, aku percaya bahwa
kau telah kembali kerumah Sang Pencipa
dengan selamat dan sejahtera.
Palangkaraya, 2 Agustus 2004 [5]
----------------------------------------------

Masihkah kita bisa nyenyak di atas rintihan kepedihan masyarakat Buyat?
Masihkan kita punya nurani atas tangisan ibu-ibu di Buyat?
dan yang paling penting ...
Masihkah kita punya nyali untuk teriak dengan lantang
...
Oleh Arifin Amril [4]
--------------------------------------

Kalaulah mungkin,
Kudekap nian tubuhmu yang rapuh Andini,
dan nyanyikan perih tubuhmu,
agar si rakus itu, tahu bahwa tubuhmu memang perih
tahukah kamu Andini? duka, tangis, dan jerit bundamu
adalah tangis pilu bagi mereka yang bernasib sama,
lihatlah, pongahnya Newmont,
juga sedang menebar maut di tanah Tapanuli, Sumut
hanya sedikit yang tahu, atau yang peduli
bahwa 5 tahun lagi,
teman kita di Madina juga bernasib sama
Oleh Megianto Sinaga - Medan [3]
-------------------------------------------

Aku Andini
Oleh Marselina
(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...
Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.
(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...
Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....
Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..
Tuhan... apa salahku..???
Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...
Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..
Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya
Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...
Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..
Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati
Dan kini.... aku pun mati...
Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]
------------------------------------

"Langit Mendung Di Teluk Buyat"
Oleh Jpang
Wajah-wajah tertutup jelaga
Tangan-tangan terbalut nestapa
Sebatang tubuh mungil mati ternoda
Ikan-ikan entah ke mana
Ganggan hijau berubah warna
Burung-burung tak lagi bersuara
Andini Lensun mati sia-sia
Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian
Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun
Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu
dasawarsa
Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat
Teluk Buyat menyaksikan Andini Lensun mati sia-sia
Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa
Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia
Terbungkus landir minamata
Langit mendung di Teluk Buyat
Berpuluh manusia meregang nyawa
Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala
Atau badan merana menjelang garis penutup usia
Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan
Menarikan dansa kesuraman di atas dahan-dahan bakau
Menukik tajam menyayat reruntuhan karang
Lalu patah terhempas gelombang kerakusan
Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat
Matanya melelehkan kegelisahan
Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adidaya
Kilaunya mewarnai horison benua kebanyakan
Meninggalkan bekas Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat
Juli 2004 [1]

silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

CUKUP SUDAH! Hentikan Investasi Baru Pertambangan Besar yang Menista Rakyat*

Lagipula, siapakah yang bisa mengembalikan lagi kekayaan Indonesia yang
diambil oleh mijnbedrijven partikelir, yakni perusahaan-perusahaan
partikelir, sebagai timah, arang batu dan minyak. Siapakah nanti yang bisa mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan tambang itu? Musnah-musnahlah
kekayaan-kekayaan itu buat selama-lamanya bagi pergaulan hidup Indonesia, masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka! (Soekarno, Indonesia Menggugat 1961)

Kami menyatakan keprihatinan dan kemarahan kami, atas penistaan para pejabat negara untuk yang kesekian kalinya terhadap warga Buyat. Orang-orang biasa, perempuan dan laki-laki, tua dan muda yang mempertaruhkan keselamatan diri mereka untuk melakukan protes dan menuntut keadilan atas bencana lingkungan yang mereka alami. Sebuah bencana pencemaran yang menyebabkan gangguan kesehatan kronis dan kemiskinan akibat hilangnya mata pencaharian yang ditimpakan kepada mereka sebagai dampak operasi pertambangan raksasa PT Newmont Minahasa di wilayah hidup mereka Alih-alih menerapkan prinsip kehati-hatian, empati serta memihak pada korban, para pejabat negara dengan serta merta menyangkal penderitaan para korban dan menyatakan bahwa PT Newmont Minahasa tidak menimbulkan pencemaran. Dengan menyatakan bahwa Teluk Buyat tidak tercemar, dengan setumpuk hasil penelitian dan bukti laboratoris berbagai pihak yang mengindikasikan terjadinya pencemaran, sesungguhnya para pejabat negara telah memvonis rakyat menyampaikan informasi yang tidak benar alias bohong.

Kami menilai sikap ini adalah bagian dari upaya untuk menutup-nutupi borok sistim politik-ekonomi yang korup yang mendukung usaha pertambangan besar yang tidak adil. Dalam kasus Buyat hingga operasi PT Newmont Minahasa berakhir, ternyata perusahaan ini hanya mengantongi ijin sementara pembuangan limbah ke laut. Ketika ijin sementara itu dikeluarkan disyaratkan perusahaan tambang ini menyusun Ecological Risk Assesment (ERA- Penilaian Resiko Ekologi) dengan tenggang waktu enam bulan sejak keputusan dikeluarkan, sebagai dasar pemberian ijin permanen. ERA nantinya akan dijadikan dasar penetapan baku mutu lingkungan. Namun hingga saat ini pemerintah ternyata belum dapat menerima ERA yang disiapkan oleh perusahaan.


Dengan demikian jelas bahwa tidak ada jaminan bahwa lingkungan hidup dan masyarakat aman dari dampak sistim pembuangan tailing ke dasar laut yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa. Hal ini sebenarnya sejalan dengan rekomendasi tim peneliti Kementrian Lingkungan Hidup di teluk Buyat tahun 2002 yang menyarankan penduduk sekitar Teluk Buyat mengurangi konsumsi ikan yang hidup di area pembuangan tailing Newmont.

Adalah sebuah tragedi bangsa, adalah sebuah ironi 'kemerdekaan', bahwa masih terdapat fakta ketimpangan dan kesenjangan yang mengerikan.
Berdamping-dampingan dengan kerakusan operasi raksasa perusahaan
pertambangan asing mengeruk kekayaan alam tambang berton-ton dari bumi
Indonesia, terdapat kemiskinan yang kronis disekitar wilayah operasi
perusahaaan tersebut. Sebut pula apa yang terjadi di tanah Papua, konsesi tambang PT Freport di tanah Papua telah mengorbitkan perusahaan tambang tersebut sebagai salah satu perusahaan tambang tembaga, emas dan perak terbesar di dunia. Sementara kita tahu masyarakat di sekitar pertambangan PT Freeport masih saja terpuruk dalam kemiskinan dan kemandegan yang dalam.

Belum lagi fakta pencemaran lingkungan yang terjadi akibat operasi
perusahaan ini. Paling tidak menurut penelitian Walhi dengan menggunakan data satelit Indraja Landsat tahun 2000, diperoleh temuan total wilayah darat yang tercemar tailing mencakup luasan 35.820 hektar. Sedangkan wilayah laut yang tercemar paling tidak meliputi wilayah seluas 84.158 ha. Dimana radius pencemaran tailing di laut dari muara Komoro. Gejala ini sesungguhnya bukan saja terjadi di Minahasa dan Papuan Barat namun terjadi pula dihampir seluruh wilayah operasi pertambangan besar di Indonesia.

Selain merupakan gejala yang universal bahwa di tengak iklim demokrasi yang kurang berkembang dan masih kuatnya militerisme, sektor pertambangan besar ini potensial menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam konteks Indonesia kajian atas pelanggaran-pelanggaran HAM pada industri pertambangan dengan studi kasus PT Freeport Indonesia dan PT Kelian Equatorial (Elsam, 1998) menunjukkan paling tidak ada delapan bentuk pelanggaran HAM yang ditemukan. Pertama, pelanggaran atas hak untuk menentukan nasib sendiri. Termasuk didalamnya adalah tidak diakuinya tanah-tanah adat yang menjadi milik seseorang, keluarga atau satu suku tertentu, tidak diakuinya struktur sosial masyarakat adat serta pemaksaan untuk alih fungsi lahan menjadi areal pertambangan. Kedua, pelanggaran atas hak untuk hidup. Ketiga, penghilangan orang dan penangkapan secara sewenang-wenang Keempat, hilangnya hak untuk bebas dari rasa takut. Kelima, hilangnya hak seseorang untuk tidak mendapatkan penyiksaan atau tindak kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh pejabat publik. Keenam, dicabutnya hak seseorang atas sumber penghidupan subsistensinya Ketujuh, hilangnya hak anak-anak untuk mendapatkan perlindungan Kedelapan, lenyapnya standar kehidupan yang layak dan pencapaian tingkat kesehatan yang optimal (hak atas lingkungan hidup yang sehat)

Pelanggaran hak asasi manusia, pemiskinan rakyat dan penghancuran lingkungan hidup di sekitar wilayah konsesi pertambangan besar yang didominasi pemain internasional, sesungguhnya menegaskan masih bertahannya karakter model penguasaan sektor pertambangan masa penjajahan.

Praktek-praktek ekonomi-politik perusahaan tambang internasional di
Indonesia sesungguhnya adalah praktek imperialisme, meminjam definisi
Connors adalah praktek-praktek "penguasaan secara formal (atau tidak
formal) atas sumber-sumber daya ekonomi setempat yang lebih banyak
menguntungkan kekuatan metropolitan, dengan merugikan ekonomi setempat'.

Di tingkat agregat perekonomian nasional, sesungguhnya distribusi keuntungan dari pendapat negara dari sektor pertambangan besar ini yang diperoleh dari bagi hasil, royalti dan pajak, serta kontribusinya bagi perluasan lapangan kerja (yang sebenarnya kecil saja) vis a vis perusahaan pertambangan internasional dan negara-negara maju menunjukkan ketimpangan yang kronis pula.

Pola hubungan ekonomi yang lazim terjadi antara negara sedang berkembang yang kaya dengan sumberdaya alam terutama mineral dan negara maju atau industri, menunjukkan karakter ketimpangan dalam menyerap manfaat ekonomi atau nilai tambah dari pengolahan bahan baku atau bahan mineral.

Perusahaan-perusahaan internasional dari negara maju memiliki kontribusi terbesar dalam proses ekstraktif atau eksploitasi sumberdaya mineral. Bahan baku ini kemudian menjadi komoditi ekspor bagi negara-negara berkembang tersebut yang utamanya diserap oleh industri pengolahan di negara-negara maju. Produk setengah jadi dan produk jadi ini kemudian diimpor oleh negara-negara berkembang, untuk diolah kembali oleh industri-industri di negara berkembang yang juga di dominasi oleh perusahaan-perusahaan asing, atau dalam hal produk jadi untuk konsumsi pasar dalam negeri

Apropriasi (pengambilalihan) nilai lebih ini tidak hanya terjadi melalui lika-liku praktek ekonomi diatas, tetapi juga melalui nilai lebih yang hilang akibat tergusurnya dan terganggunya berbagai mata pencaharian rakyat (termasuk akibat kerusakan lingkungan) di sekitar wilayah tambang. Belum lagi bila kita menghitung hilangnya potensi sumberdaya manusia akibat kemiskinan dan kesehatan yang buruk. Lebih jauh lagi apropriasi terjadi bila dihitung pula nilai modal ekologis yang hilang akibat rusaknya fungsi-sungsi ekologis alam akibat proses destruktif industri pertambangan.

Kami menilai bahwa tragedi Buyat hanyalah puncak es dari kebobrokan yang jauh lebih besar dalam industri pertambangan besar bahkan dalam system politik-ekonomi di negeri ini.

Kami menegaskan bahwa narasi besar dari tragedi Buyat, sesungguhnya adalah imperialisme dan sistem politik-ekonomi yang korup termasuk militerisme yang melanggengkan penjajahan baru tersebut.

Untuk itu kami menuntut pemerintah untuk melakukan :

1. Moratorium Investasi Baru di sektor Pertambangan Besar
Moratorium di lakukan untuk memberikan waktu bagai penyiapan infrastruktur perekonomian Indonesia hingga lebih siap menyerap nilai tambah dari pengelolaan sumberdaya mineral. Selain itu moratorium memberi kesempatan untuk perombakan terhadap kebijakan negara dan sistim industri pertambangan besar yang korup dan eksploitatif baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Proses ini harus didahului dengan audit Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup terhadap sektor pertambangan besar.

2. Renegosiasi Kontrak Karya
Peninjauan kembali perjanjian kontrak karya yang sudah disepakati dan
melakukan pengaturan kembali terhadap distribusi keuntungan, keterkaitan dengan dengan industri hilir, transfer teknologi, serta tanggungjawab sosial dan lingkungan hidup (termasuk pengetatan syarat-syarat lingkungan hidup mengikuti standar lingkungan hidup di negara-negara maju).

3. Tindakan Hukum Yang Tegas
Pemerintah harus menunjukkan political will untuk 'melindungi, mencegah dan mempromosikan hak-hak asasi manusia di bidang ekonomi, sosial dan
lingkungan hidup' dalam sektor industri pertambangan . Pertama-tama
'political will' tersebut harus ditunjukkan dengan tindakan pengusutan dan tindakan yang tegas terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa dan aparat pemerintahan yang membiarkan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia tersebut. Termasuk pula tanggungjawab perusahaan untuk memberikan kompensasi kepada para korban dan memulihkan kerusakan ekonomi-sosial-budaya dan lingkungan hidup yang terjadi. Kedua, memberikan perlindungan hukum terhadap warga Buyatyang sedang berjuang untuk menuntut keadilan dari proses kriminalisasi dan adu domba. Ketiga, melalui langkah-langkah itu pemerintah kemudian melanjutkan penyelidikan yang menyeluruh terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan perusahaan pertambangan besar lainnya .

4. Menyiapkan Fondasi Kebijakan Mineral yang Adil dan Berkelanjutan

Kami menyerukan pula kepada segenap masyarakat Indonesia
1. Dukung dengan sekuat-kuatnya perjuangan warga Buyat yang bertaruh
keselamatan diri untuk menuntut keadilan atas hak-haknya yang dilanggar.
2. Dukung dengan sekuat-kuatnya perjuangan jutaan masyarakat korban,
sesungguhnya para survivor yang berada didalam dan sekitar wilayah konsesi tambang.
3. Bangun front-front perlawanan rakyat untuk merebut kembali kedaulatanvsejati dan menyerukan proklamasi Indonesia kedua. Rakyat Bersatu, Rakyat

Berdaulat; Merdeka Seratus Persen.

*Ini adalah manifesto yang diteken oleh 800 orang dan lembaga di tahun 2004, yang dinisiasi oleh andreas iswinarto termasuk juga draft dan finalisasi manifesto ini. Sekedar mengingatkan kawan-kawan yang dulu berkomitmen untuk ini


silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Wajah Pertambangan Besar Indonesia :

Konspirasi Imperialisme dan Sistim Politik-Ekonomi Indonesia Yang Korup

Andreas Iswinarto
(tulisan tahun 2004, semoga masih relevan)

Agaknya soal yang menimbulkan kepedihan Soekarno diatas masih terus berlangsung hingga hari ini.. Perusahaan-perusahaan pertambangan global mendominasi sektor 'ekstraktif' di negeri ini, dimana mereka tidak saja menghisap kekayaan alam dengan menyisakan remah-remah keuntungan bagi negara (setelah di korupsi oleh elit-elit penguasa), tetapi yang terutama mereka meninggalkan kerusakan lingkungan yang parah, serta luka dan kemiskinan bagi penduduk di sekitar kawasan tambang. Kajian yang dilakukan Dianto Bachriadi tentang pelanggaran-pelanggaran HAM pada industri pertambangan di Indonesia dengan studi kasus PT Freeport Indonesia dan PT Kelian Equatorial (Elsam, 1998) menunjukkan paling tidak ada delapan bentuk pelanggaran HAM yang ditemukan. Pertama, pelanggaran atas hak untuk menentukan nasib sendiri. Termasuk didalamnya adalah tidak diakuinya tanah-tanah adat yang menjadi milik seseorang, keluarga atau satu suku tertentu, tidak diakuinya struktur sosial masyarakat adat serta pemaksaan untuk alih fungsi lahan menjadi areal pertambangan. Kedua, pelanggaran atas hak untuk hidup. Ketiga, penghilangan orang dan penangkapan secara sewenang-wenang Keempat, hilangnya hak untuk bebas dari rasa takut. Kelima, hilangnya hak seseorang untuk tidak mendapatkan penyiksaan atau tindak kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh pejabat publik. Keenam, dicabutnya hak seseorang atas sumber penghidupan subsistensinya Ketujuh, hilangnya hak anak-anak untuk mendapatkan perlindungan Kedelapan, lenyapnya standar kehidupan yang layak dan pencapaian tingkat kesehatan yang optimal (hak atas lingkungan hidup yang sehat).

Dengan demikian disatu sisi mereka menyedot bagian keuntungan terbesar, disisi lain mereka menimbulkan kerugian bagi penduduk disekitar pertambangan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Lantas sesungguhnya adakah perbedaan kondisi negara yang secara formal telah meraih kemerdekaan dengan kondisi pada masa kolonial dan imperialisme tempo hari?

Imperialisme Pertambangan
Hakekatnya pola hubungan antara korporasi pertambangan global dan negara-negara dunia ketiga adalah sama dan sebangun dengan hubungan antara penjajah dan negeri jajahan. Walaupun teori tentang imperialisme V.I. Lenin telah mengalami kelemahan, setelah berbagai negara jajahan di dunia secara formal berhasil merebut atau dihadiahi kemerdekaan (G. Aditjondro, 2002), beberapa karakteristik masih tetap relevan. Bila pada sebelumnya kekuatan-kekuatan kapitalis direpresentasi oleh negara-negara penjajah maka kini peran itu telah digantikan oleh korporasi-korporasi global atau TNC/MNC.Ada kecenderungan pula bahwa korporasi-korporasi global mengalami konsentrasi kekayaan dan proses monopolisasi ketangan segelintir korporasi global.

Aditjondro sendiri menawarkan pendekatan lain yang lebih cocok untuk menggambarkan hegemoni korporasi-korporasi tambang mancanegera di dunia dengan menggunakan definisi yang ditawarkan James Connor. Menurut Connor imperialisme merupakan "penguasaan secara formal atau tidak formal atas sumber-sumber daya ekonomi setempat yang lebih banyak menguntungkan kekuatan metropolitan, dengan merugikan ekonomi setempat'. Dalam prakteknya "...pola hubungan ekonomi yang biasa dilakukan antara negara-negara sedang berkembang dan negara industri, menunjukkan kenyataan hanya ada sedikit pengolahan dilakukan didalam negeri penghasil bahan mineral, sehingga barang yang dikirim mempunyai nilai tambah yang tidak terlampau banyak. Negara-negara majulah yang akan mendapat keuntungan lebih besar dari industri pertambangan ini, karena merekalah (seperti negara-negara industri di Eropa, Amerika Utara, Jepang, NICs) yang menjadi penyerap lebih banyak ekspor produk mineral dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi bahan setengah jadi dan dilempar kembali ke kantong-kantong industri barang jadi yang mereka miliki di negara-negara berkembang (lewat program relokasi indsutri) dalam skema ekspor impor pula. Kalaupun industri pengolah kemudian dibangun di negara penghasil barang mentah, sehingga hasil produksi bisa lebih terserap ke dalam negeri, hal itu tidak berarti bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh industri pengolah tadi tertinggal untuk rakyat atau negara setempat. Karena pada umumnya negara-negara atau kelompok-kelompok perusahaan yang berkepentingan dengan hasil produk bahanmentah dan olahannya dari negara asing akan berusaha menjadi pemegang saham" (Elsam, 1998). Apropriasi (pengambilalihan) nilai lebih tidak hanya terjadi melalui lika-liku praktek ekonomi diatas, tetapijuga melalui nilai lebih yang hilang akibat tergusurnya dan terganggunya berbagai mata pencaharian rakyat seperti usaha pertanian, perkebunan dan perikanan rakyat. Lebih jauh lagi apropriasi terjadi bila lebih jauh dihitung nilai modal ekologis yang hilang akibat rusaknya fungsi-fungsi ekologis alam akibat proses destruktif industri pertambangan ini.

Sebuah penelitian Walhi dengan menggunakan data satelit indraja Landsat dengan lebar rekaman 185 km persegi, diperoleh temuan total wilayah darat yang tercemar tailing tahun 200 adalah 35.820 hektar. Adapun wilayah laut yang tercemar tailing mencapai luasan 84.158 ha. Dimana radius penyebaran tailing di laut dari muara Komoro adalahsejauh 6 km dari garis pantai menuju laut lepas, sementara dari muara Sungai Ajkwa Barat sejauh lebih kurang 10 km dari garis pantai menuju laut lepas. Sebaran tailing diperkirakanlebih luas lagi karena kenampakan citra yang terpotong. Hanya dari sisi pencemaran saja bisa diperkirakan begitu besarnya nilai kerugian ekologis akibat beroperasi PT Freeport Indonesia.

Kedigjayaan Koporasi Global
Pola imperialisme pertambangan ini hakekatnya berlaku juga dalam berbagai lapangan ekonomi dan bisnis. Bahkan berbagai data statistik menunjukkan semakin digjayanya korporasi global disatu sisi, sementara disisi lain secara relatif semakin melemahnya posisi ekonomi negara-negara. Hal ini sesungguhnya sejalan dengan samkin menguatnya hegemoni dan dominasi ideologi neo-liberal dan 'pasar bebas'. Ideologi ini intinya menyatakan berikan kebebasan sebesar-besarnya bagi korporasi untuk melakukan akumulasi keuntungan, dandari sana kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat akan tercapai. Untuk itu peran regulasi pemerintah atau negara-negara harus dikikis habis, bahkan termasuk regulasi demi alasan melindungi kepentingan umum atau kemaslahatan umum termasuk dalam soal perburuhan, hingga lingkungan hidup.

Fenomena makin menguatnya kekuasaan korporasi-korporasi global nampak dari statistik berikut. Sebanyak 200 korporasi besar papan atas dunia menguasai 28 persen aktivitas perekonomian global. Sementara itu 500 korporasi besar papan atas memegang 70 persen perdagangan dunia, dan 1000 korporasi papan atas mengontrol lebih dari 80persen hasil industri dunia (Robert Kaplan, The Atlantic Monthly 1997). Dimana kini kekuasaan korporasi global telah menyaingi kekuasaan ekonomi-ekonomi negara-negara. Dari 100 pelaku ekonomi terbesar dunia, 52 diantaranya adalah korporasi global (dimana 8 diantaranya adalah korporasi pertambangan). Sedangkan gabungan pendapatan Mitsubishi, General Motor dan Ford Motor lebih besar dibangdingkan gabungan GDP Denmark, Thailand, Turki, Afrika selatan, Arab Saudi, Norwegia, Finlandia, Malaysia, Chili dan Selandia Baru. Selain itu dapat dicatat bahwa pada tahun 1999, hasil penjualan dari lima korporasi papan atas (General Motors, Wal Mart, Exxon Mobil, Ford Motor dan Daimler Chrysler) lebih besar ketimbang GDP 182 perusahaan.

Menurut I Wibowo kehebatan dari MNC kiranya bukan hanya karena statistik ekonomi diatas. Yang menyebabkan MNC disegani oleh banyak pemerintah di dunia adalah bahwa MNC mampu mengadu negara satu dengan negara lain, politisi satu dengan politisi lain, memilih mana yang memberikan syarat-syarat yang lebih ringan. Jadi MNC itu bisa datang kepada kepala-kepala negara, lalu menawarkan lapangan pekerjaan, investasi dibidang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Jika sebuah negara menerapkan syarat-syarat ketat dan pajak yang tinggi, maka mereka akan mengancam negara tersebut akan keluar dari wilayahnya.

Ironi Demokrasi Kita
Seperti dikatakan Wibowo ironi demokrasi Indonesia terbesar kini adalah bahwa orang-orang yang tidak dipilih oleh rakyat (aktor kapitalisme global), malah mampu mendiktekan jenis kebijakan yang harus diambil oleh penguasa negara yang mendapat mandat dari rakyat. Kontroversi yang kini sedang hangat menyangkut lahirnya Perpu No.1/2004 yang mengijinkan pembukaan kawasan hutan lindung untuk penambangan terbuka oleh 13 perusahaan, hanyalah salah satu contoh kecil dari penetrasi kepentingan aktor kapitalisme global dan korporasi. Walaupun hanya salah satu contoh kecil namun mempunyai nilai material yang sangat besar. Menurut pengkajian Greennomics Indonesia berdasarkan metode perhitungan Benefit Transfer Perpu No. 1/2004 akan menyebabkan tidak kurang Rp. 70 triliun pertahun, Indonesia akan kehilangan nilai modal ekologi. Nilai ini setara hampir 70 kali lipat dari nilai penerimaan sektor tambang terhadap Anggaran Pendapatan dan BelanjaNegara (APBN) 2003, yang hanya bernilai Rp. 1,07 tiliun. Atau, lebih besar Rp 25 triliun dari nilai total secara nasional sumbangan sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 sekitar Rp. 45 triliun. Ironis memang sektor pertambangan besar diluar minyak dan gas hanya menumbang RP. 1,48 trilyun atau kurang dari dua persen nilai penerimaan negara di di luar pajak pada APBN 2003. Bandingkan dengan kemudaratan Perpu No. 1/2004 yang mengijinkan penambangan terbuka di hutan lindung kepada 13 perusahaan dengan potensi kerugian Rp. 70 trilyun pertahun.

Dalam skala yang lebih besar dalam makna dampaknya terhadap perjalanan negara ini penjarahan atas kekayaan alam, kedaulatan dan demokrasi kita terjadi melalui intervensi dalam penyusunan UU Sumber Daya Air, RUU Sumber Daya Genetika, Perubahan UU Agraria bahkan dalam amandemen UUD 1945. Dengan demikian sebenarnya narasi besar dari persoalan ini adalah imperialisme dan sistim politik-ekonomi yang korup termasuk militerisme di dalamnya yang melanggengkan penjajahan baru tersebut. Tidak bisa tidak yang kini yang dibutuhkan adalah persatuan rakyat, kuasa rakyat untuk bergerak melawan penjajahan gaya baru ini. Mari kita berjuang untuk proklamasi kedua!

silahkan baca lebih lanjut

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)