Chairil Anwar punya pandangan bahwa di dalam apresiasi karya sastra khususnya sajak kita harus terlebih dulu mengerti ‘pokok’ sambil mengingatkan jangan kita melakukan analisa dengan perkakas ‘bahasa’ saja. Menurutnya kita harus menangkap ‘pokok’nya dulu kemudian kita melihat bagian-bagian dalam hubungannya dengan ‘pokok’ ini. Menurutnya lebih lanjut dengan mengerti pokok kita bisa menghargai karya seni, meskipun ‘pokok’ tersebut tidak menentukan nilai karya tersebut. (dalam Membuat Sajak, Melihat Lukisan seperti di kutip Arif Budiman –Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, Wacana Bangsa ).
Saya juga ingin mencatat pandangan Arif Budiman di dalam buku yang sama tentang makna keindahan. Dari pengakuannya Arif nampaknya tidak percaya lagi kepada konsepsi-konsepsi tentang indah dan apa yang tidak. Ia bahkan memilih tidak menggunakan kata tersebut, karena kekaburan artinya.
“Saya melihat bahwa sebuah karya seni menjadi ‘indah’ buat seseorang karena sudah terjadinya pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang diungkapkan oleh karya seni tersebut”, katanya lebih jauh.
selanjutnya
RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Sabtu, 28 Maret 2009
Surat dari Buton : Sejarah dan Kebenaran Dari Masa Gelap Itu
lentera dari jaman kegelapan itu
“Sekilas saya menyatakan kebenaran saya namun kalau sudah semua orang menyatakan itu tidak benar, maka yang tidak benar itu menjadi kebenaran……”
“Malam ini, saya akan lalui tidur di selku ini, sebagai malam pertama tanggal 8 April 1969” demikian lelaki itu mengakhiri suratnya.
selanjutnya
“Sekilas saya menyatakan kebenaran saya namun kalau sudah semua orang menyatakan itu tidak benar, maka yang tidak benar itu menjadi kebenaran……”
“Malam ini, saya akan lalui tidur di selku ini, sebagai malam pertama tanggal 8 April 1969” demikian lelaki itu mengakhiri suratnya.
selanjutnya
Menulis Sebagai Proses Pembelajaran Efektif
Saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku-buku dan mencari referensi soal isu ini. Terinspirasi pengalaman saya menulis beberapa surat pembaca menolak kebijakan pemda DKI menggusur becak (ini juga karena tergerak oleh sikap penolakan Romo Mangun), saya memutuskan untuk belajar cepat dengan cara menuliskannya. Dengan menulis saya mengalami proses belajar yang lebih cepat dan nyangkut di otak sekaligus dengan tulisan saya bisa berkontribusi untuk mengkampanyekan penolakan terhadap ambisi PLTN ini. Dari siasat itu kemudian saya sempat menuliskan puluhan artikel opini/artikel kampanye dalam format surat pembaca, dan gilanya lagi setiap surat pembaca saya kirimkan ke lebih dari 20 surat kabar dan majalah.
selanjutnya
selanjutnya
Pengalaman Eksistensial, Pengalaman Spiritual
Kubaca di pengantar yang ditulis st sularto, dalam kenangan myra, brouwer ini adalah sosok yang problematis. Kata-kata kunci filsuf jerman martin heidegger yang dikaguminya selain tokoh fenomemenologi lainnya Marleau Ponti ‘kematian sebagai tujuan hidup’ seolah-olah menghantuinya, begitu disebutkan. Kepada sahabat-sahabatnya ia sering mengatakan : “saya paling takut dengan kematian”. Aku kutip lagi dari st sularto ‘ternyata brouwer tidak mampu sendirian mengatasi persoalan dengan badannya yang didera sakit sejak kecil (asma) sampai akhir hidupnya. Pada beberapa tahun sebelum kematiannya, dia merasa dikejar-kejar oleh sakitnya, dia merasa ditinggalkan banyak orang.”
Tentang ini saya teringat petikan kata bijak Pram pada Novelnya Bukan Pasar Malam
"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.... seperti dunia dalam pasar malam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi"
selanjutnya
Tentang ini saya teringat petikan kata bijak Pram pada Novelnya Bukan Pasar Malam
"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.... seperti dunia dalam pasar malam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi"
selanjutnya
Di Ceto : Kosmik dan Jiwa Menari
Tentang Syiwa si raja penari, Zimmer dalam Capra bilang "Gerakannya liar namun penuh keanggunan, memencarkan ilusi-ilusi kosmik; juntaian lengan dan kaki serta
ayunan tubuhnya menghasilkan-sungguh-penciptaan-pemusnahan kontinu alam semesta, kematian persis menyeimbangkan kelahiran, pemusnahan adalah akhir bagi setiap
penciptaan".
-----
Ternyata aku tiba di pucuk ceto lebih gegas dari kabut, yang terasa gigih mengejarku ketika ngebut dengan ojek. Setibanya disana aku mendaki anak-anak tangga dan menatap-natap dari pelataran terdepan hingga pelataran teratas dan terakhir.
Saat itu tak satu pun pengunjung ada disana, karena itu aku merasa nyaman untuk hening dan bermeditasi sejenak. Selepas itu aku sejenak menikmati suara-suara alam dan sesuatu yang terus menari di benakku.
selanjutnya
ayunan tubuhnya menghasilkan-sungguh-penciptaan-pemusnahan kontinu alam semesta, kematian persis menyeimbangkan kelahiran, pemusnahan adalah akhir bagi setiap
penciptaan".
-----
Ternyata aku tiba di pucuk ceto lebih gegas dari kabut, yang terasa gigih mengejarku ketika ngebut dengan ojek. Setibanya disana aku mendaki anak-anak tangga dan menatap-natap dari pelataran terdepan hingga pelataran teratas dan terakhir.
Saat itu tak satu pun pengunjung ada disana, karena itu aku merasa nyaman untuk hening dan bermeditasi sejenak. Selepas itu aku sejenak menikmati suara-suara alam dan sesuatu yang terus menari di benakku.
selanjutnya
Proses Kreatif Elizabeth D. Inandiak dan Ayu Utami
Aku terpesona dengan cara Inandiak dalam saduran Centhini (Centhini : Kekasih yang Tersembunyi) dan Utami dalam Bilangan Fu mengambarkan proses kreatifnya sekaligus proses kreatifnya sendiri (terutama inandiak). Proses melahirkan jiwa dan anak kehidupan……
Elizabet D. Inandiak “mendengarkan selama berjam-jam syair-syair centhini yang ditembangkan teman, hingga raga dan bahasanya kerasukan dan tertanda olehnya. Lalu pada suatu hari, kenyataan yang begitu jelas dan begitu sederhana muncul : serat centhini, kehidupan inandiak, dan kehidupan para penyair jawa sejak berabad-abad semua menyatu. Segala yang pernah inandiak alami di jawa dan di tempat lain di bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib dan raksasa itu, yang keliatannya begitu bercerai berai, tetapi intinya begitu sempurna. Ia seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah tiada, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia”.
Ayu Utami “….terima kasih saya kepada gunung gede pangrango yang memberi zat asam, kejernihan dan ilham. Dan Erick Prasetya, partner mendaki gunung yang merupakan ayah dari novel ini. Ia memberi saya benih bagi kisah roman ini, dan merawat saya selama mengandung novel ini (usaha pembuahannya yang berkali-kali gagal makan waktu empat tahun, proses mengandung –menuliskannya menghabiskan sembilan bulan). Melalui dia saya mencoba mengenang, dengan cara saya sendiri, kekasih dan sahabatnya di masa muda, LS dan almarhum SF yang meninggal dunia dari kecelakaan ganjil di bukit kapur citatah”.
selanjutnya
Elizabet D. Inandiak “mendengarkan selama berjam-jam syair-syair centhini yang ditembangkan teman, hingga raga dan bahasanya kerasukan dan tertanda olehnya. Lalu pada suatu hari, kenyataan yang begitu jelas dan begitu sederhana muncul : serat centhini, kehidupan inandiak, dan kehidupan para penyair jawa sejak berabad-abad semua menyatu. Segala yang pernah inandiak alami di jawa dan di tempat lain di bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib dan raksasa itu, yang keliatannya begitu bercerai berai, tetapi intinya begitu sempurna. Ia seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah tiada, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia”.
Ayu Utami “….terima kasih saya kepada gunung gede pangrango yang memberi zat asam, kejernihan dan ilham. Dan Erick Prasetya, partner mendaki gunung yang merupakan ayah dari novel ini. Ia memberi saya benih bagi kisah roman ini, dan merawat saya selama mengandung novel ini (usaha pembuahannya yang berkali-kali gagal makan waktu empat tahun, proses mengandung –menuliskannya menghabiskan sembilan bulan). Melalui dia saya mencoba mengenang, dengan cara saya sendiri, kekasih dan sahabatnya di masa muda, LS dan almarhum SF yang meninggal dunia dari kecelakaan ganjil di bukit kapur citatah”.
selanjutnya
Suara Berjuang Wiji Thukul Hingga Masa Pemilu 2009 Ini
Berikut ini adalah beberapa petikan puisi Wiji Thukul seperti diulas Wahyu Susilo dalam artikelnya Pemilu dalam Puisi-puisi Wiji Thukul (Kompas 15 Februari 2009).
Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)
...
Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak Tertekan,
Dari puisi ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992.
Pesta Pora Pemilu dan Kesepian Kaum Miskin di Kolong Jembatan
Ironisnya puisi yang dituliskan menjelang pemilu 1992 (juga mewakili wajah pemilu-pemilu lain sepanjang pemerintahan Soeharto), bagi saya masih tetap relevan hingga hari ini setelah Soeharto dipaksa turun.
selanjutnya
Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)
...
Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak Tertekan,
Dari puisi ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992.
Pesta Pora Pemilu dan Kesepian Kaum Miskin di Kolong Jembatan
Ironisnya puisi yang dituliskan menjelang pemilu 1992 (juga mewakili wajah pemilu-pemilu lain sepanjang pemerintahan Soeharto), bagi saya masih tetap relevan hingga hari ini setelah Soeharto dipaksa turun.
selanjutnya
Langganan:
Postingan (Atom)
Koleksi Galeri Rupa Kerja Pembebasan
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat
E-Book Bumi, Air dan Kekayaan Alam Dikuasi Siapa?
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati
E-Book : Matahari Baru di Setiap Hari Baru
untuk (mengeja keteladanan) MUNIR, WIJI THUKUL, MARSINAH dan semua sahabat rakyat itu (jadi doa)
E-Book : Aksi Diam Kamisan di Depan Istana Negara
E-Book : Songsong Proklamasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
E-Book : Jelang Detik-detik Proklamasi – Ilalang dan Jerami Kering di Pekarangan Istana Buto
E-Book : Everyday is Earth Day! Lawan Keserakahan Untuk Masa Depan Anak-Cucu Kita
E-Book : Rumput-rumput Paku pada Wajah Bapak Ibu Tani
E-Book : Palu Besi atau Paku-paku Besi di Tubuh Kaum Buruh
E-Book : Panen Raya (milik sendiri) di Kampung Adat