RECLAIM the CITY

RECLAIM the CITY
20 DETIK SAJA SOBAT! Mohon dukungan waktu anda untuk mengunjungi page ini & menjempolinya. Dengan demikian anda tlh turut menyebarkan kampanye 1000 karya rupa selama setahun u. memajukan demokrasi, HAM, keadilan melalui page ini. Anda pun dpt men-tag, men-share, merekomendasikan page ini kepada kawan anda. salam pembebasan silah klik Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)
Tampilkan postingan dengan label Bencana Ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Ekologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2010

Hendro Sangkoyo, Sang Kepala Sekolah “Terbuka’ Ekonomika Demokratik

“.....semua atribut keilmuwanan itu ia lepaskan karena gelar akademis tak punya relevansi dengan pembelajaran tanpa akhir sebagai proses hidup. Hati dan pikirannya senantiasa terbuka untuk mendengar penuturan para tetua dan pemangku di sudut-sudut kepulauan di Nusantara ini.....

....Itulah living knowledge, yang tak ada tempatnya di dalam seluruh praksis dan diskursus modernisme”

Demikian petikan kisah Maria Hartiningsih dan Brigitta isworo Laksmi dalam artikelnya “Jalan Sunyi si Pejalan Kaki” di rubrik Persona Kompas Minggu. Si Pejalan Kaki ini adalah Hendro Sangkoyo, Sang Kepala Sekolah “Terbuka” Ekonomika Demokratik.

Saya simpulkan ia akan lebih suka di panggil Hendro Sangkoyo saja, atau bahkan Yoyok saja (panggilan akrabnya). Gelar Arsitek dari ITB dan Phd di bidang Comparative Politics, International Planning and Planning Theory dari Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat boleh jadi tanggal dalam sekolah terbuka pembelajaran tanpa akhir. Saya yakin ia pun lebih senang dan merasa tercerahkan belajar bersama di kampung dan pelosok-pelosok negeri dibandingkan pengalaman akademiknya mengajar di Institut Teknologi Indonesia, Royal Melbourne Institute of Technology bahkan Cornell University.

Sependapat dengan Noam Chomsky, Yoyok menyimpulkan semua bahasa merepresentasikan pengetahuan sehingga baginya pula ilmu dasar adalah bahasa, bukan matematika, kimia dan fisika. Dan living knowledge dalam ruang bertutur ini menolak semua kaidah positivistik, yang membedakan mana sains, mana bukan sains. Menolak hanya satu otoritas, atau satu rezim kebenaran. Otoritas mana yang membawa peradaban bumi ini dalam krisis berkelanjutan

selengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2009

Buku Online Menuju Masyarakat Tanggap Bencana

Urgensi Hidup di Wilayah Cincin Api

Tanpa melupakan prioritas bagi penanganan/tanggap darurat atas rangkaian bencana yang terjadi di Sumbar, Jambi dan Bengkulu atau tahap rehabilitasi di wilayah bencana lainnya, kita perlu pula mendorong secepatnya tumbuhnya atau revitalisasi masyarakat sadar bencana dan tanggap bencana. Semoga bacaan ini berguna

Mohon kesediaannya untuk menyebarluaskannya

selengkapnya

Senin, 18 Februari 2008

Hari Valentine, Emas dan Sejuta Luka Tersembunyi

Tulisan yang huebat dari Mai aktivis Jaringan Advokasi Tambang!


http://www.jatam.org/content/view/247/1/

Hari Valentine & Emas

Monday, 18 February 2008

Oleh Siti Maemunah
Dimuat majalah FORUM, 18 Februari 2008

Perhiasan Emas ternyata menyimpan sisi gelap, yang tak diketahui pemakainya. Sisi yang jauh dari makna kasih sayang, yang diungkap pasangan kekasih di hari Valentine.
“Buat kisah cintamu bersinar di hari Valentine dan jadikan kenangan manis yang abadi”. Itu bunyi salah satu iklan perhiasan emas dan berlian di satu koran nasional, menyambut peringatan hari Valentine, setiap 14 Februari.

Hari Valentine dikenal sebagai hari kasih sayang. Meski di Indonesia, beberapa kelompok memprotes perayaannya. Tapi hari itu tetap diperingati sebagai hari khusus, untuk saling mencurahkan rasa sayang pada pasangannya atau orang lain, yang mereka sayangi.

Biasanya, itu mereka wujudkan dengan memberi kejutan spesial. Mulai dengan berkirim kartu, makan malam hingga memberi hadiah perhiasan emas dan berlian.

Sejak lama, perhiasan emas dan berlian dipilih sebagai simbol cinta kasih. Sebab, dalam kondisi apapun, ia tak mudah berubah, baik warna, kilau maupun bentuknya. Itu simbol keabadian. Dan tiap pasangan, tentu mendambakan kasih sayang abadi, tak rusak oleh badai, tak lekang oleh jaman.

Tak heran, jika di hari Valentine, penjualan perhiasan naik pesat. Jewelry Consumer Opinion Council, yang melakukan jejak pendapat di Amerika Serikat, menyebut perhiasan sebagai hadiah paling diminati di hari Valentine.

Sayang, tak banyak pasangan yang tahu darimana perhiasan emas dan berlian itu digali. Mereka tak tahu, penggalian emas meninggalkan warisan buruk yang abadi bagi warga sekitar pertambangan.

Harga Emas Sebenarnya

Jika berkunjung ke www.nodirtygold.org, kita akan tahu bagaimana sebuah cincin emas dihasilkan. Ternyata untuk membuatnya, dibuang sedikitnya 20 ton limbah. Di tambang Newmont di Sulawesi Utara misalnya, untuk mendapatkan satu gram emas dibuang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing. Belum lagi 5,8 kilogram emisi beracun, berupa 260 gram Timbal, juga 6,1 gram Merkuri dan 3 gram Sianida. Limbah ini kelak, diwariskan kepada penduduk lokal dan lingkungan sekitar.

Pertambangan adalah industri yang beresiko. Perusahaan tambang menggunakan bahan kimia Merkuri dan Sianida untuk memisahkan emas dari bijih batuan. Pencemaran oleh dua bahan kimia tersebut sangatlah berbahaya. Sianida seukuran biji beras saja, bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air bisa fatal bagi ikan.

Dua tahun lalu, pertambangan logam dinyatakan sebagai pencemar nomer satu di Amerika Serikat. Mereka bertanggung jawab terhadap 84 hingga 89 persen Arsen, Merkuri dan Timbal yang mencemari. Tambang emas juga dikenal sebagai salah satu industri yang paling merusak di dunia.

Satariah, perempuan dayak Siang Bakumpai sudah merasakan daya rusak itu.Ia tinggal di desa Oreng Puruk Cahu Kalimantan Tengah. Ia punya ladang di tanah adat, luasnya sekitar 15 hektar. Hasil panen ladang ini cukup untuk menutup kebutuhan pangan setahun, malah kadang berlebih. Sejak perusahaan tambang emas skala besar – PT Indo Muro Kencana (IMK) dari Australia datang pada1986, semuanya berubah.

Awalnya, perusahaan dibantu aparat pemerintah setempat merampas tanah Satariah dan warga lainnya. luas ladang keluarganya tersisa tak kurang dari satu hektar. Akibatnya buruk. Panen padi tak cukup lagi untuk dimakan harian. Tiap bulan, untuk makan keluarganya yang lebih selusin itu, ia harus membeli beras tambahan, sedikitnya 3 karung.

Selengkapnya

Kamis, 17 Januari 2008

Tolak PLTN! : : PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan

PLTN? Celoteh Emoh PLTN (4)

andreas iswinarto

Buku Silent Spring yang ditulis Rachel Carson (1962) dikaitkan dengan ledakan gerakan lingkungan hidup. Dalam kata-kata Max Nicholson dianggap sebagai ‘sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai kepentingan ekologi’ (hal 2-3).

Silent Spring memaparkan secara gambling kegawatan kerusakan lingkungan hidup akibat penggunaan bahan kimia yang melewati ambang toleransi. Buku ini berisi pula kutukan keras terhadap industri pestisida Amerika Serikat.

Rachel dengan sangat teliti dan detil memaparkan efek menghancurkan lingkungna hidup termasuk peradaban manusia dari pemanfaatan bahan kimia yang bekerja dengan menentang alam.

Dengan pedih ia mengatakan bahwa “Hanya manusia saja, dari antara segala makhluk hidup, dapat menghasilkan zat-zat penyebab timbulnya kanker…… dan keterbukaan manusia pada zat-zat ini sudah tidak terkontrol, bahkan zat-zat berbahaya itu jumlahnya semakin berlipat gandaa”. De tengah derita penyakit kanker (akibat zat beracun yang ia analisa sendiri) Rachel menuntaskan bukunya ini.

Lantas apa kaitannya dengan kontroversi PLTN yang kini marak kembali di republic ini? Jelas bahwa radiasi yang ditimbulkan oleh reaksi nuklir dalam reactor PLTN adalah zat penyebab kanker dan memiliki efek merusak alam jauh lebih dasyat dari DDT.

Siapkah kita menerima semua resiko penggunaan teknologi ini? Agaknya tepat sekali untuk menjadikan kontroversi PLTn sebagai salah satu momentum uktuk menguatkan opini umum dan kesdaran masyarakat tentang masalah lingkungan hidup seperti yang dilakukan oleh Rachel Carson melalui bukunya Silent Spring.

8 seri celoteh emoh pltn :

Resiko Nol Persen : PLTN atawa PLTS (1)

Energi Tinja vs Fisi Nuklir (2)

PLTN : Monumen Kediktatoran Teknologi (3)

PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan (4)

Rasionalitas (Irasionalitas) Iptek Nuklir (5).

PLTN dan Referendum Di Negara Utara (6)

PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis (7)

PLTN dan Beban Ekonomi Negara (8)