RECLAIM the CITY

RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label Pembebasan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembebasan Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2008

Maklumat Kebangkitan Nasional

Jalan Baru, Jalannya Siapa? Indonesia Baru, Indonesia yang Mana?

Orasi politik sekjen Sarekat Hijau Indonesia di acara Deklarasi untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional yang digagas oleh Walhi pada tanggal 28 Januari 2008.
(diantaranya di deklarasikan oleh Chalid Muhammad (WALHI); Usman Hamid (Kontras); Hendri Saragih (FSPI); Salma Safitri (Solidaritas Perempuan) Hendri Saparini, Ray Rangkuti; Yudi Latif (akademisi Paramadina); Hilmar Farid (aktifis buruh); Arif Satria (Akedemisi IPB); Siti Maemunah (JATAM),; Patra M Zen; Kusfiardi (KAU); Nurkholis (LBH); Wahyu Susilo (INFID); Romo Mudji Sutrisno (Rohaniawan); Asmara Nababan; Jhonson Panjaitan (PBHI); Rafendi Djamin; Happy Salma (artis); Butet Kertaredjasa (aktor), Agung Putri (Elsam), Hendro Sangkoyo, Franky Sahilatua (seniman), Slamet Daroyni (Walhi)dll)


Jalan Baru, Jalannya Siapa? Indonesia Baru, Indonesia yang Mana?


Sebelum memulai orasi politik ini saya hendak memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tinggi kepada Ibu Werima dari Soroako (berlawan terhadap Inco dan penguasa sejak kanak-kanak), kawan-kawan dari Porong (berlawan terhadap Lapindo dan Penguasa), dan kawan-kawan dari Rinjani yang melalui testimoni telah mengajarkan kepada kami untuk kembali menjadi manusia yang bermartabat…..
(sebelumnya saudara-saudara dari soroako, porong, dan rinjani ini menyampaikan pandangannya di forum)

Secara khusus kepada Ibu Werima saya sampaikan rasa sayang saya, karena bagi saya ibu menjadi perlambang kehidupan. Pemberi hidup, pemelihara hidup. Juga adalah ibu pertiwi yang menegakan rumah Indonesia dan menyusui anak-anak negeri ini…..

……hiduplah Indonesia Raya
(dinyanyikan..)

Selamat siang saudara-saudara, salam sejahtera, dan tegaklah Indonesia Raya.


Tetapi awas, waspadalah dan jangan pernah lupa saudara-saudara, patrikan di benakmu kita tidak akan tertipu Indonesia Raya, yang dilantunkan hari-hari ini didalam acara-acara seremonial penuh gincu di kantor-kantor pemerintahan, wakil rakyat atau peradilan.

Saya menegaskan ini adalah Indonesia Raya yang menggelora , ditengah kepal-kepal tangan kaum tani, nelayan, buruh, miskin kota, pemuda, kaum perempuan yang tiada henti dan terus menerus memperjuangkan hak-hak konstitusionalnya. Menegakan harkat dan martabat dirinya. Menolak miskin, menolak tunduk, menolak takluk, menolak dijajah

Dan sesungguhnya kepal-kepal tangan itu adalah pernyataan sikap, penegasan dan pengukuhan perlawanan terhadap penguasa yang zalim. Penguasa yang menggadaikan negeri ini, penguasa yang menjual negeri ini. Penguasa yang sesungguhnya menjual harkat dan martabat dirinya. Dan sesungguhnya mereka sampah yang harus disingkirkan.

Saat ini, detik ini, di ruang ini sudah tegakkah kepala saudara, sudah terkepalkah tangan saudara dan sudah teracungkah tinju saudara ke angkasa.

Sepi…..


Saudara-saudara,
Beberapa bulan terakhir kita membaca begitu bisingnya lalu lintas pemberitaan, dan pada akhirnya lalu lalang selebriti dan kalangan elit perkotaan yang mendengung-dengung JALAN BARU tentang kebangkitan Indonesia.. Sebut saja Ikrar Kaum Muda atau sebut saja Jalan Baru – Pemimpin Baru atau sebut saja gagasan Restorasi Indonesia. Atau acara hari ini Deklarasi Untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional yang digagas oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.


Walau saya menyambut dengan gembira (dan sejujurnya saya juga bagian dari itu) kebangkitan kalangan kelas menengah yang sdar dan terbangunkan ini

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………, layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, airmata dan darah untuk menentang dan menolak tunduk terhadap dominasi negara, pasar atau korporasi maupun persekutuan kotor keduanya yang melahirkan penindasan dan penghisapan.

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………, layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, air mata dan darah untuk kembali menegakan kedaulatan rakyat atas bumi, air, udara dan kekayaan sosial ekonomi yang dikandungnya.

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………, layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, air mata dan darah untuk kembali menegakan penghargaan terhadap bumi, air, udara dan kekayaan alam sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan rakyat dan sekaligus menjadi ruang kelangsungan hidup rakyat.


Sungguhkah kita, beranikah kita menegaskan bahwa sejatinya RAKYAT ADALAH KEKUATAN UTAMA JALAN BARU. Murba, Kromo, Wong Cilik, Proletar, Marhaen Massa Rakyat adalah kekuatan utama jalan baru. Murba, kromo, wong cilik, proletar, marhaen, massa rakyat yang BERHIMPUN, GEGAP GEMBITA, GEMURUH, MENGGELEDAK dan BERGULUNG-GULUNG menegakkan rumah INDONESIA RAYA.

Sesungguhnya beranikah kita mengatakan bahwa perjuangan rakyat semesta adalah keniscayaan untuk lahirnya kembali Indonesia Raya, Indonesia Baru yang bermartabat. Singkirkan keraguan untuk menempatkan rakyat sebagai pilar dan kekuatan utama.


Saudara-saudara ketika saya mengatakan kepal-kepal tangan janganlah menjadi cemas dan takut dengan gelombang massa rakyat, tetapi adalah tangan-tangan yang sama siap bertaut erat dengan tangan-tangan lain, tangan-tangan yang siap berjabat tangan dan tangan-tangan yang siap berkeringat bekerja membangun Indonesia Raya, menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu kita sebagai bagian rakyat Indonesia yang menolak tunduk harus mempersenjatai diri dengan 4 hal.

Pertama, kepercayaan diri dan persaudaraan orang-orang merdeka
Kedua, organisasi
Ketiga, cita-cita politik bersama
Keempat, kepemimpinan.



Saudara-saudara
Di dalam derap perjuangan hidup sehari-hari kaum tani dan buruh tani, masyarakat adat, nelayan, buruh pabrik, buruh migran, pedagang kaki lima dan asongan, guru rendahan, pegawai rendahan, pengusaha kecil menengah, pemuda dan mayoritas rakyat di pelosok negeri, perjuangan menegakkan harkat dan martabat manusia menjadi nyata dan hidup.

Inilah makna perjuangan yang sejati yang menjadi dasar perumusan serta batu fondasi Negara Indonesia seperti dirumuskan di dalam Pembukaan Konstitusi.

“bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Ini adalah kontrak sosial, ini adalah surat hutang negara untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarakan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Kembali ke pada tali mandat dan kontrak sosial 17 Agustus 1945 ini bukanlah perjalanan kepada paham dan semangat kebangsaan sempit, tetapi ini adalah bagian yang terpisahkan dari perjuangan untuk menegakkan harkat dan martabat semua manusia di semua negeri.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB pun menegaskan “Semua rakyat mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Atas kekuatan hak itu, mereka dengan bebas menentukan status politiknya dan bebas mengejar perkembangan ekonomi, sosial dan budaya”.


Ketika kita berbicara Jalan Baru, Indonesia Baru, sebenarnya kita akan menemukan bahwa perjalanan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang asing, jauh, diawang-awang tetapi kita memulai dengan kembali ke jiwa konstitusi seperti tertuang dalam pembukaan konstitusi kita.

‘bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa……

Kita inginkan merdeka di bidang politik dan merdeka di bidang ekonomi….

Mari kita usah ragu untuk mengibarkan kembali panji-panji MERDEKA 100% yang pernah di acungkan oleh Front Persatuan, oleh Tan Malaka dan Jenderal Sudriman.


Ada jutaan kepal-kepal tangan yang mengacung ke angkasa…..

Tetapi ratusan juta rakyat negeri ini sesungguhnya mengepalkan tangan di dada menyimpan amarah mereka sendiri, di dalam sepi…..


Karena tugas sejarah kita untuk menyatukan kepal-kepal tangan di angkasa itu, dan membangkitkan kesadaran, kepercayaan diri kepal-kepal tangan yang sepi sendiri dan mempersenjatai mereka dengan organisasi dan cita-cita politik bersama. Mulailah dengan cita-cita politik, kembali ke jiwa konstitusi kita. Dasar berdiri dan tegaknya rumah Indonesia Raya. Dari sanalah kita merumuskan kapal Indonesia yang jaya mengarungi samudra yang penuh gejolak hari ini.

Patrikan ini di kepala kita. Sesunguhnya tak perlu jauh-jauh, cita-cita politik adalah apa yang dipikirkan, dirasa dan diperjuangkan oleh kaum kaum tani dan buruh tani, masyarakat adat, nelayan, buruh pabrik, buruh migran, pedagang kaki lima dan asongan, guru rendahan, pegawai rendahan, pengusaha kecil menengah, pemuda. Murba, Kromo, Wong Cilik, Proletar, Marhaen dan massa rakyat

Saya ingin menutup orasi politik ini dengan menjumpai Lao Tzu dan de Mello


Kau kira bagaimana saya, Chalid Muhammad, Rizal Ramli, Yudi Latif, Ray Rangkuti, kalangan intelektual, elit perkotaan, kelas menengah yang sadar dan terbangunkan, TERHUBUNG dengan masyarakat di Soroako, Porong, Rinjani dan di tempat manapun penindasan di hadapi dengan keteguhan perlawanan massa Rakyat.



Boneka Garam

Sebuah boneka garam
berjalan beribu-ribu kilometer
menjelajahi daratan sampai akhirnya
ia tiba di tepi laut

Ia amat terpesona oleh pemandangan baru,
massa yang bergerak-gerak,
berbeda dengan segala sesuatu
yang pernah ia lihat sebelumnya

Siapakah kau?” tanya boneka garam kepada laut

Sambil tersenyum laut menjawab:
“Masuk dan lihatlah!”

Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut.
Semakin jauh masuk ke dalam laut,
ia semakin larut,
Sampai hanya tinggal segumpal kecil saja.
Sebelum gumpalan terakhir larut,
boneka itu berteriak bahagia:
“Sekarang aku tahu, siapakah aku!.

Deklarasi untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional, Ikrar Kaum Muda, Jalan Baru Pemimpin Baru apakah akan tinggal sebagai bongkah-bongkah garam, boneka garam atau akan melebur di lautan luas.


Lantas siapakah Pemimpin itu?!!!! Kalian itukah……? Mari menjumpai Lao Tzu.


Berjalanlah bersama rakyat
Tinggal bersama mereka
Belajar dari mereka
Cintailah mereka
Mulailah dengan apa yang mereka ketahui
Membangunlah dari apa yang mereka miliki
Hanya dengan pemimpin-pemimpin yang terbaik
Ketika pekerjaan sudah selesai dan tujuan tercapai
Rakyat akan berkata
Kita telah melakukannya sendiri
(Lao Tzu)

Saat ini, detik ini, di ruang ini sudah tegakkah kepala saudara, sudah terkepalkah tangan saudara dan sudah teracungkah tinju saudara ke angkasa.

Hingar bingar……


Saudara-saudara pada akhirnya saya harus mengatakan perjuangan ini haruslah dilandaskan panggilan sejati setiap manusia, untuk menemukan panggilan hidupnya untuk membangun kehidupan dengan dasar kasih dan hanya kasih.

Salam DAMAI untuk kita semua orang-orang merdeka, orang-orang yang tetap menjaga asa menolak tunduk dan terus berlawan.

INILAH BUMI MANUSIA, DIMANA KEBANGKITAN INDONESIA SEGERA MENJADI NYATA.


…….hiduplah Indonesia Raya…. (dinyanyikan)



Andreas Iswinarto
Sekjen Sarekat Hijau Indonesia



Maklumat Kebangkitan Nasional : Berbuat untuk Bumi dan Kebangkitan Indonesia

(Catt: Maklumat ini dibacakan secara bersama para aktifis HAM dan lingkungan, masyarakat, di saksikan kurang lebih 300 orang, di Pusat Perfilm-an Haji Usmar Ismail, Kuningan, Maklumat ini dijadikan sebagai Deklarasi dalam momentum sejarah : 100 Tahun Kebangkitan Nasional (1908-2008) "Berbuat untuk Bumi dan Kebangkitan Indonesia").

Jakarta, 28 Januari 2008

Kami menyatakan keprihatinan yang mendalam atas berulangnya bencana ekologis berupa banjir, longsor, gelombang-pasang, kekeringan, gagal tanam, gagal panen, kebakaran hutan, kelaparan dan busung lapar yang terus menimpa bangsa ini. Tercatat sembilan bulan dalam setahun Indonesia menguras sumberdayanya untuk mengurus bencana. Sungguh sebuah ironi dari suatu kesalahan sistematik negara dalam melakukan pengurusan alam yang telah berlangsung lama.

Kami sangat menyesalkan kegagalan pengurus negara pada semua tingkatan dalam melindungi dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Pengurus negara juga gagal melindungi secara menyeluruh lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat dari keserakahan dan kuasa korporasi, dominasi lembaga-lembaga keuangan internasional dan negara-negara utara, serta kepentingan elit politik. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang dipandu prinsip “jual murah, jual cepat dan jual habis” beraikbat pada kehancuran lingkungan hidup dan pelanggaran hak-hak azasi manusia. Lilitan utang, korupsi dan makin menipisnya sumberdaya alam mendorong negara dan bangsa ke ambang kebangkrutan.

Tetapi kami tidak pernah larut dalam keprihatinan. Kehendak untuk bangkit sebagai bangsa akan terus kami kobarkan. Kemandirian, solidaritas dan soliditas rakyat akan terus kami bangun. Momentun 100 tahun Kebangkitan Nasional (1908-2008) adalah waktu yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi dan politik serta bencana ekologis yang akit, menuju Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, bermartabat serta bebas dari segala bentuk penjajahan.

”Saatnya bangkit dan berbuat, Untuk bumi ini dan Indonesia!”

Sarekat Hijau Indonesia : Embrio Partai Hijau Progresif Indonesia

Andreas Iswinarto
Sekjen
Sarekat Hijau Indonesia

Salah satu warisan politik rezim Orde Baru yang masih terus bertahan adalah fenomena ‘massa mengambang’. Tidak hanya itu kelompok pro demokrasi yang melabelkan dirinya progresif pun ternyata juga mengidap gejala serupa. Gerakan prodemokrasi yang paling vital juga masih merefleksikan politik masa mengambang yakni sebagai gerakan atau aktor demokrat yang mengambang pula. Dimana secara umum mereka terfragmentasi, tidak terorganisir dengan baik dan terisolasi dari masyarakat biasa. Tak heran kemudian karena persoalan tersebut dan pilihan strategi yang tidak tepat menyebabkan elit sukses membajak sebagian besar momentum transisi demokrasi dan mereka mengambil keuntungan darinya.


‘Demokrasi elit’ yang terus saja mengidap KKN dan meluaskannya hingga ketingkat lokal. Dalam bahasa Mochtar Pabotinggi dalam wawancara di Kompas bila pada masa lalu ‘orde Baru’ mengerucut dalam sosok Soeharto dan barisan penjilat dan kroni-kroninya, kini elite itu tersebar dalam diri soeharto-soeharto kecil yang bercokol di eksekutif, legislatif, yudikatif di pusat dan daerah yang secara sistematis menjarah dan merampok negeri.

Inilah kesimpulan yang diperoleh dan dilansir tim riset DEMOS yang dipimpin oleh AE. Priyono, Stanley Adi Prasetyo dan Olle Tornquist belum lama ini.


Penggulingan Soeharto

Studi dan riset yang dilakukan oleh DEMOS ini mencoba memetakan neraca dan aktor demokrasi dan mengkaji pilihan-pilihan demokrasi di Indonesia pasca kejatuhan Soeharto. Kejatuhan yang terjadi akibat kombinasi anarki (krisis) keuangan global, intitusi domestik yang tidak berfungsi dan mahasiswa yang memberontak. Sesungguhnya bukan krisis keuangan maupun kapitalis internasional dan IMF yang menjatuhkan rejim Soeharto.

Krisis keuangan senyatanya hanya merupakan faktor pemicu yang cukup kuat. Jadi sementara Singapura, Muangthai, Korea dan bahkan Malaysia berhasil mengatasi masalah financial mereka dalam periode yang relatif singkat , permasalahan politik dan administrasi yang lebih mendasar dan berkepanjangan yang dialami Indonesia (yang mulai terlihat pada Juli 1996) mencegah terjadinya hal yang sama.

Baik aktor internasional, kekuatan oposisi di dalam pemerintah yang mengalami krisis ini, militer maupun bisnis tidak dapat mengambil inisiatif dan melangkah keluar dari kerangka kerja struktural dari rejim ini untuk mengisi kekosongan politik. Disamping itu kelompok pro-demokrasi berorientasi masyarakat sipil yang lemah pun tidak banyak membuat perbedaan. Jadi pada akhirnya, aktivis mahasiswa radikal (dengan dukungan berbagai kelompok pro-demokrasi) mempelopori munculnya perlawanan akibat frustasi dan menggantikan kurangnya demokrasi dalam gerakan dengan akar kerakyatan yang kuat. Akhirnya mahasiswa seperti halnya Ornop masyarakat sipil pendukung mereka berangsur hilang dalam waktu sekitar delapan bulan.

Tatanan pemerintah yang tersisa lebih mampu mengorganisasi ulang dirinya dan baeradaptasi dengan hak-hak dan institusi semi-demokratis yang dibangun dengan cepat daripada kelompok pro-demokrasi sendiri. Gerakan pro-demokrasi terbukti gagal memanfaatkan peluang atau berkah sistem politik yang lebih terbuka, perpecahan di kalangan musuh dan kemungkinan membangun aliansi. Di luar kemungkinan-kemungkinan baru itu, muncul pula masalah-masalah dalam panggalangan dukungan massa, memudarnya kesadaran umum dan tiadanya musuh yang nyata. Sayang sekali gerakan demokrasi belum mampu mengambil banyak keuntungan dari peluang-peluang baru itu.

Menurut Olle Pemilu 1999, pemilu pertama pasca Soeharto adalah pertama kalinya gerakan demokrasi tidak terrefleksi dalam pemilu. Demikian pula pada pemilu 2004 ini sulit melihat representasi aktivis atau aspirasi demokrasi yang sejati dan refleksi reformasi. Dalam waktu singkat mahasiswa kehilangan perannya segera setelah pemilu dijadikan agenda. Ornop segera pula kehilangan peran karena tidak bisa memobilisasi rakyat.

Walaupun Olle menyatakan pula ada tendensi dikalangan aktivis demokrasi, yang cenderung mengikuti rekomendasi solusi mainstream agar mereka meninggalkan politik , menyerahkan urusan politik pada elite, dan kembali melakukan kegiatan dalam masyarakat sipil. Dengan harapan akan ada sesuatu perubahan dari sana. Sayangnya solusi seperti itu, tidak banyak membuahkan hasil. Walaupun diakuinya gerakan pro-demokrasi masih tetap eksis dan mereka melakukan banyak hal yang bagus

Kesadaran Aktor Demokrasi

Gagasan mainstream inilah yang didorong dengan kuat oleh lembaga-lembaga internasional seperti PBB, UNDP dan bahkan World Bank. Gagasan yang menekankan membangun institusi-intitusi pada tingkat atas, menyerahkan urusan politik pada elite dan pro-demokrasi kembali pada civil society. Lepas masih bertahannya politik massa mengambang warisan Soeharto, solusi mainstream yang didorong oleh lembaga-lembaga internasional (dengan gelontoran dananya yang menggiurkan), keterpurukan demokrasi di negeri ini adalah kesalahan gerakan pro-demokrasi sendiri.

Sepanjang gerakan pro-demokrasi terhegemoni ataupun memilih secara sadar untuk hanya bergerak dalam kawasan civil society maka mereka masuk dalam pilihan wilayah marginal dalam berpolitik. Selain itu Olle secara tajam melontarkan pertanyaan sarkatis “Sepanjang kerja mereka terutama dalam organisasi-organisasi non-pemerintah serta kelompok penekan ingin membuat perubahan dari belakang meja, tanpa ada keterkaitan dengan rakyat, apa yang bisa mereka lakukan? “. Dari pada melepaskan karakternya yang elitis dan keengganan membangun sayap gerakan sosial dan politik, dan mereka memilih tetap berada diluar dan melanjutkan tendensi anti negara dan anti politik mereka akan terus termarginalisasi dan menuai kegagalan.

Aktor demokrasi harus segera menentukan pilihan strategis apakah tetap bertahan dengan cara lama dengan strategi perjuangan masyarakat sipil secara terus menerus melawan negara dan politik, seperti ketika berada dibawah Soeharto, untuk secara demokratis membebaskan sedikit demi sedikit masyarakat pada umumnya dengan melakukan tindakan langsung sembari pelan-pelan membatasi dan melobi negara dan para politisi. Ataukah memberikan perhatian utama dalam mendukung organisasi yang terdiri dari orang-orang kelas bawah dan berdasar pada kepentingan yang sama, namun juga dalam kaitannya dengan negara dan politik, dan kemudian bersama mereka, selangkah demi selangkah, mencoba untuk mereformasi, mendemokratisasi dan menggunakan demokrasi.

Kearah Agenda Konsolidasi : Green Politic

Lepas dari kegagalan karena kelemahan gerakan dan ketidaktepatan strategi, riset demokrasi yang dilakukan DEMOS dengan melibatkan 500 responden aktor demokrasi masih menggambarkan kegigihan, optimisme yang kuat dan sikap belum menyerah aktor-aktor demokrasi dibawah walau sadar benar atas kegagalan-kegagalan yang dialami. Misal saja, sejumlah aktivis sependapat perlu adanya kaitan antara tingkat nasional dan lokal, dan untuk melawan despotisme yang terdesentralisasi dengan cara mendukung kapasitas masyarakat untuk melaksanakan demokrasi di tingkat dasar di kecamatan dan pedesaan. Sementara banyak yang mengemukkan pentingnya bekerja lebih dari ornop elitis dan kelompok-kelompok sipil yang terbatas dan membuka organisasi-organisasi berbasis keanggotaan dn upaya-upaya nyata untuk mendorong organisasi massa sesuai dengan konflik dasar, ide dan kepentingan, namun sepertinya belum ada yang mengimplementasikan ide tersebut secara jelas.

Selain itu ada kesadaran perlunya diberikan prioritas pada pengorganisasian konstituensi berbasis kepentingan dan organisasi massa atau bahkan membangun front perlawanan bahkan partai politik yang mengakar yang dibangun dengan model bawah atas melawan kecendrungan partai yang dibangun dengan model atas bawah. Bila telah ada kesadaran untuk menghancurkan sekat dan isolasi dan membangun tali mandat dengan konstituen, bagaimana dengan soal fragmentasi yang akut yang dihadapi gerakan pro-demokrasi?

Salah satu kesimpulan dari 13 kesimpulan kajian Demos adalah fakta tentang begitu banyak isu dan kepentingan namun hanya sedikit agenda dan visi komprehensif. Soal ini menjadi titik kritis untuk membangun kapasitas gerakan pro-demokrasi untuk menghadapi persoalan di wilayah politik, pemerintahan dan khususnya soal representasi dan keterwakilan rakyat dalam politik. Disimpulkan bahwa terdapat ketiadaan ideologi menyangkut bagaimana berbagai kepentingan dan isu itu harus diagregasikan dan kemudian digunakan untuk mempengaruhi pembuatan prioritas-prioritas kebijakan menyangkut pengaturan masyarakat secara keseluruhan.
Lepas dari itu riset ini menemukan mulai tumbuhnya agenda dan visi yang komprehensif dalam fenomena jejaring gerakan green politic. Ditemukan bahwa kasus-kasus individual yang berkaitan dengan isu tanah, perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat, hak-hak sosial ekonomi, lingkungan hidup dan kasus yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi, tampak berhubungan erat dengan isu-isu pembangunan berkelanjutan dan pembangunan partisipatoris - termasuk pengelolaan secara swadaya atas kehidupan sosial-ekonomi, pengelolaan sumberdaya kolektif/komunitas, maupun tuntutan perbaikan penyelenggaraan kepentingan umum dalam rangka melawan privatisasi; juga gagasan-gagasan mengenai participatory budgeting.

Demos menyatakan kemudian bahwa semua ini bisa menjadi basis bagi agenda politik kiri-hijau yang lebih umum. Ini berseberangan dengan tidak adanya pertanda yang sama dalam agenda gerakan buruh yang lebih luas, dengan atau tanpa kepedulian kelas menengah liberal. Lepas dari sudah terbentuknya demokrasi prosedural menyangkut keberadaan lembaga-lembaga pemilu, amandeman konstitusi, legilatif, eksekutif, yudikatif namun perjalanan meraih demokrasi substansial masih jauh. Maka tidak bisa tidak kita harus semakin gigih melawan dengan kecerdasan dan imajinasi.


Sarekat Hijau Indonesia

Refleksi mendalam, kriti otokritik, dan kesadaran baru dari gerakan pro-dem dan gerakan sosial pada umumnya, secara khusus terjadi pula dilingkungan aktivis ornop lingkungan hidup (diantaranya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan aktivis rakyat yang mengusung isu keadilan ekologi atau kedaulatan rakyat atas sumber daya alam dan lingkungan hidup, Setelah melalui proses pendiskusian yang panjang, proses assesmen, kolektif kerja ini menyapakati untuk mengkonsolidasikan diri dalam bentuk kepanitian kerja yang menyebut dirinya Badan Pekerja Persiapan Pembangunan Organisasi Politik Kerakyatan (BP3OPK) untuk melakukan assesmen lebih lanjut, sosialisasi gagasan sayap politik dan konsolidasi aktor gerakan hijau, dan lebih jauh melakukan pendidikan kader kepemimpinan politik rakyat..

BP3OPK akhirnya merumuskan enam kesimpulan untuk pembangunan kekuatan politik alternatif.

Pertama, pasca reformasi 1998, kelompok pro-dem dan gerakan sosial 'progresif" gagal mendeterminasi arah pembangunan lingkungan hidup, sementara kekuasaan justru di bajak oleh kelompok-kelompok pro-status quo yang mendapat dukungan dari 'mayoritas rakyat' melalui mekanisme demokrasi liberal yang meninggalkan agenda-agenda dan kepentingan rakyat kebanyakan termasuk mengabaikan semua tuntutan masyarakat korban akibat otoritarianisme orba.

Kedua, transisi demokrasi justru lebih menjadi kuda tunggangan bagi kekuatan-kekuatan pro pasar bebas (kapitalisme neo-liberal), ketika kelompok pro perubahan tidak ada signifikansinya terhadap cita-cita demokrasi kerakyatan. Sebab Indonesia masih menjadi bangsa jajahan melalui sistim penjajahan baru oleh negara-negara industri maju, IFI, WTO, ADB serta TNC-MNC. Sehingga mengakibatkan kemiskinan dan bencana ekologi terus terjadi.

Ketiga, gerakan lingkungan hidup berada di jantung perlawanan atas penghisapan penjajahan baru (eksploitasi sumber-sumber kehidupan), dibutuhkan kekuatan dari blok politik anti imperialisme lainnya selain blok politik hijau (buruh, nasionalis, sosialis dll) yang menjadi kekuatan politik alternatif dengan garis ideologi yang kuat dan berbasiskan pada kekuatan massa kritis yang masif, terorganisir, terpimpin untuk mendobrak kebekuan politik yang terjadi.

Keempat, Ditengah sistim yang korup dan kotor yang masih terus berlangsung para elite kekuasaan oligarki ini berhasil menyesuaikan diri dengan sistim demorasi liberal, mengkonsolidasikan dan memperluas kekuatannya, dan nyaris berhasil memonopolisasi dan memanipulasi demokrasi sepenuhnya untuk kepentingan sendiri. Dimana mereka juga berhasil membajak proyek desentralisasi dan otonomi daerah untuk melakukan ekspansi ke tingkat lokal.

Kelima, Disisi lain mereka juga berkolaborasi dan membuka diri seluas-luas pada ekspansi dan intervensi kekuatan-kekuatan kapitalisme global (neo-liberal) dalam penataaan politik-ekonomi Indonesia. Tak pelak ini melanggengkan sistim penjajahan baru / neo-imperialisme oleh pemerintahan negara-negara industri maju, IMF, Bank Dunia, WTO serta TNC-MNC.

Keenam, karena itu tugas perjuangan rakyat Indonesia hari ini haruslah berwatak gerakan pembebasan demoratik nasional. Berwatak demokratis karena perjuangan ini harus menumbangkan kekuatan politik-ekonomi yang dominan yang tidak demokratis dan menindas didalam negeri diantaranya oligarki politik kekuasaan yang merupakan bentuk lanjutan dari feodalisme (disamping patriarkhi, sikap rasis, militerisme-premanisme, dll) sekaligus berwatak nasional karena perjuangan ini harus menghancurkan secara politik, ekonomi, budaya penghisapan imperialisme.

Selain simpulan diatas ada tiga opsi yang berkembang tentang pilihan melakukan politisasi gerakan hijau yakni pertama membangun partai hijau, kedua ,membangun ormas politik dan ketiga melakukan diaspora politik.

Akhirnya setelah berjalan selama lebih kurang satu setengah tahun BP3OPK melangsungkan Konggres Rakyat Indonesia (KRI) yang dihadiri oleh perwakilan dari 18 propinsi. Melalui KRI yang berlangsung pada tanggal 4-5 Juli 2007 disepakati untuk mendirikan ormas Sarekat Hijau Indonesia. Dimana dalam Garis Besar Programnya ditegaskan bahwa ormas ini ke depan akan menyiapkan pula lahirnya kendaraan politik alternatif, PARTAI POLITIK HIJAU.


AGENDA SHI

Ketika kami telah bersepakat untuk mendirikan Sarekat Hijau Indonesia sesungguhnya kerja-kerja utama kami tidaklah dimulai dari titik nol. Kerja-kerja yang pokok adalah konsolidasi dan penyatuan gagasan gerakan sosial menjadi gagasan gerakan politik disisi lain transformasi dari aktor gerakan sosial menjadi aktor gerakan politik. Tantangan sesungguhnya ada pada perubahan pola pikir dan pola tindak aktor pro-demokrasi. Disatu sisi menghancurkan sekat-sekat diantara elemen gerakan demokrasi, disisi lain menghilangkan kesenjangan antara elit di dalam gerakan politik baru ini dan actor akar rumput.


Pertama,
Agregasi Kepentingan dan Nilai serta Penyusunan Platform Politik dan Kebijakan Alternatif
(Kerangka Ideologi Alternatif untuk Menangkal Pragmatisme Politik)


JAWABAN KRISIS KESELAMATAN RAKYAT, TEGAKAN KEADILAN SOSIAL

Kunci untuk mewujudkan keadilan sosial adalah pemerataan alokasi dan distribusi sumber daya sosial, lingkungan hidup (alam) yang berlangsung dari tingkat lokal, nasional hingga tingkat global. Hal ini untuk menjamin pemihakan yang kuat terhadap kelompok terlemah di dalam masyarakat, jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, adanya jaminan bagi semua warga negara memiliki kebebasan dan kesempatan untuk mengembangkan kehidupan pribadi dan sosial, sekaligus tanggung jawab sosial dan ekologinya. Tercakup di dalam perwujudan keadilan sosial adalah penghargaan terhadap pluralisme budaya, keadilan gender, masyarakat adat dan keadilan antar generasi.

JAWABAN KRISIS RUANG HIDUP RAKYAT, TEGAKAN KEADILAN DAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN HIDUP (KEADILAN EKOLOGI)

Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Salah satu komponen terpenting dari lingkungan hidup dan menjadi prasyarat kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia adalah alam. Alam menjamin pemenuhan kebutuhan sekaligus menjadi ruang hidup manusia. Namun, alam memiliki keterbatasan untuk menunjang kehidupan manusia. Untuk itu kita perlu menghargai integritas ekosistim dan menjamin keanekaragamannya sebagai prasyarat untuk mendukung kelangsungan kehidupan manusia. Dengan itu sekaligus terdapat jaminan bagi generasi saat ini untuk melangsungkan perikehidupannya dengan baik, dan jaminan generasi mendatang untuk menikmati kualitas alam yang sama baiknya.

JAWABAN KRISIS PRODUKTIFITAS RAKYAT, TEGAKAN KEDAULATAN DAN KEMANDIRIAN SOSIAL-EKONOMI

Demokrasi politik yang sejati haruslah dibangun berdasarkan kerangka kedaulatan dan kemandirian dalam penguasaan dan pengelolaan sumber-sumber kehidupan rakyat atau basis material yang menjadi fondasi tata kemasyarakatan dan negara. Penguasaan dan pengelolaan sumber-sumber kehidupan rakyat(sosial dan ekonomi) haruslah berlandaskan semangat BERDIKARI dan kekuatan daya kreasi rakyat secara kolektif di tingkat lokal. Hak menguasai negara atas cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang atas bumi, air, dan kekayaan alam untuk sepenuh-penuhnya kemakmuran rakyat, memiliki legitimasi apabila didedikasikan kepada kepentingan hak asasi warganya. Kepentingan rakyat atau hak asasi rakyat, terutama dalam hal akses terhadap bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dijadikan sarana utama dan tujuan akhir dari hak menguasai negara. Dengan demikian, maka peran modal bersifat sekunder dan komplementer, bukan substitusi pengelolaan oleh rakyat.

Inilah kerangka dasar dan pijakan awal yang dirumuskan oleh Sarekat Hijau Indonesia untuk memulai proses penemuan ‘ideologi’ bersama yang bisa mengikat berbagai elemen gerakan pro demokrasi yang terfragmentasi. Sedang untuk mengatasi kesenjangan elit dan akar rumput, kami akan membangun proses belajar mulai dari tingkat kesatuan politik terkecil hingga agregasi ke tingkat kesatuan politik yang tertinggi. Inilah yang kemudian mengantar kami kepada kerangka dasar keempat dibawah ini


Kedua
Kerja Basis, Kaderisasi dan Partisipasi Politik
(Kerangka Demokrasi Internal dan Eksternal, Menangkal Oligarki dan Elitisme)


JAWABAN KRISIS POLITIK DAN KEKUASAAN, BANGUN ELAN DEMOKRASI KERAKYATAN

Semua orang adalah makhluk politik. Perjuangan politik tidak hanya dilakukan di parlemen, tetapi harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh anggota masyarakat. Tanggung jawab dan tindakan politik tidak bisa serta merta direpresentasikan oleh parlemen atau perwakilan yang dipilih melalui pemilu, tetapi harus menjadi tanggung jawab dan tindakan politik setiap hari dari seluruh masyarakat mulai dari lingkungan komunitas terkecil hingga lingkungan negara. Perjuangan mewujudkan demokrasi tidak hanya ditujukan untuk mendemokratiskan negara, tetapi mencakup pula penguatan otonomi masyarakat sipil untuk menggunakan kekuasaaan dan secara terus menerus mempengaruhi negara agar sungguh-sungguh menjadi representasi kepentingan rakyat. Demokrasi Kerakyatan juga harus terus menerus meningkatkan kapasitas kedaulatan orang per orang dan memprioritaskan pada kepentingan kelompok yang tersubordinasi.
Untuk membangun kekuatan politik rakyat, SAREKAT HIJAU akan mengarahkan perhatian utamanya pada penguatan gerakan massa kerakyatan.
SAREKAT HIJAU INDONESIA yang dibangun harus bertulangpunggungkan kader massa masif yang terdidik dan kritis, dengan kesadaran politik dan ideologi yang kuat.
Untuk itu SAREKAT HIJAU INDONESIA akan bekerja dalam siklus tiga kaki - didik, organisir, mobilisasi. Siklus ini harus dimulai dari wilayah kesatuan politik terkecil hingga wilayah kesatuan politik yang lebih besar. Percepatan pembangunan kekuatan politik ini akan didorong dan mengandalkan energi perlawanan yang tersebar di wilayah-wilayah kabupaten, untuk menemukan momentumnya di tingkat propinsi, region dan nasional.

Ketiga,
Membangun Politik Anggaran yang Mandiri, Menangkal Money Politic dan Kendali Pemilik Modal

Sejak awal Sarekat Hijau Indonesia menetapkan kemandirian pendanaan ini sebagai hal yang mendesak dan mendasar. Artinya secara sadar salah satu uji keteguhan dan komitmen kader atau anggota adalah kesanggupannya untuk memberikan kontribusi dana bagi jalan organisasi. Selain harus ada integrasi antara pelaksanaan program politik dan program ekonomi. Program penguatan ekonomi kolektif di kalangan konstituen dan anggota sesungguhnya sekaligus sebagai program politik terpenting. Artinya kerja-kerja penguatan politik sekaligus merupakan program penguatan ekonomi anggota dan konstituen.


Pandangan Dasar Tentang Politik Indonesia dan Agenda 2009

Dalam penilaian kami sikap dan tugas politik mendesak gerakan rakyat termasuk di dalamnya adalah Sarekat Hijau Indonesia adalah melakukan delegitimasi dan penentangan terhadap oligarki kekuasaan dan partai-partai dominant. Inilah momentum pasang naiknya gerakan massa. Juga ini momentum pasang naiknya lahirnya idiom-idiom politik baru untuk keluar dari bunuh diri politik ekonomi negeri ini. Sehingga kerja-kerja mendesak adalah pembangunan pakta politik baru diantara elemen gerakan dengan membangun front politik arau blok politik baru. Pakta politik ini juga terbuka untuk membangun sinergi antara gerakan ekstra parlementer dan partai progresif yang bertarung di pemilu sepanjang mereka bersepakat dengan agenda menggoyang sistem dan deligitimasi sistem politik hari ini.

Pandangan ini didasari analisis bahwa rezim kekuasaan hari ini berada di dalam kebangkrutan karena menjadi sumber ancaman keselamatan rakyat dan menanamkan benih kehancuran negeri ini. Bahwa oligarki politik hari ini bercokol di hampir semua partai politik yang ada hari ini. kepentingannya tunggal yakni mempertahan kekuasaan dan share/pembagian sekaligus persaingan kalangan sendiri untuk meperebutkan rente ekonomi dari penggadaian kekayaan alam negeri ini. Kalau pun ada pernentanganan dan sikap yang seolah-olah opisisi sesungguhnya hanya permainan politik dan sirkulasi elit atau oligarki politik-ekonomi.

Paket UU Politik yang baru saja diterbitkan pada galibnya adalah sarana untuk mempertahankan status quo dan menutup pintu kekuatan politik yang pro perubahan dan pro rakyat. Praktek ini sejalan dengan kebijakan partai-partai untuk menutup dan membatasi ruang gerak kekuatan pro perubahan di dalam tubuhnya.

Pembahasan paket UU Politik sangat kental nuansanya sebagai politik dagang sapi. Proses perdebatan yang terjadi pada akhirnya mengerucut kepada kepentingan untuk menjaga status quo dan kepentingan politik partai-partai yang ada, bukan kepada upaya untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan terwakilinya kepentingan rakyat. Selain itu secara teknis masih nampak kuatnya kecenderungan untuk mempertahankan dominasi partai dalam menentukan wakil rakyat yang akan melaju ke parlemen. Disamping adanya dugaan masih kuatnya tendensi partai-partai politik untuk mendorong pilihan rakyat melalui pilihan tanda gambar partai bukan pada nama calon.

Hal ini sesungguhnya mengukuhkan pilihan kita untuk menyiapkan lahirnya kekuatan politik baru atau kendaraan dan partai kita sendiri. Konggres Rakyat Indonesia (pen dirian SHI) sudah secara eksplisit memberikan mandat untuk membangun partai. Oleh karena itu kita harus konsisten untuk mewujudkan pilihan politik kita ini. Untuk itu menjadi keharusan para pekerja inti Sarekat Hijau Indonesia yang ada di jajaran pengurus untuk sepenuhnya mengerahkan segala daya upayanya untuk mewujudkan pilihan politik kita ini. PP SHI berpandangan pengurus Sarekat Hijau Indonesia seyogyanya tidak merangkap sebagai pengurus Partai Politik dan menjadi calon Wakil Rakyat dari Partai Politik lain.

Sekali lagi kami memandang 2009 adalah momentum dan ajang untuk mendelegitimasi oligarki kekuasaan dan partai-partai dominan yang hanya mengabdi kepentingan elite dan menjadi antek-antek penjajahah gaya baru. Sekaligus momentum bagi SHI untuk mempropagandakan kemendesakan bagi lahirnya kekuatan politik baru yang progresif.

Kamis, 13 Maret 2008

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Nyanyian Nurani Untuk Bayi Andini Yang terBunuh di Teluk Buyat

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 31 sahabat yang perduli atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada Andini Lensun dan warga buyat oleh perusahaan tambang raksasa dan kompradornya (pemerintah-penguasa). Memang hukum hari ini tidak memihak kepada para korban, peradilan belum lagi menjadi rumah kebenaran dan keadilan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan oleh warga dan jejaring NGO, akhirnya kandas. Tetapi biarkan api perlawanan tetap membara dan nurani tetap dihidupkan, karena diam adalah pengkhianatan. Kumpulan puisi biarkan jadi nyanyian nurani dan jadi doa yang meggerakan.

Salam

Andreas Iswinarto.

* nyanyian nurani saya gulirkan saat sedang belajar di Walhi 3 tahun lalu, dan saya rasa tetap relevan hingga saat ini


Doa untuk Buyat

Bayi perempuan itu terkulai di pangkuan ibunya. Kondisi fisiknya lemah. Andini Lensun, begitu pasangan Hanri Lensun dan Masna Stirman menabalkan nama anak kesayangannya yang baru berusia tiga bulan. Menurut Masana, ia tak pernah menyangka Andini akan lahir dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
”…saat hamil saya memang suka makan ikang, karena dorang Newmont bilang tidak ada pencemaran, kalau tak makang ikang torang pun bingung mau makang apa, torang nggak punya doi untuk beli yang laing,” tutur warga Buyat pante itu polos dengan linangan air mata, sambil menimang bayinya.
Andini bukanlah bayi yang normal. Kulit di sekujur tubuhnya terkelupas. Benjolan-benjolan kecil muncul juga dari kepala hingga kakinya. Bahkan, di bagian perut muncul benjolan sejak ia lahir. Sabtu, 3 Juli 2004, Andini telah kembali kepada Sang Pencipta. Tepat, 5 bulan masa hidupnya.
Untuk Kisah mendalam tentang Andini dan Warga Buyat, klik:
Laporan dari Teluk Buyat (2): “Kami adalah Generasi Benjol”, Republika, 5 Agustus 2004
http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=168712&kat_id=3

Narasi ini kemudian bergulir, perempuan, laki-laki dari berbagai latar belakang
terdorong terakan goresan nurani dan mendengungkan berbareng dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat jadi mantra, jadi doa....


: Andini
Oleh Lanjar
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Belajar mencinta, tak cuma dengan mata dan telinga tetapi dengan hati
Belajar memberi, tak cuma dengan ratap dan tanya tetapi dengan tindakan peduli
: Andini
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Meneriakkan rintihan sakitmu, segala deritamu, derita saudara-saudara kami di Buyat sana
Tapi, ...
: Andini
Kau dimana?
Matahari masih malu-malu kala kaok burung Gagak mengabarkan kematianmu
Sontak telingamu menangkap, rebahku terganggu, gamang, galau langsung menyerbu
Kisah-kisah Resah tengah menjadi menu harian di seluruh penjuru
Orang-orang menuju ke Buyatmu dengan terburu-buru
Anak kecil, orang tua, orang sakit, para medis, pembaik, pejabat, penjahat berjejer satu-satu
Melihat lautmu, Mercurimu serta angkuhnya tembok Newmontmu
: Andini
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun, setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelas kami
Langit pecah dalam rintihanmu
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun
Jakarta, 17 September 2004 [31]
-----------------------------------------------------------------

Andini: Jiwa yang Terbuang
Oleh Abdul Halim
Demikian mudahkah!
Kejujuran, Kepedulian, dan Kewajiban
Berguguran di reruntuhan Air MaTa
Beriring MuLuT penuh KoToRaN
DusTa……
Racun……
dan KePalSuAn.
Andini, SeBuTaN PuTrI "MaLanG" ItU...
Tak terdengar lagi.
UANG, Tuhan SemesTa MaSa KiNi
BerGeLinTiR maTa PATAH oleh Kilauan-NyA
IroniS, di tengah DENTUMAN protes Anak-Anak Bangsa.
Andini,
PuTrI BANGSA yang Terbuang.
Tapi……
AngiN Semangatmu, SelaLu BerKoBaR dan BerKiBaR.
17 Agustus 2004, MeRdEkA Bangsamu
Di depan MeRaH PuTiH,
Ikrar diriKu, “Perjuanganmu Tiada Pernah Berakhir.”
TeGaRu, 18 Agustus 2004 [30]
-----------------------------------------------------------------------

In Memoriam: Andini Lensun
[Aug 12, 2004]
Oleh Nur Hidayati
Voice from the grave (1)
here
forty days I've been
in this cold dark hole
as cold as their hearts
as dark as their mind
what rights do they have?
stealing sun from my days
stealing smile from my face
what rights do they have?
hiding facts
spreading lies
what rights do they have?
playing God
cursing people eternal pain
unbearable
what rights do they have?
Voice from the grave (2)

bukan inginku menjemput nirwana
secepat ini
seperih ini
bukan mauku tangisan ibu
menyayat
merintih
belum jua puas
kutatap purnama
kudengar debur ombak
di Buyat
belum jua puas
kurasa hangat dekap
kudengar lirih doa
ibuku
usai sudah derita
kering sudah air mata
abadi aku kini
di pangkuan Ilahi Rabbi [29]
------------------------------------------------

Andini,
menyaksikanmu adalah keperihan rahimku
saat menguak membelah dunia
tangis lirih sakitmu
adalah kepiluan jantungku
yang tak mampu membantu menolongmu
panas dadamu
adalah mengerasnya payudaraku
karena penuhnya susu yang tak kau isap lagi
rintahan ajalmu
adalah teriakanku....
Tuhan.......di mana keadilan....
Anakku,
kematianmu
adalah kematian rasa penguasa-penguasa kita
yang menutup rapat mata hatinya
dan menimbun hati dan jiwanya dengan kerakusan kuasa
Kini, kain kafan telah membungkusmu pulang pada-Nya
dalam luka lara yang tak kuasa bunda gantikan
Tarikan nafas terakhirmu adalah pesan buatku
dalam terjal perjuangan
dalam ketegaran
tuk selamatkan sahabat dan kawanmu
dari nista pertambangan
Selamat jalan, Andini.......

(Medio Agustus, Wening 2004) [28]
-------------------------------------------------------------

Anak Bermain Perahu di Teluk Buyat
Oleh Hasan Aspahani
"Lihat, kapalku terisi sarat, mengangkut
59 ton emas, menjauh dari Teluk Buyat..."
Angin dari langit masih hembus yang dulu,
ombak dari laut masih hempas yang dulu.
Yang mendebur ke dada perahu, mengapung-apungkan
jaring yang tersangkut sejak dulu. Nasib nelayan kakekku.
Jauh, jauh. Kini mengayuh delapan kilo,
ke tengah laut. Sebab di teluk itu tak ada lagi
kerapu, kepiting bahkan juga seekor udang batu.
"Lihat, kapalku berisi kepenuhan,
pulang ke teluk membawa ikan.
Ada pesta, tengah malam disuguhkan.
Kita cuma nelayan, tak dapat undangan."
Empat tahun sudah air raksa menguap
di udara dan air mandi Teluk Buyat.
Mengendap dalam tubuh ikan, terperangkap
juga di darah kami, anak-anak nelayan.
Kelak kami menyebutnya racun yang tak tertawarkan.
Tapi, "Tak ada pencemaran, tak ada pencemaran."
Mereka sudah meneliti, mencocok-cocokkan jawaban, dan
tergesa mengambil kesimpulan. "Tak ada pencemaran!"
Tapi, "Lihat! Ada koreng di kulitmu...."
Cuma perahuku datang kembali membawa
sabun mandi. Ke Teluk Buyat. Mengubah
air tangis jadi gelombang berbuih. Jadi perih.
"Dan, bila luka juga, tak ingin kubagi
perih yang tak kau pernah pahami ini.
Tenggelamkah sudah semua perahu?" [27]
----------------------------------------------------------

Tiada Lagi...
Tangisan kesakitan itu kini tiada lagi...
Berganti nisan batu yang sunyi dan harum bunga...
Kami tak akan pernah melupakanmu..
Kau mencoba bertahan hidup selama lima bulan..
Namun sakit itu tak tertahankan lagi...
Setiap gerak adalah keperihan yang sangat..
Kami antarkan engkau berbaring selamanya...
Senyuman terakhirmu akan menjadi kutukan
Bagi raksasa penghisap emas itu...
Selamat jalan Andini...
Semua penderitaanmu tak akan sia-sia...
Oleh Anonim [26]
-----------------------------------------------

Tragedi Buyat
Oleh Agung Alit
Hatiku tersayat akan derita warga Buyat
Derita yang ditoreh tangan-tangan berkhianat
Buyat dirampok, disihir menjadi tambang tanpa tembang
Kini dari perut Buyat terburai limbah Mercuri laknat
Buyat tertampar
Andini Lensun terkapar,
Entah siapa esok menyusul
Tragedi Buyat, hikayat pejabat pusat
Tragedi Buyat, hikayat tak berakhlak
Tragedi Buyat, hikayat tak bertobat
Denpasar, 9 Agustus 2004 [25]
---------------------------------------------------------

Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]

Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini

Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu

Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??

Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan

Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita

Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm

Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [24]
-----------------------------------------------

Renungan Buyat [Hikayat II]

Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral

Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...

Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?

Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka

Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm

Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar] [23]
-----------------------------------------------------------------------------

Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai
Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan
Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk
Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat
Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup
Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad
Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am
Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]
--------------------------------------------------------------

Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna
(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)
Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?
Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya
Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"
Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]
-----------------------------------------

Gerutuan dan Mantra Bebas dalam Nyanyian Nurani untuk Andini Lensun dan Warga Buyat
Oleh Ambo Tang
1. Naba’ Duka buat Nurani al-Makarim
Ya…. An-Naba'
Dulu dengan bangga kita bisa
Beritakan dan bernyanyi:
"Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman
Ikan dan udang menghampiri dirimu"
Ya…Al-Makarim
Kini dengan bingung dan mulia
kita hanya menggerutu:
"Bukan lautan hanya kolam busuk
Korupsi dan utang cukup menghidupimu
Tiada aman tiada damai kau temui
Orang bilang tanah kita tanah bangkai
Emas, perak, dan minyak jadi bencana
Minamata dan maut menghampiri dirimu"
2. Mantra Maut buat Pejempol Tambang
Derai airmata mengalir di relung-relung pipi
Berai minamata menyebar di lorong-lorong bahari
Kerai pusara melebar di sudut-sudut wanua
Cerai jasad menjauh dari simpul-simpul nyawa
Lerai pikir merenggang dari pojok-pojok hati
Kemana lagi budak harus bertuan?
Kemana lagi rakyat harus beraja?
Kemana lagi bangsa harus bernegara?
Kemana lagi hamba harus bertuhan?
Kemana lagi ratap akan berharap?
Kemana lagi doa akan berjawab?
Kemana lagi rintih akan bersahut?
Kemana lagi perih akan berbalut?
Jiwa-jiwa kini tak lagi dihargai
Bangsa dan negara pun telah digadai
Oleh bangsat-bangsat pembantai
Yang jempolnya mengundang badai
Duhai Penguasa Bumi
Duhai Pemilik Jiwa
Deritakanlah derita Andini
Pada diri para pembantai
Bi adzamatika yaa Rabbi
Bi nubuwwatika yaa Nabi [20]
-------------------------------------

Matahariku Hilang Tuhan
Oleh Jeanny Suryadi
Matahariku hilang tuhan,
Semua menjadi gelap untukku bisa bermain...bahkan
Mereka juga membawa pergi kawan-kawanku.
atau aku yang sudah tidak ada di sana? kenapa?!
2004
cukup pak!
jangan bilang akan mengadakan subsidi pendidikan!
jangan bilang akan ada sekolah murah?
sedang aku sudah buta untuk membaca, dan sudah terlalu
lumpuh untuk bisa berjalan..
August 2004
apa benar ini naskah untukku?
peran seorang anak tanpa matahari? kemana - mana
menjinjing gumpalan penyakit yang sampai jatuh ke jiwa?
menghancurkan apa-apa yang kata mereka adalah milik
saya, tidak bisa diabadikan bahkan juga di kepala
-selain butiran pengantar jenazah.
untuk Andini.
tidak banyak yang kulihat di sini, karena keriputnya
sudah jatuh mengering menutup kelopak mata,
tapi aku dengar ibu menangis!
Andini
ini bukan tangan, tuhan..tapi mainan yang sudah
rusak,
ini bukan kepala tuhan, tapi batu karang usang,
dan ini bukan jiwa, tapi lapangan untuk berguling
dalam dusta dan uang.
saya bukan manusia tuhan...itu kata mereka...
2004, Manusia di Buyat. [Andini] [19]
--------------------------------------------

Dan semestapun berduka
Oleh WeES
Cukup jauh jarak Buyat hingga Yogya
tapi ratapanmu Andini
sayup terbawa angin: menyusup ke hati
mungkin ini jawaban dari isyarat
kenapa kemarau kali ini
mendung senantiasa menggantung
rupanya mereka berduka buatmu: Andini
dan ketika racun disebar di laut
siapapun dia pelakunya
entah melanggar aturan atau apa namanya
saat itu: pengkhianatan hati nurani tarjadi
Hai....... kamu! Kamu! Kamu!
yang menangguk untung
dengan diam-diam menebar bencana!
untuk membuka matamu, telingamu,
Butuh korban berapa banyak lagi? [18]
--------------------------------------------------

Sekarat Buyat
Sret, lima bulan Andini Lensun bernafas
lalu tiada
Sret, sekarat Buyat
masuk berita
Sret, ancaman menganga
yang ada jadi sekarat
Berapa lembar lagi laporan
Berapa halaman lagi berita
Berapa karat lagi nyawa
Imperialis pertambangan
Adalah tuhan segala setan
Dengan sekarat segala sisa
Enyahkan segera
Enyahkan segera
Oleh Ben Abel [17]
------------------------------------------------

Kami tak pernah melukai orang dewasa
Tapi tangan-tangan mereka
Telah menghancurkan
Tangan-tangan kecil kami
Setiap nafas kami
adalah kesakitan panjang
Setiap tangis kami
adalah hapusan pengharapan
untuk melihat dunia ini
lebih lama lagi
Air susu yang kami minum
menjadi racun
yang tak pernah ada penawarnya
bunda-bunda kami pun
tak berdaya
Dengan sakit yang menyiksa
sepanjang hari-hari kami
semenjak kami bersemayam
dalam rahim bunda
kami ingin hidup panjang
menikmati indahnya Buyat
mengukir cita-cita
untuk Tanah Buyat
Tapi tangan-tangan orang dewasa
telah hancurkan tangan kecil kami
anak-anak Buyat
Oleh Lilie [16]
-------------------------------

Teluk Buyat,O!
: Andini
Oleh Indah IP
Mungkin ini waktu yang tepat
buat kami
Belajar mencinta
Tak cuma dengan mata dan telinga
tapi juga hati
Belajar memberi
Tak cuma dengan ratap dan tanya
tapi juga tindak nyata
Akhirnya, Andini
kepergian selalu jadi waktu yang tepat
untuk belajar mencinta
dengan dewasa
6 Agustus 2004, 15.00 Wib [15]
------------------------------------

Kidung Dukaku
Oleh Bening
Kutatap dunia dengan kedua mata kecilku
Kusapa mentari dengan kedua lengan mungilku
Dengan senyumku
Begitu banyak harapan tersirat
Kulihat mata ayah bundaku
Penuh dengan kegembiraan
Mensyukuri kehadiranku di dunia ini
Kutapaki lapangan bermain
Bermain bersama dengan teman-temanku
Tertawa riang dan lepas tanpa beban
Berlari bebas
Mengejar kesenangan menjadi seorang anak kecil
Tapi kemudian
Aku terbaring di sini
Masih memandang dunia ini
Tapi dengan mata nanar
Tiada lagi kulihat kegembiraan di mata ayah dan bundaku
Semua kegembiraan telah tergantikan dengan kesedihan
Dengan pilu, melihat deritaku
Aku tidak dapat lagi berlari bebas
Tidak dapat lagi tertawa lepas
Kakiku sudah tak mampu menopang tubuh kecilku
Tubuhku sudah tak dapat merasakan apapun lagi
Perlahan kurasakan tubuhku menjadi ringan
Ringan tanpa beban
Kudengar isak tangis bundaku
Sementara ayah berdiri dengan tegar menopang bunda
Aku bingung
Tak tahu apa yang terjadi
Aku hanyalah anak kecil
Yang hanya mengerti bermain, bertingkah lucu, dan
membuat kedua orang tuaku tersenyum
Mengapa kalian jahat padaku
Apa salahku sehingga kalian membunuhku
Dengan racun yang kalian tebarkan di desaku
Tidak pernahkah kalian berpikir kalau aku juga ingin
hidup seperti kalian
Bisa sekolah tinggi
Dan menjadi orang yang berhasil
Menghembuskan nama harum keluargaku, desaku
Kini aku hanya bisa merasakan nisan dingin
Bertuliskan namaku
Tanah basah menjadi selimutku
Harum bunga semerbak sebagai aroma tempat tinggalku
Dan melihat kesedihan teman-teman kecilku yang dulu kerap
bermain bersamaku
Menjalani derita
Tolonglah kami.........
Jangan biarkan mereka seperti aku
Jakarta Terik, 6 Agustus 2004 [15]
---------------------------------------

Adik Andini Lensun
Oleh Run
Kita seharusnya tidak mempertanyakan bagaimana Andini Lensun meninggal
tapi yang harus kita pertanyakan, bagaimana Andini hidup dengan menanggung beban yang begitu berat
Merkuri itu telah merenggut nyawa anak negeri
Dik Andini, kami hanya bisa marah, kami hanya bisa protes
dan kami akan terus melanjutkan perjuangan kamu
kami kirimkan doa-doa suci untukmu semoga Adik Andini hidup tenang di alam sana.
Amin….. [14]
----------------------------------

Buyat
Tragedi menyayat
Buyat
Tangisan rakyat
Buyat
Menyongsong mayat-mayat
Buyat
Siapa hendak melayat?
Oleh Febuana Kusuma [13]
-------------------------------------

Hiiikayat Buyat
Sajak Syam Asinar Radjam
Hiiikayat Buyat I: Andini
Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu
luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap
Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!
Lukanya luka yang tak harus ada
* * *
Hiiikayat Buyat II
Kulihat darah!
Menetes, belum mencurah
Mengalir masih, menuju gumpal
Hei, Lihat bersama!
Ada yang diundang sengaja; BENCANA!
* * *
Hiiikayat Buyat III
Kenapa aku tak menduka?
Meski ikan dan laut telah bernanah!
* * *
Hiiikayat Buyat IV
Mari ambil penggaris,
Bentangkan pula peta.
Berapa jauh bencana dari depan rumah kita?
Penjahatnya tertawa di meja gambar!
* * *
Jakarta, 4 - 5 Agustus 2004 [12]
-----------------------------------------

Catatan Kecil buat Adik: Andini dan kawan-kawan
Oleh Buruli
Dik,
Kalau besok tiba-tiba mengganas gelombang, itu karena
doa para ikan! Air mata yang mengalir lebih asin dari lautan
" Mereka tak hanya membunuh kita! Mereka juga
membunuh sesamanya: manusia!"
Sebenarnya bukan salah racun, mereka juga sedih
"Ini sama sekali bukan tempat kami!" Kata mereka
Tapi sebagian manusia itu memang tak peduli
Bahkan bila yang terbunuh adalah saudara mereka sendiri
"Jadi tolong jangan salahkan kami!" Isak racun malu hati
Para ikan berteriak! Racun berteriak!
Bila nanti kau dengar ada sesuatu yang besar dan
meledak
Itu karena akhirnya seisi samudera berteriak!
"Terbakarlah engkau yang begitu tega membunuhi"
Ah,
Tutuplah telingamu, Dik!
Lebul, 4 Agustus 2004, 1:43 am) [11]
--------------------------------------------

Ratatotok
Ratap Buyat
Jakarta, 4 Agustus 2004
Oleh tJongPaniti [10]
------------------------------------------

Menunggu Kilat Merkuri
Oleh Dwi Muhtaman
Di atas perahu meninggi bintang-bintang pengharapan
Menggantung berabad-abad hingga lapuk buritan kayu
hitam
Layar yang berkobar mengantarkanku pada kaki langit
Berebut gelombang dan debur jantung samudra Teluk Buyat
Bertukar ajal dan gelora napas
Membawa hidup pulang dalam belanga dan tawa anak istri
Menaburkan pasir ke angkasa
dalam riang percikan sinar bulan
dan angin malam
do'a-do'a
Dan berlabuh
Dari jauh
Hingga abad berkarat kini
Dan kau datang tanpa mengetuk pintuku
Menebar kilau dari jaman yang sesak
Kilatan maut melesat dari roda-roda penggilingan
Mengubur dasar samudra
Bagi kemewahan tuan dan nyonya di lingkar jari-jari
Dan lingkar leher jenjang nyalang
Gaya terkini
Lalu
Diam-diam
Diam-diam
Kilau Merkuri mengantarkan semua ini
Tajam mengiris, tajam yang tak kurasakan
Syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
Dari kilauan lautan yang sama,
dari debur ombak Teluk Buyat yang itu juga
yang berabad-abad melapisi kulitku hingga legam
yang berabad-abad anginnya menjadi napasku
yang berabad-abad asinnya menggarami hidupku
Hingga kau datang diam-diam
dan aku-tanpa kutahu-menunggu kilat Merkuri di ujung leherku
tajam siaga mengiris diam-diam hingga ajal
syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
mayat demi mayat
Sebentar menanti seperti begitu lama mati
Dan kau sibuk mengeja syaraf demi syaraf
Ayat demi ayat kau taburkan untuk penyangkalan
Di antara mayat yang bergelimpangan
Dari kilauan Merkuri
mata pisau pada ujung leherku
Dan kau ingin menghapus riwayat ini?

Bogor, 4 Agustus 2004 [9]
--------------------------------------------

...Andini...
Kemarin,...
Kala mentari hadir menyapamu kau sambut dengan sejuta
senyum
Seraya berkata kau akan hidup seribu tahun lagi...
Hari ini, ...
saat mentari hadir mengajakmu bercengkrama,
Bercerita tentang hari esok yang penuh cinta
Kau sambut dengan tatapan kosong,
tak berdaya, tak mampu menggerakkan anggota badanmu
dan...
bahkan kau tak mampu lagi mengeluarkan suara
deritamu..
...Andini...
Kau telah beku dalam tidurmu yang damai
Tak ada lagi jerit sakitmu...
...Andini...
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu melanjutkan perjuangan dan
cita-citamu
Kami antar kau ke pembaringan terakhirmu
Selamat jalan Andini...
Tidurlah dalam damai dan kasih-Nya.
...perngorbananmu tak akan pernah sia-sia...
Makassar, Agustus 2004
Oleh Alam Cakke [8]
----------------------------------------

ANDINI
Oleh Sepmiwawalma
ANdai Daku Insaf mulai hari iNI
Maka kisah ANDINI dan ANDINI yang lain
BUYAT dan BUYAT yang lain
hanya sebuah catatan sejarah yang tak perlu terulang
lagi.
Tak akan ada lagi derita ini.
Derita tentang...
Rintihan kesakitan..
Tangis kepiluan..
Air mata kedukaan..
Teriakan penderitaan..
Helaan nafas penuh tekanan..
Langkah tanpa harapan..
Sebuah perjalanan tanpa kepastian..
Dan janji kehidupan yang penuh kesia-siaan..
Dan Andinipun menulis
Ingin kusalahkan Tuhan
Kenapa aku dilahirkan hanya untuk berjumpa dengan
semua derita ini. Bukan bukan Tuhan yang salah..
Kamu..
Kamu.. semua yang salah
Yang tidak berbuat apapun juga.
Palangkaraya, 3 Agustus 2004 [7]
------------------------------------------

Untuk kita semua,
Adakah yang lebih berarti dalam hidup ini selain soal
kemanusiaan? Kepergian seorang Andini dan derita kaum
Buyat hanyalah sebuah potongan episode panjang sejarah
penistaan kemanusiaan...
Bila hidup ini hanya untuk soal siapa yang merasakan
apa maka pernahkan kita semua memikirkan suatu saat
nanti kita juga akan mengalami tragedi kemanusiaan
itu,...
Kita dengan kemampuan nalar dan logika dapat berkelit
dan berdebat, ...... Tapi penderitaan dan kematian itu
bukan soal nalar dan logika rasional serta bukan juga
soal untuk diperdebatkan,...
Tapi dia adalah soal yang harus dirasakan,...
Bila kita belum memiliki kesempatan untuk merasakannya
maka tunggulah saatnya.
Kalaupun tidak di dunia yang hanya sepenggal waktu
ini, dunia abadi akan menanti kita dengan penderitaan
dan kematian yang abadi pula.
Bogor, 3 Agustus 2004
Oleh Rasdi Wangsa [6]
--------------------------------------------

Andai
Oleh Mastuati
Andai aku bisa mengembalikan waktu
dan menata negeri ini sedari awal, Andini
Aku akan menatanya dengan kasih dan kejujuran,
sehingga kau bisa bermain dan bermanja
dialam yang mengucapkan terima kasih,
karena kita telah memeliharanya
dengan cinta.
Andini, aku percaya bahwa
kau telah kembali kerumah Sang Pencipa
dengan selamat dan sejahtera.
Palangkaraya, 2 Agustus 2004 [5]
----------------------------------------------

Masihkah kita bisa nyenyak di atas rintihan kepedihan masyarakat Buyat?
Masihkan kita punya nurani atas tangisan ibu-ibu di Buyat?
dan yang paling penting ...
Masihkah kita punya nyali untuk teriak dengan lantang
...
Oleh Arifin Amril [4]
--------------------------------------

Kalaulah mungkin,
Kudekap nian tubuhmu yang rapuh Andini,
dan nyanyikan perih tubuhmu,
agar si rakus itu, tahu bahwa tubuhmu memang perih
tahukah kamu Andini? duka, tangis, dan jerit bundamu
adalah tangis pilu bagi mereka yang bernasib sama,
lihatlah, pongahnya Newmont,
juga sedang menebar maut di tanah Tapanuli, Sumut
hanya sedikit yang tahu, atau yang peduli
bahwa 5 tahun lagi,
teman kita di Madina juga bernasib sama
Oleh Megianto Sinaga - Medan [3]
-------------------------------------------

Aku Andini
Oleh Marselina
(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...
Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.
(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...
Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....
Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..
Tuhan... apa salahku..???
Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...
Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..
Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya
Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...
Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..
Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati
Dan kini.... aku pun mati...
Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]
------------------------------------

"Langit Mendung Di Teluk Buyat"
Oleh Jpang
Wajah-wajah tertutup jelaga
Tangan-tangan terbalut nestapa
Sebatang tubuh mungil mati ternoda
Ikan-ikan entah ke mana
Ganggan hijau berubah warna
Burung-burung tak lagi bersuara
Andini Lensun mati sia-sia
Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian
Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun
Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu
dasawarsa
Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat
Teluk Buyat menyaksikan Andini Lensun mati sia-sia
Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa
Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia
Terbungkus landir minamata
Langit mendung di Teluk Buyat
Berpuluh manusia meregang nyawa
Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala
Atau badan merana menjelang garis penutup usia
Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan
Menarikan dansa kesuraman di atas dahan-dahan bakau
Menukik tajam menyayat reruntuhan karang
Lalu patah terhempas gelombang kerakusan
Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat
Matanya melelehkan kegelisahan
Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adidaya
Kilaunya mewarnai horison benua kebanyakan
Meninggalkan bekas Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat
Juli 2004 [1]

silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

CUKUP SUDAH! Hentikan Investasi Baru Pertambangan Besar yang Menista Rakyat*

Lagipula, siapakah yang bisa mengembalikan lagi kekayaan Indonesia yang
diambil oleh mijnbedrijven partikelir, yakni perusahaan-perusahaan
partikelir, sebagai timah, arang batu dan minyak. Siapakah nanti yang bisa mengembalikan lagi kekayaan-kekayaan tambang itu? Musnah-musnahlah
kekayaan-kekayaan itu buat selama-lamanya bagi pergaulan hidup Indonesia, masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka! (Soekarno, Indonesia Menggugat 1961)

Kami menyatakan keprihatinan dan kemarahan kami, atas penistaan para pejabat negara untuk yang kesekian kalinya terhadap warga Buyat. Orang-orang biasa, perempuan dan laki-laki, tua dan muda yang mempertaruhkan keselamatan diri mereka untuk melakukan protes dan menuntut keadilan atas bencana lingkungan yang mereka alami. Sebuah bencana pencemaran yang menyebabkan gangguan kesehatan kronis dan kemiskinan akibat hilangnya mata pencaharian yang ditimpakan kepada mereka sebagai dampak operasi pertambangan raksasa PT Newmont Minahasa di wilayah hidup mereka Alih-alih menerapkan prinsip kehati-hatian, empati serta memihak pada korban, para pejabat negara dengan serta merta menyangkal penderitaan para korban dan menyatakan bahwa PT Newmont Minahasa tidak menimbulkan pencemaran. Dengan menyatakan bahwa Teluk Buyat tidak tercemar, dengan setumpuk hasil penelitian dan bukti laboratoris berbagai pihak yang mengindikasikan terjadinya pencemaran, sesungguhnya para pejabat negara telah memvonis rakyat menyampaikan informasi yang tidak benar alias bohong.

Kami menilai sikap ini adalah bagian dari upaya untuk menutup-nutupi borok sistim politik-ekonomi yang korup yang mendukung usaha pertambangan besar yang tidak adil. Dalam kasus Buyat hingga operasi PT Newmont Minahasa berakhir, ternyata perusahaan ini hanya mengantongi ijin sementara pembuangan limbah ke laut. Ketika ijin sementara itu dikeluarkan disyaratkan perusahaan tambang ini menyusun Ecological Risk Assesment (ERA- Penilaian Resiko Ekologi) dengan tenggang waktu enam bulan sejak keputusan dikeluarkan, sebagai dasar pemberian ijin permanen. ERA nantinya akan dijadikan dasar penetapan baku mutu lingkungan. Namun hingga saat ini pemerintah ternyata belum dapat menerima ERA yang disiapkan oleh perusahaan.


Dengan demikian jelas bahwa tidak ada jaminan bahwa lingkungan hidup dan masyarakat aman dari dampak sistim pembuangan tailing ke dasar laut yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa. Hal ini sebenarnya sejalan dengan rekomendasi tim peneliti Kementrian Lingkungan Hidup di teluk Buyat tahun 2002 yang menyarankan penduduk sekitar Teluk Buyat mengurangi konsumsi ikan yang hidup di area pembuangan tailing Newmont.

Adalah sebuah tragedi bangsa, adalah sebuah ironi 'kemerdekaan', bahwa masih terdapat fakta ketimpangan dan kesenjangan yang mengerikan.
Berdamping-dampingan dengan kerakusan operasi raksasa perusahaan
pertambangan asing mengeruk kekayaan alam tambang berton-ton dari bumi
Indonesia, terdapat kemiskinan yang kronis disekitar wilayah operasi
perusahaaan tersebut. Sebut pula apa yang terjadi di tanah Papua, konsesi tambang PT Freport di tanah Papua telah mengorbitkan perusahaan tambang tersebut sebagai salah satu perusahaan tambang tembaga, emas dan perak terbesar di dunia. Sementara kita tahu masyarakat di sekitar pertambangan PT Freeport masih saja terpuruk dalam kemiskinan dan kemandegan yang dalam.

Belum lagi fakta pencemaran lingkungan yang terjadi akibat operasi
perusahaan ini. Paling tidak menurut penelitian Walhi dengan menggunakan data satelit Indraja Landsat tahun 2000, diperoleh temuan total wilayah darat yang tercemar tailing mencakup luasan 35.820 hektar. Sedangkan wilayah laut yang tercemar paling tidak meliputi wilayah seluas 84.158 ha. Dimana radius pencemaran tailing di laut dari muara Komoro. Gejala ini sesungguhnya bukan saja terjadi di Minahasa dan Papuan Barat namun terjadi pula dihampir seluruh wilayah operasi pertambangan besar di Indonesia.

Selain merupakan gejala yang universal bahwa di tengak iklim demokrasi yang kurang berkembang dan masih kuatnya militerisme, sektor pertambangan besar ini potensial menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam konteks Indonesia kajian atas pelanggaran-pelanggaran HAM pada industri pertambangan dengan studi kasus PT Freeport Indonesia dan PT Kelian Equatorial (Elsam, 1998) menunjukkan paling tidak ada delapan bentuk pelanggaran HAM yang ditemukan. Pertama, pelanggaran atas hak untuk menentukan nasib sendiri. Termasuk didalamnya adalah tidak diakuinya tanah-tanah adat yang menjadi milik seseorang, keluarga atau satu suku tertentu, tidak diakuinya struktur sosial masyarakat adat serta pemaksaan untuk alih fungsi lahan menjadi areal pertambangan. Kedua, pelanggaran atas hak untuk hidup. Ketiga, penghilangan orang dan penangkapan secara sewenang-wenang Keempat, hilangnya hak untuk bebas dari rasa takut. Kelima, hilangnya hak seseorang untuk tidak mendapatkan penyiksaan atau tindak kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh pejabat publik. Keenam, dicabutnya hak seseorang atas sumber penghidupan subsistensinya Ketujuh, hilangnya hak anak-anak untuk mendapatkan perlindungan Kedelapan, lenyapnya standar kehidupan yang layak dan pencapaian tingkat kesehatan yang optimal (hak atas lingkungan hidup yang sehat)

Pelanggaran hak asasi manusia, pemiskinan rakyat dan penghancuran lingkungan hidup di sekitar wilayah konsesi pertambangan besar yang didominasi pemain internasional, sesungguhnya menegaskan masih bertahannya karakter model penguasaan sektor pertambangan masa penjajahan.

Praktek-praktek ekonomi-politik perusahaan tambang internasional di
Indonesia sesungguhnya adalah praktek imperialisme, meminjam definisi
Connors adalah praktek-praktek "penguasaan secara formal (atau tidak
formal) atas sumber-sumber daya ekonomi setempat yang lebih banyak
menguntungkan kekuatan metropolitan, dengan merugikan ekonomi setempat'.

Di tingkat agregat perekonomian nasional, sesungguhnya distribusi keuntungan dari pendapat negara dari sektor pertambangan besar ini yang diperoleh dari bagi hasil, royalti dan pajak, serta kontribusinya bagi perluasan lapangan kerja (yang sebenarnya kecil saja) vis a vis perusahaan pertambangan internasional dan negara-negara maju menunjukkan ketimpangan yang kronis pula.

Pola hubungan ekonomi yang lazim terjadi antara negara sedang berkembang yang kaya dengan sumberdaya alam terutama mineral dan negara maju atau industri, menunjukkan karakter ketimpangan dalam menyerap manfaat ekonomi atau nilai tambah dari pengolahan bahan baku atau bahan mineral.

Perusahaan-perusahaan internasional dari negara maju memiliki kontribusi terbesar dalam proses ekstraktif atau eksploitasi sumberdaya mineral. Bahan baku ini kemudian menjadi komoditi ekspor bagi negara-negara berkembang tersebut yang utamanya diserap oleh industri pengolahan di negara-negara maju. Produk setengah jadi dan produk jadi ini kemudian diimpor oleh negara-negara berkembang, untuk diolah kembali oleh industri-industri di negara berkembang yang juga di dominasi oleh perusahaan-perusahaan asing, atau dalam hal produk jadi untuk konsumsi pasar dalam negeri

Apropriasi (pengambilalihan) nilai lebih ini tidak hanya terjadi melalui lika-liku praktek ekonomi diatas, tetapi juga melalui nilai lebih yang hilang akibat tergusurnya dan terganggunya berbagai mata pencaharian rakyat (termasuk akibat kerusakan lingkungan) di sekitar wilayah tambang. Belum lagi bila kita menghitung hilangnya potensi sumberdaya manusia akibat kemiskinan dan kesehatan yang buruk. Lebih jauh lagi apropriasi terjadi bila dihitung pula nilai modal ekologis yang hilang akibat rusaknya fungsi-sungsi ekologis alam akibat proses destruktif industri pertambangan.

Kami menilai bahwa tragedi Buyat hanyalah puncak es dari kebobrokan yang jauh lebih besar dalam industri pertambangan besar bahkan dalam system politik-ekonomi di negeri ini.

Kami menegaskan bahwa narasi besar dari tragedi Buyat, sesungguhnya adalah imperialisme dan sistem politik-ekonomi yang korup termasuk militerisme yang melanggengkan penjajahan baru tersebut.

Untuk itu kami menuntut pemerintah untuk melakukan :

1. Moratorium Investasi Baru di sektor Pertambangan Besar
Moratorium di lakukan untuk memberikan waktu bagai penyiapan infrastruktur perekonomian Indonesia hingga lebih siap menyerap nilai tambah dari pengelolaan sumberdaya mineral. Selain itu moratorium memberi kesempatan untuk perombakan terhadap kebijakan negara dan sistim industri pertambangan besar yang korup dan eksploitatif baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Proses ini harus didahului dengan audit Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup terhadap sektor pertambangan besar.

2. Renegosiasi Kontrak Karya
Peninjauan kembali perjanjian kontrak karya yang sudah disepakati dan
melakukan pengaturan kembali terhadap distribusi keuntungan, keterkaitan dengan dengan industri hilir, transfer teknologi, serta tanggungjawab sosial dan lingkungan hidup (termasuk pengetatan syarat-syarat lingkungan hidup mengikuti standar lingkungan hidup di negara-negara maju).

3. Tindakan Hukum Yang Tegas
Pemerintah harus menunjukkan political will untuk 'melindungi, mencegah dan mempromosikan hak-hak asasi manusia di bidang ekonomi, sosial dan
lingkungan hidup' dalam sektor industri pertambangan . Pertama-tama
'political will' tersebut harus ditunjukkan dengan tindakan pengusutan dan tindakan yang tegas terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa dan aparat pemerintahan yang membiarkan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia tersebut. Termasuk pula tanggungjawab perusahaan untuk memberikan kompensasi kepada para korban dan memulihkan kerusakan ekonomi-sosial-budaya dan lingkungan hidup yang terjadi. Kedua, memberikan perlindungan hukum terhadap warga Buyatyang sedang berjuang untuk menuntut keadilan dari proses kriminalisasi dan adu domba. Ketiga, melalui langkah-langkah itu pemerintah kemudian melanjutkan penyelidikan yang menyeluruh terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan perusahaan pertambangan besar lainnya .

4. Menyiapkan Fondasi Kebijakan Mineral yang Adil dan Berkelanjutan

Kami menyerukan pula kepada segenap masyarakat Indonesia
1. Dukung dengan sekuat-kuatnya perjuangan warga Buyat yang bertaruh
keselamatan diri untuk menuntut keadilan atas hak-haknya yang dilanggar.
2. Dukung dengan sekuat-kuatnya perjuangan jutaan masyarakat korban,
sesungguhnya para survivor yang berada didalam dan sekitar wilayah konsesi tambang.
3. Bangun front-front perlawanan rakyat untuk merebut kembali kedaulatanvsejati dan menyerukan proklamasi Indonesia kedua. Rakyat Bersatu, Rakyat

Berdaulat; Merdeka Seratus Persen.

*Ini adalah manifesto yang diteken oleh 800 orang dan lembaga di tahun 2004, yang dinisiasi oleh andreas iswinarto termasuk juga draft dan finalisasi manifesto ini. Sekedar mengingatkan kawan-kawan yang dulu berkomitmen untuk ini


silahkan baca posting terkait dibawah ini

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)

Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Wajah Pertambangan Besar Indonesia :

Konspirasi Imperialisme dan Sistim Politik-Ekonomi Indonesia Yang Korup

Andreas Iswinarto
(tulisan tahun 2004, semoga masih relevan)

Agaknya soal yang menimbulkan kepedihan Soekarno diatas masih terus berlangsung hingga hari ini.. Perusahaan-perusahaan pertambangan global mendominasi sektor 'ekstraktif' di negeri ini, dimana mereka tidak saja menghisap kekayaan alam dengan menyisakan remah-remah keuntungan bagi negara (setelah di korupsi oleh elit-elit penguasa), tetapi yang terutama mereka meninggalkan kerusakan lingkungan yang parah, serta luka dan kemiskinan bagi penduduk di sekitar kawasan tambang. Kajian yang dilakukan Dianto Bachriadi tentang pelanggaran-pelanggaran HAM pada industri pertambangan di Indonesia dengan studi kasus PT Freeport Indonesia dan PT Kelian Equatorial (Elsam, 1998) menunjukkan paling tidak ada delapan bentuk pelanggaran HAM yang ditemukan. Pertama, pelanggaran atas hak untuk menentukan nasib sendiri. Termasuk didalamnya adalah tidak diakuinya tanah-tanah adat yang menjadi milik seseorang, keluarga atau satu suku tertentu, tidak diakuinya struktur sosial masyarakat adat serta pemaksaan untuk alih fungsi lahan menjadi areal pertambangan. Kedua, pelanggaran atas hak untuk hidup. Ketiga, penghilangan orang dan penangkapan secara sewenang-wenang Keempat, hilangnya hak untuk bebas dari rasa takut. Kelima, hilangnya hak seseorang untuk tidak mendapatkan penyiksaan atau tindak kekerasan, khususnya yang dilakukan oleh pejabat publik. Keenam, dicabutnya hak seseorang atas sumber penghidupan subsistensinya Ketujuh, hilangnya hak anak-anak untuk mendapatkan perlindungan Kedelapan, lenyapnya standar kehidupan yang layak dan pencapaian tingkat kesehatan yang optimal (hak atas lingkungan hidup yang sehat).

Dengan demikian disatu sisi mereka menyedot bagian keuntungan terbesar, disisi lain mereka menimbulkan kerugian bagi penduduk disekitar pertambangan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Lantas sesungguhnya adakah perbedaan kondisi negara yang secara formal telah meraih kemerdekaan dengan kondisi pada masa kolonial dan imperialisme tempo hari?

Imperialisme Pertambangan
Hakekatnya pola hubungan antara korporasi pertambangan global dan negara-negara dunia ketiga adalah sama dan sebangun dengan hubungan antara penjajah dan negeri jajahan. Walaupun teori tentang imperialisme V.I. Lenin telah mengalami kelemahan, setelah berbagai negara jajahan di dunia secara formal berhasil merebut atau dihadiahi kemerdekaan (G. Aditjondro, 2002), beberapa karakteristik masih tetap relevan. Bila pada sebelumnya kekuatan-kekuatan kapitalis direpresentasi oleh negara-negara penjajah maka kini peran itu telah digantikan oleh korporasi-korporasi global atau TNC/MNC.Ada kecenderungan pula bahwa korporasi-korporasi global mengalami konsentrasi kekayaan dan proses monopolisasi ketangan segelintir korporasi global.

Aditjondro sendiri menawarkan pendekatan lain yang lebih cocok untuk menggambarkan hegemoni korporasi-korporasi tambang mancanegera di dunia dengan menggunakan definisi yang ditawarkan James Connor. Menurut Connor imperialisme merupakan "penguasaan secara formal atau tidak formal atas sumber-sumber daya ekonomi setempat yang lebih banyak menguntungkan kekuatan metropolitan, dengan merugikan ekonomi setempat'. Dalam prakteknya "...pola hubungan ekonomi yang biasa dilakukan antara negara-negara sedang berkembang dan negara industri, menunjukkan kenyataan hanya ada sedikit pengolahan dilakukan didalam negeri penghasil bahan mineral, sehingga barang yang dikirim mempunyai nilai tambah yang tidak terlampau banyak. Negara-negara majulah yang akan mendapat keuntungan lebih besar dari industri pertambangan ini, karena merekalah (seperti negara-negara industri di Eropa, Amerika Utara, Jepang, NICs) yang menjadi penyerap lebih banyak ekspor produk mineral dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi bahan setengah jadi dan dilempar kembali ke kantong-kantong industri barang jadi yang mereka miliki di negara-negara berkembang (lewat program relokasi indsutri) dalam skema ekspor impor pula. Kalaupun industri pengolah kemudian dibangun di negara penghasil barang mentah, sehingga hasil produksi bisa lebih terserap ke dalam negeri, hal itu tidak berarti bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh industri pengolah tadi tertinggal untuk rakyat atau negara setempat. Karena pada umumnya negara-negara atau kelompok-kelompok perusahaan yang berkepentingan dengan hasil produk bahanmentah dan olahannya dari negara asing akan berusaha menjadi pemegang saham" (Elsam, 1998). Apropriasi (pengambilalihan) nilai lebih tidak hanya terjadi melalui lika-liku praktek ekonomi diatas, tetapijuga melalui nilai lebih yang hilang akibat tergusurnya dan terganggunya berbagai mata pencaharian rakyat seperti usaha pertanian, perkebunan dan perikanan rakyat. Lebih jauh lagi apropriasi terjadi bila lebih jauh dihitung nilai modal ekologis yang hilang akibat rusaknya fungsi-fungsi ekologis alam akibat proses destruktif industri pertambangan ini.

Sebuah penelitian Walhi dengan menggunakan data satelit indraja Landsat dengan lebar rekaman 185 km persegi, diperoleh temuan total wilayah darat yang tercemar tailing tahun 200 adalah 35.820 hektar. Adapun wilayah laut yang tercemar tailing mencapai luasan 84.158 ha. Dimana radius penyebaran tailing di laut dari muara Komoro adalahsejauh 6 km dari garis pantai menuju laut lepas, sementara dari muara Sungai Ajkwa Barat sejauh lebih kurang 10 km dari garis pantai menuju laut lepas. Sebaran tailing diperkirakanlebih luas lagi karena kenampakan citra yang terpotong. Hanya dari sisi pencemaran saja bisa diperkirakan begitu besarnya nilai kerugian ekologis akibat beroperasi PT Freeport Indonesia.

Kedigjayaan Koporasi Global
Pola imperialisme pertambangan ini hakekatnya berlaku juga dalam berbagai lapangan ekonomi dan bisnis. Bahkan berbagai data statistik menunjukkan semakin digjayanya korporasi global disatu sisi, sementara disisi lain secara relatif semakin melemahnya posisi ekonomi negara-negara. Hal ini sesungguhnya sejalan dengan samkin menguatnya hegemoni dan dominasi ideologi neo-liberal dan 'pasar bebas'. Ideologi ini intinya menyatakan berikan kebebasan sebesar-besarnya bagi korporasi untuk melakukan akumulasi keuntungan, dandari sana kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat akan tercapai. Untuk itu peran regulasi pemerintah atau negara-negara harus dikikis habis, bahkan termasuk regulasi demi alasan melindungi kepentingan umum atau kemaslahatan umum termasuk dalam soal perburuhan, hingga lingkungan hidup.

Fenomena makin menguatnya kekuasaan korporasi-korporasi global nampak dari statistik berikut. Sebanyak 200 korporasi besar papan atas dunia menguasai 28 persen aktivitas perekonomian global. Sementara itu 500 korporasi besar papan atas memegang 70 persen perdagangan dunia, dan 1000 korporasi papan atas mengontrol lebih dari 80persen hasil industri dunia (Robert Kaplan, The Atlantic Monthly 1997). Dimana kini kekuasaan korporasi global telah menyaingi kekuasaan ekonomi-ekonomi negara-negara. Dari 100 pelaku ekonomi terbesar dunia, 52 diantaranya adalah korporasi global (dimana 8 diantaranya adalah korporasi pertambangan). Sedangkan gabungan pendapatan Mitsubishi, General Motor dan Ford Motor lebih besar dibangdingkan gabungan GDP Denmark, Thailand, Turki, Afrika selatan, Arab Saudi, Norwegia, Finlandia, Malaysia, Chili dan Selandia Baru. Selain itu dapat dicatat bahwa pada tahun 1999, hasil penjualan dari lima korporasi papan atas (General Motors, Wal Mart, Exxon Mobil, Ford Motor dan Daimler Chrysler) lebih besar ketimbang GDP 182 perusahaan.

Menurut I Wibowo kehebatan dari MNC kiranya bukan hanya karena statistik ekonomi diatas. Yang menyebabkan MNC disegani oleh banyak pemerintah di dunia adalah bahwa MNC mampu mengadu negara satu dengan negara lain, politisi satu dengan politisi lain, memilih mana yang memberikan syarat-syarat yang lebih ringan. Jadi MNC itu bisa datang kepada kepala-kepala negara, lalu menawarkan lapangan pekerjaan, investasi dibidang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Jika sebuah negara menerapkan syarat-syarat ketat dan pajak yang tinggi, maka mereka akan mengancam negara tersebut akan keluar dari wilayahnya.

Ironi Demokrasi Kita
Seperti dikatakan Wibowo ironi demokrasi Indonesia terbesar kini adalah bahwa orang-orang yang tidak dipilih oleh rakyat (aktor kapitalisme global), malah mampu mendiktekan jenis kebijakan yang harus diambil oleh penguasa negara yang mendapat mandat dari rakyat. Kontroversi yang kini sedang hangat menyangkut lahirnya Perpu No.1/2004 yang mengijinkan pembukaan kawasan hutan lindung untuk penambangan terbuka oleh 13 perusahaan, hanyalah salah satu contoh kecil dari penetrasi kepentingan aktor kapitalisme global dan korporasi. Walaupun hanya salah satu contoh kecil namun mempunyai nilai material yang sangat besar. Menurut pengkajian Greennomics Indonesia berdasarkan metode perhitungan Benefit Transfer Perpu No. 1/2004 akan menyebabkan tidak kurang Rp. 70 triliun pertahun, Indonesia akan kehilangan nilai modal ekologi. Nilai ini setara hampir 70 kali lipat dari nilai penerimaan sektor tambang terhadap Anggaran Pendapatan dan BelanjaNegara (APBN) 2003, yang hanya bernilai Rp. 1,07 tiliun. Atau, lebih besar Rp 25 triliun dari nilai total secara nasional sumbangan sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 sekitar Rp. 45 triliun. Ironis memang sektor pertambangan besar diluar minyak dan gas hanya menumbang RP. 1,48 trilyun atau kurang dari dua persen nilai penerimaan negara di di luar pajak pada APBN 2003. Bandingkan dengan kemudaratan Perpu No. 1/2004 yang mengijinkan penambangan terbuka di hutan lindung kepada 13 perusahaan dengan potensi kerugian Rp. 70 trilyun pertahun.

Dalam skala yang lebih besar dalam makna dampaknya terhadap perjalanan negara ini penjarahan atas kekayaan alam, kedaulatan dan demokrasi kita terjadi melalui intervensi dalam penyusunan UU Sumber Daya Air, RUU Sumber Daya Genetika, Perubahan UU Agraria bahkan dalam amandemen UUD 1945. Dengan demikian sebenarnya narasi besar dari persoalan ini adalah imperialisme dan sistim politik-ekonomi yang korup termasuk militerisme di dalamnya yang melanggengkan penjajahan baru tersebut. Tidak bisa tidak yang kini yang dibutuhkan adalah persatuan rakyat, kuasa rakyat untuk bergerak melawan penjajahan gaya baru ini. Mari kita berjuang untuk proklamasi kedua!

silahkan baca lebih lanjut

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 1)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 2)

Cukup Sudah! Stop Imperialisme Tambang di Indonesia (Bag 3)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (1)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (2)

Seri Buyat dan Refleksi Gerakan LH (3)