Dari Mana Capres dan Cawapres membiayai kampanyenya?
JEJAK REKAM PARA CAPRES DI BIDANG LINGKUNGAN & PILIHAN BAGI GERAKAN LINGKUNGAN DI INDONESIA
Oleh George Junus Aditjondro(1)
PENGANTAR:
Mana partai yang paling punya jejak rekam peduli lingkungan?
Mana capres & cawapres yang punya jejak rekam peduli lingkungan?
Dari mana para capres & cawapres membiayai kampanye mereka: dari hasil pembalakan liar, konsesi hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan pulp dan kertas, pertambangan batubara, atau mana dan dari siapa?
JEJAK REKAM JUSUF KALLA, SALAH SATU CAPRES PARTAI GOLKAR:
Kepentingan JK tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekspansi bisnis keluarga besarnya, karena Indonesia tidak punya peraturan yang melarang konflik kepentingan jabatan publik dengan kepentingan bisnis pribadi dan keluarga serta sahabatnya.
Ada empat kelompok perusahaan yang dikuasai oleh JK (kelompok Bukaka & Hadji Kalla), iparnya, Aksa Mahmud yang Wakil Ketua MPR-RI (kelompok Bosowa), dan adiknya, Halim Kalla (kelompok Intim). Dengan demikian, ekspansi keempat kelompok itu tidak terlepas dari peranan JK dan Aksa Mahmud di arena ekonomi dan politik.
selanjutnya
RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 April 2009
Selasa, 10 Juni 2008
Krisis Kedaulatan dalam Perspektif Politik Hijau
Oleh Khalisah Khalid, Biro Politik dan Ekonomi Pimpinan Pusat Sarekat Hijau Indonesia
10 Juni 2008/KORAN TEMPO
Hari Lingkungan pada 5 Juni 2008 menjadi sebuah momen penting untuk melihat lebih jauh arah gerakan lingkungan di Indonesia, sebagai sebuah gerakan perlawanan yang lahir dari kesadaran akan kondisi pembangunan yang tidak adil, khususnya bagi negara yang berada di belahan selatan, belahan bumi yang selalu menjadi sumber eksploitasi sumber daya alamnya.
Jika dicermati, ada tiga isu utama yang selalu disampaikan oleh pengurus negara tentang krisis yang dialami oleh rakyat. Dalam membaca sebuah krisis, pengurus negara mampu melihat peta persoalan yang dialami oleh rakyatnya, antara lain krisis air, krisis pangan, dan krisis energi. Sayangnya, road map yang dibuat sebagai sebuah solusi atas krisis yang dihadapi tidak ada relevansinya dengan krisis yang dialami oleh rakyat. Semua krisis dijawab dengan peta jalan memberikan alternatifnya dan mekanismenya kepada pasar, entah itu melalui regulasi, privatisasi, maupun liberalisasi yang semuanya dimainkan dalam sebuah alunan orkestra penjajahan yang melemahkan negara di dalam menjalankan fungsi dan perannya untuk menjamin pemenuhan hak-hak dasar rakyatnya.
Bagi Cecil Rhodes (1852-1902), kolonialisme adalah penemuan tanah baru yang dari tanah tersebut dapat dengan mudah didapatkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) yang dapat dieksploitasi dengan menggunakan buruh murah dari penduduk pribumi. Sumber daya alam sesungguhnya selalu menjadi alasan utama bagi kolonial di mana pun untuk mendominasi dan menanamkan kekuasaannya. Dari sini saja jelas digambarkan bahwa penguasaan negara (kolonialisasi) terkait erat dengan sumber daya alam sebuah negara.
Sumber daya alam berupa bahan mentah yang dikeruk menjadi sebuah komoditas di dalam kerangka pemenuhan konsumsi bagi negara-negara maju. Kebutuhan tersebut bukan ditentukan oleh konsumennya, melainkan oleh sebuah sistem ekonomi kapitalis yang menjual jargon globalisasi dan pasar bebas. Sementara negara yang ditempatkan sebagai penghasil sumber daya alamnya justru kehilangan akses atas sumber dayanya.
Inilah yang kemudian dinamakan dengan krisis kedaulatan yang disebabkan oleh adanya dominasi ekonomi global yang dibangun oleh sebuah sistem kapitalis, yang penguasa modalnya dalam hal ini TNC's/MNC's, lembaga keuangan internasional maupun elite oligarki di Indonesia, melumpuhkan kedaulatan negara untuk mampu menjalankan mandat konstitusinya untuk menjamin pemenuhan terhadap hak-hak dasar rakyatnya. Dominasi atas kekuatan ekonomi terhadap pengelolaan sumber daya alam menempatkan modal sebagai lokomotif dari seluruh cerita eksploitasi sumber daya alam.
Keadaan ini lebih lanjut telah menghancurkan nilai-nilai kedaulatan dan keadilan intra dan antargenerasi yang selanjutnya telah menciptakan pemiskinan rakyat. Kemerosotan kedaulatan ini ditandai dengan semakin hilangnya hak menentukan nasib sendiri, di tataran negara hingga di tataran satuan-satuan politik yang terkecil. Kemudian kemerosotan nilai keadilan tampak dari adanya ketimpangan distribusi manfaat, bahkan hilangnya hak-hak rakyat atas tanah, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, kekuatan elite politik dan ekonomi yang mewarisi watak penguasa sebelumnya telah berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya kembali dalam ruang- ruang politik.
Ketimpangan yang dialami bangsa ini juga merupakan potret global bahwa terjadi ketimpangan dalam kesejahteraan dan penguasaan asset antara segelintir orang dengan mayoritas rakyat di dunia. Tingkat kesejahteraan yang tinggi yang dinikmati oleh segelintir orang ini dapat berlangsung, karena pengisapan terhadap kekayaan alam dan modal sosial di negara-negara dunia ketiga atau negara yang lebih miskin, serta terhadap kelompok yang lebih rentan pada umumnya.
Di sisi lain gaya hidup, pola konsumsi, dan tingkat kesejahteraan segelintir orang ini bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan hidup di negara-negara yang menjadi sumber pengisapan karena eksploitasi yang membabi buta. Pola konsumsi segelintir kelompok secara berlebih telah menyebabkan munculnya ancaman kerusakan lingkungan hidup yang berdimensi global. Ini sekaligus kritik terhadap pandangan yang menyebutkan bahwa kelebihan populasi penduduk berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam di negara miskin yang jumlah penduduknya besar seperti Indonesia.
Krisis lingkungan
Paradigma pembangunan yang mengacu pada nilai-nilai yang dibangun oleh sistem ekonomi global selalu memiliki watak yang eksploitatif, pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan sektor tertentu yang ekstraktif, seperti pertambangan dan kehutanan yang berkonsekuensi pada perubahan fungsi bentang alam. Atau, seperti perkebunan dan pembangunan infrastruktur yang menyingkirkan kebutuhan lain seperti lahan untuk penyediaan lahan pangan, dan akibat lebih lanjut adalah menghasilkan pengungsi ekologis dan pengungsi pembangunan.
Jon Schubart menyatakan bahwa ekologi politik mencoba untuk menelusuri empat hal, yakni (a) bagaimana struktur sosial dan alam saling menentukan, dan bagaimana keduanya membentuk akses terhadap sumber daya alam, (b) bagaimana konsep alam dan masyarakat yang telah dikonstruksi menentukan interaksi manusia dengan lingkungan, (c) koneksi antara akses terhadap dan kontrol atas sumber daya dan perubahan lingkungan, (d) hasil sosial dari perubahan lingkungan.
Gerakan politik lingkungan di Indonesia harus mampu menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak sesederhana yang dibayangkan, tidak hanya bicara soal sains dan teknologi. Bicara soal lingkungan artinya kita bicara tentang persoalan yang lebih mendasar tentang sosial-politik, dan ekonomi-politik, bahwa saat ini ada kondisi yang tidak adil atas nama pembangunan ekonomi global, yang menghasilkan perubahan lingkungan yang tidak adil, khususnya bagi negara dunia ketiga. Konstruksi yang ingin kita bangun ulang tentu saja dengan fondasi yang melihat kelas siapa yang hari ini paling dimiskinkan, disingkirkan, dihilangkan hak-hak dasarnya.
Gerakan politik lingkungan di Indonesia saat ini harus memiliki kemampuan untuk memperbesar dan memperluas gerakannya, dan itu hanya bisa dilakukan jika subyek dari gerakan politik lingkungan itu adalah basis massa yang memiliki garis ideologi yang berpikir bahwa perjuangan penegakan keadilan ekologi bukan sekadar membicarakan soal degradasi lingkungan, tetapi juga membicarakan soal keberlanjutan generasi yang akan datang. Bicara soal gerakan lingkungan juga tidak terlepas dari bicara soal bagaimana mengembalikan kedaulatan rakyat terhadap hakhak dasarnya yang dibangun dengan semangat kolektivitas.
Jika Indonesia ingin keluar dari krisis lingkungan dan krisis kedaulatan, maka pada seluruh cerita model pengelolaan sumber daya alam di Indonesia harusnya menggunakan tiga hal mendasar dan semuanya harus didefinisikan menurut korban terbesar dan siapa yang paling tersubordinasi dalam pembangunan. Tiga hal mendasar tersebut adalah bagaimana jaminan keselamatan rakyatnya, bagaimana jaminan atas kesejahteraan dan produktivitasnya, dan bagaimana jaminan atas keberlanjutan dari fungsi pelayanan alamnya. Semuanya harus menjadi pilar utama dalam proses pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
10 Juni 2008/KORAN TEMPO
Hari Lingkungan pada 5 Juni 2008 menjadi sebuah momen penting untuk melihat lebih jauh arah gerakan lingkungan di Indonesia, sebagai sebuah gerakan perlawanan yang lahir dari kesadaran akan kondisi pembangunan yang tidak adil, khususnya bagi negara yang berada di belahan selatan, belahan bumi yang selalu menjadi sumber eksploitasi sumber daya alamnya.
Jika dicermati, ada tiga isu utama yang selalu disampaikan oleh pengurus negara tentang krisis yang dialami oleh rakyat. Dalam membaca sebuah krisis, pengurus negara mampu melihat peta persoalan yang dialami oleh rakyatnya, antara lain krisis air, krisis pangan, dan krisis energi. Sayangnya, road map yang dibuat sebagai sebuah solusi atas krisis yang dihadapi tidak ada relevansinya dengan krisis yang dialami oleh rakyat. Semua krisis dijawab dengan peta jalan memberikan alternatifnya dan mekanismenya kepada pasar, entah itu melalui regulasi, privatisasi, maupun liberalisasi yang semuanya dimainkan dalam sebuah alunan orkestra penjajahan yang melemahkan negara di dalam menjalankan fungsi dan perannya untuk menjamin pemenuhan hak-hak dasar rakyatnya.
Bagi Cecil Rhodes (1852-1902), kolonialisme adalah penemuan tanah baru yang dari tanah tersebut dapat dengan mudah didapatkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) yang dapat dieksploitasi dengan menggunakan buruh murah dari penduduk pribumi. Sumber daya alam sesungguhnya selalu menjadi alasan utama bagi kolonial di mana pun untuk mendominasi dan menanamkan kekuasaannya. Dari sini saja jelas digambarkan bahwa penguasaan negara (kolonialisasi) terkait erat dengan sumber daya alam sebuah negara.
Sumber daya alam berupa bahan mentah yang dikeruk menjadi sebuah komoditas di dalam kerangka pemenuhan konsumsi bagi negara-negara maju. Kebutuhan tersebut bukan ditentukan oleh konsumennya, melainkan oleh sebuah sistem ekonomi kapitalis yang menjual jargon globalisasi dan pasar bebas. Sementara negara yang ditempatkan sebagai penghasil sumber daya alamnya justru kehilangan akses atas sumber dayanya.
Inilah yang kemudian dinamakan dengan krisis kedaulatan yang disebabkan oleh adanya dominasi ekonomi global yang dibangun oleh sebuah sistem kapitalis, yang penguasa modalnya dalam hal ini TNC's/MNC's, lembaga keuangan internasional maupun elite oligarki di Indonesia, melumpuhkan kedaulatan negara untuk mampu menjalankan mandat konstitusinya untuk menjamin pemenuhan terhadap hak-hak dasar rakyatnya. Dominasi atas kekuatan ekonomi terhadap pengelolaan sumber daya alam menempatkan modal sebagai lokomotif dari seluruh cerita eksploitasi sumber daya alam.
Keadaan ini lebih lanjut telah menghancurkan nilai-nilai kedaulatan dan keadilan intra dan antargenerasi yang selanjutnya telah menciptakan pemiskinan rakyat. Kemerosotan kedaulatan ini ditandai dengan semakin hilangnya hak menentukan nasib sendiri, di tataran negara hingga di tataran satuan-satuan politik yang terkecil. Kemudian kemerosotan nilai keadilan tampak dari adanya ketimpangan distribusi manfaat, bahkan hilangnya hak-hak rakyat atas tanah, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, kekuatan elite politik dan ekonomi yang mewarisi watak penguasa sebelumnya telah berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya kembali dalam ruang- ruang politik.
Ketimpangan yang dialami bangsa ini juga merupakan potret global bahwa terjadi ketimpangan dalam kesejahteraan dan penguasaan asset antara segelintir orang dengan mayoritas rakyat di dunia. Tingkat kesejahteraan yang tinggi yang dinikmati oleh segelintir orang ini dapat berlangsung, karena pengisapan terhadap kekayaan alam dan modal sosial di negara-negara dunia ketiga atau negara yang lebih miskin, serta terhadap kelompok yang lebih rentan pada umumnya.
Di sisi lain gaya hidup, pola konsumsi, dan tingkat kesejahteraan segelintir orang ini bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan hidup di negara-negara yang menjadi sumber pengisapan karena eksploitasi yang membabi buta. Pola konsumsi segelintir kelompok secara berlebih telah menyebabkan munculnya ancaman kerusakan lingkungan hidup yang berdimensi global. Ini sekaligus kritik terhadap pandangan yang menyebutkan bahwa kelebihan populasi penduduk berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam di negara miskin yang jumlah penduduknya besar seperti Indonesia.
Krisis lingkungan
Paradigma pembangunan yang mengacu pada nilai-nilai yang dibangun oleh sistem ekonomi global selalu memiliki watak yang eksploitatif, pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan sektor tertentu yang ekstraktif, seperti pertambangan dan kehutanan yang berkonsekuensi pada perubahan fungsi bentang alam. Atau, seperti perkebunan dan pembangunan infrastruktur yang menyingkirkan kebutuhan lain seperti lahan untuk penyediaan lahan pangan, dan akibat lebih lanjut adalah menghasilkan pengungsi ekologis dan pengungsi pembangunan.
Jon Schubart menyatakan bahwa ekologi politik mencoba untuk menelusuri empat hal, yakni (a) bagaimana struktur sosial dan alam saling menentukan, dan bagaimana keduanya membentuk akses terhadap sumber daya alam, (b) bagaimana konsep alam dan masyarakat yang telah dikonstruksi menentukan interaksi manusia dengan lingkungan, (c) koneksi antara akses terhadap dan kontrol atas sumber daya dan perubahan lingkungan, (d) hasil sosial dari perubahan lingkungan.
Gerakan politik lingkungan di Indonesia harus mampu menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak sesederhana yang dibayangkan, tidak hanya bicara soal sains dan teknologi. Bicara soal lingkungan artinya kita bicara tentang persoalan yang lebih mendasar tentang sosial-politik, dan ekonomi-politik, bahwa saat ini ada kondisi yang tidak adil atas nama pembangunan ekonomi global, yang menghasilkan perubahan lingkungan yang tidak adil, khususnya bagi negara dunia ketiga. Konstruksi yang ingin kita bangun ulang tentu saja dengan fondasi yang melihat kelas siapa yang hari ini paling dimiskinkan, disingkirkan, dihilangkan hak-hak dasarnya.
Gerakan politik lingkungan di Indonesia saat ini harus memiliki kemampuan untuk memperbesar dan memperluas gerakannya, dan itu hanya bisa dilakukan jika subyek dari gerakan politik lingkungan itu adalah basis massa yang memiliki garis ideologi yang berpikir bahwa perjuangan penegakan keadilan ekologi bukan sekadar membicarakan soal degradasi lingkungan, tetapi juga membicarakan soal keberlanjutan generasi yang akan datang. Bicara soal gerakan lingkungan juga tidak terlepas dari bicara soal bagaimana mengembalikan kedaulatan rakyat terhadap hakhak dasarnya yang dibangun dengan semangat kolektivitas.
Jika Indonesia ingin keluar dari krisis lingkungan dan krisis kedaulatan, maka pada seluruh cerita model pengelolaan sumber daya alam di Indonesia harusnya menggunakan tiga hal mendasar dan semuanya harus didefinisikan menurut korban terbesar dan siapa yang paling tersubordinasi dalam pembangunan. Tiga hal mendasar tersebut adalah bagaimana jaminan keselamatan rakyatnya, bagaimana jaminan atas kesejahteraan dan produktivitasnya, dan bagaimana jaminan atas keberlanjutan dari fungsi pelayanan alamnya. Semuanya harus menjadi pilar utama dalam proses pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
Selasa, 08 April 2008
SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN
Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
Apakah anda pernah berpikir, perjuangan kita adalah medan perang yang tidak imbang. Mensiasati situasi ini pernahkah anda berpikir untuk membidik ke titik-titik yang mematikan musuh (sistim dan struktur yang menindas dan hegemonik). Entah siapa Ted Kaczynski yang menulis artikel ini, yang pasti ocehannya bisa merangsang kita untuk berpikir ulang dan mengasah terus menerus kepekaan kita dalam perang ini........
salam hangat untuk green warriors
SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN
Oleh : Ted Kaczynski
Sumber : http://kerahputih.net/Material/artikel/Ted_Kaczynski_pg.html
1. Tujuan artikel ini
Tujuan dari artikel ini adalah untuk menunjukkan sebuah prinsip sederhana dari konflik manusia, sebuah prinsip yang mana para oponen dari sistem tekno-industrial ini dilihat secara mendasar. Prinsipnya adalah bahwa dalam setiap bentuk konflik, apabila engkau ingin memenangkannya, engkau harus menyerang musuhmu di tempat yang dapat membuatnya sakit.
Aku harus menjelaskan bahwa saat aku berbicara tentang “menyerang di tempat yang mematikan”, aku tidak secara khusus mengartikannya sebagai sebuah serangan-serangan fisikal atau berbagai bentuk kekerasan fisikal. Sebagai contohnya, dalam perdebatan verbal “menyerang di tempat yang mematikan” akan dapat berarti melancarkan argumen-argumen menyerang posisi terlemah dari oponenmu. Dalam sebuah pemilihan presidental “menyerang di tempat yang mematikan” akan berarti berhasil memenangkan negara dari oponen-oponenmu dengan mendapatkan suara terbanyak. Tetapi tetap saja, dalam mendiskusikan prinsip ini aku akan menggunakan analogi pertempuran fisikal, sebab hal tersebut jelas dan gamblang.
Apabila seseorang memukulmu, engkau akan mempertahankan dirimu dengan memukulnya kembali di lengannya, tetapi engkau tak dapat melukai seseorang tersebut dengan cara tersebut. Agar dapat memenangkan perkelahian, engkau harus menyerangnya di tempat yang dapat menimbulkan rasa sakit. Artinya, engkau harus mampu melampaui kepalannya dan memukul bagian-bagian yang paling lemah dan sensitif dari tubuh seseorang tersebut. Anggap saja sebuah bulldozer milik sebuah perusahaan penebangan telah meruntuhkan pepohonan dekat rumahmu dan engkau ingin menghentikannya. Pisau besar dari bulldozer itulah yang telah merusak bumi dan mencabut pepohonan, tetapi adalah sesuatu yang membuang waktu apabila merusak pisau besar tersebut dengan menggunakan gada. Apabila engkau bisa meluangkan waktu yang cukup lama, kerja keras seharian memukuli pisau besar tersebut, mungkin engkau memang akan berhasil cukup membuatnya rusak sehingga pisau besar tersebut tak dapat digunakan lagi. Tetapi, diperbandingkan dengan bulldozer secara keseluruhannya, pisau besar itu cenderung murah dan dapat dengan mudah diganti. Pisau besar itu hanya “kepalan” yang digunakan bulldozer untuk menyerang bumi. Untuk mengalahkan mesin ini engkau harus melampaui “kepalan” tersebut dan menyerang bagian-bagian vital dari bulldozer. Mesin, misalnya, dapat dihancurkan dalam waktu singkat dan mudah dengan cara-cara yang sudah banyak dikenal di kalangan para radikal.
Dalam poin ini aku harus menjelaskan bahwa aku tidak merekomendasikan siapapun untuk merusak bulldozer (kecuali bulldozer tersebut adalah miliknya sendiri) ataupun segala dalam artikel ini diinterpertasikan sebagai sebuah perekomendasian aktivitas-aktivitas ilegal dalam berbagai bentuknya. Aku adalah seorang narapidana, dan apabila aku mendorong aktivitas ilegal, artikel ini tak akan diperbolehkan untuk keluar dari penjara. Aku menggunakan bulldozer sebagai analogi karena hal tersebut jelas dan gamblang serta akan diapresiasi oleh para radikal.
2. Teknologi adalah target
Telah banyak diketahui bahwa “variabel-variabel dasar yang menentukan proses sejarah kontemporer dihadirkan oleh perkembangan teknologi” (Celso Furtado). Teknologi, di atas segalanya, bertanggung jawab atas kondisi-kondisi dunia saat ini dan akan mengontrol perkembangannya di masa depan. Dengan demikian, “bulldozer” yang harus kita hancurkan adalah teknologi modern itu sendiri. Banyak dari para radikal yang menyadari hal ini dan kemudian menyadari bahwa tugas mereka adalah mengeliminasi seluruh sistem tekno-industrial. Tetapi sayangnya mereka tidak cukup memperhatikan kebutuhan untuk menyerang sistem ini di tempat yang paling mematikan.
Menghancurkan McDonald’s atau Starbuck jelas tak bermakna apa-apa. Lagipula aku juga tidak peduli pada McDonald’s ataupun Starbuck. Aku tidak peduli apakah seseorang menghancurkannya atau tidak. Hal tersebut bukanlah sebuah aktivitas revolusioner. Bahkan apabila semua rantai makanan cepat saji disingkirkan, sebagai hasilnya sistem tekno-industrial ini hanya akan sedikit menderita kerusakan minimal, yang dengannya dapat dengan mudah tetap bertahan hidup tanpa rantai makanan cepat saji. Saat engkau menyerang McDonald’s atau Starbuck, engkau tidak menyerang di tempat yang mematikan.
Beberapa bulan lalu aku menerima sebuah surat dari seorang anak muda di Denmark yang percaya bahwa sistem tekno-industrial harus dieliminasi karena, sebagaimana yang ia katakan, “apa yang akan terjadi apabila kita terus menerus hidup dengan cara seperti ini?” Secara khusus, bagaimanapun juga, bentuk aktivitas “revolusioner” nya adalah menggasak peternakan-peternak an penghasil bulu binatang. Sebagai sebuah cara untuk melemahkan sistem tekno-industrial, aktivitas tersebut benar-benar tidak berguna. Bahkan apabila para pembebas binatang tersebut berhasil sepenuhnya dalam mengeliminasi industri bulu binatang, mereka tidak akan menimbulkan kerusakan apapun bagi sistem ini, karena sistem ini akan dapat berjalan terus dengan mulus tanpa bulu binatang.
Aku setuju bahwa mengurung binatang-binatang liar di kandang adalah sesuatu yang tak dapat ditoleransi, dan mengakhiri praktek-praktek demikian adalah sebuah tindakan yang mulia. Tetapi ada banyak sekali tindakan yang mulia, seperti mencegah kecelakaan lalu lintas, menyediakan tempat bernaung bagi para gelandangan, melakukan daur ulang, atau menolong orang tua menyeberang jalan. Tetapi tak seorangpun kecuali seseorang terlalu bodoh, menganggap hal-hal di atas sebagai sebuah aktivitas revolusioner, ataupun membayangkan bahwa hal-hal tersebut dilakukan untuk melemahkan sistem ini.
3. Industri penebangan kayu adalah sebuah isu sampingan
Dalam mengambil contoh lain, tak seorangpun yang waras percaya bahwa segala sesuatu yang bersifat liar dapat bertahan hidup lebih lama lagi apabila sistem tekno-industrial terus eksis. Banyak dari para environmentalis radikal setuju bahwa ini adalah sebuah kasus dan kemudian mengharapkan sistem ini kolaps. Tetapi semua praktek yang mereka lakukan adalah menyerang industri penebangan kayu.
Aku benar-benar tidak keberatan atas serangan-serangan mereka pada industri penebangan kayu. Pada faktanya, hal tersebut adalah sebuah isu yang dekat dengan hatiku dan aku merasa senang dengan setiap keberhasilan para radikal melawan industri penebangan kayu. Sebagai tambahan, bagi alasan-alasan yang perlu kujelaskan di sini, aku berpikir bahwa oposisi terhadap inudstri penebangan kayu seharusnya menjadi sebuah komponen dari upaya-upaya pelenyapan sistem ini.
Dengan sendirinya, menyerang industri penebangan kayu bukanlah sebuah cara yang efektif dalam usaha melawan sistem, kalaupun terjadi even yang diharapkan di mana para radikal berhasil menghentikan seluruh penebangan hutan di manapun di dunia ini, hal tersebut tidak akan merontokkan sistem ini. Dan hal tersebut tidak dapat menyelamatkan alam liar secara permanen. Cepat atau lambat iklim politik akan berubah dan penebangan akan kembali terjadi. Bahkan apabila penebangan tidak pernah terjadi lagi, akan ada kejadian-kejadian lain yang mana dengannya alam liar akan kembali dihancurkan, atau apabila tidak dihancurkan paling tidak akan dijinakkan dan didomestikasi. Penambangan dan eksplorasi mineral, hujan asam, perubahan iklim, dan kepunahan spesies, menghancurkan alam liar; alam liar dijinakkan dan didomestikasi melalui rekreasi, studi ilmiah dan manajemen sumber daya, termasuk di antaranya penelusuran jejak binatang secara elektrik, budidaya pengembangbiakkan ikan, dan penanaman pohon-pohon yang direkayasa secara genetik.
Alam liar dapat diselamatkan secara permanen hanya dengan cara mengeliminasi sistem tekno-industrial, dan engkau tak dapat mengeliminasi sistem tersebut dengan cara menyerang industri penebangan kayu. Sistem ini akan dapat dengan mudah bertahan hidup dari kematian industri penebangan kayu karena produk-produk kayu, walaupun sangat berguna bagi sistem ini, apabila dibutuhkan dapat diganti dengan material-material lain. Konsekuensinya, saat engkau menyerang industri penebangan kayu, engkau tidak menyerang di tempat yang dapat menyakitinya. Industri penebangan kayu hanyalah “kepalan” (atau salah satu kepalan) yang digunakan sistem untuk menghancurkan alam liar, dan, sebagaimana juga dalam pertandingan tinju, engkau tak dapat menang dengan cara menyerang kepalan musuh. Engkau harus berusaha melampaui kepalan tersebut dan menyerang organ-organ sistem yang paling vital dan sensitif. Secara legal, tentu saja, dengan melakukan aksi protes yang damai.
4. Mengapa sistem ini tegar
Sistem tekno-industrial benar-benar tegar karena ia memiliki apa yang disebut sebagai struktur “demokratis” yang menghasilkan fleksibilitas. Karena sistem diktatorial cenderung kaku, tensi-tensi sosial dan resistansi dapat dibangun di dalamnya hingga pada titik yang merusak dan memperlemah sistem, dan mungkin mengarah para revolusi. Tetapi dalam sebuah sistem “demokratis”, saat tensi sosial dan resistansi yang dibangun mulai membahayakan, sistem ini akan cukup dapat memberikan respon, cukup mengkompromikannya, sehingga akan menurunkan tensi ke tingkat yang aman.
Selama tahun 1960-an, untuk pertama kalinya orang-orang mulai sadar bahwa polusi lingkungan adalah sebuah masalah yang serius, sebagian besarnya adalah karena kotoran yang terlihat dan berbau dalam udara di atas kota-kota besar mulai membuat orang-orang secara fisik tak merasa nyaman. Ada cukup banyak protes yang timbul sehingga Agensi Perlindungan Lingkungan dibentuk dan beberapa tindakan lain diambil untuk mengatasi masalah. Tentu saja, kita semua tahu bahwa masalah-masalah polusi kita masih sangat jauh dari penyelesaian. Tetapi telah cukup tindakan dilakukan sehingga keluhan-keluhan publik dapat diredam dan tekanan pada sistem semakin menyurut dalam tahun-tahun berikutnya.
Dengan demikian, menyerang sistem tersebut seperti memukul sebuah karet. Sebuah pukulan dengan gada akan dapat membuat besi padat berkeping-keping, karena besi padat sifatnya kaku dan karenanya rapuh. Tetapi engkau dapat memukul sebuah karet tanpa merusaknya karena sifatnya yang fleksibel: ia mengatasi protes, cukup lama hingga protes tersebut kehilangan kekuatan dan momentumnya. Kemudian sistem tersebut memantul kembali. Maka, dalam upaya untuk menyerang sistem di tempat yang dapat mematikannya, engkau harus memilih isu-isu yang tak dapat diatasi oleh sistem ini, yang akan menghabisinya. Dan yang dibutuhkan bukanlah kompromi dengan sistem, melainkan sebuah perjuangan hidup mati.
6. Para radikal harus menyerang sistem ini pada titik-titik yang menentukan
Untuk dapat secara efektif bertujuan mengeliminasi sistem tekno-industrial, para revolusioner harus menyerang sistem ini pada titik-titik yang mana dalam serangan tersebut, musuh tak dibiarkan memiliki kesempatan untuk pulih. Mereka harus menyerang organ-organ vital sistem ini. Tentu saja, saat aku menggunakan kata “serang” aku tidak mengartikannya sebagai serangan fisikal melainkan dengan bentuk protes dan resistansi legal.
Beberapa contoh organ-organ vital dari sistem ini adalah:
1. Industri tenaga listrik. Sistem ini benar-benar tergantung pada jaringan tenaga listrik.
2. Industri komunikasi. Tanpa komunikasi yang gencar, sebagaimana dengan telefon, radio, televisi, e-mail dan semacamnya, sistem ini tak dapat bertahan hidup.
3. Industri komputer. Kita semua tahu bahwa tanpa komputer sistem ini akan kolaps dengan cepat.
4. Industri propaganda. Industri propaganda meliputi industri hiburan, sistem edukasi, jurnalisme, advertising, public-relation, dan berbagai macam politik serta industri kesehatan mental. Sistem ini tak dapat berfungsi kecuali orang-orang di dalamnya cukup jinak dan mampu menyesuaikan diri serta memiliki perilaku-perilaku yang harus dimiliki oleh mereka sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem ini. Fungsi dari industri propaganda adalah untuk melatih orang-orang sebuah jenis pemikiran dan kebiasaan.
5. Industri bioteknologi. Sistem ini memang belum secara fisik tergantung pada bioteknologi yang maju (sejauh yang aku tahu). Tapi tanpa kecuali, sistem ini tak dapat diberi keleluasaan dalam berjalan dengan isu bioteknologi, yang merupakan isu kritis sistem ini, sebagaimana yang akan kuperdebatkan setelah ini.
Sekali lagi: saat engkau menyerang organ-organ vital sistem ini, sangatlah penting untuk tidak menyerang mereka dalam konteks nilai-nilai yang mereka anut sendiri, melainkan dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dalam pandangan sistem ini. Misalnya, apabila engkau menyerang industri tenaga listrik dalam konteks bahwa industri tersebut menghasilkan polusi bagi lingkungan, sistem ini akan dengan mudah meredam protes dengan mengembangkan metoda-metoda yang lebih bersih dalam menghasilkan sumber daya listrik. Apabila memang sudah terlalu buruk situasinya, sistem ini akan dapat beralih sepenuhnya pada tenaga angin dan solar. Memang sangat baik upaya mereduksi kerusakan lingkungan, tetapi hal tersebut tidak akan mengakhiri sistem tekno-indutrial. Hal tersebut juga tidak merepresentasikan sebuah kemenangan atas nilai-nilai fundamental sistem ini.
Untuk menyelesaikan segala urusan dalam penyerangan terhadap sistem, engkau harus menyerang generator-generator pembangkit tenaga listrik sebagai sesuatu yang prinsipil, berdasarkan argumen bahwa ketergantungan pada listrik telah membawa orang-orang menjadi tergantung pada sistem ini. Inilah landasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sistem ini.
7. Bioteknologi mungkin dapat menjadi sasaran terbaik bagi penyerangan politis
Mungkin sasaran paling menjanjikan bagi penyerangan politis adalah industri bioteknologi. Walaupun secara umum berbagai revolusi diletupkan oleh sekelompok minoritas, sangatlah berguna untuk meraih dukungan tertentu, simpati, atau setidaknya persetujuan dari populasi secara umum.
Gol-gol dari aksi yang politis adalah untuk mendapatkan dukungan atau persetujuan semacam itu. Apabila engkau mengkonsentrasikan penyerangan politismu, misalnya pada industri tenaga listrik, hal tersebut akan benar-benar sulit dalam mendapatkan dukungan di luar minoritas radikal, karena sebagian besar orang menolak mengubah cara hidup mereka, khususnya perubahan-perubahan yang menyulitkan mereka.
Atas alasan ini, beberapa akan rela untuk meninggalkan ketergantungannya pada listrik. Tetapi orang-orang belum merasa bahwa diri mereka tergantung pada bioteknologi yang maju sebagaimana mereka tergantung pada listrik. Mengeliminasi bioteknologi tidak akan mengubah hidup mereka secara radikal. Secara kontras, hal tersebut mungkin akan dapat memperlihatkan pada orang-orang bahwa kesinambungan pengembangan bioteknologi akan mentransformasikan cara hidup mereka dan menyapu bersih nilai-nilai manusia selama ini. Dengan demikian, dalam menantang bioteknologi, para radikal harus mampu memobilisir dengan cara mereka sendiri yang merupakan resistansi alamiah manusia terhadap perubahan.
Dan bioteknologi adalah sebuah isu yang mana sistem ini tak akan dapat menanggung kehilangannya. Ia juga adalah sebuah isu yang mana sistem ini harus memperjuangkannya hingga akhir, yang mana hal ini jelas adalah sesuatu yang kita butuhkan. Tetapi—diulangi sekali lagi—amatlah esensial untuk tidak menyerang bioteknologi dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini sendiri, melainkan dalam konteks nilai-nilai yang tidak sesuai bagi sistem ini.
Misalnya, apabila engkau menyerang bioteknologi, khususnya dengan berlandaskan pada alasan bahwa hal tersebut akan merusak lingkungan, atau bahwa pangan-pangan yang dimodifikasi secara genetik akan dapat merusak kesehatan, maka sistem ini dapat dan akan menyerap seranganmu dengan memberi celah untuk kompromi—dengan kata lain, dengan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat pada riset genetik dan percobaan yang lebih teliti serta memberlakukan regulasi bagi tanaman-tanaman yang dimodifikasi secara genetik. Kegelisahan orang-orang lantas akan menyurut dan protes menjadi layu.
8. Semua bioteknologi harus diserang sebagai sebuah urusan prinsipil
Maka, dibandingkan memprotes satu atau lain hal mengenai konsekuensi negatif dari bioteknologi, engkau harus menyerang seluruh bioteknologi modern secara prinsipil, dalam landasan seperti (a) bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang merendahkan seluruh makhluk hidup; (b) bahwa hal tersebut memberi terlalu banyak kekuasaan ke tangan sistem ini; (c) bahwa hal tersebut secara radikal akan mentransformasikan nilai-nilai fundamental manusia yang telah eksis selama ribuan tahun; dan berbagai landasan lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sistem ini.
Dalam merespon serangan jenis ini, sistem ini akan dipaksa untuk berdiri dan berjuang. Ia tak dapat menyerap seranganmu dengan membawanya pada isu yang lebih besar, karena bioteknologi berada di pusat seluruh perusahaan yang berteknologi maju, dan karena saat mundur sistem ini tak akan hanya membuat langkah mundur secara taktis, ia akan terpaksa menerima kekalahan strategis besar dalam kode etiknya sendiri. Nilai-nilai tersebut akan dikuburkan dan pintu akan terbuka bagi serangan-serangan politis lebih lanjut, yang akan menebang fondasi-fondasi sistem ini.
Sekarang memang benar bahwa Dewan Representatif AS baru-baru ini melarang kloning manusia, dan setidaknya beberapa anggota kongres bahkan memberikan beberapa alasan yang tepat mengenainya. Dari yang kubaca, alasan-alasan tersebut berada dalam konteks religius, alasan-alasan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diterima secara teknologis. Dan hal seperti itulah yang patut diperhitungkan.
Dengan demikian, keputusan para anggota kongres atas kloning manusia merupakan sebuah kekalahan sejati bagi sistem ini. Tetapi hal tersebut hanyalah sebuah kekalahan yang sangat sangat kecil, karena ruang lingkup pelarangannya masih sangat sempit—hanya sebagian kecil dari bioteknologi yang terpengaruh—dan lagipula karena dalam jangka waktu dekat di masa depan, kloning manusia secara praktis masih kecil kegunaannya bagi sistem ini. Tetapi aksi dari Dewan Representatif telah menunjukkan bahwa hal ini dapat menjadi sebuah titik lemah sistem ini, dan sebuah serangan yang lebih luas terhadap seluruh bioteknologi mungkin dapat menimbulkan kerusakan serius bagi sistem dan nilai-nilai yang dianutnya.
9. Kaum radikal belum menyerang biotek secara efektif
Beberapa dari kaum radikal memang menyerang bioteknologi, baik secara politis maupun secara fisikal, tetapi sejauh yang kuketahui mereka menjelaskan sikap oposisi mereka terhadap biotek dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini. Keluhan-keluhan mereka adalah resiko kerusakan lingkungan dan dampak buruknya bagi kesehatan. Dan mereka tidak menyerang industri biotek di tempat yang mematikan.
Menggunakan analogi perkelahian fisik sekali lagi, anggap engkau harus mempertahankan dirimu dari serangan gurita raksasa. Engkau tak akan mampu menyerang balik secara efektif dengan memutus tentakelnya. Engkau harus menyerang kepalanya. Dari apa yang kubaca tentang aktivitas-aktivitas mereka, para radikal yang bekerja melawan bioteknologi melakukan tak lebih dari upaya untuk memutuskan tentakel sang gurita. Mereka berusaha meyakinkan para petani biasa, secara individual, agar memutuskan untuk tidak menanam benih yang direkayasa secara genetik.
Tetapi ada ribuan pertanian di Amerika, sehingga meyakinkan para petani secara individual menjadi sebuah cara yang sangat tidak efisien dalam penentangan terhadap rekayasa genetik. Akan lebih efektif apabila upaya persuasif itu dilakukan terhadap para ilmuwan riset yang terlibat dalam kerja-kerja bioteknologikal, atau para eksekutif perusahaan seperti Monsanto, untuk meninggalkan industri bioteknologi. Para ilmuwan riset yang baik adalah mereka yang memiliki talenta khusus dan telah menjalani pelatihan yang ekstensif, sehingga mereka sulit untuk dicari penggantinya. Hal yang sama juga berlaku bagi para eksekutif perusahaan. Yakinkan beberapa saja dari mereka untuk meninggalkan biotek akan memberikan kerusakan yang besar bagi industri bioteknologi daripada meyakinkan ribuan petani untuk tidak menanam bibit yang direkayasa secara genetik.
10. Serang di tempat yang mematikan
Amatlah terbuka argumen-argumen mengenai apakah aku benar saat berpikir bahwa bioteknologi adalah isu terbaik dalam upaya menyerang sistem secara politis. Tetapi jelas tak perlu diperdebatkan lagi bahwa kaum radikal dewasa ini telah membuang-buang energi mereka pada isu-isu yang hanya memiliki sedikit atau malah tidak ada relevansinya bagi kelangsungan hidup sistem teknologikal ini. Dan bahkan saat mereka mereka mengalamatkan isu-isunya dengan tepat, para radikal tidak menyerang di tempat yang mematikan. Maka daripada berderap pergi menuju tempat World Trade Summit berikutnya untuk mengeluarkan kemarahan atas globalisasi, kaum radikal lebih baik meluangkan waktunya untuk berpikir bagaimana menyerang sistem ini di tempat yang mematikan. Dengan cara legal, tentu saja.
silah baca pula studi kasus gerakan lingkungan hidup di AS
Apakah anda pernah berpikir, perjuangan kita adalah medan perang yang tidak imbang. Mensiasati situasi ini pernahkah anda berpikir untuk membidik ke titik-titik yang mematikan musuh (sistim dan struktur yang menindas dan hegemonik). Entah siapa Ted Kaczynski yang menulis artikel ini, yang pasti ocehannya bisa merangsang kita untuk berpikir ulang dan mengasah terus menerus kepekaan kita dalam perang ini........
salam hangat untuk green warriors
SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN
Oleh : Ted Kaczynski
Sumber : http://kerahputih.net/Material/artikel/Ted_Kaczynski_pg.html
1. Tujuan artikel ini
Tujuan dari artikel ini adalah untuk menunjukkan sebuah prinsip sederhana dari konflik manusia, sebuah prinsip yang mana para oponen dari sistem tekno-industrial ini dilihat secara mendasar. Prinsipnya adalah bahwa dalam setiap bentuk konflik, apabila engkau ingin memenangkannya, engkau harus menyerang musuhmu di tempat yang dapat membuatnya sakit.
Aku harus menjelaskan bahwa saat aku berbicara tentang “menyerang di tempat yang mematikan”, aku tidak secara khusus mengartikannya sebagai sebuah serangan-serangan fisikal atau berbagai bentuk kekerasan fisikal. Sebagai contohnya, dalam perdebatan verbal “menyerang di tempat yang mematikan” akan dapat berarti melancarkan argumen-argumen menyerang posisi terlemah dari oponenmu. Dalam sebuah pemilihan presidental “menyerang di tempat yang mematikan” akan berarti berhasil memenangkan negara dari oponen-oponenmu dengan mendapatkan suara terbanyak. Tetapi tetap saja, dalam mendiskusikan prinsip ini aku akan menggunakan analogi pertempuran fisikal, sebab hal tersebut jelas dan gamblang.
Apabila seseorang memukulmu, engkau akan mempertahankan dirimu dengan memukulnya kembali di lengannya, tetapi engkau tak dapat melukai seseorang tersebut dengan cara tersebut. Agar dapat memenangkan perkelahian, engkau harus menyerangnya di tempat yang dapat menimbulkan rasa sakit. Artinya, engkau harus mampu melampaui kepalannya dan memukul bagian-bagian yang paling lemah dan sensitif dari tubuh seseorang tersebut. Anggap saja sebuah bulldozer milik sebuah perusahaan penebangan telah meruntuhkan pepohonan dekat rumahmu dan engkau ingin menghentikannya. Pisau besar dari bulldozer itulah yang telah merusak bumi dan mencabut pepohonan, tetapi adalah sesuatu yang membuang waktu apabila merusak pisau besar tersebut dengan menggunakan gada. Apabila engkau bisa meluangkan waktu yang cukup lama, kerja keras seharian memukuli pisau besar tersebut, mungkin engkau memang akan berhasil cukup membuatnya rusak sehingga pisau besar tersebut tak dapat digunakan lagi. Tetapi, diperbandingkan dengan bulldozer secara keseluruhannya, pisau besar itu cenderung murah dan dapat dengan mudah diganti. Pisau besar itu hanya “kepalan” yang digunakan bulldozer untuk menyerang bumi. Untuk mengalahkan mesin ini engkau harus melampaui “kepalan” tersebut dan menyerang bagian-bagian vital dari bulldozer. Mesin, misalnya, dapat dihancurkan dalam waktu singkat dan mudah dengan cara-cara yang sudah banyak dikenal di kalangan para radikal.
Dalam poin ini aku harus menjelaskan bahwa aku tidak merekomendasikan siapapun untuk merusak bulldozer (kecuali bulldozer tersebut adalah miliknya sendiri) ataupun segala dalam artikel ini diinterpertasikan sebagai sebuah perekomendasian aktivitas-aktivitas ilegal dalam berbagai bentuknya. Aku adalah seorang narapidana, dan apabila aku mendorong aktivitas ilegal, artikel ini tak akan diperbolehkan untuk keluar dari penjara. Aku menggunakan bulldozer sebagai analogi karena hal tersebut jelas dan gamblang serta akan diapresiasi oleh para radikal.
2. Teknologi adalah target
Telah banyak diketahui bahwa “variabel-variabel dasar yang menentukan proses sejarah kontemporer dihadirkan oleh perkembangan teknologi” (Celso Furtado). Teknologi, di atas segalanya, bertanggung jawab atas kondisi-kondisi dunia saat ini dan akan mengontrol perkembangannya di masa depan. Dengan demikian, “bulldozer” yang harus kita hancurkan adalah teknologi modern itu sendiri. Banyak dari para radikal yang menyadari hal ini dan kemudian menyadari bahwa tugas mereka adalah mengeliminasi seluruh sistem tekno-industrial. Tetapi sayangnya mereka tidak cukup memperhatikan kebutuhan untuk menyerang sistem ini di tempat yang paling mematikan.
Menghancurkan McDonald’s atau Starbuck jelas tak bermakna apa-apa. Lagipula aku juga tidak peduli pada McDonald’s ataupun Starbuck. Aku tidak peduli apakah seseorang menghancurkannya atau tidak. Hal tersebut bukanlah sebuah aktivitas revolusioner. Bahkan apabila semua rantai makanan cepat saji disingkirkan, sebagai hasilnya sistem tekno-industrial ini hanya akan sedikit menderita kerusakan minimal, yang dengannya dapat dengan mudah tetap bertahan hidup tanpa rantai makanan cepat saji. Saat engkau menyerang McDonald’s atau Starbuck, engkau tidak menyerang di tempat yang mematikan.
Beberapa bulan lalu aku menerima sebuah surat dari seorang anak muda di Denmark yang percaya bahwa sistem tekno-industrial harus dieliminasi karena, sebagaimana yang ia katakan, “apa yang akan terjadi apabila kita terus menerus hidup dengan cara seperti ini?” Secara khusus, bagaimanapun juga, bentuk aktivitas “revolusioner” nya adalah menggasak peternakan-peternak an penghasil bulu binatang. Sebagai sebuah cara untuk melemahkan sistem tekno-industrial, aktivitas tersebut benar-benar tidak berguna. Bahkan apabila para pembebas binatang tersebut berhasil sepenuhnya dalam mengeliminasi industri bulu binatang, mereka tidak akan menimbulkan kerusakan apapun bagi sistem ini, karena sistem ini akan dapat berjalan terus dengan mulus tanpa bulu binatang.
Aku setuju bahwa mengurung binatang-binatang liar di kandang adalah sesuatu yang tak dapat ditoleransi, dan mengakhiri praktek-praktek demikian adalah sebuah tindakan yang mulia. Tetapi ada banyak sekali tindakan yang mulia, seperti mencegah kecelakaan lalu lintas, menyediakan tempat bernaung bagi para gelandangan, melakukan daur ulang, atau menolong orang tua menyeberang jalan. Tetapi tak seorangpun kecuali seseorang terlalu bodoh, menganggap hal-hal di atas sebagai sebuah aktivitas revolusioner, ataupun membayangkan bahwa hal-hal tersebut dilakukan untuk melemahkan sistem ini.
3. Industri penebangan kayu adalah sebuah isu sampingan
Dalam mengambil contoh lain, tak seorangpun yang waras percaya bahwa segala sesuatu yang bersifat liar dapat bertahan hidup lebih lama lagi apabila sistem tekno-industrial terus eksis. Banyak dari para environmentalis radikal setuju bahwa ini adalah sebuah kasus dan kemudian mengharapkan sistem ini kolaps. Tetapi semua praktek yang mereka lakukan adalah menyerang industri penebangan kayu.
Aku benar-benar tidak keberatan atas serangan-serangan mereka pada industri penebangan kayu. Pada faktanya, hal tersebut adalah sebuah isu yang dekat dengan hatiku dan aku merasa senang dengan setiap keberhasilan para radikal melawan industri penebangan kayu. Sebagai tambahan, bagi alasan-alasan yang perlu kujelaskan di sini, aku berpikir bahwa oposisi terhadap inudstri penebangan kayu seharusnya menjadi sebuah komponen dari upaya-upaya pelenyapan sistem ini.
Dengan sendirinya, menyerang industri penebangan kayu bukanlah sebuah cara yang efektif dalam usaha melawan sistem, kalaupun terjadi even yang diharapkan di mana para radikal berhasil menghentikan seluruh penebangan hutan di manapun di dunia ini, hal tersebut tidak akan merontokkan sistem ini. Dan hal tersebut tidak dapat menyelamatkan alam liar secara permanen. Cepat atau lambat iklim politik akan berubah dan penebangan akan kembali terjadi. Bahkan apabila penebangan tidak pernah terjadi lagi, akan ada kejadian-kejadian lain yang mana dengannya alam liar akan kembali dihancurkan, atau apabila tidak dihancurkan paling tidak akan dijinakkan dan didomestikasi. Penambangan dan eksplorasi mineral, hujan asam, perubahan iklim, dan kepunahan spesies, menghancurkan alam liar; alam liar dijinakkan dan didomestikasi melalui rekreasi, studi ilmiah dan manajemen sumber daya, termasuk di antaranya penelusuran jejak binatang secara elektrik, budidaya pengembangbiakkan ikan, dan penanaman pohon-pohon yang direkayasa secara genetik.
Alam liar dapat diselamatkan secara permanen hanya dengan cara mengeliminasi sistem tekno-industrial, dan engkau tak dapat mengeliminasi sistem tersebut dengan cara menyerang industri penebangan kayu. Sistem ini akan dapat dengan mudah bertahan hidup dari kematian industri penebangan kayu karena produk-produk kayu, walaupun sangat berguna bagi sistem ini, apabila dibutuhkan dapat diganti dengan material-material lain. Konsekuensinya, saat engkau menyerang industri penebangan kayu, engkau tidak menyerang di tempat yang dapat menyakitinya. Industri penebangan kayu hanyalah “kepalan” (atau salah satu kepalan) yang digunakan sistem untuk menghancurkan alam liar, dan, sebagaimana juga dalam pertandingan tinju, engkau tak dapat menang dengan cara menyerang kepalan musuh. Engkau harus berusaha melampaui kepalan tersebut dan menyerang organ-organ sistem yang paling vital dan sensitif. Secara legal, tentu saja, dengan melakukan aksi protes yang damai.
4. Mengapa sistem ini tegar
Sistem tekno-industrial benar-benar tegar karena ia memiliki apa yang disebut sebagai struktur “demokratis” yang menghasilkan fleksibilitas. Karena sistem diktatorial cenderung kaku, tensi-tensi sosial dan resistansi dapat dibangun di dalamnya hingga pada titik yang merusak dan memperlemah sistem, dan mungkin mengarah para revolusi. Tetapi dalam sebuah sistem “demokratis”, saat tensi sosial dan resistansi yang dibangun mulai membahayakan, sistem ini akan cukup dapat memberikan respon, cukup mengkompromikannya, sehingga akan menurunkan tensi ke tingkat yang aman.
Selama tahun 1960-an, untuk pertama kalinya orang-orang mulai sadar bahwa polusi lingkungan adalah sebuah masalah yang serius, sebagian besarnya adalah karena kotoran yang terlihat dan berbau dalam udara di atas kota-kota besar mulai membuat orang-orang secara fisik tak merasa nyaman. Ada cukup banyak protes yang timbul sehingga Agensi Perlindungan Lingkungan dibentuk dan beberapa tindakan lain diambil untuk mengatasi masalah. Tentu saja, kita semua tahu bahwa masalah-masalah polusi kita masih sangat jauh dari penyelesaian. Tetapi telah cukup tindakan dilakukan sehingga keluhan-keluhan publik dapat diredam dan tekanan pada sistem semakin menyurut dalam tahun-tahun berikutnya.
Dengan demikian, menyerang sistem tersebut seperti memukul sebuah karet. Sebuah pukulan dengan gada akan dapat membuat besi padat berkeping-keping, karena besi padat sifatnya kaku dan karenanya rapuh. Tetapi engkau dapat memukul sebuah karet tanpa merusaknya karena sifatnya yang fleksibel: ia mengatasi protes, cukup lama hingga protes tersebut kehilangan kekuatan dan momentumnya. Kemudian sistem tersebut memantul kembali. Maka, dalam upaya untuk menyerang sistem di tempat yang dapat mematikannya, engkau harus memilih isu-isu yang tak dapat diatasi oleh sistem ini, yang akan menghabisinya. Dan yang dibutuhkan bukanlah kompromi dengan sistem, melainkan sebuah perjuangan hidup mati.
6. Para radikal harus menyerang sistem ini pada titik-titik yang menentukan
Untuk dapat secara efektif bertujuan mengeliminasi sistem tekno-industrial, para revolusioner harus menyerang sistem ini pada titik-titik yang mana dalam serangan tersebut, musuh tak dibiarkan memiliki kesempatan untuk pulih. Mereka harus menyerang organ-organ vital sistem ini. Tentu saja, saat aku menggunakan kata “serang” aku tidak mengartikannya sebagai serangan fisikal melainkan dengan bentuk protes dan resistansi legal.
Beberapa contoh organ-organ vital dari sistem ini adalah:
1. Industri tenaga listrik. Sistem ini benar-benar tergantung pada jaringan tenaga listrik.
2. Industri komunikasi. Tanpa komunikasi yang gencar, sebagaimana dengan telefon, radio, televisi, e-mail dan semacamnya, sistem ini tak dapat bertahan hidup.
3. Industri komputer. Kita semua tahu bahwa tanpa komputer sistem ini akan kolaps dengan cepat.
4. Industri propaganda. Industri propaganda meliputi industri hiburan, sistem edukasi, jurnalisme, advertising, public-relation, dan berbagai macam politik serta industri kesehatan mental. Sistem ini tak dapat berfungsi kecuali orang-orang di dalamnya cukup jinak dan mampu menyesuaikan diri serta memiliki perilaku-perilaku yang harus dimiliki oleh mereka sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem ini. Fungsi dari industri propaganda adalah untuk melatih orang-orang sebuah jenis pemikiran dan kebiasaan.
5. Industri bioteknologi. Sistem ini memang belum secara fisik tergantung pada bioteknologi yang maju (sejauh yang aku tahu). Tapi tanpa kecuali, sistem ini tak dapat diberi keleluasaan dalam berjalan dengan isu bioteknologi, yang merupakan isu kritis sistem ini, sebagaimana yang akan kuperdebatkan setelah ini.
Sekali lagi: saat engkau menyerang organ-organ vital sistem ini, sangatlah penting untuk tidak menyerang mereka dalam konteks nilai-nilai yang mereka anut sendiri, melainkan dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dalam pandangan sistem ini. Misalnya, apabila engkau menyerang industri tenaga listrik dalam konteks bahwa industri tersebut menghasilkan polusi bagi lingkungan, sistem ini akan dengan mudah meredam protes dengan mengembangkan metoda-metoda yang lebih bersih dalam menghasilkan sumber daya listrik. Apabila memang sudah terlalu buruk situasinya, sistem ini akan dapat beralih sepenuhnya pada tenaga angin dan solar. Memang sangat baik upaya mereduksi kerusakan lingkungan, tetapi hal tersebut tidak akan mengakhiri sistem tekno-indutrial. Hal tersebut juga tidak merepresentasikan sebuah kemenangan atas nilai-nilai fundamental sistem ini.
Untuk menyelesaikan segala urusan dalam penyerangan terhadap sistem, engkau harus menyerang generator-generator pembangkit tenaga listrik sebagai sesuatu yang prinsipil, berdasarkan argumen bahwa ketergantungan pada listrik telah membawa orang-orang menjadi tergantung pada sistem ini. Inilah landasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sistem ini.
7. Bioteknologi mungkin dapat menjadi sasaran terbaik bagi penyerangan politis
Mungkin sasaran paling menjanjikan bagi penyerangan politis adalah industri bioteknologi. Walaupun secara umum berbagai revolusi diletupkan oleh sekelompok minoritas, sangatlah berguna untuk meraih dukungan tertentu, simpati, atau setidaknya persetujuan dari populasi secara umum.
Gol-gol dari aksi yang politis adalah untuk mendapatkan dukungan atau persetujuan semacam itu. Apabila engkau mengkonsentrasikan penyerangan politismu, misalnya pada industri tenaga listrik, hal tersebut akan benar-benar sulit dalam mendapatkan dukungan di luar minoritas radikal, karena sebagian besar orang menolak mengubah cara hidup mereka, khususnya perubahan-perubahan yang menyulitkan mereka.
Atas alasan ini, beberapa akan rela untuk meninggalkan ketergantungannya pada listrik. Tetapi orang-orang belum merasa bahwa diri mereka tergantung pada bioteknologi yang maju sebagaimana mereka tergantung pada listrik. Mengeliminasi bioteknologi tidak akan mengubah hidup mereka secara radikal. Secara kontras, hal tersebut mungkin akan dapat memperlihatkan pada orang-orang bahwa kesinambungan pengembangan bioteknologi akan mentransformasikan cara hidup mereka dan menyapu bersih nilai-nilai manusia selama ini. Dengan demikian, dalam menantang bioteknologi, para radikal harus mampu memobilisir dengan cara mereka sendiri yang merupakan resistansi alamiah manusia terhadap perubahan.
Dan bioteknologi adalah sebuah isu yang mana sistem ini tak akan dapat menanggung kehilangannya. Ia juga adalah sebuah isu yang mana sistem ini harus memperjuangkannya hingga akhir, yang mana hal ini jelas adalah sesuatu yang kita butuhkan. Tetapi—diulangi sekali lagi—amatlah esensial untuk tidak menyerang bioteknologi dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini sendiri, melainkan dalam konteks nilai-nilai yang tidak sesuai bagi sistem ini.
Misalnya, apabila engkau menyerang bioteknologi, khususnya dengan berlandaskan pada alasan bahwa hal tersebut akan merusak lingkungan, atau bahwa pangan-pangan yang dimodifikasi secara genetik akan dapat merusak kesehatan, maka sistem ini dapat dan akan menyerap seranganmu dengan memberi celah untuk kompromi—dengan kata lain, dengan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat pada riset genetik dan percobaan yang lebih teliti serta memberlakukan regulasi bagi tanaman-tanaman yang dimodifikasi secara genetik. Kegelisahan orang-orang lantas akan menyurut dan protes menjadi layu.
8. Semua bioteknologi harus diserang sebagai sebuah urusan prinsipil
Maka, dibandingkan memprotes satu atau lain hal mengenai konsekuensi negatif dari bioteknologi, engkau harus menyerang seluruh bioteknologi modern secara prinsipil, dalam landasan seperti (a) bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang merendahkan seluruh makhluk hidup; (b) bahwa hal tersebut memberi terlalu banyak kekuasaan ke tangan sistem ini; (c) bahwa hal tersebut secara radikal akan mentransformasikan nilai-nilai fundamental manusia yang telah eksis selama ribuan tahun; dan berbagai landasan lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sistem ini.
Dalam merespon serangan jenis ini, sistem ini akan dipaksa untuk berdiri dan berjuang. Ia tak dapat menyerap seranganmu dengan membawanya pada isu yang lebih besar, karena bioteknologi berada di pusat seluruh perusahaan yang berteknologi maju, dan karena saat mundur sistem ini tak akan hanya membuat langkah mundur secara taktis, ia akan terpaksa menerima kekalahan strategis besar dalam kode etiknya sendiri. Nilai-nilai tersebut akan dikuburkan dan pintu akan terbuka bagi serangan-serangan politis lebih lanjut, yang akan menebang fondasi-fondasi sistem ini.
Sekarang memang benar bahwa Dewan Representatif AS baru-baru ini melarang kloning manusia, dan setidaknya beberapa anggota kongres bahkan memberikan beberapa alasan yang tepat mengenainya. Dari yang kubaca, alasan-alasan tersebut berada dalam konteks religius, alasan-alasan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diterima secara teknologis. Dan hal seperti itulah yang patut diperhitungkan.
Dengan demikian, keputusan para anggota kongres atas kloning manusia merupakan sebuah kekalahan sejati bagi sistem ini. Tetapi hal tersebut hanyalah sebuah kekalahan yang sangat sangat kecil, karena ruang lingkup pelarangannya masih sangat sempit—hanya sebagian kecil dari bioteknologi yang terpengaruh—dan lagipula karena dalam jangka waktu dekat di masa depan, kloning manusia secara praktis masih kecil kegunaannya bagi sistem ini. Tetapi aksi dari Dewan Representatif telah menunjukkan bahwa hal ini dapat menjadi sebuah titik lemah sistem ini, dan sebuah serangan yang lebih luas terhadap seluruh bioteknologi mungkin dapat menimbulkan kerusakan serius bagi sistem dan nilai-nilai yang dianutnya.
9. Kaum radikal belum menyerang biotek secara efektif
Beberapa dari kaum radikal memang menyerang bioteknologi, baik secara politis maupun secara fisikal, tetapi sejauh yang kuketahui mereka menjelaskan sikap oposisi mereka terhadap biotek dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini. Keluhan-keluhan mereka adalah resiko kerusakan lingkungan dan dampak buruknya bagi kesehatan. Dan mereka tidak menyerang industri biotek di tempat yang mematikan.
Menggunakan analogi perkelahian fisik sekali lagi, anggap engkau harus mempertahankan dirimu dari serangan gurita raksasa. Engkau tak akan mampu menyerang balik secara efektif dengan memutus tentakelnya. Engkau harus menyerang kepalanya. Dari apa yang kubaca tentang aktivitas-aktivitas mereka, para radikal yang bekerja melawan bioteknologi melakukan tak lebih dari upaya untuk memutuskan tentakel sang gurita. Mereka berusaha meyakinkan para petani biasa, secara individual, agar memutuskan untuk tidak menanam benih yang direkayasa secara genetik.
Tetapi ada ribuan pertanian di Amerika, sehingga meyakinkan para petani secara individual menjadi sebuah cara yang sangat tidak efisien dalam penentangan terhadap rekayasa genetik. Akan lebih efektif apabila upaya persuasif itu dilakukan terhadap para ilmuwan riset yang terlibat dalam kerja-kerja bioteknologikal, atau para eksekutif perusahaan seperti Monsanto, untuk meninggalkan industri bioteknologi. Para ilmuwan riset yang baik adalah mereka yang memiliki talenta khusus dan telah menjalani pelatihan yang ekstensif, sehingga mereka sulit untuk dicari penggantinya. Hal yang sama juga berlaku bagi para eksekutif perusahaan. Yakinkan beberapa saja dari mereka untuk meninggalkan biotek akan memberikan kerusakan yang besar bagi industri bioteknologi daripada meyakinkan ribuan petani untuk tidak menanam bibit yang direkayasa secara genetik.
10. Serang di tempat yang mematikan
Amatlah terbuka argumen-argumen mengenai apakah aku benar saat berpikir bahwa bioteknologi adalah isu terbaik dalam upaya menyerang sistem secara politis. Tetapi jelas tak perlu diperdebatkan lagi bahwa kaum radikal dewasa ini telah membuang-buang energi mereka pada isu-isu yang hanya memiliki sedikit atau malah tidak ada relevansinya bagi kelangsungan hidup sistem teknologikal ini. Dan bahkan saat mereka mereka mengalamatkan isu-isunya dengan tepat, para radikal tidak menyerang di tempat yang mematikan. Maka daripada berderap pergi menuju tempat World Trade Summit berikutnya untuk mengeluarkan kemarahan atas globalisasi, kaum radikal lebih baik meluangkan waktunya untuk berpikir bagaimana menyerang sistem ini di tempat yang mematikan. Dengan cara legal, tentu saja.
silah baca pula studi kasus gerakan lingkungan hidup di AS
Kamis, 20 Maret 2008
Penemuan Ideologi adalah Kerja Kolektif
Seri Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bagian 3)
Jujur saja sampe saat saya pun belum yakin mampu menangkap dan memahami binatang apa ideologi itu, memahami nasrasi-narasi besar ideologi yang berkembang dalam sejarah, apalagi berpikir dan bertindak ‘ideologis’ secara utuh, mendalam dan menyeluruh. Baru dalam proses pembelajaran pemula – buktinya masih merasa perlu dan getol membaca marxisme untuk pemula, anti kapitalisme untuk pemula, atau materi pendidikan green student movement : Menjadi Environmentalis Itu Mudah, Perjuangan Hizbullah untuk pemula.
Barangkali masalahnya adalah banyak orang terjebak membayangkan rimba persilatan para pemikir besar dunia, filosof sepanjang abad, atau para teoritisi politik kakap. Sehingga ideologi itu dianggap sesuatu yang sangat berat, rumit, ketat dan melangit. Padahal ada sisi ideologi dalam tataran yang lebih populer, aplikatif , riang dan praktis, bukan semata-mata dalam kemewahan, keruwetan dunia teoritik dan akademik.
Michael Freeden seorang teoritikus politik yang disegani mengawali monograf terakhirnya tentang bagaimana para pakar membicarakan definisi ideology dengan semangat memberat.
“Selama lebih setengah abad ini, konsep ideology muncul sebagai salah satu ide politik yang paling rumit dan mengundang perdebatan. Ide ini mencolok dalam diskusi pada jenjang-jenjang yang tampaknya tidak saling bersinggungan, usaha untuk menyusun fenomena yang tak berkaitan dan mengakibatkan kerancuan di kalangan akademisi dan pengamat politik……….”
selanjutnya
Jujur saja sampe saat saya pun belum yakin mampu menangkap dan memahami binatang apa ideologi itu, memahami nasrasi-narasi besar ideologi yang berkembang dalam sejarah, apalagi berpikir dan bertindak ‘ideologis’ secara utuh, mendalam dan menyeluruh. Baru dalam proses pembelajaran pemula – buktinya masih merasa perlu dan getol membaca marxisme untuk pemula, anti kapitalisme untuk pemula, atau materi pendidikan green student movement : Menjadi Environmentalis Itu Mudah, Perjuangan Hizbullah untuk pemula.
Barangkali masalahnya adalah banyak orang terjebak membayangkan rimba persilatan para pemikir besar dunia, filosof sepanjang abad, atau para teoritisi politik kakap. Sehingga ideologi itu dianggap sesuatu yang sangat berat, rumit, ketat dan melangit. Padahal ada sisi ideologi dalam tataran yang lebih populer, aplikatif , riang dan praktis, bukan semata-mata dalam kemewahan, keruwetan dunia teoritik dan akademik.
Michael Freeden seorang teoritikus politik yang disegani mengawali monograf terakhirnya tentang bagaimana para pakar membicarakan definisi ideology dengan semangat memberat.
“Selama lebih setengah abad ini, konsep ideology muncul sebagai salah satu ide politik yang paling rumit dan mengundang perdebatan. Ide ini mencolok dalam diskusi pada jenjang-jenjang yang tampaknya tidak saling bersinggungan, usaha untuk menyusun fenomena yang tak berkaitan dan mengakibatkan kerancuan di kalangan akademisi dan pengamat politik……….”
selanjutnya
Ideologi atau Pasca Ideologis; Kiri VS Kanan Sudah Usangkah?
Seri Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bagian 2)
“kami bukanlah sosialisme, bukan pula komunisme. Gerakan ini bukan di wilayah anti Kapitalisme dan neoliberalisme. Tetapi kami adalah Zapatismo. YA ZAPATISMO”.
Bahkan Marcos dalam akhir suratnya kepada pemberontak Basque ETA menyatakan N.B. Lainnya – Semestinya sudah jelas, tapi aku ingin nyeletuk : kuberaki semua garda depan revolusioner di planet ini. (Pernyataan ini bermula dari simpati EZLN kepada perjuangan kaum pemberontak Basque, yang berakhir perang kata emosional diantara keduanya. Terutama klaim ETA tentang kebenaran absolutnya sebagai Garda Depan Revolusioner di satu sisi dan kritik Marcos disisi lain atas korban masyarakat sipil dalam aksi ETA)
Partai2 Hijau Jerman atau di beberapa tempat-tempat lain juga menyatakan kecenderungan ‘ideologis’nya dengan pernyataan kami tidak berada di kiri dan tidak di kanan, tetapi kami berada di depan.
Dan Ipoel sahabat saya melontarkan gagasan “HIJAU PROGRESSIVE”.
Saya sejalan dengan Ipoel mendapat inspirasi dari kata dan perbuatan Subcomandante Marcos dan Zapatisme. Tetapi…..
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding, sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak –
dan tak ada ‘daratan lagi’.
selanjutnya
“kami bukanlah sosialisme, bukan pula komunisme. Gerakan ini bukan di wilayah anti Kapitalisme dan neoliberalisme. Tetapi kami adalah Zapatismo. YA ZAPATISMO”.
Bahkan Marcos dalam akhir suratnya kepada pemberontak Basque ETA menyatakan N.B. Lainnya – Semestinya sudah jelas, tapi aku ingin nyeletuk : kuberaki semua garda depan revolusioner di planet ini. (Pernyataan ini bermula dari simpati EZLN kepada perjuangan kaum pemberontak Basque, yang berakhir perang kata emosional diantara keduanya. Terutama klaim ETA tentang kebenaran absolutnya sebagai Garda Depan Revolusioner di satu sisi dan kritik Marcos disisi lain atas korban masyarakat sipil dalam aksi ETA)
Partai2 Hijau Jerman atau di beberapa tempat-tempat lain juga menyatakan kecenderungan ‘ideologis’nya dengan pernyataan kami tidak berada di kiri dan tidak di kanan, tetapi kami berada di depan.
Dan Ipoel sahabat saya melontarkan gagasan “HIJAU PROGRESSIVE”.
Saya sejalan dengan Ipoel mendapat inspirasi dari kata dan perbuatan Subcomandante Marcos dan Zapatisme. Tetapi…..
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding, sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak –
dan tak ada ‘daratan lagi’.
selanjutnya
Selasa, 18 Maret 2008
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bagian 1)
Ketegangan Dua Sumbu (Hijau-Merah) atau Ketegangan Tiga Sumbu (Hijau-Merah-Hitam) Di Dalam Gerakan Kita...... (bag 1)
Dari sudut ideologi atau bisa pula kecendrungan pemikiran, warna hitam biasanya digunakan untuk kecendrungan anarko, merah itu untuk kiri , dan hijau konon untuk gerakan environmentalis, ekologi. Setahuku feminis dan gerakan perempuan juga punya warna ungu untuk menunjukkan identitasnya....
Saya ingat dalam beberapa kali obrolan bersama kawan-kawan gerakan lingkungan , buah semangka menjadi pusat perhatian.. Bukan semangka berdaun sirih, tepatnya soal bahaya semangka hasil rekayasa genetik tapi merujuk kepada hal lain. Setahuku semangka berkulit hijau dan buahnya merah (tapi ada juga sih yang berbuah kuning, tapi itu tidak dibahas). Tapi aku bisa tambahkan juga bahwa bijinya berwarna hitam. Sekalian saja mari kita bungkus buah semangka ini dengan kertas kado berwarna ungu. (dari Kata adalah Senjata. Lalu Warna Adalah Senjata Juakah? Andreas)
selanjutnya
Dari sudut ideologi atau bisa pula kecendrungan pemikiran, warna hitam biasanya digunakan untuk kecendrungan anarko, merah itu untuk kiri , dan hijau konon untuk gerakan environmentalis, ekologi. Setahuku feminis dan gerakan perempuan juga punya warna ungu untuk menunjukkan identitasnya....
Saya ingat dalam beberapa kali obrolan bersama kawan-kawan gerakan lingkungan , buah semangka menjadi pusat perhatian.. Bukan semangka berdaun sirih, tepatnya soal bahaya semangka hasil rekayasa genetik tapi merujuk kepada hal lain. Setahuku semangka berkulit hijau dan buahnya merah (tapi ada juga sih yang berbuah kuning, tapi itu tidak dibahas). Tapi aku bisa tambahkan juga bahwa bijinya berwarna hitam. Sekalian saja mari kita bungkus buah semangka ini dengan kertas kado berwarna ungu. (dari Kata adalah Senjata. Lalu Warna Adalah Senjata Juakah? Andreas)
selanjutnya
Kamis, 13 Maret 2008
Studi Kasus Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat
Membaca Lapindo, Newmont, Freeport, RAPP,Ambisi PLTN Indonesia, PP 2/2008, rangkaian bencana ekologi sepanjang 5 tahun terakhir, dan privatisasi-liberalisasi
'penguasaan' asset2 alam/sumberdaya alam, COP 13 dengan politik dagang sapinya, tidakkah ini potensi pembesaran kesadaran, ledakan protes dan pembesaran gerakan lingkungan hidup.........
Mari Belajar dari Gerakan LH Amerika Serikat di masa gemilangnya. Ironinya inilah kandangnya Rezim Ekonomi-Politik yang menentang Protokol PBB soal perubahan iklim. Ya kedegilan Amerika Serikat (silah baca)
------------
Tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut
terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi. Selain
itu TIME melaporkan sekitar 20.000.000 orang turun
kejalan.
(disarikan dari buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996)
Aliran dan Gelombang Gerakan Protes Baru
Dalam catatan TIME pada momentum Hari Bumi 22 April 1970 diperkirakan 20.000.000 orang turun kejalan. Paling tidak di New York saja diperkirakan ratusan ribu orang memadati jalan Fifth Evenue yang pada hari itu ditutup untuk lalu lintas umum dan puluhan ribu orang memadati Union Square.
Nelson salah satu senator yang menginisiasi peringatan Hari Bumi ini menyebutkan peristiwa ini sebagai : ... ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu'.
Bahkan harian The New Republic menyebutkan : " bukan saja merupakan saluran bagi semangat anti perang yang frustasi seperti yang kita pikirkan" ... sebelum hari demonstrasi itu, para pemerhati lingkungan hidup telah dihimpun " sebagai pengerahan massa terbesar dari pelbagai aliansi, setelah Perang Salib" - akan tetapi lebih merupakan suatu peristiwa yang "menandai adanya kesadaran tinggi terhadap bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kediktatoran tehnologi,"dan ini merata di seluruh lapisan masyarakat.
Energi yang luar biasa ini merupakan perkawinan antara energi generasi pemrotes 60 an yang terkenal sebagai penentang perang Amerika di Vietnam dan gerakan lingkungan hidup lama yang mulai menemukan momentumnya. Generasi pemrotes ini menjadi basis dukungan yang esensial bagi gerakan lingkungan, yang bergabung dengan organisasi konservasionis model lama, mula-mula bergerak dalam riak-riak kecil, baru kemudian dalam gelombang-gelombang besar "Kami hanya duduk-duduk disini dan tiba-tiba mereka muncul sambil mengadakan kampanye dukungan dari rumah- kerumah', laporan seorang veteran dari National Wildlife Federation.
Para lulusan perguruan tinggi tahun 1960-an tidak saja mendukung dengan pengerahkan massa untuk demonstrasi-demonstrasi politik dan kegiatan-kegiatan anti-perusahaan yang mencemari lingkungan, tapi menyumbang sejumlah besar penulis, ahli hukum, ilmuwan dan pelbagai profesi lain dalam bidang hak-hak sipil, anti-perang, gerakan feminis dan gerakan buruh. Ini menyebabkan meningkatnya pengaruh generasi muda di sebagian besar organisasi, yang membentuk bukan saja gagasan-gagasan baru, demikian pula cara dan taktik baru, mulai dari metode inovasi pengadaan dana serta lobi-lobi di tingkat Konggres. Sampai dengan meruntuhkan papan reklame dan bentuk aksi lain yang disebut 'tindakan langsung' (direct action). Dalam hal pengerahan massa paling tidak tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi.
Generasi pemrotes dasawarsa 60-an merupakan minoritas yang jelas, tetapi generasi ini dapat menggaung dengan sangat kuat menembus masyarakat karena asumsi-asumsinya sendiri begitu menanatang, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dalam beberapa hal merupakan ketakutan dan kecemasan kalangan mayoritas juga.Tidak semua organisasi itu sangat menaruh perhatian pada masalah-masalah lingkungan sampai akhir dekade 60-an, akan tetapi sikap membangkang mereka yang tidak kenal kompromi, tekadnya untuk
menantang secara non-violence kesepakatan-kesepakatan yang ada, sering sangat menjalar baik bagi kelompok-kelompok lingkungan arus utama, maupun untuk pelbagai kelompok aktivis ad-hoc yang bermunculan. Selain itu seluruh cara aksi politik- aksi duduk, demonstrasi, pawai protes pada waktu itu masih merupakan hal baru bagi Amerika.
Perkawinan antara keduanya itu juga mengakibatkan ledakan massa demonstran juga memicu terbentuknya sejumlah organisasi lingkungan baru yang sebagian lebih bersifat lokal bukan bersifat nasional. Selain itu, ketika tidak satu pun organisasi lama memiliki pengalaman dan keahlian -atau bahkan keinginan bersama-untuk bergerak bersama dengan cakupan luas terhadap isu polusi, sehingga gerakan dengan cakupan luas justru diprakarsai oleh sejumlah organisasi yang lebih kecil untuk menyalurkan aspirasi dan keprihatinan masyarakat.
Kepercayaan
Generasi pemrotes ini lahir pada waktu kegagalan-kegagalan masyarakat pertengahan abad ini semakin mendapat soroton, maka kesepakatan-kesepakatan yang tanpa kritik semasa tahun-tahun pemerintahan Eisenhower mulai diragukan dan ditinggalkan. Apapun sifat pelbagai kegagalan yang ada-perang Vietnam yang konyol, kekerasan di daerah perkotaan, pembunuhan dan hura-hara, devaluasi,inflasi- semua itu menunjukkan bahwa banyak dari sistem yang harus digugat. Bagi banyak aktivis lingkungan, ini berarti semakin tingginya kesadaran di kalangan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab- mulai dari salah urus pada tingkat federal sampai pada kurangnya perhatian di tingkat pemerintah lokal- dan sebagai pelayan bisnis yang nyata-nyata
merugikan lingkungan demi keuntungan perusahaan swasta.
Disisi lain di kalangan publik luas setelah memandang dengan kagum munculnya
'masyarakat makmur", mulai berhitung berapa harga yang harus untuk semua itu. Disekeliling masyarakat itu terlihat buah-buah dari apa yang disebut 'revolusi sintetis', plastik, bahan kimia, pestisida, detergen, pusat tenaga nuklir dan juga tampak bertebaran daerah atau kawasan pinggiran kota serta merebaknya gedung-gedung pencakar langit. Sekalipun demikian tidak muncul ketenangan dan kedamaian serta kehidupan harmonis seperti yang dijanjikan.
Yang lebih gawat lagi, bahwa semua kemanfaatan materi itu tampaknya harus dibayar mahal - penuh sesaknya kawasan perkotaan, semakin luasnya kawasan sub-urban, polusi udara dan kabut campur asap, sungai-sungai dibendung, penyakit kanker dan abu radioaktif yang berasal dari peledakan nuklir (suatu harga yang sering masuk dalam tayangan tv) - dan semua itu berlangsung makin gila saja yang nampaknya sudah di luar pengawasan yang efektif baik oleh organisasi bisnis sendiri yang mengambil keuntungan darinya, maupun oleh pemerintah yang semestinya mengaturnya.
Pada saat yang sama, suasana 'boom materi' pasca perang telah menghasilkan semakin tingginya jumlah tamatan universitas, karyawan kelas menengah yang tumbuh cepat menempati kawasan pinggiran kota agar mereka dapat kembali mendengarkan kicau burung di pagi hari dan menatap bintang di malam hari.
Mereka ini menginginkan - dan dapat membiayai- apa yang disebut oleh para ahli sosiologi 'kualitas hidup' bukan 'standar hidup' dalam arti tradisional : tambahan yang membuat hidup lebih nikmat setelah kebutuhan pokok, termasuk waktu senggang, hiburan diluar rumah, air dan udara yang bersih, keamanan dan kesehatan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar akan lingkungan yang alami.
Kebangkitan Opini Massa
Ditengah mulai tumbuhnya kesadaran baru yang mulai matang muncul sebuah buku yang sangat fantantis yang ditulis oleh seorang akademisi yang sedang menjemput maut akibat kanker oleh pestisida yang menjadi bahan observasinya, sekaligus menjadi sumber inspirasi gerakan dan kesadaran tentang bahaya maut yang datang seiring meningkatnya kemakmuran. Akhir 1962 terbitlah Silent Spring dan didaftar sebagai salah satu buku yang paling laris selama 31 minggu dan terjual lebih dari 500.000 eksemplar. Yang menarik adalah fakta bahwa gerakan lingkungan - dalam arti yang aktif, vokal, merakyat dan berpengaruh - tidak ada sebelum Silent Spring terbit.Max Nicholson, kepala British Nature Conservancy dan seorang tokoh internasional menyebut Silent Spring “mungkin merupakan sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekologi”.
Kebangkitan opini massa juga dipicu oleh kelompok media utama yang akhirnya menyadari seriusnya masalah lingkungan dan cakupan pemuatan berita serta isunya secara lambat namun pasti semakin mendapat tempat sepanjang dasawarsa itu, dan semakin meningkat lagi di awal tahun 1970-an dengan artikel-artikel halaman depan dan berita-berita utama di majalah Time, Fortune, Newsweek, Life, Look, The New York Times dan The Washington Post, semua itu mengambil model berita utama Newsweek yang berjudul "The Ravaged Environment' (Lingkungan yang Rusak)
Robert Heilbroner dari The New York Riview of Books dalam bulan April 1970 menyebutkan 'isu ekologi telah menjadi keprihatinan masyarakat luas". "Isu soal ekologi bukan saja yang terutama dan selalu penting, tapi. memang telah merupakan tantangan yang paling sukar dan paling berbahaya yang pernah dihadapi umat manusia" Bahwa tantangan itu telah diisolir dan bahkan telah mulai ditanggapi dengan jelas merupakan kinerja yang menjadi bukti bahwa sebuah revolusi sosial memang telah dimulai di Amerika. Titik puncaknya adalah dicanangkannya Hari Bumi dalam tahun 1970".
Kekalahan proyek bendungan Grand Canyon, dan diberlakukan Wilderness Preservation Systems (Sistem Kawasan hutan Lindung) dan kemudian pada akhir tahun 1968 National Wild and Scenic River Systems) yang diliput secara luas oleh media massa menandai suatu titik balik dalam sikap orang Amerika terhadap tanah, alam atau bagiannya yang terpenting bukan hanya untuk di eksploitasi dan dimanipulasi, tapi harus dilestarikan dan dilindungi, serta dicintai sebagai semama makluk hidup.
Kedua hal ini mewarnai perjalanan gerakan lingkungan hidup dan membangun optimisme publik untuk mempengaruhi lembaga sentral dalam hal ini pemerintah. Undang-undang yang terkait dengan upaya pelestarian hutan lindung rancangan telah diajukan oleh Wilderness Society untuk dipertimbangkan konggres pada akhir tahun 1950-an dan proses dengar pendapatnya telah dimulai tahun 1957 dengan mendapat perlawanan keras dari perusahaan-perusahaan swasta. Baru ketika awal tahun 1960 gerakan konservasi mulai menemukan semangat baru dan cara baru untuk menentang pemerintah yang bersikeras. Baru pada tahun 1963 rancangan undang-undang ini harus diputuskan melalui pemilihan suara dan di Senat pada tahun 1964. Ternyata UU ini diterima dengan suar mutlak, ditandatangani dan mulai berlaku 9 September 1964. 25 tahun setelah UU ini diberlakukan, kawasan hutan lindung meningkat dari 9,1 juta acre menjadi lebih dari 90 juta acre.
Selain pada dasawarsa ini muncul resistensi yang sangat kuat atas rencana pembangunan Bendungan grand Canyon. Hal ini tak lepas dari peran David Brower dari Sierra Club yang mulai melakukan strategi baru dan kelompok pendukung baru. Dari jerih payahnya itu perjuangan mencapai kemenangannya. Surat dan telegram protes membanjiri kantor anggota Konggres, dan ribuan orang melakukan percakapan telpon untuk memprotes, dan tidak terhitung artikel yang muncul pada meida massa nasional dengan nada yang sama serta terbentuknya pelbagai kelompok masyarakat (protes) ditingkat akar rumput untuk mempertahanakan kelanjutan tekanan tersebut.
Belum lagi banyak kasus bencana lingkungan (polusi) yang membangkitkan kecemasan publik tercatat pada dasawarsa itu muncul bencana 80 orang meninggal di New York City selama 'pergantian udara" dalam musim panas tahun 1966, kapal Torrey Canyon karam dan menumpahkan 117.000 ton minyak mentah ke selat Inggris pada maret 1967, sebuah anjungan minyak lepas pantai dekat Santa Barbara, california membocorkan berjuta-juta galon minyak mentah ke sepanjang pantai California dalam bulan Januari dan februari 1969, sungai Cuyahoga dekat Cleveland tiba-tiba terbakar dan Danau Erie yang berdekatan dinyatakan sebagai 'sebuah lobang yang mati tenggelam' sebagai akibat sampah dan limbah kimia dalam musim panas tahun 1969
Para aktivis kampus, yang pada saat itu sedang berada di puncak kampanye anti perang, dengan antusias bersatu untuk mencari dan meneliti keterkaitan antara lembaga-lembaga yang mendukung campur tangan militer pada satu pihak dan polusi bahan kimiawi di pihak lain.
Efek
Tentang fenomena gerakan sosial baru ini Kirkpatrick Sale mencatat bahwa jarang sekali ada suatu gerakan yang dalam tempo sesingkat itu memperoleh dukungan luas masyarakat, dan menjadi bagian menentukan dalam kampanye politik sampai agenda rapat legislatif atau memberikan dampak regulatoris dan legislatif yang luar biasa, menghasilkan sedemikian banyak organisasi aktif atau menjadi terpatri dalam suatu kebudayaan ; benar-benar Revolusi Hijau. Namun demikian sebagai catatan setelah periode 60-70-an gerakan lingkungan hidup mendapatkan perlawanan keras dari Presiden Reagan sebagai dedengkot neo-liberalisme.
Dukungan yang ditanam di tahun 60-70 an telah menemukan panenan yang luar biasa. Menurut sebuah Survey 1990 menunjukkan : 74% responden menganggap perlindungan lingkungan adalah mutlak sehingga standar ambang batas tidak boleh ditentukan terlalu longgar (1981 baru 45% persen yang menyatakan demikian) Survey lain menunjukkan bahwa 76% rakyat Amerika menyatakan sebagai pemerhati lingkungan hidup dan lebih dari separuhnya telah menyumbang untuk organisasi lingkungan hidup. Serta 80% rakyat AS mendukung tujuan organisasi lingkungan.
Selain itu Resources Guide to Environmental Organizations menyebutkan 14 juta orang (satu banding tujuh orang dewasa) di Amerika menjadi anggota organisasi lingkungan hidup dibandingkan pada awal 70-an baru mencapai sekitar 300.000 orang. Sedangkan organisasi lingkungan bertumbuh dari beberapa ratus pada awal tahun 70 menjadi 3000 organisasi diakhir tahun 70an
Lepas dari keberhasilan itu pada akhir bukunya Kirkpatrick Sale melontarkan kritik terhadap gerakan lingkungan hidup di AS. Ia mengatakan selain perselisihan dan pertentangan di kalangan sendiri, gerakan lingkungan masih harus mencari cara untuk mempengaruhi inti kepuasan publik Amerika, atau menghindari pemberian tugas yang cuma berada pada tepi-tepi kehidupan politik, sehingga gerakan lingkungan itu sendiri diremehkan, atau bahkan ditekan. Dan semakin gerakan lingkungan itu mempertanyakan nilai-nilai utama dari sistem Amerika dibalik krisis-krisis lingkungan (liberalisme, kapitalisme catatan saya) itu atau mempertanyakan peradaban, diatas mana gerakan lingkungan itu berada, maka gerakan itu akan semakin mendapatkan perlawanan, kalau bukan untuk jangka panjang pasti dalam jangka pendek.
Baca pula SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
KERANGKA TEORI SEDERHANA TTG GERAKAN SOSIAL
Jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan kayakinan : engkau akan hancur!
(Wiji Thukul : Tembok dan Bunga)
Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilya hanyalah untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya ofensiflah yang dapat menaklukan musuh. (AH Nasution)
Indikasi awal untuk menangkap gejala gerakan sosial menurut John Lofland (Protes; Insist Press 2003) adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kualitas "aliran" atau "gelombang". Dalam prakteknya suatu gerakan sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, bertambahnya jumlah anggota pada suatu organisasi gerakan dan semakin banyaknya aksi kekerasan atau protes terencana dan tak terencana.
Selain itu menurut Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan adalah, pertama, aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati kurun waktu itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses 'cooled down'. Kedua, banyak organisasi kekerasan atau protes yang berubah menjadi gerakan sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan yang disebut diatas. Organisasi-organisasi ini selalu
berupaya menciptakan gerakan sosial - atau jika organisasinya memiliki teori operasi yang berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalisme) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik dan jahat, atau kedua hal tersebut, serta menunggu kegagalan fungsi lembaga sentral. Kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.
Lebih lanjut dapat dirumuskan bahwa sebuah gerakan sosial terdiri dari
1. Lahirnya kekerasan atau protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara independen
2. Bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi kekerasan dan/atau protes terencana dan tak terencana (terutama kumpulan) secara cepat
3. Kebangkitan opini massa
4. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
5. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan pada struktur dari lembaga-lembaga sentral.
Gelombang dan aliran ini analoginya dapat di temukan dalam salah satu petikan puisi Wiji Thukul Tembok dan Bunga pada awal tulisan ini. Gerakan pinggiran, gerakan awalan, embrio gerakan memulai dengan menebarkan biji-biji di tembok (lembaga sentral : pemerintah, militer, polisi atau dalam bentuk sistem-struktur sosial dominan). Hingga kemudian gerakan tersebut menemukan momentum bersama ketika biji-biji itu tumbuh bersama dan menghancurkan tembok tersebut.
Atau meminjam teori gerilyanya AH Nasution bahwa embrio gerakan adalah sekelompok gerilya yang bekerja secara 'hit and run' dengan tujuan memeras tenaga musuh bukan kemenangan yang hakekatnya bergerak dalam front tertutup, terbatas dan sporadis. Dimana kemenangan hanya dapat diraih ketika momentumnya tiba, ketika ofensif dilakukan secara terbuka oleh tentara reguler atau oleh perlawanan semesta rakyat dan tentara.
Selain itu 5 gejala gerakan sosial seperti disebutkan oleh Lofland, pemahaman tentang gerakan sosial dapat diturunkan lebih jauh kedalam tujuh pertanyaan pokok tentang Gerakan Sosial. Ke 7 pertanyaan pokok merupakan indikator yang praktis untuk menganalisis gerakan sosial sekaligus sebagai petunjuk praktis bagi pelaku gerakan sosial untuk 'merancang' atau paling tidak memicu gerakan sosial
1.Kepercayaan : hal-hal yang dianggap benar (ideologi, doktrin,pandangan, harapan, kerangka berpikir, wawasan, perspektif.)
- realitas apa yang mereka tuntut/pertentangkan
- siapa yang dianggap lawan dan siapa yang diteladani
- perubahan secara total atau parsial
- pada tingkatan individual atau 'supra individual' (politik, ekonomi,
budaya)
2. Organisasi : cara bagaimana orang-orang yang mempunyai 'pandangan' yang s
ama,
diatur/diarahkan untuk mencapai tujuan.
- bagaimana orang-orang diorganisir/cara-cara mengorganisir
- bagaimana proses pengambilan keputusan (sentralistik/desentralistik)
- adakah pembagian kerja di organisasi gerakan
- cara memelihara orang-orang tetap melaksanakan tugasnya
- cara-cara memperoleh dana dari gerakan
- organisasi bersifat sementara atau permanen
3. Sebab-sebab : variabel-variabel yang berpengaruh terhadap gerakan sosial
- bagaimana gerakan sosial dimulai/dibentuk
- kapan gerakan itu dibentuk
- mengapa gerakan itu muncul
Secara teoritik ada 17 variabel yang berpengaruh, yaitu:
a. perubahan dan ketimpangan sosial
b. kesempatan politik
c. campurtangan negara terhadapkehidupan warga
d. kemakmuran (yang menimbulkan deprivasi ekonomi)
e. konsentrasi geografis
f. identitas kolektif
g. solidaritas antar kelompok
h. krisis kekuasaan
i. melemahnya kontrol kelompok yang dominan
j. pemfokusan krisis
k. sinergi gelombang warga negara (penduduk)
l. adanya pemimpin
m. jaringan komunikasi
n. integrasi jaringan di antara para pembentuk potensial
o. adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial
p. kemampuan mempersatukan
4. Keikutsertaan : keanggotaan dalam arti yang paling lemah sampai yang paling kuat
- mengapa orang ikut dalam gerakan
- sampai seberapa jauh keterlibatnanya dalam organisasi
- siapa yang menjadi pendukung gerakan
- bagaimana mensosialisasikan gerakan kepada pengikutnya
5. Strategi : cara atau metode untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan
- usaha-usaha apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan gerakan
- apada tujuan utama dari setiap strategi yang digunakan
- dalam mencapai tujuan itu, lebih menekankan pada perubahan
institusi-institusi sosial (societal manipulation) ataukah dengan mengubah
hati dan pemikiran orang-orang (personal transformation)
- strategi yang digunakan bersifat terbuka atau tertutup, terang-terangan
atau tersembunyi
- menggunakan strategi penyerangan frontal atau pengikisan
- 'pendirian' mereka dinayatakan secara halus (polite), melalui aksi protes
atau kekerasan
- mekanisme taktik yang digunakan terhadap kelompok sasaran : persuasi,
negosiasi atau paksaan
6. Efek : tanggapan atau reaksi kalangan luar terhadap gerakan sosial
- reaksi penguasa
- reaksi elit
- reaksi media
- reaksi sesama gerakan sosial
((Dr. Ngadisah, MA; Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial Politik di Papua,
Pustaka Raja 2003)
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
'penguasaan' asset2 alam/sumberdaya alam, COP 13 dengan politik dagang sapinya, tidakkah ini potensi pembesaran kesadaran, ledakan protes dan pembesaran gerakan lingkungan hidup.........
Mari Belajar dari Gerakan LH Amerika Serikat di masa gemilangnya. Ironinya inilah kandangnya Rezim Ekonomi-Politik yang menentang Protokol PBB soal perubahan iklim. Ya kedegilan Amerika Serikat (silah baca)
------------
Tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut
terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi. Selain
itu TIME melaporkan sekitar 20.000.000 orang turun
kejalan.
(disarikan dari buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996)
Aliran dan Gelombang Gerakan Protes Baru
Dalam catatan TIME pada momentum Hari Bumi 22 April 1970 diperkirakan 20.000.000 orang turun kejalan. Paling tidak di New York saja diperkirakan ratusan ribu orang memadati jalan Fifth Evenue yang pada hari itu ditutup untuk lalu lintas umum dan puluhan ribu orang memadati Union Square.
Nelson salah satu senator yang menginisiasi peringatan Hari Bumi ini menyebutkan peristiwa ini sebagai : ... ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu'.
Bahkan harian The New Republic menyebutkan : " bukan saja merupakan saluran bagi semangat anti perang yang frustasi seperti yang kita pikirkan" ... sebelum hari demonstrasi itu, para pemerhati lingkungan hidup telah dihimpun " sebagai pengerahan massa terbesar dari pelbagai aliansi, setelah Perang Salib" - akan tetapi lebih merupakan suatu peristiwa yang "menandai adanya kesadaran tinggi terhadap bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kediktatoran tehnologi,"dan ini merata di seluruh lapisan masyarakat.
Energi yang luar biasa ini merupakan perkawinan antara energi generasi pemrotes 60 an yang terkenal sebagai penentang perang Amerika di Vietnam dan gerakan lingkungan hidup lama yang mulai menemukan momentumnya. Generasi pemrotes ini menjadi basis dukungan yang esensial bagi gerakan lingkungan, yang bergabung dengan organisasi konservasionis model lama, mula-mula bergerak dalam riak-riak kecil, baru kemudian dalam gelombang-gelombang besar "Kami hanya duduk-duduk disini dan tiba-tiba mereka muncul sambil mengadakan kampanye dukungan dari rumah- kerumah', laporan seorang veteran dari National Wildlife Federation.
Para lulusan perguruan tinggi tahun 1960-an tidak saja mendukung dengan pengerahkan massa untuk demonstrasi-demonstrasi politik dan kegiatan-kegiatan anti-perusahaan yang mencemari lingkungan, tapi menyumbang sejumlah besar penulis, ahli hukum, ilmuwan dan pelbagai profesi lain dalam bidang hak-hak sipil, anti-perang, gerakan feminis dan gerakan buruh. Ini menyebabkan meningkatnya pengaruh generasi muda di sebagian besar organisasi, yang membentuk bukan saja gagasan-gagasan baru, demikian pula cara dan taktik baru, mulai dari metode inovasi pengadaan dana serta lobi-lobi di tingkat Konggres. Sampai dengan meruntuhkan papan reklame dan bentuk aksi lain yang disebut 'tindakan langsung' (direct action). Dalam hal pengerahan massa paling tidak tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi.
Generasi pemrotes dasawarsa 60-an merupakan minoritas yang jelas, tetapi generasi ini dapat menggaung dengan sangat kuat menembus masyarakat karena asumsi-asumsinya sendiri begitu menanatang, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dalam beberapa hal merupakan ketakutan dan kecemasan kalangan mayoritas juga.Tidak semua organisasi itu sangat menaruh perhatian pada masalah-masalah lingkungan sampai akhir dekade 60-an, akan tetapi sikap membangkang mereka yang tidak kenal kompromi, tekadnya untuk
menantang secara non-violence kesepakatan-kesepakatan yang ada, sering sangat menjalar baik bagi kelompok-kelompok lingkungan arus utama, maupun untuk pelbagai kelompok aktivis ad-hoc yang bermunculan. Selain itu seluruh cara aksi politik- aksi duduk, demonstrasi, pawai protes pada waktu itu masih merupakan hal baru bagi Amerika.
Perkawinan antara keduanya itu juga mengakibatkan ledakan massa demonstran juga memicu terbentuknya sejumlah organisasi lingkungan baru yang sebagian lebih bersifat lokal bukan bersifat nasional. Selain itu, ketika tidak satu pun organisasi lama memiliki pengalaman dan keahlian -atau bahkan keinginan bersama-untuk bergerak bersama dengan cakupan luas terhadap isu polusi, sehingga gerakan dengan cakupan luas justru diprakarsai oleh sejumlah organisasi yang lebih kecil untuk menyalurkan aspirasi dan keprihatinan masyarakat.
Kepercayaan
Generasi pemrotes ini lahir pada waktu kegagalan-kegagalan masyarakat pertengahan abad ini semakin mendapat soroton, maka kesepakatan-kesepakatan yang tanpa kritik semasa tahun-tahun pemerintahan Eisenhower mulai diragukan dan ditinggalkan. Apapun sifat pelbagai kegagalan yang ada-perang Vietnam yang konyol, kekerasan di daerah perkotaan, pembunuhan dan hura-hara, devaluasi,inflasi- semua itu menunjukkan bahwa banyak dari sistem yang harus digugat. Bagi banyak aktivis lingkungan, ini berarti semakin tingginya kesadaran di kalangan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab- mulai dari salah urus pada tingkat federal sampai pada kurangnya perhatian di tingkat pemerintah lokal- dan sebagai pelayan bisnis yang nyata-nyata
merugikan lingkungan demi keuntungan perusahaan swasta.
Disisi lain di kalangan publik luas setelah memandang dengan kagum munculnya
'masyarakat makmur", mulai berhitung berapa harga yang harus untuk semua itu. Disekeliling masyarakat itu terlihat buah-buah dari apa yang disebut 'revolusi sintetis', plastik, bahan kimia, pestisida, detergen, pusat tenaga nuklir dan juga tampak bertebaran daerah atau kawasan pinggiran kota serta merebaknya gedung-gedung pencakar langit. Sekalipun demikian tidak muncul ketenangan dan kedamaian serta kehidupan harmonis seperti yang dijanjikan.
Yang lebih gawat lagi, bahwa semua kemanfaatan materi itu tampaknya harus dibayar mahal - penuh sesaknya kawasan perkotaan, semakin luasnya kawasan sub-urban, polusi udara dan kabut campur asap, sungai-sungai dibendung, penyakit kanker dan abu radioaktif yang berasal dari peledakan nuklir (suatu harga yang sering masuk dalam tayangan tv) - dan semua itu berlangsung makin gila saja yang nampaknya sudah di luar pengawasan yang efektif baik oleh organisasi bisnis sendiri yang mengambil keuntungan darinya, maupun oleh pemerintah yang semestinya mengaturnya.
Pada saat yang sama, suasana 'boom materi' pasca perang telah menghasilkan semakin tingginya jumlah tamatan universitas, karyawan kelas menengah yang tumbuh cepat menempati kawasan pinggiran kota agar mereka dapat kembali mendengarkan kicau burung di pagi hari dan menatap bintang di malam hari.
Mereka ini menginginkan - dan dapat membiayai- apa yang disebut oleh para ahli sosiologi 'kualitas hidup' bukan 'standar hidup' dalam arti tradisional : tambahan yang membuat hidup lebih nikmat setelah kebutuhan pokok, termasuk waktu senggang, hiburan diluar rumah, air dan udara yang bersih, keamanan dan kesehatan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar akan lingkungan yang alami.
Kebangkitan Opini Massa
Ditengah mulai tumbuhnya kesadaran baru yang mulai matang muncul sebuah buku yang sangat fantantis yang ditulis oleh seorang akademisi yang sedang menjemput maut akibat kanker oleh pestisida yang menjadi bahan observasinya, sekaligus menjadi sumber inspirasi gerakan dan kesadaran tentang bahaya maut yang datang seiring meningkatnya kemakmuran. Akhir 1962 terbitlah Silent Spring dan didaftar sebagai salah satu buku yang paling laris selama 31 minggu dan terjual lebih dari 500.000 eksemplar. Yang menarik adalah fakta bahwa gerakan lingkungan - dalam arti yang aktif, vokal, merakyat dan berpengaruh - tidak ada sebelum Silent Spring terbit.Max Nicholson, kepala British Nature Conservancy dan seorang tokoh internasional menyebut Silent Spring “mungkin merupakan sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekologi”.
Kebangkitan opini massa juga dipicu oleh kelompok media utama yang akhirnya menyadari seriusnya masalah lingkungan dan cakupan pemuatan berita serta isunya secara lambat namun pasti semakin mendapat tempat sepanjang dasawarsa itu, dan semakin meningkat lagi di awal tahun 1970-an dengan artikel-artikel halaman depan dan berita-berita utama di majalah Time, Fortune, Newsweek, Life, Look, The New York Times dan The Washington Post, semua itu mengambil model berita utama Newsweek yang berjudul "The Ravaged Environment' (Lingkungan yang Rusak)
Robert Heilbroner dari The New York Riview of Books dalam bulan April 1970 menyebutkan 'isu ekologi telah menjadi keprihatinan masyarakat luas". "Isu soal ekologi bukan saja yang terutama dan selalu penting, tapi. memang telah merupakan tantangan yang paling sukar dan paling berbahaya yang pernah dihadapi umat manusia" Bahwa tantangan itu telah diisolir dan bahkan telah mulai ditanggapi dengan jelas merupakan kinerja yang menjadi bukti bahwa sebuah revolusi sosial memang telah dimulai di Amerika. Titik puncaknya adalah dicanangkannya Hari Bumi dalam tahun 1970".
Kekalahan proyek bendungan Grand Canyon, dan diberlakukan Wilderness Preservation Systems (Sistem Kawasan hutan Lindung) dan kemudian pada akhir tahun 1968 National Wild and Scenic River Systems) yang diliput secara luas oleh media massa menandai suatu titik balik dalam sikap orang Amerika terhadap tanah, alam atau bagiannya yang terpenting bukan hanya untuk di eksploitasi dan dimanipulasi, tapi harus dilestarikan dan dilindungi, serta dicintai sebagai semama makluk hidup.
Kedua hal ini mewarnai perjalanan gerakan lingkungan hidup dan membangun optimisme publik untuk mempengaruhi lembaga sentral dalam hal ini pemerintah. Undang-undang yang terkait dengan upaya pelestarian hutan lindung rancangan telah diajukan oleh Wilderness Society untuk dipertimbangkan konggres pada akhir tahun 1950-an dan proses dengar pendapatnya telah dimulai tahun 1957 dengan mendapat perlawanan keras dari perusahaan-perusahaan swasta. Baru ketika awal tahun 1960 gerakan konservasi mulai menemukan semangat baru dan cara baru untuk menentang pemerintah yang bersikeras. Baru pada tahun 1963 rancangan undang-undang ini harus diputuskan melalui pemilihan suara dan di Senat pada tahun 1964. Ternyata UU ini diterima dengan suar mutlak, ditandatangani dan mulai berlaku 9 September 1964. 25 tahun setelah UU ini diberlakukan, kawasan hutan lindung meningkat dari 9,1 juta acre menjadi lebih dari 90 juta acre.
Selain pada dasawarsa ini muncul resistensi yang sangat kuat atas rencana pembangunan Bendungan grand Canyon. Hal ini tak lepas dari peran David Brower dari Sierra Club yang mulai melakukan strategi baru dan kelompok pendukung baru. Dari jerih payahnya itu perjuangan mencapai kemenangannya. Surat dan telegram protes membanjiri kantor anggota Konggres, dan ribuan orang melakukan percakapan telpon untuk memprotes, dan tidak terhitung artikel yang muncul pada meida massa nasional dengan nada yang sama serta terbentuknya pelbagai kelompok masyarakat (protes) ditingkat akar rumput untuk mempertahanakan kelanjutan tekanan tersebut.
Belum lagi banyak kasus bencana lingkungan (polusi) yang membangkitkan kecemasan publik tercatat pada dasawarsa itu muncul bencana 80 orang meninggal di New York City selama 'pergantian udara" dalam musim panas tahun 1966, kapal Torrey Canyon karam dan menumpahkan 117.000 ton minyak mentah ke selat Inggris pada maret 1967, sebuah anjungan minyak lepas pantai dekat Santa Barbara, california membocorkan berjuta-juta galon minyak mentah ke sepanjang pantai California dalam bulan Januari dan februari 1969, sungai Cuyahoga dekat Cleveland tiba-tiba terbakar dan Danau Erie yang berdekatan dinyatakan sebagai 'sebuah lobang yang mati tenggelam' sebagai akibat sampah dan limbah kimia dalam musim panas tahun 1969
Para aktivis kampus, yang pada saat itu sedang berada di puncak kampanye anti perang, dengan antusias bersatu untuk mencari dan meneliti keterkaitan antara lembaga-lembaga yang mendukung campur tangan militer pada satu pihak dan polusi bahan kimiawi di pihak lain.
Efek
Tentang fenomena gerakan sosial baru ini Kirkpatrick Sale mencatat bahwa jarang sekali ada suatu gerakan yang dalam tempo sesingkat itu memperoleh dukungan luas masyarakat, dan menjadi bagian menentukan dalam kampanye politik sampai agenda rapat legislatif atau memberikan dampak regulatoris dan legislatif yang luar biasa, menghasilkan sedemikian banyak organisasi aktif atau menjadi terpatri dalam suatu kebudayaan ; benar-benar Revolusi Hijau. Namun demikian sebagai catatan setelah periode 60-70-an gerakan lingkungan hidup mendapatkan perlawanan keras dari Presiden Reagan sebagai dedengkot neo-liberalisme.
Dukungan yang ditanam di tahun 60-70 an telah menemukan panenan yang luar biasa. Menurut sebuah Survey 1990 menunjukkan : 74% responden menganggap perlindungan lingkungan adalah mutlak sehingga standar ambang batas tidak boleh ditentukan terlalu longgar (1981 baru 45% persen yang menyatakan demikian) Survey lain menunjukkan bahwa 76% rakyat Amerika menyatakan sebagai pemerhati lingkungan hidup dan lebih dari separuhnya telah menyumbang untuk organisasi lingkungan hidup. Serta 80% rakyat AS mendukung tujuan organisasi lingkungan.
Selain itu Resources Guide to Environmental Organizations menyebutkan 14 juta orang (satu banding tujuh orang dewasa) di Amerika menjadi anggota organisasi lingkungan hidup dibandingkan pada awal 70-an baru mencapai sekitar 300.000 orang. Sedangkan organisasi lingkungan bertumbuh dari beberapa ratus pada awal tahun 70 menjadi 3000 organisasi diakhir tahun 70an
Lepas dari keberhasilan itu pada akhir bukunya Kirkpatrick Sale melontarkan kritik terhadap gerakan lingkungan hidup di AS. Ia mengatakan selain perselisihan dan pertentangan di kalangan sendiri, gerakan lingkungan masih harus mencari cara untuk mempengaruhi inti kepuasan publik Amerika, atau menghindari pemberian tugas yang cuma berada pada tepi-tepi kehidupan politik, sehingga gerakan lingkungan itu sendiri diremehkan, atau bahkan ditekan. Dan semakin gerakan lingkungan itu mempertanyakan nilai-nilai utama dari sistem Amerika dibalik krisis-krisis lingkungan (liberalisme, kapitalisme catatan saya) itu atau mempertanyakan peradaban, diatas mana gerakan lingkungan itu berada, maka gerakan itu akan semakin mendapatkan perlawanan, kalau bukan untuk jangka panjang pasti dalam jangka pendek.
Baca pula SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
KERANGKA TEORI SEDERHANA TTG GERAKAN SOSIAL
Jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan kayakinan : engkau akan hancur!
(Wiji Thukul : Tembok dan Bunga)
Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilya hanyalah untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya ofensiflah yang dapat menaklukan musuh. (AH Nasution)
Indikasi awal untuk menangkap gejala gerakan sosial menurut John Lofland (Protes; Insist Press 2003) adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kualitas "aliran" atau "gelombang". Dalam prakteknya suatu gerakan sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, bertambahnya jumlah anggota pada suatu organisasi gerakan dan semakin banyaknya aksi kekerasan atau protes terencana dan tak terencana.
Selain itu menurut Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan adalah, pertama, aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati kurun waktu itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses 'cooled down'. Kedua, banyak organisasi kekerasan atau protes yang berubah menjadi gerakan sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan yang disebut diatas. Organisasi-organisasi ini selalu
berupaya menciptakan gerakan sosial - atau jika organisasinya memiliki teori operasi yang berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalisme) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik dan jahat, atau kedua hal tersebut, serta menunggu kegagalan fungsi lembaga sentral. Kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.
Lebih lanjut dapat dirumuskan bahwa sebuah gerakan sosial terdiri dari
1. Lahirnya kekerasan atau protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara independen
2. Bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi kekerasan dan/atau protes terencana dan tak terencana (terutama kumpulan) secara cepat
3. Kebangkitan opini massa
4. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
5. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan pada struktur dari lembaga-lembaga sentral.
Gelombang dan aliran ini analoginya dapat di temukan dalam salah satu petikan puisi Wiji Thukul Tembok dan Bunga pada awal tulisan ini. Gerakan pinggiran, gerakan awalan, embrio gerakan memulai dengan menebarkan biji-biji di tembok (lembaga sentral : pemerintah, militer, polisi atau dalam bentuk sistem-struktur sosial dominan). Hingga kemudian gerakan tersebut menemukan momentum bersama ketika biji-biji itu tumbuh bersama dan menghancurkan tembok tersebut.
Atau meminjam teori gerilyanya AH Nasution bahwa embrio gerakan adalah sekelompok gerilya yang bekerja secara 'hit and run' dengan tujuan memeras tenaga musuh bukan kemenangan yang hakekatnya bergerak dalam front tertutup, terbatas dan sporadis. Dimana kemenangan hanya dapat diraih ketika momentumnya tiba, ketika ofensif dilakukan secara terbuka oleh tentara reguler atau oleh perlawanan semesta rakyat dan tentara.
Selain itu 5 gejala gerakan sosial seperti disebutkan oleh Lofland, pemahaman tentang gerakan sosial dapat diturunkan lebih jauh kedalam tujuh pertanyaan pokok tentang Gerakan Sosial. Ke 7 pertanyaan pokok merupakan indikator yang praktis untuk menganalisis gerakan sosial sekaligus sebagai petunjuk praktis bagi pelaku gerakan sosial untuk 'merancang' atau paling tidak memicu gerakan sosial
1.Kepercayaan : hal-hal yang dianggap benar (ideologi, doktrin,pandangan, harapan, kerangka berpikir, wawasan, perspektif.)
- realitas apa yang mereka tuntut/pertentangkan
- siapa yang dianggap lawan dan siapa yang diteladani
- perubahan secara total atau parsial
- pada tingkatan individual atau 'supra individual' (politik, ekonomi,
budaya)
2. Organisasi : cara bagaimana orang-orang yang mempunyai 'pandangan' yang s
ama,
diatur/diarahkan untuk mencapai tujuan.
- bagaimana orang-orang diorganisir/cara-cara mengorganisir
- bagaimana proses pengambilan keputusan (sentralistik/desentralistik)
- adakah pembagian kerja di organisasi gerakan
- cara memelihara orang-orang tetap melaksanakan tugasnya
- cara-cara memperoleh dana dari gerakan
- organisasi bersifat sementara atau permanen
3. Sebab-sebab : variabel-variabel yang berpengaruh terhadap gerakan sosial
- bagaimana gerakan sosial dimulai/dibentuk
- kapan gerakan itu dibentuk
- mengapa gerakan itu muncul
Secara teoritik ada 17 variabel yang berpengaruh, yaitu:
a. perubahan dan ketimpangan sosial
b. kesempatan politik
c. campurtangan negara terhadapkehidupan warga
d. kemakmuran (yang menimbulkan deprivasi ekonomi)
e. konsentrasi geografis
f. identitas kolektif
g. solidaritas antar kelompok
h. krisis kekuasaan
i. melemahnya kontrol kelompok yang dominan
j. pemfokusan krisis
k. sinergi gelombang warga negara (penduduk)
l. adanya pemimpin
m. jaringan komunikasi
n. integrasi jaringan di antara para pembentuk potensial
o. adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial
p. kemampuan mempersatukan
4. Keikutsertaan : keanggotaan dalam arti yang paling lemah sampai yang paling kuat
- mengapa orang ikut dalam gerakan
- sampai seberapa jauh keterlibatnanya dalam organisasi
- siapa yang menjadi pendukung gerakan
- bagaimana mensosialisasikan gerakan kepada pengikutnya
5. Strategi : cara atau metode untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan
- usaha-usaha apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan gerakan
- apada tujuan utama dari setiap strategi yang digunakan
- dalam mencapai tujuan itu, lebih menekankan pada perubahan
institusi-institusi sosial (societal manipulation) ataukah dengan mengubah
hati dan pemikiran orang-orang (personal transformation)
- strategi yang digunakan bersifat terbuka atau tertutup, terang-terangan
atau tersembunyi
- menggunakan strategi penyerangan frontal atau pengikisan
- 'pendirian' mereka dinayatakan secara halus (polite), melalui aksi protes
atau kekerasan
- mekanisme taktik yang digunakan terhadap kelompok sasaran : persuasi,
negosiasi atau paksaan
6. Efek : tanggapan atau reaksi kalangan luar terhadap gerakan sosial
- reaksi penguasa
- reaksi elit
- reaksi media
- reaksi sesama gerakan sosial
((Dr. Ngadisah, MA; Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial Politik di Papua,
Pustaka Raja 2003)
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
Buyat dan Refleksi Gerakan Lingkungan Hidup (2)
Belajar dari tragedi Minamata
Kompas, August 31, 2004
Christine Sussana Tjhin
Tragedi Minamata dan tragedi lainnya menggeser perilaku Jepang atas lingkungan. Perubahan tersebut ditandai dengan kelahiran kosakata baru, "kogai", yang berarti penghancuran domain publik (Jun Ui, 1992).
Meskipun kasus Minamata berhasil dimenangi oleh warga, banyak yang menyesali bahwa andai direspons lebih cepat, kasus ini bisa saja menjadi sentra krusial yang menjadi titik pusat perubahan ekonomi politik Jepang yang membentuk perilaku terhadap lingkungan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Seandainya hal ini tercapai, Jepang tidak perlu menghadapi tragedi-tragedi lingkungan lainnya (penyakit itai-itai, asma Yokkaichi, dan lain-lain) yang memukul sedemikian kuat.
Haruskah kejadian setragis Minamata terjadi dulu di Indonesia sebelum kita semua menyadari apa artinya lingkungan bagi kehidupan kita?
Perdebatan tereduksi pada apakah warga Buyat menderita Minamata atau bukan. Apa pun jawabannya, fakta menunjukkan bahwa faktor lingkungan sama sekali tidak mendapatkan tempat yang layak.
Jika dulu, akselerasi ekonomi Orde Baru dijadikan alasan, saat ini, krisis ekonomi dan reformasi politik menjadi justifikasi baru. Terlepas dari jargon pembangunan berkesinambungan di Indonesia serta laporan yang berbunga-bunga di KTT Dunia, isu lingkungan masih inferior dibandingkan dengan isu ekonomi/investasi ataupun isu politik dalam formulasi kebijakan. Praktik korupsi pun memperparah keadaan.
Apa pun penyakitnya, masyarakat Buyat sudah sakit. Sangat sakit. Tetapi terus saja izin untuk investor menjadi lebih penting ketimbang pantai, laut, tanah dan sungai yang terkontaminasi limbah; atau hutan yang semakin gundul oleh api, tangan dan mesin; dan manusia-manusia yang hidup di sana. Seiring berlalunya waktu, selalu saja kelompok masyarakat yang paling lemah yang paling dulu dan paling berat dirugikan. Dalam hal Buyat, nelayan dan keluargalah yang paling menderita.
Kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Tapi, tentu saja, Buyat kalah pamor. Saat ini aktor-aktor utama sedang menjalankan upaya masing-masing dan masih belum bisa diketahui apakah Buyat bisa menjadi preseden yang kuat untuk penanganan kasus yang multidimensional ini. Jika direspons dengan benar, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya.
Kesimpangsiuran berita Buyat, rumor-rumor-mulai dari Newmont membayar suap untuk membungkam sebagian pejabat dan masyarakat lokal, pemerintah yang membela investor ketimbang warga, LSM yang mem-blow up kasus ini untuk memeras Newmont–-berpotensi membelokkan esensi dari permasalahan dan mendiskreditkan upaya-upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan hak asasi warga Buyat dan masa depan lingkungan dan kesejahteraan Indonesia.
***
Media massa berperan krusial. Di Jepang, ia berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.
Dengan mengandalkan kontinuitas pemberitaan dan alur komunikasi yang multi-arah, media terus mengentak kesadaran masyarakat bahwa perusakan lingkungan adalah perusakan multidimensional dan lintas-batas teritorial. Kerja sama strategis antara para korban, LSM yang membantu dan media tidak terjadi semalam saja.
Di Jepang, hal tersebut baru terbangun di akhir tahun 1960-an. Stamina untuk menjaga keberlangsungan strategi tersebut pun berat. Semoga saja media massa Indonesia mampu bertahan.
Kontribusi beberapa LSM dalam membantu masyarakat Buyat pun patut mendapatkan acungan jempol. Tetapi dukungan yang lebih meluas masih sangat diperlukan. LBH Kesehatan menjadi pendamping korban Buyat yang mengajukan tuntutan ke-3 kementerian dihadapi dengan tantangan mempertahankan kredibilitas dan ketersediaan sumber daya.
Beberapa LSM lain berupaya memperluas jaringan mereka ke luar negeri dan berhasil mendapatkan respons, antara lain dari Minamata Institute di Jepang yang membantu dalam melakukan tes dan Global Response di AS dalam memberikan tekanan kepada Newmont pusat. Beberapa gerakan perempuan tampaknya mulai mengantisipasi kasus ini dan mencoba membawanya keluar dari sekadar isu lingkungan melalui advokasi korban perempuan dan anak-anak. Bisakah jaringan tersebut bertahan?
Lelucon terbesar adalah saat Menteri Lingkungan Hidup menolak memakan ikan yang dihidangkan ke hadapan beliau saat mempromosikan gerakan makan ikan di Sulawesi. Terlintas film Erin Brokowich (film tentang perjuangan seorang perempuan dalam kasus pencemaran di AS).
Ada sebuah adegan di mana para pengacara korporasi sedang berusaha menegosiasikan harga damai untuk membungkam para korban dengan Erin. Mungkin ekspresi pengacara tersebut saat diberitahukan oleh Erin bahwa minuman yang ia minum datang dari tempat yang tercemar serupa dengan ekspresi Bapak Menteri saat disuguhi ikan yang bentol-bentol?
AS sudah menolak 200 juta ton ikan dari Sulawesi. Di Jakarta, banyak ibu-ibu yang berpikir lima kali sebelum beli ikan. Hanya sejauh itukah masyarakat Indonesia akan bereaksi? Dengan tidak makan ikan? Bisakah ke-3 kementerian yang dituntut keluar dari sikap defensifnya dan menaruh energinya untuk kepentingan masyarakat?
Bisakah Polri dan pengadilan bersikap profesional dalam menangani tuntutan masyarakat ini? Bisakah Newmont menjalankan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat setempat? Bisakah semuanya bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan ini tanpa mengorbankan masyarakat lagi?
***
Buyat bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.
Sebagai refleksi tambahan ke depan, desentralisasi membawa tantangan dan kesempatan yang besar bagi proses perusakan/perbaikan lingkungan di Indonesia. Kewenangan pemerintah daerah untuk pengolahan lingkungan jangan sampai terpaku pada upaya menghasilkan uang bagi kas pemda terutama dengan gencarnya persaingan ekonomi global dalam menarik investor.
Sering kali tragedi pencemaran bermula dengan mesranya hubungan investor baru dengan pemerintah dan masyarakat lokal yang tergiur oleh keuntungan materi tanpa menyadari akan dampaknya terhadap lingkungan.
Jika kasus Buyat hanya diperlakukan sebagai kasus lokal seputar isu lingkungan saja, berarti sekali lagi kita membodohi diri sendiri dan menggali kubur yang lebih dalam bagi Indonesia. Jika kasus Buyat dan kasus-kasus lingkungan lainnya terus saja disepelekan, sangatlah tidak pantas bagi kita untuk berbangga diri dengan "keberhasilan" Pemilu 2004.
Lancangnya kita karena berpretensi bahwa pesta demokrasi telah sukses saat suara pemilih sudah dihitung, sementara rintihan suara korban di Buyat, Tembaga Pura, Rampa, Teluk Jakarta dan di lokasi-lokasi tercemar lainnya hilang terbawa angin yang penuh polusi.
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
Kompas, August 31, 2004
Christine Sussana Tjhin
Tragedi Minamata dan tragedi lainnya menggeser perilaku Jepang atas lingkungan. Perubahan tersebut ditandai dengan kelahiran kosakata baru, "kogai", yang berarti penghancuran domain publik (Jun Ui, 1992).
Meskipun kasus Minamata berhasil dimenangi oleh warga, banyak yang menyesali bahwa andai direspons lebih cepat, kasus ini bisa saja menjadi sentra krusial yang menjadi titik pusat perubahan ekonomi politik Jepang yang membentuk perilaku terhadap lingkungan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Seandainya hal ini tercapai, Jepang tidak perlu menghadapi tragedi-tragedi lingkungan lainnya (penyakit itai-itai, asma Yokkaichi, dan lain-lain) yang memukul sedemikian kuat.
Haruskah kejadian setragis Minamata terjadi dulu di Indonesia sebelum kita semua menyadari apa artinya lingkungan bagi kehidupan kita?
Perdebatan tereduksi pada apakah warga Buyat menderita Minamata atau bukan. Apa pun jawabannya, fakta menunjukkan bahwa faktor lingkungan sama sekali tidak mendapatkan tempat yang layak.
Jika dulu, akselerasi ekonomi Orde Baru dijadikan alasan, saat ini, krisis ekonomi dan reformasi politik menjadi justifikasi baru. Terlepas dari jargon pembangunan berkesinambungan di Indonesia serta laporan yang berbunga-bunga di KTT Dunia, isu lingkungan masih inferior dibandingkan dengan isu ekonomi/investasi ataupun isu politik dalam formulasi kebijakan. Praktik korupsi pun memperparah keadaan.
Apa pun penyakitnya, masyarakat Buyat sudah sakit. Sangat sakit. Tetapi terus saja izin untuk investor menjadi lebih penting ketimbang pantai, laut, tanah dan sungai yang terkontaminasi limbah; atau hutan yang semakin gundul oleh api, tangan dan mesin; dan manusia-manusia yang hidup di sana. Seiring berlalunya waktu, selalu saja kelompok masyarakat yang paling lemah yang paling dulu dan paling berat dirugikan. Dalam hal Buyat, nelayan dan keluargalah yang paling menderita.
Kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Tapi, tentu saja, Buyat kalah pamor. Saat ini aktor-aktor utama sedang menjalankan upaya masing-masing dan masih belum bisa diketahui apakah Buyat bisa menjadi preseden yang kuat untuk penanganan kasus yang multidimensional ini. Jika direspons dengan benar, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya.
Kesimpangsiuran berita Buyat, rumor-rumor-mulai dari Newmont membayar suap untuk membungkam sebagian pejabat dan masyarakat lokal, pemerintah yang membela investor ketimbang warga, LSM yang mem-blow up kasus ini untuk memeras Newmont–-berpotensi membelokkan esensi dari permasalahan dan mendiskreditkan upaya-upaya yang dilakukan untuk memperjuangkan hak asasi warga Buyat dan masa depan lingkungan dan kesejahteraan Indonesia.
***
Media massa berperan krusial. Di Jepang, ia berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.
Dengan mengandalkan kontinuitas pemberitaan dan alur komunikasi yang multi-arah, media terus mengentak kesadaran masyarakat bahwa perusakan lingkungan adalah perusakan multidimensional dan lintas-batas teritorial. Kerja sama strategis antara para korban, LSM yang membantu dan media tidak terjadi semalam saja.
Di Jepang, hal tersebut baru terbangun di akhir tahun 1960-an. Stamina untuk menjaga keberlangsungan strategi tersebut pun berat. Semoga saja media massa Indonesia mampu bertahan.
Kontribusi beberapa LSM dalam membantu masyarakat Buyat pun patut mendapatkan acungan jempol. Tetapi dukungan yang lebih meluas masih sangat diperlukan. LBH Kesehatan menjadi pendamping korban Buyat yang mengajukan tuntutan ke-3 kementerian dihadapi dengan tantangan mempertahankan kredibilitas dan ketersediaan sumber daya.
Beberapa LSM lain berupaya memperluas jaringan mereka ke luar negeri dan berhasil mendapatkan respons, antara lain dari Minamata Institute di Jepang yang membantu dalam melakukan tes dan Global Response di AS dalam memberikan tekanan kepada Newmont pusat. Beberapa gerakan perempuan tampaknya mulai mengantisipasi kasus ini dan mencoba membawanya keluar dari sekadar isu lingkungan melalui advokasi korban perempuan dan anak-anak. Bisakah jaringan tersebut bertahan?
Lelucon terbesar adalah saat Menteri Lingkungan Hidup menolak memakan ikan yang dihidangkan ke hadapan beliau saat mempromosikan gerakan makan ikan di Sulawesi. Terlintas film Erin Brokowich (film tentang perjuangan seorang perempuan dalam kasus pencemaran di AS).
Ada sebuah adegan di mana para pengacara korporasi sedang berusaha menegosiasikan harga damai untuk membungkam para korban dengan Erin. Mungkin ekspresi pengacara tersebut saat diberitahukan oleh Erin bahwa minuman yang ia minum datang dari tempat yang tercemar serupa dengan ekspresi Bapak Menteri saat disuguhi ikan yang bentol-bentol?
AS sudah menolak 200 juta ton ikan dari Sulawesi. Di Jakarta, banyak ibu-ibu yang berpikir lima kali sebelum beli ikan. Hanya sejauh itukah masyarakat Indonesia akan bereaksi? Dengan tidak makan ikan? Bisakah ke-3 kementerian yang dituntut keluar dari sikap defensifnya dan menaruh energinya untuk kepentingan masyarakat?
Bisakah Polri dan pengadilan bersikap profesional dalam menangani tuntutan masyarakat ini? Bisakah Newmont menjalankan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat setempat? Bisakah semuanya bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan ini tanpa mengorbankan masyarakat lagi?
***
Buyat bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.
Sebagai refleksi tambahan ke depan, desentralisasi membawa tantangan dan kesempatan yang besar bagi proses perusakan/perbaikan lingkungan di Indonesia. Kewenangan pemerintah daerah untuk pengolahan lingkungan jangan sampai terpaku pada upaya menghasilkan uang bagi kas pemda terutama dengan gencarnya persaingan ekonomi global dalam menarik investor.
Sering kali tragedi pencemaran bermula dengan mesranya hubungan investor baru dengan pemerintah dan masyarakat lokal yang tergiur oleh keuntungan materi tanpa menyadari akan dampaknya terhadap lingkungan.
Jika kasus Buyat hanya diperlakukan sebagai kasus lokal seputar isu lingkungan saja, berarti sekali lagi kita membodohi diri sendiri dan menggali kubur yang lebih dalam bagi Indonesia. Jika kasus Buyat dan kasus-kasus lingkungan lainnya terus saja disepelekan, sangatlah tidak pantas bagi kita untuk berbangga diri dengan "keberhasilan" Pemilu 2004.
Lancangnya kita karena berpretensi bahwa pesta demokrasi telah sukses saat suara pemilih sudah dihitung, sementara rintihan suara korban di Buyat, Tembaga Pura, Rampa, Teluk Jakarta dan di lokasi-lokasi tercemar lainnya hilang terbawa angin yang penuh polusi.
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
Buyat dan Refleksi Gerakan Lingkungan Hidup (I)
(posting 2004 yang semoga masih relevan)
Paling tidak selama satu bulan berturut-turut (non-stop setiap hari) Koran Kompas memuat berita Buyat, demikian media massa lain baik koran, radio maupun televisi memberikan porsi pemberitaan yang luas tentang kasus ini. Berdasarkan pengalaman di berbagai negara dukungan media massa merupakan salah satu kunci keberhasilan gerakan lingkungan hidup dalam kegiatan advokasinya.
Menurut Chrtistine Sussana (peneliti CSIS) di Jepang, media massa berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.
Peran media massa penting dilihat dari sisi bahwa merekalah yang mampu menghadirkan fakta-fakta aktual yang kemudian akan mampu membentuk opini publik dan mendorong publik untuk melakukan tindakan. Berbagai kajian dan penelitian menguatkan argumen ini, diantaranya seperti dirangkum oleh kawan Abdul Wahid Situmorang, Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik
untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl ampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak asarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.
Oleh karena itu tragedi atau penyelesaian kasus Buyat adalah sebuah momentum penting untuk mendorong atau mengakselerasi perubahan yang lebih besar. Kawan Situmorang berharap k asus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia ( The Silent Spring
adalah sebuah buku yang ditulis oleh Rachel Carson tahun 1962. Menurut Kirkpatrick Sale memainkan peranan sangat penting dalam sejarah atau pertumbuhan gerakan LH di Amerika Serikat. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta pemerintahnya
melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama).
Sedangkan Susanna melihat kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Ia mengatakan bila kasus direspon dengan baik oleh pemerintah, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya. Selanjutnya dikatakannya BUYAT bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.
Saya sendiri melihat bahwa narasi besar dari persoalan Buyat dan juga Freeport (yang mencuat sebelumnya) adalah imperialisme, khususnya imperialisme pertambangan dan sistim ekonomi politik yang korup yang melanggengkan penjajahan baru ini. Sehingga penyelesaian terhadap kasus Buyat, sesungguhnya akan dapat menjadi momentum untuk mengakselerasi perlawanan terhadap ketidakadilan struktural ini.
Pertanyaannya kemudian sanggupkah gerakan lingkungan hidup mendesakkan penyelesaian yang jujur dan adil atas kasus Buyat, sekaligus membangun atau melakukan perluasan basis konstituen gerakan lingkungan sebagai motor perubahan yang lebih luas dikemudian hari.
Kawan-kawan walaupun penyelesian kasus Buyat masih berjalan, saya mengajak kawan-kawan gerakan lingkungan hidup (termasuk kawan-kawan saya di Walhi) untuk melakukan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup atau gerakan sosial yang kita bangun secara khusus tentang bagaimana kita memperlakukan kasus ini? Apakah kita bisa menggunakan kasus Buyat ini untuk mendorong perubahan yang lebih luas, apakah juga kita mampu mendorong isu lingkungan masuk ke jantung perpolitikan negeri ini atau tetap sebagai isu pinggiran atau marginal? Saya bahkan cemas kebenaran dan keadilan gagal ditegakkan dalam kasus Buyat ini?
Untuk itu dengan terlebih dahulu memohon maaf atas kecerewetan ini dan mungkin beban pada rekening email kawan-kawan, saya mengajak kawan-kawan untuk membaca kembali artikel Abdul Wahid Situmorang di koran Tempo "Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia" (bagian I) dan artikel Christine Susanna Tjhin di Kompas "Belajar dari Tragedi Minamata" (bagian II). Selanjutnya saya akan sajikan saduran atas buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996, sebagai bahan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup sebagai gerakan sosial (bagian IV). Saya menyadur karya ini dengan terlebih dahulu merangkai teoritisasi sederhana tentang gerakan
sosial, konsep itu kemudian digunakan sebagai kerangka penyaduran buku ini. (bagian III)
Selebihnya terserah kawan-kawan apakah akan dijadikan bahan merenung-renung sendiri, diskusi di milis ini atau bahkan dijadikan pengantar tidur atau di delete saja
Salam
Andreas Iswinarto
Koran Tempo, 14 Agustus 2004
Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia
Abdul Wahib Situmorang
Alumnus Ohio University
Kirkpatrick Sale (1993) dalam bukunya The Green Revolution menyatakan bahwa bangkitnya gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat pada dekade 1960-an tidak terlepas dari pengaruh terungkapnya dampak negatif pestisida terhadap lingkungan hidup dan manusia. Menurut Sale, adalah Rachel Carson (1962), melalui bukunya The Silent Spring, memainkan peranan sangat penting. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta
pemerintahnya melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama.
Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl mampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak dasarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.
Saat ini, kita terhentak melalui pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik tentang pencemaran merkuri dan logam berat lainnya di Teluk Buyat Minahasa, Sulawesi Utara. Tragedi ini terungkap setelah masyarakat buyat didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan melaporkan dampak pencemaran yang mereka alami ke Markas Besar Polisi di Jakarta. Menurut sejumlah penelitian, pencemaran ini sangat potensial merugikan kesehatan masyarakat buyat, bahkan untuk beberapa tingkatan dampak logam berat ini sangat mematikan. Mereka, para peneliti, melakukan pengecekan beberapa sampel darah masyarakat Buyat dan hasilnya mengungkapkan bahwa sampel darah yang diambil positif mengandung merkuri.
Dari sudut pandang akademisi gerakan lingkungan hidup menarik dan penting untuk dielaborasi, apakah tragedi pencemaran logam berat di Teluk Buyat Minahasa memungkinkan sebagai stimulan merubah sikap dan aksi para elit pemerintah, parlemen dan aparat penegak hukum menindak secara tegas kasus-kasus pencemaran? Dan apa arti pentingnya tragedi Minahasa bagi aktivis pro lingkungan hidup dan kemanusian memobilisasi sumberdaya yang mereka miliki?
Tragedi Minahasa, sejauh ini, tidak merubah sikap elit pemerintah bertindak cepat memecahkan masalah pencemaran yang berdampak serius terhadap hancurnya ekosistem dan termarginalisasinya manusia dari lingkungan hidupnya. Dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat, alih-alih pemerintah berpihak dan berempati kepada korban pencemaran, pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pertambangan dan energi dan Menteri Kesehatan mengatakan bahwa pencemaran logam berat di Teluk Buyat tidak ada hubungannya dengan limbah tailing PT. Newmont Minahasa yang dibuang ke Teluk Buyat melalui pipa-pipa raksasa. Statemen pemerintah ini terlalu pagi untuk
diumumkan ke publik mempertimbangkan beberapa penelitian mengungkapkan peranan Newmont mencemarkan Teluk Buyat disamping proses investigasi sedang berlangsung.
Disamping itu, aksi pemerintah Indonesia begitu lamban menelurkan langkah-langkah affirmative action baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang memecahkan persoalan pencemaran di Teluk Buyat. Untuk jangka pendek, Pemerintah Indonesia semestinya tidak segan-segan melakukan apa saja untuk membuktikan sampai sejauh mana pencemaran logam berat merusak ekosistem Teluk Buyat termasuk masyarakat Buyatnya.
Data hasil penelitian ini penting untuk menentukan langkah-langkah kongkrit merahabilitasi dan menyembuhkan ekosistem yang telah rusak. Data ini juga sangat dibutuhkan untuk meminta pertanggungjawaban Newmont baik secara hukum maupun non hukum memperbaiki pencemaran di Teluk Buyat. Dengan data ini, pemerintah akan mampu mengambil tindakan medis secara jitu mengembalikan hak atas kesehatan kepada masyarakat buyat sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada warga negaranya. Oleh sebab itu, pengumpulan data yang solid, valid dan objektif menjadi sangat krusial dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat.
Fenomena respon pemerintah menangani kasus Teluk Buyat menunjukkan bahwa para pejabat di pemerintah terus terkungkung mind set paradigma lama melihat isu hak-hak dasar masyarakat seperti hak mendapatkan lingkungan yang bersih. Elit tetap berpendirian bahwa kepentingan investasi berada diatas kepentingan ekosistem dan hak dasar manusia. Ini tercermin rendahnya empati dan tindakan kongkrit pemerintah memecahkan, tidak hanya kasus pencemaran di Teluk Buyat tetapi juga kasus lingkungan hidup lainnya di Indonesia.
Disisi lain, kita tidak melihat tragedi pencemaran di Teluk Buyat menjadi simbol perlawanan kelompok pro lingkungan hidup menekan pelaku perusak lingkungan hidup, khususnya perilaku perusahaan tambang di Indonesia. Padahal, dampak pencemaran logam berat di Buyat sangat menggetarkan hati nurani sebagai seorang manusia dan data hasil penelitian cukup lengkap dan solid. Disamping itu, ekpos media massa baik cetak maupun elektronik terus menerus dan selalu mendapat prioritas tempat pemberitaan utama dengan menampilkan berbagai sudut berita.
Andrew Szasz (1994) dalam bukunya Eco Populism: Toxic Waste and the Movement for Environmental Justice mengungkapkan bahwa isu sampah toxic, termasuk didalamnya sampah logam berat telah menjadi ikon baru gerakan untuk keadilan lingkungan hidup. Szasz membeberkan bahwa isu sampah beracun dan berbahaya hasil buangan aktivitas industri, tidak hanya menjadi isu lingkungan hidup an-sih tetapi juga telah menjadi isu sosial. Menurut Szasz, perkembangan isu toxic menjadi isu sosial berlangsung pada decade 1970-an sampai dengan 1980-an ketika masyarakat Amerika memiliki kekhawatiran sama besarnya antara dampak sampah toxic dengan nuklir.
Selama tiga minggu isu pencemaran Teluk Buyat muncul kepermukaan, menurut catatan penulis, hanya dua protes sosial, pertama di Kalimantan Selatan dan kedua di Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas mempergunakan kasus pencemaran Teluk Buyat memperingatkan masyarakat dan pemerintah daerahnya atas dampak pertambangan skala besar bagi lingkungan hidup dan manusia. Dua-duanya menekan pemerintah daerahnya untuk mempertimbangkan secara serius aktivitas pertambangan didaerahnya masing-masing dan menolak rencana investasi baru didunia pertambangan apalagi bila itu dilakukan di hutan lindung. Meskipun demonstrasi yang digelar hanya diikuti sejumlah kecil demonstran.
Semestinya, Kasus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia.
Kelebihan kasus pencemaran teluk buyat dibandingkan dengan kasus pencemaran lainnya adalah pada dampaknya yang bisa dilihat secara kasat mata. Dan ini sangat significant menginjeksi pengetahuan tentang bahaya logam berat bagi ekosistem dan manusia kepada pemerintah dan masyarakat. Momentum seperti ini jarang terjadi sebagai media mengingatkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman logam berat diteritorialnya baik didaratan maupun didaerah perairan sebagai konsekuensi investasi industri pertambangan dan idustri lainnya yang mempergunakan bahan beracun dan berbahaya.
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
Paling tidak selama satu bulan berturut-turut (non-stop setiap hari) Koran Kompas memuat berita Buyat, demikian media massa lain baik koran, radio maupun televisi memberikan porsi pemberitaan yang luas tentang kasus ini. Berdasarkan pengalaman di berbagai negara dukungan media massa merupakan salah satu kunci keberhasilan gerakan lingkungan hidup dalam kegiatan advokasinya.
Menurut Chrtistine Sussana (peneliti CSIS) di Jepang, media massa berdiri di garda terdepan dalam memfokuskan perhatian nasional terhadap problem lingkungan yang multidimensional dan membentuk opini publik yang tercerahkan. Selain menjaga kredibilitas pemberitaan demi menangkal rumor, upaya strategis lainnya adalah gencarnya memperlihatkan konektivitas aspek lingkungan dengan aspek ekonomi, sosial-budaya dan politik, dan konektivitas lingkup lokal dengan lingkup nasional.
Peran media massa penting dilihat dari sisi bahwa merekalah yang mampu menghadirkan fakta-fakta aktual yang kemudian akan mampu membentuk opini publik dan mendorong publik untuk melakukan tindakan. Berbagai kajian dan penelitian menguatkan argumen ini, diantaranya seperti dirangkum oleh kawan Abdul Wahid Situmorang, Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik
untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl ampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak asarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.
Oleh karena itu tragedi atau penyelesaian kasus Buyat adalah sebuah momentum penting untuk mendorong atau mengakselerasi perubahan yang lebih besar. Kawan Situmorang berharap k asus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia ( The Silent Spring
adalah sebuah buku yang ditulis oleh Rachel Carson tahun 1962. Menurut Kirkpatrick Sale memainkan peranan sangat penting dalam sejarah atau pertumbuhan gerakan LH di Amerika Serikat. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta pemerintahnya
melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama).
Sedangkan Susanna melihat kasus Buyat sebenarnya merupakan tantangan demokratisasi yang dimensinya melampaui hura-hura pemilu presiden. Ia mengatakan bila kasus direspon dengan baik oleh pemerintah, berarti masih ada harapan untuk pembangunan yang berkesinambungan dan demokratisasi dalam arti yang sebenarnya. Selanjutnya dikatakannya BUYAT bukanlah satu-satunya permasalahan multidimensional yang bernuansa lingkungan yang diderita oleh Indonesia. Bisa jadi penyelesaian kasus lingkungan lain bergantung pada sejauh mana Buyat bisa diselesaikan.
Saya sendiri melihat bahwa narasi besar dari persoalan Buyat dan juga Freeport (yang mencuat sebelumnya) adalah imperialisme, khususnya imperialisme pertambangan dan sistim ekonomi politik yang korup yang melanggengkan penjajahan baru ini. Sehingga penyelesaian terhadap kasus Buyat, sesungguhnya akan dapat menjadi momentum untuk mengakselerasi perlawanan terhadap ketidakadilan struktural ini.
Pertanyaannya kemudian sanggupkah gerakan lingkungan hidup mendesakkan penyelesaian yang jujur dan adil atas kasus Buyat, sekaligus membangun atau melakukan perluasan basis konstituen gerakan lingkungan sebagai motor perubahan yang lebih luas dikemudian hari.
Kawan-kawan walaupun penyelesian kasus Buyat masih berjalan, saya mengajak kawan-kawan gerakan lingkungan hidup (termasuk kawan-kawan saya di Walhi) untuk melakukan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup atau gerakan sosial yang kita bangun secara khusus tentang bagaimana kita memperlakukan kasus ini? Apakah kita bisa menggunakan kasus Buyat ini untuk mendorong perubahan yang lebih luas, apakah juga kita mampu mendorong isu lingkungan masuk ke jantung perpolitikan negeri ini atau tetap sebagai isu pinggiran atau marginal? Saya bahkan cemas kebenaran dan keadilan gagal ditegakkan dalam kasus Buyat ini?
Untuk itu dengan terlebih dahulu memohon maaf atas kecerewetan ini dan mungkin beban pada rekening email kawan-kawan, saya mengajak kawan-kawan untuk membaca kembali artikel Abdul Wahid Situmorang di koran Tempo "Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia" (bagian I) dan artikel Christine Susanna Tjhin di Kompas "Belajar dari Tragedi Minamata" (bagian II). Selanjutnya saya akan sajikan saduran atas buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996, sebagai bahan refleksi tentang gerakan lingkungan hidup sebagai gerakan sosial (bagian IV). Saya menyadur karya ini dengan terlebih dahulu merangkai teoritisasi sederhana tentang gerakan
sosial, konsep itu kemudian digunakan sebagai kerangka penyaduran buku ini. (bagian III)
Selebihnya terserah kawan-kawan apakah akan dijadikan bahan merenung-renung sendiri, diskusi di milis ini atau bahkan dijadikan pengantar tidur atau di delete saja
Salam
Andreas Iswinarto
Koran Tempo, 14 Agustus 2004
Teluk Buyat: The Silent Spring Indonesia
Abdul Wahib Situmorang
Alumnus Ohio University
Kirkpatrick Sale (1993) dalam bukunya The Green Revolution menyatakan bahwa bangkitnya gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat pada dekade 1960-an tidak terlepas dari pengaruh terungkapnya dampak negatif pestisida terhadap lingkungan hidup dan manusia. Menurut Sale, adalah Rachel Carson (1962), melalui bukunya The Silent Spring, memainkan peranan sangat penting. Ia tidak hanya menggugah kesadaran masyarakat Amerika tentang kontribusi pestisida terhadap hancurnya ekosistem seperti matinya flora, fauna termasuk terganggunya kesehatan manusia tetapi juga mendorong perubahan sikap dan sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aksi kongkrit meminta
pemerintahnya melakukan tindakan drastis menghentikan penggunaan pestisida sebagai cara membasmi hama.
Robert Jay Lifton dan Richard Falk (1982) menjelaskan bagaimana kekuatan fakta memainkan peran sangat penting dalam tradisi gerakan lingkungan hidup. Menurut Lifton dan Falk jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki mendorong aktivis pro lingkungan hidup di dunia melakukan perlawanan secara serentak menolak nuklir sebagai solusi baik untuk mengamankan negara maupun untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik. Argumentasi ini diperkuat oleh Jacqueline Vaughn Switzer (1994), Switzer memberi contoh tragedi bocornya tabung reaktor nuklir di Chernobyl mampu menstimulasi tumbuhnya kesadaran manusia terhadap salah satu hak dasarnya, yaitu, hak atas lingkungan hidup.
Saat ini, kita terhentak melalui pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik tentang pencemaran merkuri dan logam berat lainnya di Teluk Buyat Minahasa, Sulawesi Utara. Tragedi ini terungkap setelah masyarakat buyat didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan melaporkan dampak pencemaran yang mereka alami ke Markas Besar Polisi di Jakarta. Menurut sejumlah penelitian, pencemaran ini sangat potensial merugikan kesehatan masyarakat buyat, bahkan untuk beberapa tingkatan dampak logam berat ini sangat mematikan. Mereka, para peneliti, melakukan pengecekan beberapa sampel darah masyarakat Buyat dan hasilnya mengungkapkan bahwa sampel darah yang diambil positif mengandung merkuri.
Dari sudut pandang akademisi gerakan lingkungan hidup menarik dan penting untuk dielaborasi, apakah tragedi pencemaran logam berat di Teluk Buyat Minahasa memungkinkan sebagai stimulan merubah sikap dan aksi para elit pemerintah, parlemen dan aparat penegak hukum menindak secara tegas kasus-kasus pencemaran? Dan apa arti pentingnya tragedi Minahasa bagi aktivis pro lingkungan hidup dan kemanusian memobilisasi sumberdaya yang mereka miliki?
Tragedi Minahasa, sejauh ini, tidak merubah sikap elit pemerintah bertindak cepat memecahkan masalah pencemaran yang berdampak serius terhadap hancurnya ekosistem dan termarginalisasinya manusia dari lingkungan hidupnya. Dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat, alih-alih pemerintah berpihak dan berempati kepada korban pencemaran, pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pertambangan dan energi dan Menteri Kesehatan mengatakan bahwa pencemaran logam berat di Teluk Buyat tidak ada hubungannya dengan limbah tailing PT. Newmont Minahasa yang dibuang ke Teluk Buyat melalui pipa-pipa raksasa. Statemen pemerintah ini terlalu pagi untuk
diumumkan ke publik mempertimbangkan beberapa penelitian mengungkapkan peranan Newmont mencemarkan Teluk Buyat disamping proses investigasi sedang berlangsung.
Disamping itu, aksi pemerintah Indonesia begitu lamban menelurkan langkah-langkah affirmative action baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang memecahkan persoalan pencemaran di Teluk Buyat. Untuk jangka pendek, Pemerintah Indonesia semestinya tidak segan-segan melakukan apa saja untuk membuktikan sampai sejauh mana pencemaran logam berat merusak ekosistem Teluk Buyat termasuk masyarakat Buyatnya.
Data hasil penelitian ini penting untuk menentukan langkah-langkah kongkrit merahabilitasi dan menyembuhkan ekosistem yang telah rusak. Data ini juga sangat dibutuhkan untuk meminta pertanggungjawaban Newmont baik secara hukum maupun non hukum memperbaiki pencemaran di Teluk Buyat. Dengan data ini, pemerintah akan mampu mengambil tindakan medis secara jitu mengembalikan hak atas kesehatan kepada masyarakat buyat sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada warga negaranya. Oleh sebab itu, pengumpulan data yang solid, valid dan objektif menjadi sangat krusial dalam kasus pencemaran di Teluk Buyat.
Fenomena respon pemerintah menangani kasus Teluk Buyat menunjukkan bahwa para pejabat di pemerintah terus terkungkung mind set paradigma lama melihat isu hak-hak dasar masyarakat seperti hak mendapatkan lingkungan yang bersih. Elit tetap berpendirian bahwa kepentingan investasi berada diatas kepentingan ekosistem dan hak dasar manusia. Ini tercermin rendahnya empati dan tindakan kongkrit pemerintah memecahkan, tidak hanya kasus pencemaran di Teluk Buyat tetapi juga kasus lingkungan hidup lainnya di Indonesia.
Disisi lain, kita tidak melihat tragedi pencemaran di Teluk Buyat menjadi simbol perlawanan kelompok pro lingkungan hidup menekan pelaku perusak lingkungan hidup, khususnya perilaku perusahaan tambang di Indonesia. Padahal, dampak pencemaran logam berat di Buyat sangat menggetarkan hati nurani sebagai seorang manusia dan data hasil penelitian cukup lengkap dan solid. Disamping itu, ekpos media massa baik cetak maupun elektronik terus menerus dan selalu mendapat prioritas tempat pemberitaan utama dengan menampilkan berbagai sudut berita.
Andrew Szasz (1994) dalam bukunya Eco Populism: Toxic Waste and the Movement for Environmental Justice mengungkapkan bahwa isu sampah toxic, termasuk didalamnya sampah logam berat telah menjadi ikon baru gerakan untuk keadilan lingkungan hidup. Szasz membeberkan bahwa isu sampah beracun dan berbahaya hasil buangan aktivitas industri, tidak hanya menjadi isu lingkungan hidup an-sih tetapi juga telah menjadi isu sosial. Menurut Szasz, perkembangan isu toxic menjadi isu sosial berlangsung pada decade 1970-an sampai dengan 1980-an ketika masyarakat Amerika memiliki kekhawatiran sama besarnya antara dampak sampah toxic dengan nuklir.
Selama tiga minggu isu pencemaran Teluk Buyat muncul kepermukaan, menurut catatan penulis, hanya dua protes sosial, pertama di Kalimantan Selatan dan kedua di Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas mempergunakan kasus pencemaran Teluk Buyat memperingatkan masyarakat dan pemerintah daerahnya atas dampak pertambangan skala besar bagi lingkungan hidup dan manusia. Dua-duanya menekan pemerintah daerahnya untuk mempertimbangkan secara serius aktivitas pertambangan didaerahnya masing-masing dan menolak rencana investasi baru didunia pertambangan apalagi bila itu dilakukan di hutan lindung. Meskipun demonstrasi yang digelar hanya diikuti sejumlah kecil demonstran.
Semestinya, Kasus pencemaran logam berat Teluk Buyat dipergunakan sebagai window opportunity bagi aktivis lingkungan hidup dan kemanusian. Kasus Teluk Buyat bisa menjadi the silent spring Indonesia sekaligus mile stone perlawanan anti sampah beracun dan berbahaya di Indonesia mempertimbangkan sejarah perlawanan serupa pernah terjadi tidak hanya dibelahan dunia lain tetapi juga di Indonesia.
Kelebihan kasus pencemaran teluk buyat dibandingkan dengan kasus pencemaran lainnya adalah pada dampaknya yang bisa dilihat secara kasat mata. Dan ini sangat significant menginjeksi pengetahuan tentang bahaya logam berat bagi ekosistem dan manusia kepada pemerintah dan masyarakat. Momentum seperti ini jarang terjadi sebagai media mengingatkan pemerintah dan masyarakat luas bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman logam berat diteritorialnya baik didaratan maupun didaerah perairan sebagai konsekuensi investasi industri pertambangan dan idustri lainnya yang mempergunakan bahan beracun dan berbahaya.
silahkan baca posting terkait dibawah ini
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)
Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)
Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)
Langganan:
Postingan (Atom)
Koleksi Galeri Rupa Kerja Pembebasan
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat